My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 59


__ADS_3

"Aku harus kemana sekarang ya Allah,,, " gumamku dengan isak tangis yang memilukan. Ku usap bekas infusan ini, perih ditanganku sungguh tidak sebanding dengan yang aku alami sekarang.


Runtuhnya tembok harapanku membuat aku semakin tersiksa.Kututupi wajahku yang penuh dengan air mata ini. Meratapi nasib yang amat memilukan hatiku.


Wahyu kenapa kamu tega padaku. batinku.


Tiba-tiba


Greppp


Seseorang memelukku, "Kamu mau kemana?" tanyanya, tak lain adalah Wahyu. Rupanya dia mencariku, "Aku nyariin kamu sayang. Kenapa kamu pergi? infusannya?" ujarnya dengan memeriksa tanganku yang bercucuran darah "Ya Allah... kamu ini nekat! " imbuhnya dengan kembali memelukku


"Kenapa kamu membohongi ku Wahyu?"


"Bohong apa? "


"Jangan pura-pura tidak tau! " bentakku dengan berusaha melepaskan pelukan nya, karena payudaraku yang tersentuh membuat cenat cenut. "Lepaskan pelukanmu Wahyu. Sakit! " rintihku, karena Wahyu tak juga melepaskan pelukannya.


"Sakit kenapa? " lantas ia renggang kan pelukannya dan menatapku.


"Ohh... Maaf, aku tidak tau, " ujarnya sembari beringsut duduk disebelah ku.Meremgkuhku dari samping, ia senderkan kepalaku di bajunya, mengusap rambutku lembut, sesekali ia menciumi pucuk rambutku.


"Pasti kamu membaca BBM ku dengan mamah, iya kan? " tanya nya. Aku mengangguk.


"Maafkan aku, meskipun aku membalas seperti itu, tapi itu hanya untuk meredakan emosi mamah, agar berhenti menghinamu. " ujarnya sembari mendongakkan wajahku. Tatapan lembut itu sesaat membuat emosiku mereda. Kupeluk lagi tubuhnya. Sungguh aku sangat membutuhkan seseorang untuk menumpahkan kesedihanku.


"Ayo kita kembali masuk. Ini sudah malam. Besok kita jemput Senja, "


"Aku mau pulang, " lirihku.


"Iya, besok kita akan pulang, kamu harus sembuh dulu, aku juga belum mengurus administrasi dan segalanya.Teh Maya juga lagi dijalan mau ke sini. " bujuknya padaku.


Aku mengangguk lagi mengiyakan.Lantas aku kembali masuk dengan dituntun Wahyu....


_________


Tepat jam sepuluh malam. Maya datang bersama dokter Bayu. Dengan membawa beberapa bingkisa untukku.


"Kenapa harus repot-repot teh. Nggak sekalian aja dibawain semua?hehe... "


"Yahhh kan, "


"Dia emang begitu Mas, maklumin aja ya. "


"Kapan kalian menikah? " tanya mas Bayu tiba-tiba.


"Nanti setelah semuanya beres mas, " saut Wahyu dengan tersenyum bahagia, lantas duduk didekatku sembari mengambil buah apel yang sudah ia kupas dan menyuapiku. "Iya kan sayang? " imbuhnya.


Aku hanya tersenyum paksa menanggapi obrolan Wahyu dan mas Bayu. Sementara kulihat Maya juga ikut tersenyum menatapku.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa menyukai Erna, Yu? " tanya mas Bayu lagi. Membuat aku dan Maya saling tatap. Wahyu menunduk dengan membuang nafas perlahan.


"Entah... aku pun tidak tau, mas. " jawab Wahyu sembari menatap ku dengan senyuman manisnya. "Jantungku berdebar saat aku menolongnya waktu itu, " sejenak ia berhenti dengan membuang nafas berat.


"Terus-terus ? " kata Maya dengan wajah penasaran nya.


"Terus nabrak! " sela ku. "Udahlah nggak usah bahas yang kaya beginian mas, teh. Nggak penting! " lanjutku, menahan malu.


"Kenapa Na? Aku penasaran lho. " saut Maya


"Iya teh, udahlah nggak penting. Yang terpenting sekarang aku sudah mencintai dan menyayangimu." ucap Wahyu terus menatap ku.


"Jangan melihat ku seperti itu! "


"Kenapa? Malu? "


"Malu apa? mana ada! Udah ah. Aku mau tidur besok aku harus jemput anakku. Aku mau merawat anakku sendiri! " setelah mengatakan itu, aku segera beringsut membenarkan posisiku. "Wahyu, jangan disitu aku mau tidur! " Wahyu beranjak dari ranjangku, beralih duduk di kursi seperti biasa.


Dengan berbaring miring dan selimut yang membalut tubuhku aku pejamkan mataku, tapi tidak dengan telingaku.


