
Pas aku terbangun. Aku melihat semua sekelilingku banyak orang, semua sangat ramai. Aku masih ingat, waktu itu telapak tanganku di tekan keras sama paraji atau dukun beranak ( Bukan bakso beranak yak ) ternyata bukan cuma aku yang pingsan tak sadarkan diri. Banyak juga, ibuku, bibiku, pamanku, kakakku, semuanya pingsan.
Persis kaya di puskesmas, kami berjajar seperti pasien rumah sakit. Dukun beranak itu terus menekan tanganku, sampe genting. Tapi aku tak menjerit, atau teriak kesakitan pun tidak. Saking lemesnya, karena cuma aku yang masih belum sadar total.
Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, setelah nyawaku terkumpul kembali, aku langsung bangun. Duduk sejenak, kemudian langsung berdiri dan melesat jauh, berlari lagi menuju rumahku. Karena saat aku pingsan aku dibawa kerumah kakakku yang pertama, kebetulan deket hanya 5 langkah, dan terhalang dua rumah saja.
Jelas, semua yang berada di sekitarku menjerit-jerit, karena aku lari begitu saja. Bahkan temanku yang berada disitu pun ikut mengejarku. Berusaha mencegahku.
Seketika aku terhenti, teman yang mengejarku pun kebablasan dan menabrakku dari belakang.
Sontak kami pun terjatuh
Jdugg
Bruggg
"Awww... pinggangku," rintihku kesakitan.
" Maaf-maaf Na, maneh sih ngadadak ereun ( kamu sih mendadak berenti ) "
Aku berusaha bangun berdiri, dibantu temanku. Aku melihat aneh di sekitar rumahku.
'Kenapa sepi? pada kemana?' Gumamku. saat melihat rumahku hanya ada beberapa orang saja. Aku berlari masuk kedalam, jenazah ayahku sudah tidak ada. Aku keluar lagi, termenung ditengah pelataran.
Namun, tiba-tiba uni datang bersama bunda Ria. Mereka menghampiriku, lalu memelukku, tangisanku kembali pecah dipelukannya. Bunda Ria juga memberiku semangat, agar aku kuat, dan tetap tegar.
"Sabar ya Na, ini semua sudah takdir, " ucap Uni menguatkan ku, dan tersenyum manis sekali padaku.
"Iya Na, kamu ini wanita kuat dan tegar, bunda yakin itu." kata bunda Ria menambahi dengan mengembangkan senyuman tulus nya padaku.
" Terimakasih Uni, terimakasih bunda," jawabku, dengan membalas senyuman mereka, berusaha kuat dan tegar di hadapan mereka.
" Erna, " panggil seseorang. tak lain adalah tetanggaku. aku menoleh kearahnya.
" Abahmu sudah di bawa ke pemakaman. " ucap tetanggaku lagi.
Aku mengangguk, " Iya mang, "
Uni dan bunda Ria juga mengajakku untuk pergi melihat ayahku yang akan dimakam kan ke tempat peristirahatan nya yang terakhir.
__ADS_1
Di sepanjang jalan aku kembali menangis, meratapi nasibku. Uni kembali memelukku, menguatkan aku lagi.
Setelah sampai di pemakaman, terlihat begitu banyak orang yang mengerumuni pemakaman Ayahku. Aku berlari, menerobos kerumunan orang itu.
Aku terduduk lemas, kakiku lemas, badanku gemetar. Hatiku kembali hancur saat pamanku mulai mengalunkan suara adzan yang begitu sangat menyentuh hatiku.
Tanpa basa-basi aku anjlok turun kebawah ke liang lahat. Semua orang terkejut melihat tindakan bodohku, berusaha membuatku naik ke atas lagi, tangan kanan dan kiriku di pegang orang lain. Agar aku segera naik, namun aku berontak. Aku memaki semua orang yang mencegahku.
"LEPASKAN!! AKU BILANG LEPASKAN!"
Teriaku pada semua orang. Dengan mengibaskan tangan mereka, semua terpental, aku seperti orang kesetanan. Entah apa yang merasukiku.
"Erna, tolong ikhlas kan abahmu! " ucap pamanku dengan menatapku sendu. Dan masih berdiri diliang lahat.
" Kau sudah membuat abahmu tersiksa dengan tindakanmu yang seperti ini! " ucap pamanku lagi.
" Tolong, mengerti nak, ikhlas kan semuanya, ini sudah takdir. "
" Iya Erna, apa kamu tidak kasihan sama bapakmu? " ucap Tetanggaku menambahi.
" Kasian Erna kasian, sudah cukup jangan seperti ini, ya, tolong ya? " ucap yang lain.
