My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab 39


__ADS_3

"Mau sekalian USG nggak bu?" Saran dokter cantik itu, setelah memeriksaku.


Aku beringsut dari rebahan menjadi duduk menyender, Maya sedari tadi hanya diam menemaniku. Kulirik Maya menatapnya meminta persetujuan atas saran dokter padaku


"Nggak usah Dok, biar menjadi surpise nanti," kata Maya setelah melihat lirikan mataku. Aishh


"Baik, ini vitamin yang harus di tebus," ujarnya sambil mencoret selembar nota. Lantas menyerahkan--nya pada Maya, ia pun langsung ngambil kertas resep itu.


Aku sendiri ikut beringsut turun dari ranjang pemeriksaan, lanjut duduk di samping Maya.


"Udah, ngapain duduk. Ayo pulang!" Maya berdiri dan menggeser kursi bekas duduknya, lantas menarik tanganku untuk segera ikut keluar dari ruangan dokter cantik itu.


"Terimakasih Dokter," ucapku dengan menundukan kepalaku.


"Sama-sama." balasnya dengan tangan mempersilahkan.


Plup.


Suara pintu yang aku tutup secara perlahan.


"Teh, berarti aku HPL masih lama ya?" Tanyaku dengan mengekor di belakang Maya yang sudah lebih dulu tanpa menjawab pertanyaanku.


Aku berjalan sedikit cepat, untuk mensejajari Maya yang mengambil langkah seribu. "Teh, tungguan atuh. Mani kenceng-kenceng teuing ih!" Gerutuku yang mulai tertinggal oleh Maya.


"Jangan lembek kalo jalan! Lagian kita ke apotek dulu nebus vitamin buat kamu!" Ujarnya tanpa menoleh dan memelankan langkahnya.


Dasar! Nenek gambreng!


Rutukku dengan bibir manyun kedepan.


🌱🌱🌱


Malam ituu....


"Gimana kabar A Wahyu ya?? Udah lama nggak ada kabar sama sekali!" Gumamku yang tiba-tiba muncul pikiran tentang Wahyu.


Entah kenapa aku sangat memikirkan dia hari ini. Pikiranku tak lepas dengan Wahyu. Semenjak kecelakaan dia jarang sekali menghubungiku. Apalagi menemuiku.


Rasanya sangat sepi dan hampa. Aku tidak tau perasaan apa yang sedang menggenang di hatiku.


Lamunanku buyar saat suara ponsel memenuhi ruangan tempat tidurku.


"Pucuk di cinta ulampun tiba." Aku tersenyum semangat saat kulihat nama Wahyu terpampang di layar ponselku.


Segera ku angkat karena pas banget aku sedang hawatir padanya.


"Gimana kabar lo?" to the point, seseorang yang ternyata bukan Wahyu.


Sontak aku mendelik saat suara Wahyu berubah menjadi wanita. Ku lihat lagi layar ponselku. Benar namanya Wahyu, tapi kenapa suaranya beda??


"Siapa nih?" Tanyaku dengan dahi mengerut.


"Sinta!"


What?? Gila! Sekali muncul malah nenek sihir. Rutukku


"Gue mau kasih tau, kalo minggu depan gue mau tunangan sama Wahyu. Gue harap lo dateng!" Berbicara dengan nada angkuh sangat menjengkelkan! Dasar nenek sihir!


"Oke!!" Jawabku singkat. Lantas segera ku tutup panggilan itu.


Menghela nafas berat dan panjang. Lelah rasanya hidup seperti ini, harapanku untuk bersama Wahyu lenyap. Kini aku harus benar-benar bangkit dari kubur yang sengaja aku gali sendiri. Akan aku bongkar tanah yang menimbun tubuhku beberapa bulan ini.


Ku rebahkan tubuhku, dengan posisi miring, bulir bening seketika jatuh pada tempatnya. Nafasku sesak. Posisi miring yang sangat aku rasa nyaman. Dengan keadaan perut yang semakin membesar membuatku sulit mencari posisi wenak. Semuanya serba salah.


