
"Nek, kenapa sekarang nenek malah menyuruh Wahyu untuk mendekati wanitaku nek? " tanya Dani dengan nada tinggi, sehingga membuat gemuruh semua ruangan.
"Wanitaku! kagak ngaca lu!" sindir Maya. Jeli ku dengar lirihan Maya dengan berdecih. bukan lirihan tapi sindiran.
"Kamu sudah ada Fitri Dan, jangan ganggu mereka. Biarkan mereka bersama, kamu tidak bisa menikahi dua wanita sekaligus." jawab nenek. Dengan nada menekan, namun masih tetap lembut keibuan.
"Udahlah Dan. Salah kamu sendiri, kenapa mau dinikahin sama si Fitri. Nyesel kan lu, dia deket sama sepupu lu sendiri, " imbuh Maya.
"Teh, jangan salahkan Dani dong. memangnya ini mauku?" elaknya. Benar-benar bikin mulutku gatal. Dasar munafik.
"Ya kamu harus seperti Wahyu lah. Dia pergi dari rumah saat orangtuanya melarang untuk mendekati Erna. Jelas Wahyu sudah terlihat bertanggung jawab. Punya pendirian jelas. " Papar Maya.
"Terus saja bela dia!" tukasnya. Setelah mengatakan itu aku tidak lagi mendengar suara Dani. Mungkin dia pergi.
"Sudah May, ayo kita pulang. Beresin rumah, untuk persiapan menyambut cicit ibu."
"Oke bu, "
Ku lirik kearah pintu. Lantas, ku lirik lagi pria didepanku ini. Beralih lagi mataku saat jemari Maya mulai meraih knop pintu dan menutupnya perlahan.
Suara debatan mereka pun seketika sudah tidak terdengar lagi.
"Habiskan ya. Biar kuat dan bisa pulang." kata Wahyu, dengan menyendok makanan dan menyuapkan nya padaku. "Jangan pikirin soal tadi, itu hanya hal kecil. " imbuhnya.
"Soal ucapan teh Maya tadi? " tanyaku dengn mata menyipit sebelah.
"Jangan bahas yang tidak penting sayang. Sekarang ini aku hanya memikirkan kamu dan Senja, "
Aku menghela nafas berat. Kupijat pundakku yang sangat capek dan mulai bobrok ini. Dengan kepala ku piring kan kekanan dan kekiri. Untuk melemaskan leherku yang terasa kaku.
Wahyu, mulai menyuapi aku lagi. Sendok demi sendok ku lahap makanan itu. Hingga suapan terakhir.
"Kenapa kamu harus ribut seperti itu A? apa kamu nggak menghargai aku yang sedang begini? " tanyaku lagi dengan mulut masih penuh makanan.
"Jangan ngomong dulu. Nanti muncrat semua tuh makanan yang di mulut."
"Iya. Tapi aku hanya ingin tau. Apa yang kalian perebutkan? "
"Kita tidak merebutkan apapun. Aku hanya nggak suka dengan caranya yang selalu memakai urat. Kalo baso sih enak pake urat." seloroh nya. Lantas mengambil botol minum dan membuka tutupnya lalu diberikannya padaku. Ku teguk air mineral yang Wahyu berikan.
"Haus." katanya. Setelah melihat botol mineral itu ludes kutenggak.
"iya lah."
Ku kulum bibirku dengan mata tak lepas menatapnya. Akan menjadi hobby baru nih. Wajahnya yang teduh benar-benar membuat aku klepek-klepek. Sikap dan prilakunya yang santai dan kalem benar-benar buat aku.... ahh begitulah...
ðððð
Sore ini saatnya aku pulang. Dengan sigap Wahyu menyiapkan semuanya. Membereskan semuanya seorang diri. Seperti sudah ahli saja Wahyu ini.
"Na. Kamu bisa kan jalan kaki? kursi rodanya rusak, " ucap Wahyu. Sembari mengepak pakaian bekas lahiranku, tidak tertinggal kain bekas darah bersalin ku dia kantongi kresek hitam besar.
__ADS_1
"Bisa kok. Cuman harus dituntun A. Aku nggak kuat kalo sendiri. Badanku kan masih sangat lemes." keluhku dengan memijat kakiku yang masih menjuntai.
"Oke. Tunggu sini. Aa mau masukin barang-barang dulu ke mobil," katanya. Lantas berlalu pergi dengan kedua tangan menenteng kresek besar masing-masing.
Setelah dia berlalu. Bidan Aisyah dan suster itu mendekatiku.
"Biar saya bantu neng,"
"Nggak usah Sus, nanti suami saya saja. Tolong gendong bayiku saja sampai depan ya Sus, "
"Ya sudah, " Suster itu mulai meraih anakku yang berbalut bedong berwarna pink. Sementara aku masih menunggu Wahyu yang belum juga datang.
"Biar sama ibu saja neng, suami kamu masih dilluar kayanya," Aku mengangguk dengan tawaran bidan Aisyah, dengan perlahan tapi pasti kedua pundakku dipegang kuat oleh bidan Aisyah, menuntunku perlahan sampai depan halamannya. Wahyu tersenyum saat melihat aku yang tengah berjalan.
"Nggak sabar rupanya." katanya sambil tersenyum melihatku. Lalu menutup bagasi dengan kencang.
"Bu bidan yang nawarin A, iya kan bu? "
"Iya."
Wahyu berlari mendekatiku. Menggantikan posisi bidan Aisyah dan menuntunku hingga masuk mobil.
