
Penderitaanku seakan tidak pernah berhenti. Sebenarnya apa yang terjadi denganku??
"Tolong, kalian bicara!" Aku terus berteriak histeris, hingga suaraku serak dan tak sanggup lagi dan sampai terbatuk batuk, hingga seseorang itu memberiku air minum.
Tangisanku lirih, menahan sakit yang begitu mendalam hingga ke akar-akarnya.
Ya Allah... cobaan apa lagi ini?
Kenapa engkau begitu senang menghukumku?
Apa dosaku terlalu berat?
Apa dosaku tidak dapat terampuni?
Betapa malang nasibku ini...
Hamba pasrah ya Allah
Entah seperti apa diriku ini. Kedua indra ku tak dapat berpungsi dalam sekejap. Seseorang juga sedang membersihkan dan mengganti sarung ku, mengganti pembalut ku. Aku diam. Entah siapa dia, aku tak tau, entah nenek, entahlah... aku benar-benar pasrah. Mataku benar-benar tak bisa melihat. Telingaku benar-benar tidak bisa mendengar.
Setelah seseorang selesai mengganti sarung yang aku pakai, dan kemudian seseorang yang lain itu kembali menggendong ku, entah ada berapa orang yang mengurus aku. Dengan telaten orang itu mengelap paha dan betisku yang basah akibat darah. Rasa sakit dalam perut dan jahitan pada **** * ku sudah tidak aku pedulikan lagi. Hidupku serasa diujung tanduk. Peluh keringat bercucuran akibat menahan sakit masih bisa aku tahan. Tapi sakit didalam hatiku benar-benar tidak bisa aku nampikan. Rasanya sakit sekali ya Allah.
Rasa di rasa, aku seperti terduduk didalam mobil, seseorang itu juga memakaikan aku sabuk pengaman. Mobil yang aku tumpangi pun seperti melaju cepat, entah mau dibawa kemana aku ini. Aku diam tak bersuara atau bicara. Karena percuma saja, aku tidak bisa mendengar jika orang itu menjawab pertanyaanku.
Mobil berhenti, aku kembali digendong dan didudukan di kursi roda, Setelah menyusuri jalan apa, entah akupun tak tau. Aku digendong lagi, tubuhku juga direbahkan di sebuah ranjang. Seseorang kembali menyentuh ku, apa aku dibawa kerumah sakit. Apa aku sedang di periksa oleh dokter? Yaa, mungkin saja. Jemariku sebelah kanan juga ada yang menggenggam erat. Siapa dia? Apa dia Wahyu??
Ya Allah,,, Sebesar apapun dosaku, tolong ampuni aku. Aku ingin menjadi orang yang lebih baik lagi ya Allah... Aku ikhlas, jika takdirku harus tidak bisa mendengar dan melihat. Aku benar-benar ikhlas...
Wahyu... Jika yang menggenggam erat jemariku ini adalah kamu, tolong, jangan pernah tinggalkan aku...
Dan tolong, jaga anakku...
Derai air ini bersimbahan dipipiku, bulir demi bulir aku jatuhkan lagi, seakan tidak ada celah untuknya mencari tempat yang kering.
"Siapa? Tolong aku, aku tidak bisa mendengar kalian. A Wahyu, apa kamu yang menggenggam tanganku?" Getar aku berucap, lirih letih suaraku. Menyiratkan sebuah permohonan besar, agar aku bisa mendengar jawabannya.
Sayangnya nihil...
Aku benci diriku sendiri, aku juga benci wanita itu. Mary, wanita yang selalu buat aku tersiksa untuk yang kedua kalinya.
Air mataku berderai lagi. Sesaat tanganku terasa seperti digigit semut, sekujur tubuhku terasa dingin, dan akupun mulai mengantuk, berat mata ini. Hingga tak terasa aku terlelap ke alam mimpi...
🍵🍵🍵🍵
Aroma kopi yang sangat harum membuat aku terjaga, siapa yang membuat kopi seharum ini? hidungku terus menghirup aroma wangi dari kopi, entah kopi siapa.
__ADS_1
Perlahan aku membuka mataku, "Wahyu?" lirih ku, remang mataku melihat sosok manusia sedang asik duduk dengan tangan kiri mengaduk kopi diatas meja, tepat di depannya.
Mataku bergelirya mengelilingi ruangan ini.
Tidak terasa, aku mencetak lengkung tipis di bibirku.
Aku bisa melihat? pikir ku, dengan mengucek mataku berkali-kali.
Mendengar suara lirihanku, Wahyu seperti tertohok kaget, sejenak dia terdiam. Mungkin memastikan bahwa aku benar-benar memanggilnya.
"A Wahyu," kuulangi panggilan ku padanya.
"Sayang, kamu sudah bangun? Ya Allah..." ucapnya, tergopoh gopoh dia berjalan kearahku memeluk ku erat. Diusapnya lembut pucuk rambutku. Diciumi pucuk rambutku.
"Aku bisa melihat lagi A? Aku bisa mendengar lagi?" sungguh aneh tapi nyata. Aku bisa mengalami hal buruk seperti kemarin, "A, kenapa kemarin aku tidak bisa melihat dan mendengar apapun? Aku berfikir bahwa aku akan buta dan tuli?" imbuhku lagi, dengan melepaskan pelukan Wahyu yang benar-benar membuatku susah bernafas.