Begitu juga dengan hati dan jalan hidupku.


Tok tok tok...


"Bangun!! Kamu belum makan. Nanti ibu teteh mau datang, katanya mau jenguk kamu Na!" teriak Maya sambil terus mengetuk pintu tanpa henti.


"Iya!!" Jawabku dengan teriakan juga.


"Buka dulu!! Kita makan!" teriaknya lagi. Kali ini lebih keras.


Ku usap airmataku. Beringsut dari posisi rebahku, berjalan pelan membuka kunci pintu.


Ceklak


"Aku nggak mau makan teh," kataku dengan wajah menunduk lemas.


"Kenapa kamu??"


"Wahyu mau tunangan!" sengaja aku bicara tanpa basa-basi.


"Ohh, iya teteh tau, kok. Ayo makan lah dulu!" paksanya dengan menarik tanganku.

__ADS_1


Ku hempaskan tarikan tangan-nya. Bergeming dengan wajah menunduk lemas.


"Jangan mikirin dia!" Ujarnya lagi dengan berjalan menjauh dariku. Kututup lagi pintu kamarku, tanpa peduli dengan wanita egois itu. Lagian sudah jelas. Dia tidak akan perduli dengan--ku, malah dia akan senang karena aku akan terus ia satukan dengan ponakannya itu. Mengingat Wahyu yang akan bertunangan.


Waktu yang terus berjalan, malam yang kini menyelimuti mataku. Hingga aku terlelap dalam mimpi.


🌴🌴🌴


TIDT TIDT


Suara klakson itu membuat aku terbangun, jendela juga belum terbuka, kulirik jam yang menempel di dinding tepat di depan mata.


Sudah jam 9 pagi. Ternyata aku tidur pules juga yaa, bumil kebluk, bangunnya siang mulu perasaan.


Beringsut mendekati gorden kaca, ku singkap sedikit gorden itu, penasaran siapa yang datang pagi ini?


Mengintip.


"Nenek sama Dani??" Aku berdecak kesal. Langsung aku mengunci pintu kamarku...


Akan aku pastikan, hari ini aku akan diam di kamar tanpa harus keluar. Aku harus sembunyi dari mereka berdua.


Sayup-sayup ku dengar suara salam dari mereka, bel rumah pun terus berbunyi.


Entah dapat ide darimana, mendadak teh Maya ingin membuat pagar besi dan pasang bel bulan lalu.


Horang kaya kalo banyak duit ya gitu, di perkampungan aja pake segala pasang bel dan pagar. Kaya komplek perumahan saja.


Aku terus bolak-balik maju mundur cantik. Pintu pagar yang terkunci belum juga terbuka. Dani sedari tadi terus menelpon ku. Mungkin dia mau nyuruh aku untuk bukain pagar kali, soalnya kan di gembok sama teh Maya.


Ting tong ting tong


Suara itu terus-menerus berdering, nyaris membuat para tetangga mendengar suara bel rumah.


Sial!! Teh Maya kemana coba?? Masa iya jam 9 belum bangun juga. Ponselku yang baru senyap dari panggilan Dani kini kembali berdering.


Saat aku lihat, "Maya?? Ganjen amat pake acara telpon segala!! Kaya jauh aja. Tibang kamar sebelah doang juga!!" gerutuku.


Ku pencet tombol jawab. "Bukain pintu pagar!! Teteh lagi di pasar!!" Cerocosnya, nggak ada akhlak.


Busett deh. Itu suara apa toa. Kenceng amat. "Nggak!!"


"Bukain!! Kamu nggak kasian sama nenek, dia dari Tangerang lho!! Jauh! Capek! Kasiaaaann!!" ujarnya sambil teriak-teriak. Sehingga membuat aku terpaksa, mau tak mau harus membukakan pintu pagar yang tergembok rapih. Demi nenek


"Kuncinya dimana? "


TUT TUT TUT


Sambungan terputus!!