Aku kembali menangis... aku memang bodoh, aku memang brutal. Aku berjongkok menangis membuka kayu penyangga jenazah ayahku. Tidak ada rasa takut, tidak ada rasa was-was. Aku hanya tidak rela ayahku di pendam seperti ini.
"Na..." panggil seseorang dengan menyidorkan tangannya padaku, "Ayo naik, jangan seperti ini, Aa mohon Na," tambahnya dengan lembut, lantas mengulurkan tangan sebelah nya.
"Abah A, "
"Iya, Aa tau. Ayok, " bujuknya.
Ya, saat ini aku hanya butuh dia, butuh pria yang selalu ada di sampingku, pria yang satu-satunya menjadi harapanku.
Aku melihat Dani tersenyum sendu, aku menerima uluran tangannya. Dan naik lagi ke atas, dituntun Dani untuk segera berjalan menjauh dari pemakan ayahku. Takut-takut, nanti kebrutalan ku akan muncul lagi jika aku melihat ayahku yang mulai dilantunkan suara Adzan. kemudian di timbun tanah.
"Sayang, Aa di sini. Maafkan Aa yang baru bisa datang," ucap Dani padaku. Dengan merangkulku dari sisi,
"Hatiku hancur A, aku tidak lagi punya harapan," Rintihku.
"Jangan bicara seperti itu sayang, Aa akan menemanimu, menjagamu. Kamu percaya bukan?"
__ADS_1
"Aku tidak tau, "
"Jangan seperti itu. Sabar ya... " sambil bicara seperti itu dia merengkuh tubuhku menyeret ku dalam pelukannya.
"Sabar ya sayang, Aa disini, " mendengar ucapannya aku malah semakin keras menangis. Sedih...
Saat aku sedang bersama Dani, uni dan bunda Ria menghampiriku untuk berpamitan. Setelah itu mereka pun pergi meninggalkan kami, tak lupa memberi sebuah amplop, dan aku yakin itu isinya uang.
Beberapa jam kemudian, pemakaman ayahku selesai. Aku mengambil sedikit tanah, lalu dibulatkan dan dilemparkan ke makam ayahku. Aku tidak tau manfaat itu. Yang pasti agar aku bisa mengikhlaskannya, kata orang-orang sih gitu.
Aku kembali kerumah, langsung mencuci muka dengan air bekas mandi ayahku, ya, tujuan nya sama. Agar aku bisa mengikhlaskan ayahku.
Aku manut aja apa kata orang-orang.
Aku duduk di pojok rumah, di temani Dani. Sementara tetanggaku sibuk membantu membereskan rumahku. Dan keluargaku juga sibuk menata hati masing-masing.
Saat itu... flashback on
Saat ayahku dibawa mobil ambulans, hanya ketiga kakakku yang bisa ikut, sementara, ibuku dan adikku yang masih kecil. dan yang lain hanya bisa menunggu kabar baik.
Aku terus menatap kepergian ayahku yang berada didalam mobil ambulans itu. Begitu derasnya airmataku.
Setelah mobil menghilang jauh, dan suara sirine pun sudah tidak terdengar lagi. Kami semua bermaksud untuk pulang.
Kami akan mengadakan syukuran untuk kesembuhan ayahku.
Setelah sampai rumah, ternyata Dani ada di sana, aku melihatnya tersenyum menyambut kedatanganku.
Aku membalas senyuman itu, aku benar-benar sedang menunggu pelangi setelah hujan badai ini.
Aku cetitakan semua keluh kesahku sama Dani, dia selalu setia mendengarkan curhatanku. Bahkan tak henti-hentinya memberi nasihat dan semangat agar aku menjadi wanita yang kuat dan tegar.
Dani, aku sangat mencintaimu. Terimakasih selalu bersamaku, mendukung ku, menjagaku. Melindungiku. Menyayangiku dan mencintaiku.
[ Dulu emang berasa ke alay banget si gue, kalo inget masa itu. Benar-benar baper parah kalo anak jaman sekarang.]
Kami juga mendengar kabar, bahwa ayahku baik-baik saja. Namun ternyata itu hanya bualan semata. Nyatanya, ayahku sudah tiada sejak dia masih berada di RS SILOAM, waktu itu namanya bukan SILOAM, tapi EVARINA ETAHAM. Ayahku bisa bernafas akibat dari alat bantu. Setelah alat itu di lepas. Ayahku memang sudah tiada sejak kemarin. Jadi belum sempat dioprasi.
Dan saatnya tiba, ayahku dibawa pulang. Dengan mobil ambulans, naasnya, kenapa suara sirine nya malah di bunyikan. Otomatis membuat semua keluarga di rumah syok abis, termasuk aku.
__ADS_1
Thanks sudah baca dan mampir 😊😊
Semoga tidak membosankan yaa 😍😍