My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 3 Ayahku Tiada


__ADS_3

Di lantai 2. Uda Yuda, tiba-tiba memanggilku untuk segera keruangan nya. Entah ada keperluan apa. Aku tidak tau.


Aku juga sedari tadi tidak melihat kak Baru, 'Kemana dia? ' pikirku.


Tapi, peduli apa aku sama dia. Dengan langkah seribu aku naik ke atas, kelantai 2. Di dalam ruangan sudah ada kak Baru dan uda.


Aku mengerutkan dahiku, 'Mereka sedang apa? nampaknya serius' pikirku lagi, dengan berdiri di tengah pintu.


"Sini Na," panggil uda, dengan tangan jemari tangan kiri ia permainkan mengetuk-ngetuk meja.


Tanpa menjawab, aku mendekati mereka.


"Na, uda gak mau, kalo kamu keluar malam lagi. Apalagi kalo cuma ketemuan atau jalan sama laki-laki. Gimana kalo sampe ada hal yang buruk terjadi? Misca pasti akan marah sama uda!" ucapan uda membuat aku yakin, jika kak Baru sudah mencampuri urusanku, dan bahkan sangat yakin jika dia juga yang sudah membocorkan semuanya sama uda.


Aku melirik kesal sama kak Baru. Sementara dia malah asik cengengesan. Muak aku.


' Siall ' Rutuku. " Iya uda. Erna janji."


" Baiklah, uda pegang janjimu!"


Tanpa ba bi bu, aku langsung meninggalkan ruangan uda. Aku terus berdecak kesal. Aku memang berhak patuh dengan aturan uda, karena dia yang memperkerjakan aku, yang menggajiku. Tapi apa hak nya kak Baru, yang sama-sama karyawan. Sibuk mengurusi hidup orang lain.


Aahh, aku sangat kesal.


Aku merenung melamun, dengan menopang dagu, bertumpu etalase. Menatap jalanan yang cukup ramai oleh kendaraan. Dihiasi debu pula. Membuatku benar-benar jengah, dan malas.


Apalagi dengan semua yang di ucapkan uda padaku. Benar-benar sangat memberatkan ku.


"Dorr!!"


Sontak aku terlonjak kaget, nyaris jatuh dari kursi tinggiku yang aku duduki.


"Galau mulu nong !" ucap bang Zul. Dengan merangkulku dari sisi.


"Apaan sih!! untung jantungku masih baru!" sembari menyingkirkan tangannya dari bahuku.


"Haha, baru beli?"


"Apaan sih bang! jangan ganggu deh!"


"Dih, apaan sih judes amat."


Aku diam sembari mendengkus.


Aku sama bang Zull sangat dekat, ke adik kaka gitu. Aku yakin, kalo bang Zul gak mungkin ngadu sama uda. Yaa karena aku udah sering kepergok jalan sama Dani oleh bang Zul. Jadi otomatis dan aku sangat percaya kalo aturan uda gak ada hubungannya sama sekali sama bang Zull. Apalagi dia orang nya cuek. Tapi, gak ada salahnya aku coba tanyain langsung. Biar jiwa penasaran ku nggak meronta-ronta.


"Bang, Abang ngadu sama Uda ya? soal kemarin?" tudingku dengan menunjuk dadanya.


"Isshh, buat apa? itu bukan urusan abang. Urusan percintaan mu, urusan mu sendiri. abang gak mau ikut campur." tandasnya.


Mendengar jawaban bang Zul, aku semakin yakin, jika dia gak ikut-ikutan. Aku malah semakin kesal sama kak Baru. Rese juga tuh orang.

__ADS_1


Semenjak kejadian itu. Aku malas berbicara sama kak Baru, apalagi, Uni juga ikut-ikutan mau jodoh-jodohin aku. Makin kesal aku sama dia.


Udah hampir dua minggu aku gak bisa ketemu Dani. Rasa nya kangen banget.


_________


Satu bulan berjalan. Seminggu yang lalu abahku mampir memberiku es krim. Sempat dia bilang, 'Jadilah wanita yang baik dan berguna neng, abah mah bentar lagi juga mau pulang, ' tuturnya saat beberapa hari kebelakang.


