
"Gilaaaaaa!!!! Lu keren parah! " puji Faiz dengan bertepuk tangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya setelah aku kembali duduk bersama mereka, Karena masa interview ku hanya satu lagu saja. Dan alhamdulillah nya semua menikmati lagu yang aku nyanyikan.
"Iya lah jelasss. Abang nya aja pemain gitar yang handal. " saut Bara dengan tersenyum penuh makna padaku dan menaik turunkan alis tebal nya.
"Biasa aja kali. " aku yang duduk sembari meneguk air yang ada di gelas. "Huueeeeekkk... " sontak aku memuntahkan air yang aku teguk, muncrat ke area permukaan wajah Hada yang pas pasan, "Air apaan nih? " protesku dengan mengangkat gelas ditanganku, mengamati air yang berwarna merah itu.
"Lu muntah liat-liat dong woii! lu pikir wajah gue tanah kuburan apa! " maki Hada sembari mengelap wajahnya menggunakan tisue yang sudah tersedia di meja.
"Sory Had, gue reflek. " bebarengan dengan tanganku mengambil tisue dan membantu mengelap wajahnya. "Udah muka pas pasan. Kena muntahan gue pula, " lanjut ku.
"Paan si lu ah! Udah ah nggak usah bantu gua! " makinya lagi dengan mengibaskan tanganku menjauh.
"Ya elaahh, sory kali Had, gue kagak sengaja, " lirihku dengan wajah menekuk, "Lagian air apaan sih ni? "
"Anggur, " saut Dedi.
"Elu juga, main tenggak aja. " timpal Hada, sembari merebut gelas yang aku pegang, lantas meneguknya hingga habis. "Jamu ini! " lanjutnya.
"Pada mabok lu ya? " tuding ku pada mereka satu persatu sembari beringsut berdiri. Mataku melotot mengamati dari mereka semua.
"Mana ada! " sangkal Bara.
"Lah ini! " tunjuk ku pada botol yang berjejer rapi seperti pasukan paskibra.
"Udah lah. Lu kaya baru tau aja! " Dedi, dengan meneguk langsung pada botol nya.
Aku mendengus malas.
"Gue balik dulu ya. Terserah lu pada mau mabok ke pingsan kek, gue mau balik. Bayyyy!" tanpa menunggu jawaban dari mereka aku langsung berbalik badan dan melangkah pergi keluar dari cafe milik Faiz ini.
"Woii, tungguin gue! " teriak Bara.
Ku acuhkan dia dengan terus melangkah pergi menjauh tanpa menoleh padanya.
Langkah demi langkah, seseorang dari meja no limabelas terus mengamati ku dengan sinis.
Kenapa tuh orang? liat gue kaya liat tulang aja! pikirku dengan terus berjalan tanpa peduli.
GUBBRAAKKKK
"Awwww! " pekikku,menabrak meja karena kakiku ada yang menyerimpung. Membuat si penunggu meja sontak berdiri karena kaget. Air yang berdiri rapih pun mendadak tertidur dan berguling hingga jatuh dari tempatnya, semuanya menumpah ruah seperti kapal pecah.
"Hati-hati mbak kalo jalan! " teriaknya marah.
"Sory-sory aku nggak sengaja, " sembari berdiri membenarkan posisiku.Dan si pria itu pun langsung berlalu pergi meninggalkan tempat kejadian peristiwa dengan amarah memuncak karena bajunya penuh dengan jus.
BRRAAAAKKKK!!!
"Ehh setan!sengaja lu ya memasang kaki biar temen gua jatoh? " tuding Bara pada wanita yang duduk di meja nomor limabelas itu. Aku pun menoleh.
"Jangan asal tuduh ya! " sangkalnya berdiri seperti menantang Bara. Sementara aku hanya diam, aku ingin tau wanita setan itu mau ngaku atau tidak. Karena aku sendiri merasakan bahwa kakinya sengaja memasang pas aku lewat dan lantas terjatuh.
__ADS_1
"Lu pikir mata gue picek? " ucap Bara penuh penekanan. Keributan ini membuat Faiz dan Dedi berlari ke arahku.
"Ada apa ini? " tanya Faiz panik dan terkejut karena melihat cafe nya berantakan.
"Dia menyeleding kaki Erna Iz!Wanita ini sengaja memasang kakinya agar si Erna jatuh!" Bara, dengan mata tetap melotot pada wanita itu.
"Jangan asal tuduh kau ya! mana buktinya? " teriaknya. Tubuhnya mulai gemetar seperti ketakutan.
"Apaan sih Na? " tanya Dedi dengan menyenggol bahuku.
"Lu liatin aja! " jawabku singkat.
"Halaahh, udah ketahuan juga. Masih menyangkal! " sindir Bara tersenyum kecut.
"Dia bohong A Faiz. Aku nggak ada menyeleding atau menyerimpung kakinya. Dia nya saja yang jalan nggak pake mata! " bantahnya lagi dengan jari menunjuk padaku dan bola mata yang hampir keluar.