"Maafkan mamah sayang, mamah tidak sengaja, darah nifasmu naik ke kepala hingga membuat beku sarap dibagian kepalamu. Kamu tau? berapa lama kamu tidur?" Aku menggeleng pelan, namun mata tak lepas menatap nya, yang begitu serius. Terlebih matanya sayup berkaca-kaca.
"Lima hari. Mamah sangat menyesal sudah melakukan itu sama kamu sayang, tolong maafkan mama ya?" ucapnya lagi padaku.
Aku terdiam...
Apakah selama itu aku tertidur?
"Tolong, maafkan mamah," mohonnya padaku.
"Segampang itukah?"
"Aku tau, mama sudah sangat keterlaluan. Tapi... ini semua karena, " ucapannya terhenti. kesal. yaa... aku sangat kesal jika perkataan itu harus berhenti ditengah jalan.
"Karena aku?" dengan tangan menunjuk diriku sendiri. Namun dia diam menunduk, kulihat dia mengusap matanya yang mungkin mulai basah oleh air matanya.
"Mana anakku? Aku ingin bertemu dengannya!" ku alihkan pembicaraan. Karena sedari tadi disini hanya ada Wahyu seorang saja. "Mana?" teriakku lagi.
"Senja dibawa ke Bandung. maafkan aku... aku tidak bisa mencegahnya,"
Mendadak nafasku sesak, seperti inikah sikap mereka padaku? "Nenek?"
"Nenek ikut juga ke Bandung,"
BRAKKK
Ku banting pas bunga yang terpajang rapi dimeja dekat ranjang ku. "Sialan!! Brengsek!! mereka semua brengsek!! Bangsat!! " aku meracu, berteriak histeris. Bukan lagi, kesal aku dengan sikap mereka semua.
Ku cengkram baju Wahyu dengan kedua tanganku yang siap mencakar dan merobek-robek jantungnya. "Terus, kenapa kamu masih disini menunggu ku? Apa tujuanmu untuk memastikan bahwa aku mati atau tidak?" aku tidak bisa lagi berkata kalem. Dia diam menerima amukanku. Justru malah semakin berusaha memelukku.
__ADS_1
"Sekarang sudah jelas! Aku tidak mati kan? Seberapa kuatnya aku. Lebih baik kamu pergi, Wahyu!" usirku "Untuk apa kamu menunggu wanita bodoh dan bego ini? sudah cukup, pergi!!" usir ku tanpa memberi dia kesempatan untuk bicara atau menjelaskan yang sebenarnya.
"Ya Allah... Kenapa tidak kau cabut saja nyawaku!!" tangisanku pecah. Derita di atas derita. Hidupku seperti berenang ditengah laut yang hanya kemungkinan kecil bisa menepi. Bahkan sudah sangat jelas aku akan tenggelam, terseret ombak.
Ku jatuhkan tubuhku, kuratapi nasibku yang malang ini. Dengan posisi miring, hingga jarum infus ku tergeser dan mengakibatkan darah naik tersedot. Perih saat darah itu mulai naik keselang infusan. Wahyu yang melihat itu segera memencet bel yang berada tepat dibelakang ranjang ku. Tak lama suster dan dokter datang keruangan ku dengan langkah cepat.
"Tolong teman saya dok," ucapnya.
"Kenapa bisa begini?" ucap Dokter itu.
"Ya Allah, kenapa banyak beling begini?" dengan berjinjit Suster itu berjalan kearahku dengan menunduk melihat serpihan vas kaca yang aku bantung tadi.
Suster itu dengan sigap mencabut jarum infus yang menempel ditanganku, hingga darah itu sedikit muncrat dan keluar banyak. Dengan dokter yang memeriksa ku sebentar saja.
"Maafkan teman saya dok," ucap Wahyu pada dokter itu. Membuat aku sadar akan ucapan nya itu.
Apa?? Teman?
maksudnya??
pikir ku dengan mata membulat heran.
setelah semuanya selesai menggantikan posisi jarum infus ku dan mereka semua keluar. Wahyu kembali menatap ku. Diam tak bergeming.
"Kamu dengerin aku dulu, " katanya dengan nada menekan. Namun aku tau, dia seperti sulit berbicara.
"Apa?" Aku sengaja langsung diam. Menunggu dia untuk menjelaskan. Tapi, dia malah mengikuti aku. Diam juga.
"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi! dan aku tidak mau mendengar penjelasan apapun! cepat pergi dan biarkan aku sendiri!"
Lagi, ku usir dia tanpa henti. Aku sudah benar-benar muak dengan keluarganya.
Semuanya brengsek.
Dengan tangan terkepal, batinku terus mengutuk keluarga nya. Termasuk Wahyu. perhatian nya selama ini ternyata hanya membuat aku sakit tapi tidak berdarah. Ternyata aku salah mengartikan semua perhatian dan sikap manisnya padaku.
Awasss...
Akan aku balas. rutukku
next next
jangan lupa dukung author nya ya kak. biar makin semangat nulisssssss
haturnuhun 🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰
__ADS_1