My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab33


__ADS_3

Setelah beberapa saat suara mobil terdengar dari luar, aku dan Dani saling menatap. "Teh Maya bukan ya?" ujar Dani.


"Mungkin." Sahutku. Dani beringsut beranjak berdiri berjalan pelan mengintip dari balik jendela, untuk memastikan bahwa yang datang memang benar-benar Maya.


"Siapa?" tanyaku masih bergeming dikursi.


"Teh Maya, Aa pikir siapa. Bikin jantungan deh."


"Kenapa gitu? Emang siapa lagi yang tinggal dirumah nenek ini?"


"Nggak ada sih, hanya nenek sama si mbak pengurus,"


"Kamu kaya buronan aja deh A,"


"Aa emang buronan, kalo Fitri sampai tau Aa disini sama kamu, nanti kamu akan dalam bahaya, Aa nggak mau itu terjadi,"


"Kalo Aa nggak mau terjadi sesuatu yang tidak-tidak padaku, kenapa senekat ini menemuiku? Bukankah ini juga hal yang bahaya?"


"Jangan bawel deh. Kamu tolong mengerti posisiku dong, yang. Aa mana bisa pisah sama kamu!"


Aku mengangguk dengan mulut mengerucut. Dani kembali duduk didekatku, sesekali menyeruput kopi yang sudah dingin.


Knop pintu mulay berputar, pertanda seseorang dari luar mulai membukanya.


Krekekkk..


Suara pintu.


Maklumlah rumah tua yang terbuat dari kayu jati dan dihiasi ukiran-ukiran unik disetiap dasarnya, rumah ini juga sangat besar. Ruang tamu-Nya juga sangat luas. Setiap ruangan semuanya luas.


"Tolongin dong, bawain kedapur Dan. Teteh mau nuntun ibu dia masih didalam mobil," ujar Maya, "Mbak, kamu bawa ini ya, biar ibu aku yang nuntun!" Imbuhnya kepada pelayan dirumah ini.


"Iya mbak," jawab si pelayan rumah.


Dani berjalan mengambil kresek besar yang entah isinya apa. Lalu menaruhnya di belakang.


Lantas aku sendiri mengekor dibelakang Maya.


"Eh geulis, kamu sudah bangun? Apa Dani nakal sama kamu?" ucap seorang wanita tua yang dituntun Maya. Aku belum sempat menjawab, Maya sudah menyelanya.


"Awas aja kalo nakal, rek diulek ulek!" sela Maya.


"Hissh kamu itu."


Aku hanya tersenyum menanggapi mereka, lantas membantu Maya menuntun ibunya masuk kedalam dan duduk dikursi kayu bersamaku.


Dan aku langsung menyalaminya dengan takzim, "Assalamualaikum nek,"


"Waalaikumsalam geulis, sudah bangun?"


"Sudah nek, "


"Nek, lain kali nggak usah ikut, jadinya capek kan. Nenek itu udah tua. Lebih baik diam dirumah. Temenin calon istri Dani." Selanya dari dapur.


Heran sama cowo satu ini, suka ngaku-ngaku seenak jidat. Bisa dikatakan kalo dia ini punya penyakit sindrom tidak tau malu.


"Istri-istri! Istri yang mana? Istrimu yang petakilan itu, malu-maluin!" Cela Maya dengan emosi.


"Dia kan juga calon istriku teh, lagipula aku tidak mencintai Fitri. Nek, nenek dukung Dani kan kalo misalkan Dani menikahi wanita yang disamping nenek?" Memelas dengan menampakan wajah teduh. Pintar sekali ektingnya.


"Kamu ini, baru menikah sudah mau menikah lagi." Diiringi senyuman manja.


"Mata keranjang, ucing garong si Dani mah!" Lagi-lagi Maya menyambar bagai petir.


"Apa sih teh, biarpun ucing garong tapi setia. Andai aja si papah nggak sakit. Mana mau menikahi perempuan lain selain perempuan yang didepan Dani ini!" Tukasnya.


"Alaahh, loba ngeless!"


