My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 13


__ADS_3

Aku terus berlari dengan di temani airmata. Hatiku sakit mendengar semua hinaan yang ayah nya Dani lontarkan padaku. Begitu menyayat hatiku.


Aku bukan wanita murahan seperti yang mereka sebutkan padaku! Jeritku dalam batin.


Aku tidak tau apalagi yang mereka debatkan, yang jelas Dani sama sekali tidak mengejarku.


Kenapa kamu tidak mengejarku? Kenapa kamu malah membiarkan aku pergi sendiri... aku terus merutuk.


( Ya iyalah, inikan bukan film yang main kejar-kejaran. Please deh Erna! )


Di depan gerbang rumah Dani. Aku bertemu dengan Rudi, teman dekat Dani, bisa di bilang juga sahabat Dani.


Aku tidak bisa menutupi kesedihanku padanya, raut wajah Rudi yang menatapku seakan berkata "kau kenapa menangis" aku terus berjalan tanpa peduli dengan Rudi. Meskipun tatapannya lekat padaku.


"Erna... naa..." teriakan itu semakin dekat, memang benar, karena dia mengejarku.


"Kamu kenapa Na? Kenapa nangis? Mana Dani?" Rudi memberondong pertanyaan padaku. Berusaha menghentikan langkah kakiku dan mencekal tanganku.


Seketika aku terhenti, karena dia menghalangi jalanku. Aku terus menatap tajam ke wajahnya. Mengerutkan bibirku, menyeka airmataku.


"Apa peduli mu? Bahkan kau sendiri juga bersekongkol dengan nya?" Tuduhku. Aku segera menepis tangan nya yang terus berupaya meraih tanganku. Aku kembali melangkahkan kakiku. Namun, Rudi tetap menahanku.


"Jangan dekati aku! " makiku. Ku dorong dia hingga nyaris terjatuh.


"Tunggu Na, ada apa ini? Aku peduli padamu!" teriaknya dengan terus berusaha mencegahku.


"Jangan menyentuhku! Kau ikuti saja permainan yang dilakukan temanmu itu!" tuduhku lagi. Meskipun aku tidak tau mereka sekongkol atau tidak.


"Maksud kamu apa sih? " katanya dengan nada tertahan. Aku abaikan saja dia.


Aku kembali berlari, menjauh dari rumah yang membuatku sangat sakit dan terluka bahkan malu.


Aku sangat menyesal datang kerumah itu. Tidak ada siapapun yang menghargaiku.


Aku berjalan menyusuri trotoar, saat itu, aku tak memegang uang sepeserpun. Macam gembel.


Dengan terpaksa aku jual hp ku ke konter terdekat. Agar bisa pulang. Dan melupakan semuanya. Tapi aku tau, itu tidak lah mudah. itu sangat sulit ya Allah...


"Dimana ada konter? " tanyaku pada diriku sendiri. Setelah beberapa menit aku berjalan. Aku temui konter kecil. Tapi terlihat cukup komplit. Aku berbelok mendekati konter kecil itu.


"Punten A. Mau tanya, apa disini bisa terima jual HP? " tanyaku, dengan posisi pura-pura membenarkan bajuku.


"HP apa? Dan type berapa? "


Tanpa menjawab, kusodorkan HP kecil ku padanya. Lantas dia segera memeriksa HP milikku itu, membolak balik seperti gorengan.


"Keliatan nya masih baru. " katanya sembari manggut-manggut.


"Lumayan A," sautku "Kira-kira berapa? "


"Paling 300 ribu. Soalnya ini kan batangan. "


"Tambahin dikit. "


"Kalo nggak mau, ya udah. "


Sial nih orang. Tau aja kalo gue butuh duit.


"Ya udahlah, Oke. "


"Oke." Dengan tersenyum lebar dia mengambil lembaran kertas merah di laci miliknya. Lalu menyodorkan nya padaku.


"Makasih ya. " katanya sembari berlalu pergi.


"Neng... Kartunya? " dengan berteriak memanggil ku.


"Itu bonus. " teriakku lagi. Segera aku berjalan kembali menyusuri tepian jalan yang di kelilingi manusia-manusia bumi.


Panas terik hari ini tak membuatku putus asa supaya secepat nya dapat tukang ojek. Namun sia-sia saja. Hingga aku terus berjalan kaki entah sampai bila...