Sreeetttt


Suara geseran kursi,seperti nya Wahyu beranjak dari duduk nya. Entah dia mau pergi kemana.


"Kemana Yu? " tanya Maya.


"Kamu kecapean, Yu. Sini dekat teteh," ujar Maya lagi. "Ya Allah badan kamu panas banget, " imbuhnya. Membuat aku ingin beringsut dan mengecek keadaanya. Selama ini akun sudah sangat merepotkan dia, dia berkorban begitu banyak untukku, tapi aku malah seperti ini padanya.


"Nggak apa-apa teh, "


"Coba biar sini aku periksa, " kata mas Bayu. Mungkin sekarang Wahyu sedang diperiksa oleh mas Bayu. "Kecapean kayanya kamu, Yu. Aku beli obat dulu untuk kamu, "


Ceklek. Plup.


Suara pintu yang terbuka lalu tertutup kembali.


"Kamu istirahat dong,Sekarang tidur gih, biar Erna teteh yang jagain. " kata Maya.


Wahyu tak menjawab, hanya ada suara hembusan nafas yang ia keluarkan.


Maafkan aku Wahyu. Aku hanya takut, terimakasih sudah sangat peduli padaku. batinku.


Beberapa menit kemudian mas Bayu kembali. Aku masih belum bisa tidur, mataku terpejam, tapi tidak dengan hati ku.


"Wahyu tidur May? " tanya mas Bayu.


"Iya, mas. Badannya panas banget. " saut Maya.


Ya Allah... aku ingin melihatnya. Tapi tidak mungkin. Batinku lagi.

__ADS_1


"Kompres aja dulu, setelah dia bangun kamu kasih obat ini sama vitamin nya juga. " kata mas Bayu lagi.


Waktu terus berjalan, malam semakin larut. Maya dan mas Bayu hanya mengobrol soal hubungan mereka. Lambat laun mataku mulai sayu,rasanya sudah tidak tahan ingin cepat pergi ke alam mimpi.Tapi hatiku masih memikirkan Wahyu. Bagaimana keadaannya sekarang.


Dari detik ke menit. dari menit ke jam, Akhirnya aku terlelap.


______________


Allahhu Akbar Allahhu Akbar


Adzan subuh telah tiba,mataku terjaga saat telingaku mendengar panggilan dari Allah agar segera bangun dan melaksanakan kewajiban nya sebagai muslim.


Aku beranjak dari ranjangku, mengucek mataku perlahan. Payudaraku sudah tidak begitu sakit, air susuku juga tidak rembes lagi. Mungkin sebentar lagi akan normal kembali. Beringsut untuk turun karena panggilan alam yang memaksaku untuk segera menemui kamar mandi.


"Mau kemana? " suara itu membuat aku terlonjak kaget. Derap langkah kaki itu kina mendekat. Aku menoleh, ku kembang kan senyuman pertamamu di pagi ini untuk nya.


"Mau pup, A. "


"Sini biar aa bantu, "


"Nggak usah, aku bisa sendiri. "


"Bantu sampai depan pintu doang.Ayok." ujarnya sembari memapah tubuhku hingga depan pintu kamar mandi. "Masuk, Hati-hati licin. Aa tunggu sini, " ujarnya lagi melepas tangannya. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku saja.Lantas masuk dan menutup pintu.


Setelah beberapa menit aku keluar, rupanya Wahyu masih menunggu ku didepan pintu. Ia kembali menuntunku hingga ke tempat ku lagi.


"Aa mau mandi dulu ya. Mau sholat bentar. Abis itu kebawah beli sarapan." ujarnya. Aku kembali mengangguk tanpa menjawab, tatapanku lekat padanya.


Ternyata masih ada pria yang baik seperti kamu Wahyu.kamu tidak pantas untukku.


Aku kembali berbaring, kutatap langit-langit kamar sembari menunggu Wahyu selesai mandi dan sholat.


"A, kamu udah selesai? " tanyaki saat melihat nya melipat kembali sajadah yang ia gunakan tadi.


"Iya, kenapa? "


"Aku ikut kebawah ya, "


"Ngapain sih? " dengan berjalan kearahku dan duduk di sebelah ku


"Aku mau menghirup udara segar pagi ini A. Boleh ya.. " rengekku manja.


"Emang kamu kuat jalan nyampe bawah?"


"Ya pake kursi roda atuh. " kataku sembari tersenyum dan menaik turunkan kedua alisku.


"Ya udah,aa ambil kursi roda dulu, "


Setelah Wahyu mengambil kursi roda dan aku pun duduk, ia segera mendorong ku untuk ikut dengannya ke bawah, menghirup udara segar dan mencari makanan untuk sarapan. Sementara diruangan ku hanya ada Maya dan mas Bayu yang masih tertidur lelap.

__ADS_1


__ADS_2