"Sudah-sudah atuh ah, raribut wae! Nggak dimana nggak dimana ribuuut mulu. Pusing!" Keluh nenek.


"Teh Maya duluan!"


"Habis gue gemes banget sama lu!" Dengan tangan bergaya seperti mengulek sambel. Kemudian berlalu pergi meninggalkan ruang tengah.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala, sambil mengurut keningku yang mulai pusing melihat tingkah mereka.


"Nek, mau aku buatkan teh manis?" tanyaku pada nenek yang masih diam.


"Boleh, tapi nggak usah biar Dani aja yang bikin. Nenek mau bicara serius sama kamu. Dan bikinin nenek teh manis 2 ya, sekalian sama si geulis."


"Muhun nek," Dani pun berlalu meninggalkan kami berdua, Maya sendiri sibuk didapur memasak untuk kita semua makan siang.


Menurut Maya, dari cucu-cucu yang lain, si nenek ini sangat dekat dengan Dani karena Dani anaknya manja, Entahlah.

__ADS_1


"Nenek, mau bicara apa?" Tanyaku membuka pembicaraan.


"Erna, maafkan Dani ya. Nenek tau, kamu pasti sakit, bukan sakit lagi, tapi pasti hancur. Nenek sengaja menyuruh Maya membawamu kesini," ujarnya dengan mengusap tanganku. Seraya tersenyum manis padaku.


Aku tertunduk, bagaimana bisa nenek ikut andil dalam rencana ini. "Aku hanya memikirkan bagaimana dengan keluargaku, itu saja!"


"Geulis, nenek tau perasaan kamu, nenek mengerti." Dengan mengusap lembut pundakku.


"Kamu mau kan menikah sirih dengan Dani? Nenek akan bertanggungjawab atas kamu, nenek nggak mau cicit nenek lahir tanpa seorang ayah," Aku masih diam menunduk. Kenapa wanita yang sudah lansia ini bisa tau kalau yang didalam perutku adalah cicitnya. Apa Dani dan Maya sudah menceritakan semua nya?


"Geulis, kamu pikirkan ucapan nenek ya. Ya sudah atuh. Nenek mau istirahat dulu di dalam, kamu baik-baik ya." Aku tetap diam tak menjawab. Hanya menatap punggung wanita lansia itu yang akupun tak tau namanya siapa, hingga menghilang dari pandanganku.


Aku menyender dengan menghela nafas berat, bingung. Apa Dani bisa bersikap adil nantinya padaku dan Fitri? Tapi, aku tidak mau melukai hati wanita itu! Meskipun dia jahat padaku, bukan dengan cara jahat lagi aku membalasnya. Jika seperti itu, berarti aku sama saja dengan-nya. Ya tuhan... Aku harus gimana??


Setelah beberapa saat, Dani datang dengan menenteng nampan yang berisi dua gelas teh manis, "Loh, nenek mana? Katanya mau teh manis?"


"Didalam A, kamu anterin aja kedalam." sahutku dengan mengelus-elus perutku yang mulai begah dan tidak nyaman.


"Ohh, ini buat kamu, Aa anterin teh ini dulu." Aku mengangguk, seraya melanjutkan senandika ku yang terpotong. Dengan cepat Danipun kembali berjalan ke arahku.


"Yang, kamu kenapa? Pusing banget liat-nya?" Berlutut didepanku dengan mengelus-elus lembut perutku.


"Nanti sore kita cek kandungan ya, kita USG, Aa penasaran sama baby kita, kira-kira cewe apa cowo ya?" Dengan wajah berbinar-binar Dani berbicara seakan tak ada beban. Seakan semuanya baik-baik saja.


Ya tuhan, kenapa genangan bening ini menetes lagi. Andaikan kamu cuma milikku seorang. Sialnya aku sudah tidak punya hak lagi terhadap kamu.


Nikah sirih?? kenapa aku sangat takut dengan nikah sirih? Kenapa berasa ada yang mengganjal, kenapa hati kecilku seakan menolak pernikahan sirih ini?


"Yaaang, ko nangis? Kamu terharu ya? Sabar ya, kita akan menghadapi masalah ini bersama," mengecup perutku kemudian duduk didekatku.


