
Wajahnya semakin dekat. Sementara aku sudah gugup luar binasaa bagaimana tidak dia begitu dekat seperti ingin mencium ku.
"JANGAN!! " teriak ku mendorong wajah Wahyu menjauh. "Mau apa kamu? "
"Hehe..., dikit doang yank. Mau pipi aja ko, "
"Enak aja. Emang aku cewek apakah. " Aku beringsut berdiri dari dudukku. "Jangan cari kesempitan dalam kesempatan lu ya! " umpatku menuding.
Sementara Wahyu hanya terkekeh melihat aku yang kikuk dan gugup. "Kebalik sayang. "
"Biarin! Apa ketawa? Awas lu mesum sama gua! " Tuding ku lagi dan lagi.
"Sekarang bahasa nya lu gua ya? "
"Suka-suka gua dong. Mulut mulut gua., idup idup gua. Apa hak lu? " kesalku
Wahyu hanya menggelengkan kepalanya melihat ku yang seperti ini. Biarkan saja aku tidak peduli dengan nya.
"Mau kemana? "
"Mau keluar. Males di sini! "
"Siang ini aku berencana buat ngajak kamu ke Bandung. Please ikut aku buat ketemu Senja. " Jelas. Pernyataan nya membuat langkah kakiku terhenti, aku menoleh tak percaya.
Sebenarnya kemarin ada yang lebih dulu mengajakku untuk bertemu dengan gadis mungilku. Tapi entah mengapa aku sama sekali tak tertarik dengan tawarannya itu. Dan mengapa saat orang ini yang ngejogrog di hadapan aku yang mengajak malah langsung mau-mau aja dan seakan-akan hatiku sangat senang.
"Seriously? " Mataku membulat senang.
"Yess." Jawabnya dengan anggukan dan senyuman mengesankan.
Kami saling tatap dan saling melempar senyuman masing-masing. Wahyu berjalan melangkah mendekati aku.
"Kamu belum menjawab pernyataan ku yang tadi."
"Sory. Pernyataan yang mana? " Dustaku. Karena aku sama sekali belum ingin membahas soal hati. Aku ingin fokus bekerja dan merawat Senja jika gadis mungilku itu sudah berada di pangkuan ku.
"Pura-pura ya kan? " Ujarnya dengan nada sensual dan mencolek dagu ku.
"Pura-pura apa? Nggak usah colek colek. Emang aku sabun colek! " Kesalku
"Tadi? " Aku menggeleng tak mengerti. Ralat. Mengerti sih tapi pura-pura.
"Oke baik. Gua tau, lu masih belum maafin gua soal Ana."
Jangan-jangan Ana itu nama perempuan yang di rumah sikat itu lagi. Batinku kesal.
__ADS_1
"Siapa Ana? "
"Cewek yang di rumah sakit itu. Yang kamu ngambek sampe ngusir aku. "
"Oh." Aku berlalu pergi. Meninggalkan nya dan rumahku. Entah tujuanku mau kemana. Aku hanya mengikuti langkah kaki ku saja berjalan yang tak tau arah dan tujuan.
Si Wahyu gimana? Ikut nggak?
Jelas ikut. Dia ngintil di belakangku.
Langkah demi langkah semakin menjauh. Rumah juga sudah terkunci rapat oleh Wahyu. Tepat di depan gang aku berhenti melangkah. "Ngapain ngikutin gua? " Bentakku namun masih menatap ke depan tanpa menoleh ke belakang.
"Calon suami tidak mau melihat calon istri berjalan sendirian. " Ucap Wahyu
"Kenapa? "
"Karena aku mau calon istri baik-baik saja dan sehat wal'afiat sampai pelaminan nanti. Dan calon suami tidak mau ada satu orang pun yang mengganggu sang calon istri. Apalagi samai menggoda. Siapapun itu sang calon suami tidak akan rela, sayang. "
Aku bergidik. Gila ni orang, baru beberapa bulan nggak ketemu langsung bucin aja.
Tanpa peduli aku melanjutkan langkahku, menghampiri tukang ojek pangkalan.
"Mang, " panggil ku menepuk pundak si mang ojek yang sudah aku kenal. Sontak membuat si mang ojek terkejut bukan lagi.
"Saya carter ya seharian. Saya mau jelong-jelong. " Ucapku langsung menaiki motor bapak separuh baya yang sudah aku kenal. Namanya mang Irul. Anaknya lima. Istrinya satu.
"Saya juga carter ya mang. Ikuti motor calon istri saya. Kemanapun mereka pergi. " Wahyu ikut menyusul, kecepatan motornya mampu mensejajariku yang sudah lebih dulu.