Hari ini, perasaanku sangat tidak enak, entah apa, resah, gelisah gundah, bercampur. Sampai malam tiba.


Ya Allah... kenapa perasaan ku nggak enak gini sih?


Pip pip.


Dering ponselku, sebuah pesan masuk.


[ Erna, abahmu kecelakaan. sekarang dirawat dirumah sakit Siloam purwakarta. ] mendadak tubuhku bergetar, tanpa ragu aku langsung menelpon temanku itu.


Betapa sakit dan hancur perasaanku. Bagaikan belati yang menusuk jantung. Aku tidak bisa tidur, aku lakukan sholat sunah berkali-kali, berdoa kepada sang khalik. Meminta yang terbaik. Karena temanku juga memberi kabar bahwa ayahku langsung kritis.


Hingga pagi menjelang, aku masih belum tidur. Wajahku sembab, mataku bengkak akibat terus menangis, aku terus menghubungi ketiga kakakku. Sama sekali tak ada jawaban. Kenapa mereka tega tidak memberiku kabar sepenting ini! sedarurat ini! Padahal menyangkut nyawa seseorang. Nyawa ayahku. Aku benar-benar kecewa dengan mereka semua.


Tak henti-henti nya aku terus mengabari kakakku, Nihil. Sumpah membuatku geram. Aku telpon lagi temanku. Baru aku tau dimana ayahku di rawat.


Pagi jam 06:00, aku sudah rapih. Tanpa ragu aku bicara sama uni. Meminta gajiku lebih awal, karena memang baru saja kemarin aku gajian.


Aku ceritakan semua sama uni, dengan apa yang sudah menimpa ayahku. Uni langsung mengerti, bahkan dia sempat menguatkan aku. Aku langsung di kasih uang, sebagai gaji awal, bahkan dikasih bonus pula. Baik banget emang.


Secepat kilat aku pergi ke RS yang ada di Purwakarta. Naik angkot, setelah sampai. Aku menanyakan ruangan ayahku kebagian resepsionis. Setelah diberi tau, dengan mengambil langkah seribu berlari menyusuri setiap koridor rumah sakit, menuju ruang ICU, dimana ayahku dirawat.


Tepat di sebelah kiri aku melihat papan yang bertuliskan 'RUANG ICU' seketika kakiku terhenti. Dengan jendela kaca yang hanya pas sebesar wajah. Kutempelkan kedua mataku mengintip.


Aku melihat nya... Aku melihatnya. Laki-laki yang aku sayang. Laki-laki yang menjadi alasanku untuk mempertahankan harga diriku. Kini terbaring lemah, dengan terpasang beberapa alat bantu.


Sungguh sakit hatiku, hancur duniaku. Air mata seakan tak ada habis-habisnya mengalir, membanjiri pipiku.


Abah... lirih ku getir.


Lututku sangat lemas, denyut nadiku seakan berhenti, jantungku seakan tak berdetak lagi.


Hingga aku melihat ibuku yang sedang duduk di kursi tunggu bersama kakak perempuanku. Aku terus memperhatikan nya. Tanpa mendekatinya. Ku usap kasar air mataku. Perih melihat ibu.


"Erna..." panggil kakak ku, dengan menunjukku. Sehingga ibu pun ikut menoleh.


Aku diam tak menjawab. Aku tak bisa bicara, yang aku bisa hanya menangis. Terus menangis.


Kak Eva berlari memelukku. Lantas menuntunku agar Aku duduk betiringan dengan ibu. Aku juga melihat mata ibuku sembab. Semuanya sembab. Kemudian berganti Ibuku yang memelukku dari sisi.


"Kamu tau darimana?" tanya kak Eva.


"Dari temanku, aku tau dari dia!! jika dia tak memberitahu ku. Mungkin aku masih enak-enakkan di toko. Asik memoto orang dan melayani orang! Apa kalian sudah tidak menganggapku? kalian tau! abah ini sangat berarti untukku!! tolong pikirkan itu!!" Aku marah, aku kesal. Aku hardik semuanya.

__ADS_1


Ibuku hanya bisa menangis.


"Jangan salah paham Na, bukan seperti itu. Kami tidak ingin jika kamu hawatir, itu saja!" jelas kak Eva.