"Orang kaya nggak sopan!!" Rutukku.


Aaarrgghhh...!! Kenapa sih nasib gue gini amat!!


Ku gejug kakiku saat mau melangkah membuka pintu, langkah pertama masih keras gejugan kaki--ku. Langkah kedua sedikit pelan karena perutku ikut serta guncangan kaki--ku.


Ceklek


Suara kunci pintu kamarku.


Ku langkahkan lagi menuju kamar Maya untuk mengambil kunci gembok cadangan lantas beranjak membuka pintu depan.


Ceklek


Suara kunci pintu depan, perlahan aku memutar knop pintu. Membuka dengan hati-hati.


Saat aku mulai menampakan wajah--ku yang tembem bak bakpau tumpeh, mereka yang diluar pagar sontak tersenyum manis padaku.


Ku pasang wajah standarku menatapnya, maksudku menatap laki-laki gendeng itu. Tidak untuk wanita tua yang berdiri di sebelahnya, ku pasang wajah ceria saat membuka gembok pagar.


"Geulis, ya ampuun ... nenek kangen," sontak memelukku erat, saat pagar telah terbuka lebar. Ku balas pelukan nenek, sangat nyaman untukku yang sedang merindukan sandaran seorang wanita yang hangat. Bidadari tak bersayap. Ibu.


Aku rindu ibu....


"Erna juga kangen nek,"


Aku menuntun nenek masuk. Ku abaikan pria yang berdiri dengan bibir menyunggingkan senyuman tipis itu.


"Kamu nggak kangen sama aku?" Dani. Dasar cowok gendeng. Bisa ya, dia bicara enteng kaya gitu setelah kejadian beberapa bulan yang lalu!!


Aku berjalan lebih dulu, meninggalkan Dani yang bergeming di tempat. Mungkin dia sedang menatapku kesal karena telah mengabaikan-nya.


"Duduk dulu nek," saat kami sudah berada di ruang tengah.


"Terimakasih geulis,"

__ADS_1


"Aku nggak di suruh duduk?"


Ku abaikan lagi. Rasaain deh. Biar nyaho gimana rasanya di acuhkan dan di abaikan bahkan di buang dan tidak dibutuhkan!


"Erna mau bikin teh anget dulu ya, biar nenek nggak terlalu capek!" Segera aku beringsut, berjalan ke arah dapur, membuat teh hangat untuk nenek.


Matahari pagi ini sangat terik, hingga sinarnya menembus dapurku melalui celah jendela kecil yang berada di atas dekat genteng.


Ku sodorkan teh hangat itu pada nenek, "minum dulu nek, biar enakan." Titahku, lantas aku pun duduk di sebelah kiri--nya.


"Nenek apa kabar?" Basa-basi ku buka pertanyaan tentang kabarnya. Kulirik Dani yang sedari tadi memasang wajah kesal dan jengkel.


"Yang, minuman untukku mana?? Aku juga sama capek!" ujar Dani dengan wajah kesal.


Kuabaikan lagi mulut nya yang terus nyerocos minta di layani.


"Baik, kamu apa kabar geulis, kenapa nggak pernah angkat telpon dari nenek?" Mengusap pundakku lembut dan menatapku penuh senyuman manis. Kutundukan tatapanku, menatap kosong kebawah seperti sedang melihat uang.


Aku mendengkus, jelas saja, aku malas membicarakan tentang hubungan ku dan Dani. Karena aku sudah tau, nenek pasti akan membicarakannya lewat telpon.


"Maaf nek, Erna mau mandi dulu, ya," aku melengos pergi mengabaikan pertanyaan nenek, yang lebih pasti aku malas melihat wajah di sebelah nenek itu. Cowok gendeng.


Brugh


Suara pintu yang sedikit aku banting. Melampiaskan kekesalan--ku.


Sebenarnya aku tidak mau mandi, itu hanya alasan-ku untuk menghindari dari obrolan tentang aku dan Dani nantinya.