Merengkuhku lagi, aku tau Maya juga sedang mengintip dari balik lemari. Tapi aku pura-pura tidak tahu saja.


"A, kamu yakin ingin menikah sirih denganku?"


"Iya dong, kenapa? Kamu nggak mau?"


"Aku mau, tapi aku tidak mau melukai Fitri. Cukup aku yang merasakan sakitnya dihianati," Aku kembali terisak, mau gimana lagi, aku hanya bisa menangis.


"Aa tidak pernah menghianati kamu, Aa melakukan ini karena terpaksa! Kamu tau pasti."


"Aku tau, tapi aku takut keluargamu dan keluarga Fitri tau tentang aku dan kamu!"


"Lebih baik kamu lupakan aku, jangan ganggu aku lagi A, aku tidak mau mencari masalah dengan istrimu. Dia itu bisa melakukan apa saja dengan uangnya, termasuk membunuhku!" Sambungku.


"Aku tidak yakin."


"Tidak yakin bagaimana?"


"Ya tidak yakin aja," Aku beringsut menjauh, terlihat dia keheranan dengan ucapanku. Dengan mata menyipit pertanda dia sedang menganalisaku.


"Aku tau, kamu pasti sudah mencintai lelaki itu kan!" tuduhnya dengan bersuara sedikit keras.


"Lelaki? Lelaki mana?"


"Sepupuku sendiri! Wahyu? Iya kan? Kamu pasti sudah jatuh cinta sama dia?"


Dengan dahi berkerut aku kembali bertanya, "Apa maksud kamu?"


Aku tidak menyangka baru saja aku mendapatkan pelabuhan hati, tiba-tiba dia berubah lagi sikapnya.


"Jangan pura-pura! Aku tau semenjak kita berdebat, Wahyu lah yang merawat mu kan? Sampai dia memutuskan hubungan cinta nya dengan Sinta! Apa jangan-jangan kamu sudah tidur dengannya?" Tuduhnya lagi, kini lebih kejam.


PLAKK.


Aku geram sekali sama laki-laki ini! Emosian, egois, arogan suka menuduh!


Bahkan memfitnahku.


"Kenapa kamu menamparku?"


"Jaga ucapanmu! Aku tidak segampang itu! Wahyu sangat sopan padaku! Dia menghargaiku layaknya wanita yang harus dihargai! Tidak seperti kamu! Egois, pengen enak sendiri!" Cecarku.


"Heh! Aku yang membiyayaimu! Berani kamu berbicara setinggi itu? Bahkan kamu berani membandingkan aku dengan dia!"


"Aku bukan membandingkan, tapi emang kalian berbanding jauh. Aku juga berani! Jika tidak! Harga diriku pasti akan diinjak-injak!"


Dani terlihat sangat geram, begitupun aku. Aku lebih geram dengan tuduhannya. Dan akhirnya kami kembali berdebat.


"Ada apa lagi ini? Ya Allah... ko nggak ada abisnya berantem mulu!" Maya berlari dari dapur dengan membawa centong nasi.


"Dia memfitnahku teh! Dia menuduhku kalo aku ini sudah tidur dengan Wahyu!" terangku dengan emosi yang memuncak. Sontak mulut Maya menganga dengan mata melebar.


"Mulai detik ini! Aku memutuskan untuk menolak pernikahan sirih ini!" Tegasku, berlalu dari hadapan mereka semua. Maya semakin tertegun dengan ucapanku. Dani sendiri diam bergeming.

__ADS_1


Aku berlari masuk kamar, mengambil tasku dan keluar dari rumah ini. Meskipun aku tidak tau ini dimana.


"Erna, kamu mau kemana?" Dani berlari mencegahku. Meraih tanganku agar aku tak pergi dari rumah ini.


Aku juga mendengar suara nenek yang terbangun menanyakan tentang keributan ini.


Ahh.. biarlah aku tidak perduli. Aku hanya sakit hati dengan tuduhan Dani. Apa dia beranggalan kalo aku ini wanita murahan.