"Oh, jadi begitu? bahkan hingga abah mati pun kalian tidak akan memberitahuku hanya dengan alasan yang seperti itu? Iya?"


Tidak ada yang menjawab. Semuanya diam. Aku terus menangis, seakan airmataku tidak ada habisnya. Malah semakin deras.


'Ya Allah, kenapa ini harus terjadi padaku, kenapa engkau tega membuat ayahku begini.' Jeritku dalam batin.


Aku terus menyalahkan tuhan. Kenapa harus memberiku takdir seperti ini, aku ingin tau, benar-benar ingin tau.


Setelah tiga hari, Ayahku dirawat di Rumah sakit, Dokter memberi pilihan, jalan satu-satunya harus operasi. Karena terjadi gumpalan darah yang beku diotak ayahku. Akibat benturan keras pada saat kecelakaan itu. Namun, biyaya nya sangat mahal. Hingga puluhan juta, itu juga dokter tidak yakin. Karena hanya kemungkinan kecil akan berhasil, dari 100% menjadi 10%. Meskipun berhasil, ayahku tidak akan bisa normal kembali, beliau akan sedikit terkena gangguan jiwa.


Tidak mengapa, asalkan sembuh. Bahkan sampai harus menjual rumah pun tidak mengapa. Ayahku memang mendapatkan jasa raharja 25juta. Si penabrak juga memberi denda sangat rendah, yaitu hanya 5 juta, dengan alasan karyawan baru. Kebetulan yang menabrak ayahku adalah sopir mobil box roko DSS.


Sempat terjadi keributan soal ganti rugi itu. Namun semuanya sudah diserahkan oleh keponakan ayahku yang berpangkat polisi dan tentara.


Hingga saat nya tiba operasi, mendadak RS ini kekurangan alat. Terpaksa harus dirujuk ke bandung RS Hasan Sadikin.


Aku tidak bisa ikut. Yang ikut hanya kakakku saja.


Beberapa hari dirumah sakit Bandung. Tetap tidak ada kemajuan. Ayah malah semakin drop. Jantungnya semakin lemah.


Itu yang aku tau dari kakakku, saat aku menanyakan kabarnya lewat ponsel.


Namun, pagi ini aku kembali menerim telpon dari kakakku. "Abah baik-baik saja, besok juga pulang." itu yang aku dengar dari salah satu kakakku yang berada di bandung.


ada sedikit perasaan lega dihatiku. Ternyata ayahku membaik.


Tapi ternyata salah.


Pagi ini Ayah dibawa pulang, aku pikir ayah sembuh. yaa memang sembuh. Tapi, kesembuhan nya berakibat patal.


Hingga saat nya tiba, mobil ambulance datang, dengan menghidupkan bunyi khas nya yang membuat merinding.


Perasaanku berkecamuk, kenapa hawanya berbeda begini? Aku mulai bingung, saat petugas medis mulai menurunkan jenazah.


Aku pikir itu zenajah siapa?


Apa salah alamat? Atau bagaimana??


Dan ternyata... Zenajah itu ayahaku...


Ayahku tiada, dia sudah tiada. Bukankah kakakku bilang bahwa dia baik-baik saja. Tapi, kenapa pas pulang Ayahku sudah dibungkus kain kafan seperti ini??


Aku mengamuk. Aku meronta. Bahkan semua orang susah untuk mencegahku, aku manangis memeluk ayahku yang sudah terbujur kaku. Aku terus menangis sejadi-jadinya.


Hingga pak ustadz memberiku nasihat, bahwasanya, jika airmataku menetes ke tubuh ayahku, itu akan membuatnya berat, itu akan menyiksa ayahku. Membuat ayahku terus kedinginan. Itu ucapan yang pak ustadz katakan.


Aku melepaskan pelukan ku. Dituntun temanku. Aku masih menangis dipelukan temanku, hingga semuanya menjadi gelap, kepalaku pusing. Dan sejak saat itu aku tidak tau lagi dengan semua yang terjadi.

__ADS_1


Masih ingin lanjut gak ya??


Sumpah aku nangis nulis dibagian ini 😭😭. Teringat ayahku lagi yang sudah tiada sejak 2011 lalu.


__ADS_2