Aku harus move on. Toh, semenjak kejadian hari itu aku ngadak lupa tentang dia, aku malah fokus sama Wahyu.


BTW, Wahyu gimana kabarnya ya? Aku kangen juga sama dia. Kalo ada dia pasti rame banget. Tapi sayang, dia mau tunangan minggu depan.


Meskipun nenek sihir menyuruhku untuk datang. Aku nggak bakal datang. Aku udah nggak mau di perlakukan lagi kaya dulu.


Tok tok


Suara ketukan pintu, membuat aku kaget dan langsung menguncinya dari dalam.


"Buka yang. Ini Aa mau bicara sama kamu, penting!" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu dan memainkan knop pintu.


"Bicara aja sekarang!" balasku dengan teriakan lagi.


"Mana bisa lah!" Masih teriak dan menggedor pintu.


Aku diam, biarkan saja dia terus menggedor pintunya. Sampe botak pun aku nggak bakal buka.


"Kalo nggak di buka, aku dobrak nih!" ancam lagi.


"Silahkan saja kalo kuat!"


Aku menyeringai. Dia mana bisa mendobrak pintu sekuat itu.


Hingga hampir beberapa menit iya terus teriak-teriak agar aku segera membukanya. Tapi pendirian--ku sudah bulat. Aku nggak mau lagi ada urusan dengannya.


Sudah cukup untuk beberapa bulan ini membuat hati dan jiwaku terguncang. Remuk dan rapuh tak berdaya.


Senyap...


Akhirnya dia menyerah untuk memintaku membukakan pintu.


Sayup ku dengar suara obrolan ringan dari luar, ku tempelkan kupingku dekat pintu, ku buka lebar-lebar agar aku bisa memproses obrolan nenek dan Dani, karena Maya juga belum pulang.


"Nek, dia keras kepala! Susah untuk dibujuk lagi deh," terdengar ia mengeluh.


"Ya sudahlah, biarkan dia sendiri. Toh setelah lahir anakmu akan nenek rawat. Karena nenek tau dia tidak akan mempu membiyayai lahiran dan segala macam nya." Ucapan nenek benar-benar membuat aku naik pitam. Apakah aku serendah itu.


"Iya nek, biar nenek yang rawat. Kalo dia mana mampu dan dia juga pasti tidak bisa membawa anak Dani ke kampung halamannya. Secara orangtuanya tidak tau kalo dia hamil anak Dani." pungkasnya.


"Hmm... gara-gara kamu, cinta pake nafsu. Jadinya gini kan?" kata nenek lagi.


"Dani cinta sama Erna nek, tapi papah sama mamah menentang hanya karena dia miskin. Lagian keluarga kita juga biasa aja kan?"


"Iya,ayahmu memang keras kepala, susah di kasih tau. Lantas bagaimana Erna memberi alasan pada keluarganya?"


"Cukup klasik sih nek, kerja! Dani juga sengaja mengirim uang setiap bulan sama ibu-nya!"


Apa?? Pantas ibu tidak pernah meminta uang lagi padaku? Jadi dia yang memberi uang sama ibu setiap bulan?


Aku kembali mengeluh, menjatuhkan pantatku pada kasurku. Airmataku menetes lagi, dasar cengeng. Bisanya cuma nangis-nangis dan nangis. Kalo kaya gini caranya, dia makin gampang menekanku nanti.


Kenapa nggak labrak aja mulut mereka. Secara tidak langsung mereka menghinaku. Tapi aku tidak mampu.


Sesungguhnya sangat sulit berada di posisiku, dengan cara berfikir ku yang masih polos dan anak-anak. Harus memaksa untuk berfikir dewasa, namun tetap saja di usiaku ini. Aku hanyalah anak-anak yang hamil duluan, hamil di luar nikah.


Akibat pergaulan bebass...

__ADS_1


Menyesal, memang aku sangat-sangat menyesal. Tapi penyesalan tidak akan mengembalikan keadaanku seperti dulu lagi??


😔😔😔😔


__ADS_2