"Lepaskan tanganku!" Aku gibaskan genggaman Dani pada pergelanganku.


"Aku bisa hidup sendiri tanpa biyaya dan bantuan mu!" Tunjukku.


"Aku minta maaf, tolong maafkan aku. Aku hanya tidak mau kamu berhubungan dengan laki-laki lain!" Masih mencegahku. Aku diam.


"Dani, kamu itu keterlaluan! Bisa-bisanya kamu menuduh wanita yang kamu cintai? Katanya kamu mencintai dia? Seharusnya kamu percaya sama dia Dan!" Nenek ikut menimpali. Karena dia juga aku berada disini, dizona merah ini.


"Iya nek, Dani minta maaf."


"Bujuk Erna masuk lagi!!" ujar nenek dengan berlalu pergi.


"Gue getok juga ni pake centong! Cepet bujuk dia masuk!" Maya juga ikut turut memaki Dani kemudian berlalu juga.


"Yang, ayo masuk lagi. Maafkan aku ya. Maaf. "


"Apa kamu menganggapku sebagai wanita murahan?"


"Enggak yang, enggak!"


"Lalu tadi apa? Kamu dengan gampang menuduhku tidur dengan Wahyu!" Makiku.


"Iyaa, Aa minta maaf, maaf yang maaf!" Lirihnya. Memohon belas kasih. "Ayo masuk yang. Kalo kamu maksa pergi, Aa bisa bonyok dan berakhir di rumah sakit nanti," bujuknya.


"Lepaskan. Aku bisa sendiri."


Akupun kembali masuk, yaa karena emang aku nggak tau daerah sini. Daripada tersesat kan, manding turunin ego dulu.


Terdengar Dani mendengkus kesal. Karena aku mengabaikan-Nya.


Mungkin aku harus lebih tegas sama dia, biar dia enggak seenak udelnya kalo bicara, sekali-kali harus dikasih pelajaran biar tu mulut kagak seenaknya kalo ngomong.


Aku kembali masuk kamar, entah kamar siapa, yang pasti kamar ini bekas aku dan Dani tidur tadi. Kututup pintu mengabaikan Dani yang mengekor di belakangku. Kukunci pintunya.


"Yang, ko di kunci. Buka dong, Aa juga mau tidur!" teriaknya dengan mengedor-ngedor pintu.


"Enak aja! Tidur di luar!!" jawabku dengan teriakan lagi.


Aku kembali duduk ditepian ranjang. Kulihat ponsel, ternyata banyak miscall dari Wahyu. Segera ku telpon balik.


"Halo, Assalamualaikum?"


"Waalaikumsalam, kamu ko nggak angkat telpon dari tadi?" tanya Wahyu terdengar panik.


"Maaf, tadi ketiduran. Ada apa A? Miscall nya banyak banget?"


"Aa cuma hawatir sama kamu, Aa juga mau minta maaf saat di pernikahan kemarin, Aa malah ninggalin kamu, padahal kamu butuh Aa kan?"


"Hmm, enggak apa-apa kok A, aku mengerti,"


"Iya, tapi kamu pasti sangat terpukul kan?"


"Enggak kok, enggak apa-apa,"


"Kamu sekarang dimana?"


"Hmm. Aku nggak tau aku dimana, A Wahyu tanyain aja langsung ke teh Maya,"


"Loh, ko aneh sih. Haha, kamu ini ada-ada aja deh,"


"Hehe, A udah dulu ya, aku ngantuk mau tidur,"


"Oh, okee.. bay sayang!"


Apa?? Sayang? Aku melongo, terdiam mendengar ucapan Wahyu.


"Halo, Erna?? Kamu masih disana kan?"


"Eh, e iya. Bay!"


Segera ku tutup telponku. Kini airmataku berasa kering, sudah tidak mau menangis lagi, aku kembali menghela nafas berat. Berusaha tenang dengan semua masalah yang sedang aku hadapi sekarang.


Ya tuhan, ampuni dosaku...


Terimakasih kaka readers 😘😘🙏🙏

__ADS_1


Like komennya yaa 😊😊


__ADS_2