"Pelan-pelan sayang, jangan terburu-buru."
"Hmmm."
Dengan suster yang berjalan dibelaknagku, lalu memberikan anak gadisku yang ia gendong tadi. "Terimakasih Suster, "
Kututup pintu mobil setelah suster itu menjauh. Kulihat Wahyu juga merogoh kantong celana dan mengambil dompet, lantas ia keluarkan dua lembar uang berwarna biru itu pada suster, kulihat juga dia berbincang dengan bidan Aisyah. Lalu berbalik arah dan berlari menyusul ku masuk.
"A, kamu kasih uang ke suster? " tanyaku, saat Wahyu sudah duduk rapi dibelakang stir.
"Iya lah, uang tips." jawabnya dengan menampakan senyuman tipis tapi manis.
"Baik banget sih kamu, A, "
"Kan dia juga udah bantuin kita. Ya kita harus baik lah, kamu ini aneh. "
Aku diam dengan kepala mengangguk. Segera Wahyu menyalakan mesin dan melaju perlahan untuk segera pulang. Ahhh.... Rasanya aku ingin berbaring dan tidur pulass. Badanku terasa remuk seperti terlindas beban berat.
"Jangan bubuk dulu yang, nanti bayinya bisa jatuh, "
"Hmm." Dengan mata terpejam dan kepala menyender di kursi.
Setelah beberapa saat. Aku sampai dirumah. Kedatanganku ternyata disambut hangat oleh keluarga Dani. Disana aku juga melihat ada Fitri dan bu Nesi.
"Tunggu!" cegah ku, saat Wahyu hendak membuka pintu mobil dan beringsut keluar. Tanpa bertanya, dia hanya memasang wajah heran.
"A, kenapa ada mereka? " tunjuk ku.
"Mana Aa tau. sudahlah. Ayook, " ajaknya.
__ADS_1
"Aku gk bisa sendiri A. aku harus dibantu untuk berjalan, " desisku. "Terus, bayiku?"
Tok tok tok.
Suara ketukan kaca mobil membuat aku menoleh kearahnya. Seseorang yang sangat aku kenal berdiri sedikit membungkuk tepat didepan kaca mobil.
"Bu Nesi? " Lirih ku. Benar-benar diluar dugaanku.
"Ayo sayang. Tante sudah menyusulmu untuk membantu mu, Aa harus beresin barang di bagasi." kata Wahyu. Dia pun beringsut keluar mobil. Kulihat nenek juga mendekatiku.
"tapi kenapa harus dia." kutekuk wajahku. Malas aku melihat wanita ini.
Kubuang nafas berat. Mau tidak mau aku harus terima tawaran bu Nesi. Kubuka perlahan pintu mobil.
"Biar ibu bantu nak, " katanya sangat lembut. Membuat aku harus berfikir keras tentang sikap nya yang mendadak baik itu. Aku tak menjawab. Ku sodorkan bayiku pada pelukan nenek. Ditimang nya anakku dan dibawa masuk dalam gendongan nenek. Sementara aku dibantu bu Nesi untuk masuk kedalam.
"Hati-hati sayang," ucapnya, saat aku mulai masuk kedalam rumah. Perlahan tapi pasti. Aku terkejut saat melihat isi rumah yang selama ini aku tempati. Menakjubkan. Siapa yang menata rumah menjadi mewah seperti ini.
"Sudah mama duga. Kamu pasti akan terkejut dengan surprise yang mama buat khusus untuk kamu,"
"Surprise?" tanyaku mengulang.
"Lepaskan tangan anda nyonya." kugibas rengkuhan tangan bu Nesi yang masih menempel dipundakku.
"Apa maksud kalian? apa dengan cara seprti ini kalian bisa meluluhkan saya? " teriak ku.
"Jangan salah paham yang, mama ikhlas melakukan ini semua, " sela Dani.
"Halah. Cewek belagu," desis Fitri, sambil melipat kedua tangannya.
Aku yang berdiri sambil memegangi tembok seakan akan mempunyai energi baru saat ku mendengar desisan Fitri.
"Heh, cewek minim. Ngapain kamu disini? "
"Disini kan keluarga gue. Disini juga ad laki gue, ngapain lo nanya nanya? lagian ini rumah bukan rumah lo. Ini rumahnya suami gue, Cewek belagu kaya lo, nggak layak dapet rumah kek gini. sekalipun tuh seperti kandang ayam. Tetep aja, lo itu nggak pantes!! "
Aku benar-benar di skak mat. Ucapannya Buat aku mati kutu. Sial.
"Fitri, kamu bisa diam kan? mengganggu! " Kata Dani. "Udah yang. Jangan dengerin Fitri. " imbuhnya padaku, meraih tanganku yang masih bertumpu tembok. Sungguh sial. Dengan penampilanku yang masih berdaster ditambam tali melilit yang membalut area perut dan bokongku membuat aku tak bisa bertindak.
"Jangan sentuh aku Dani! aku bisa sendiri! " kuenyahkan tangan Dani. Nenek hanya menggelengkan kepalanya tanpa berbicara sepatah katapun. kulihat Fitri juga asik memainkan bibirnya keatas dan kebawah.
Tanpa perduli, aku berjalan merayap tembok. perlahan aku beringsut mendekati tempat untukku beristirahat.
Maaf bangeet.. Author sibuk ðĪŠðĪŠ
baru bisa upp.
terimakasih ððð
bantu Author dengan cara like komen dan vote yaa ðð
__ADS_1
haturnuhun ðððððð