"Jalan dimana-mana pake kaki cuy. Mata buat liat! " cibir Dedi
"Masih aja ya nggak mau ngaku! " ucapku lirih.
"Iz. Disini kan ada CCTV lu cek lah.kalo urusan kaya gini harus di benarkan! " kata Dedi. Faiz mengangguk dan berlalu masuk kedalam ruangan nya.
"A Faiz! Nggak perlu karena mereka semua juga berbohong! " teriaknya dengan menampkan wajah kesal dan merah.
"Rin, kalo lu nggak salah, lu kagak usah takut. " kata Dedi berlalu mengekor Faiz.
"Takut kan lo?" kata Bara dengan menunjuk bahunya kasar.
_______
Angin berhembus menyibak rambut gimbalku hingga terbang melayang bagaikan bunga ilalang, mataku beralih melihat tasku, karena ponselku terus bergetar hebat.
"Hallo, " ucapku tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Apa kabar cewek nakal? " mendengar suara dari sebrang telpon. Sontak membuat aku terkejut dan melihat siapa yang menelpon. Tapi ternyata tidak ada namanya karena ini nomor tidak di kenal.
"Siapa ini? " tanyaku memastikan, meskipun aku sangat tau dan hafal pemilik dari suara yang aku dengar ini.
"Apa kamu tidak merindukan anakmu? " ucapnya lagi tanpa menjawab pertanyaan ku.
"Jangan banyak bacot deh! " tukasku
"Heuhh. Sudah ku duga, wanita jalang seperti mu pasti tidak akan peduli dengan anakmu. Buktinya saja sudah beberapa bulan ini kau tidak mencari anakmu atau bahkan melihat nya."
"Oh iya,aku lupa. Jika wanita seperti mu pasti akan merelakan dan bahkan menjual anaknya hanya demi uang." tuturnya lagi.
Aku terus diam mendengarkan orang itu bicara.
"Oh satu lagi. Tujuan ku menelpon mu karena ingin memberi tau bahwa Wahyu akan menikah dengan Ratna besok. Aku harap kamu datang ya, WANITA JALANG! " tanpa menjawab, segera ku matikan telpon nya
Tut tut tut.
__ADS_1
"BRWNGSEK!!! " Kuremas benda pipih yang ada di genggamanku. Nafasku seketika memburu, ada rasa kesal dan benci, cemburu dan marah bercampur menjadi satu.
Derai air mata tak bisa ku bendung lagi. Seketika jari-jari ku memencet tombol dan segera menelpon Maya.
Tuuutt tuuuuutttt
Cukup lama Maya mengangkat telpon dari ku, entah sibuk atau sengaja akupun tak tau.
"Halo! "
"Halo, Assalamu'alaikum Na. kenapa? Apa kamu butuh uang lagi? "
"Kau sengaja menyuapi ku uang agar aku melupakan anakku? "
"Maksud kamu? "
"Cepat beri tau aku dimana Senja! "
"Senja ada sama uyut nya Na di tangerang, "
"Berikan alamatnya padaku! "
"Ada apa sih? kenapa kamu mendadak emosi begini? "
"Cepat beri tau aku Maya! Apa kamu sengaja ingin menjauhkan aku dengan anakku? "
"Bukan begitu Na. Kamu sabar dulu, karena kamu belum waktunya bertemu Senja! "
"Persetan dengan mu May! Kesabaranku sudah habis! Aku akan membuat... " seketika ponselku direbut oleh Bara dan lantas mematikan sambunganku bersama Maya.
tut tut tut
"KAMPRET! " umpatku dengna mata melotot kearahnya.
"Lu bego atau bloon sih? "
"Apa maksud lo? "
"Lu mau ketemu sama anak lu kan? Tapi kagak gini caranya. Semuanya harus dengan rencana bego! "
maki Bara padaku.
"Jangan so tau! "
"Eh, lu pikir pake otak yang dalem. Karena otak lu itu dangkal banget! kalo lu marah-marah sama si Maya, nanti dia bakalan makin susah buat ngasih tau alamat anak lu sekarang tinggal! lu harus sabar, " sanggah Bara dengan terus menatap ku yang sudah kehilangan akal.
Aku menunduk, terjatuh dan terduduk di tepian jalan. Membuat semua orang menatap kearahku.
"Nggak usah nangis. Mending kita balik dan pikirin cara buat lu agar bisa ketemu sama anak lu! " kata Bara berlalu tanpa membantuku berdiri.
Langkah demi langkah Bara mulai menjauh, kutatap kakinya yang terus berjalan dengan cepat. Untuk saat ini hanya dia yang selalu ada buat ku, untuk saat ini hanya dia yang selalu membantuku. Kuusap kasar air mata ini. Beranjak dan mengikuti langkah Bara yang sudah mulai hilang dari pandangan mataku.
__ADS_1