Sial! Ngintil mulu kaya anak ayam. Gerutuku kesal.
Sebenarnya aku tuh kesal nggak kesal sih di kintilin Wahyu. Yaa..., nggak bisa di pungkiri bahwasanya aku juga merindukan sosoknya untuk selalu ada di setiap aku membutuhkan sandaran dan pujaan hati.
Satu jam perjalanan. Akhirnya sampai di suatu tempat yang cukup bagus lah buat selfie selfie alay ala ootd anak jaman sekarang.
Oh iya, author mau kasih tau sedikit. Kalo bahasa yang di gunakan akan sedikit tidak sopan yaa karena mengenai perihal para pemain masih muda mudi dan emang bahasanya ya begitu, cuman author satuin sama bahasa anak jaman sekarang biar nggak badmood gitu. Biar agak asik dikitan.
Mohon maklum ya para kaka yang tersayang tercinta ter teran lah pokonya.
Oke lanjut gas kuyyy....
Aku turun diikuti Wahyu yang di belakang.
"Mang, saya kan udah carter nih mamang mau kan tungguin saya sampe kelar urusan? "
"Boleh neng, tapi kopi rokok di tanggung pemenang, "
__ADS_1
"Ettdahh lu kira gue lagi ikut kuis berhadiah. " Lirih ku menusuk tajam si mamang
"Hehe." Si tukang ojek malah ketiwi. Mau tak mau terpaksa aku mengiyakan.
"Ayo mang ikut saya ke warung pojok itu. " Ajak ku pada mang Irul. Tak di sangka tak di nyana. Wahyu masih mengintil seperti anak ayam mencari induknya.
"Lu. Ngapain ngikutin gua si? " Kesal ku berdecak.
"Ya aku juga mau nyuruh si mamang ojek buat nemenin mamang ojek kamu lah biar nggak badmood. " Saut Wahyu santai.
"Mang, mang di sini ya sampai urusan saya selesai sama calon istri saya. "
"Siap kang. Duhh so sweet banget sih. Jadi cerita nya kalian ini lagi berantem ya? Jadi inget mamang sama istri mamang waktu muda, suka kejar-kejaran kalo lagi berantem. Kaya di film Indigo gitu. " Ujar si mamang sambil tangannya di adu adukan dan tersenyum-senyum seperti sedang menghayal.
"India mang. Bukan indihome. "
"INDOMIE! " tukasku kesal. Dasar manusia konyol. Mereka asik cengengesan.
"Nggak apa-apa kang, cewek emang gitu kalo lagi ngambek. Istri mamang juga suka gitu kalo lagi ngambek. Tapi mamang suka kasih uang merahan. Ngambeknya ilang, " curhat kang ojek.
"Ko malah curhat si mang. " Ujar ku meringis.
"Dramatis banget ya mang percintaan nya. " Kata Wahyu yang menanggapi dengan seksama.
"Ya begitulah kang. Saya do'ain semoga segera ke permainan. "
"PELAMINAN MANG! Ahh keheul gua! " Umpatku
"Ciee. Mau cepet ke pelaminan ya? " Goda Wahyu cengar cengir.
"Udah lah. Kalian ini memang cocok banget, wajahnya sama kaya kembar siam. " Kata mang Irul sambil cengengesan. Parah si.
"Idih mang, jaga mulutnya itu ya ampun! " Kesalku. Ko ada ya orang-orang konyol kaya mereka.
"Ya udah, mamang mau kopdar dulu. Mudah-mudahan kalian yang langgeng sampe maut memisahkan mamang do'ain." Aku melotot tak mengerti dengan perilaku kang ojek ini.
"Etdah! " Aku berlalu, berjalan ketepian danau yang di hiasi bunga-bunga dan pohon-pohon manja bergelayut bersama angin sepoy.
"Aamiin mang makasih banyak. " Saut Wahyu dan yaa... Langsung lari mengejarku. Lari? Kan belum jauh. Ah au ah gelap.
Aku terus menyusuri tepian danau yang cukup lumayan besar, jika aku menyeburkan diri dan pastinya akan tenggelam lalu mati. Nanti siapa yang akan mengurus anakku.
"Ngapain si ngikutin gue terus? " Kesalku berbalik badan. Melihat dia yang juga mendadak ikut berhenti dan melihatku tersenyum.
"Kemanapun kamu pergi, akan aku ikuti. Aku kan sudah bilang, aku tidak mau calon istriku kenapa-napa. "
__ADS_1
"Terserah lu aja! "
Kami terus menelusuri danau yang cukup lumayan adem buat ngadem. Hingga sore menjelang. Kami pun lanjut pulang.