Di tengah perjalanan, aku kembali bertemu dengan Rudi, dia berusaha memberi tumpangan padaku, tapi, aku terus menolaknya.


"Na, ayo aku antar pulang, kata Dani, kau tidak memegang uang sepeserpun"


"Kata siapa? Nih" aku menunjukan beberapa lembar kertas uang ke wajah Rudi, agar dia puas.


"Lho, ko bisa, kata Dani...?" Rudi nampak kebingungan.


"Aku menjual hp ku. Lebih baik kau pergi, jangan ikuti aku!"


"Tapi, Dani menyuruhku untuk..."


"Tolooooong, ada copeeettt!!!" Teriaku, seketika semua orang lewat berlarian ke arahku. Rudi panik, segera menggaspol motornya.


"Haha, mampus!" tukasku puass menyeringai.


"Aya naon neng? Mana copetna?" Ucap tukang ojek, tukang parkir, orang lewat, pedagang keliling, penjaga toko. Semuanya.


Yap, yang nanya kaya gitu bukan cuma 1orang tapi ada beberapa orang, sempet rame juga. Terpaksa aku menjawab "Maaf mang, ternyata salah orang, hehe!"


"Ya elah neng... neng..." semuanya pun langsung bubar.


"Hmmmm..." Menghela nafas panjang.


Aku duduk di tepian jembatan penghubung jalan. Melihat keramaian kota yang padat. Di situ aku kembali bertemu dengan seseorang, tapi bukan Rudi atau Dani, entahlah mereka kemana, aku tidak peduli. Yang pasti aku sangat membenci Dani.


Dan, yang jelas aku sangat menyesal telah mengenalnya.


Sekilas aku melihat Hada, temanku. Bisa di bilang sahabat ku juga.


"Hadaa..." Aku berteriak persis kaya orang gila. Seketika Hada pun berhenti, menoleh kearah ku. Aku tersenyum dengan melambaikan tanganku. Lompat-lompat supaya dia melihat ku. Aku sudah tidak perduli lagi dengan orang sekitar.

__ADS_1


Dan... Yess dia berbalik arah.


"Erna?" tanya Hada, kek orang keder. Saat sudah berada didepan ku.


"Iya, gue Erna." jawabku. Kutunjukan wajah ceriaku. Meski hati ini terasa sakit.


"Dihh, lu ngapain sih di sini?" tanyanya meringis


"Gue... " belum sempat aku menjawab, Hada sudah lebih dulu menarik tanganku.


"Alaaaahh... ayo naik, ikut gue, di rumah Faiz ada party!" katanya.


"Party??"


"Iya, makan-makan." katanya lagi sembari memeragakan tangannya.


"Baiklah."


Aku segera naik ke motor nya, melaju cepat ke arah rumah Faiz. Sampai disana, semua terheran melihatku yang ikut masuk bersama Hada.


"Lu sama Erna? " kata Faiz. Dengan menatapku.


"Iya. Gue boleh duduk? Capek nih! " kataku lesu.


"Duduk lah." gontai aku melangkahkan kaki, melewati kerumunan teman-temanku. Berjalan lesu menuju sofa milik Faiz yang sudah tersedia. Aku mendengkus, menyenderkan bahuku lemas.


Lagi tingkahku membuat perhatian para sahabatku ini. Satu persatu mereka menghampiri ku. Ada yang hanya melihatku aneh, ada juga yang duduk disebelah ku lantas bertanya padaku, "Napa lu? "


Malas aku menjawab, tanpa peduli dengan pertanyaan mereka, ku pijit kepalaku yang sudah sangat pusing.


"Na, lu napa sih? "


Kugelengkan kepalaku sambil menjawab, "Kagak. Mana? katanya party? " ku alihkan topik pembicaraan. Agar mereka tidak terus menanyakan aku yang sedang kenapa?


Sejenak aku bisa melupakan masalah terberatku. Namun, itu benar-benar hanya sejenak saja. Huuft.


Di rumah Faiz, aku terus duduk di belakang rumahnya, yang terdapat taman, dan hiasan taman yang lumayan bagus dan enak di pandang mata.


Tanpa sadar aku mengelus perutku, pikiranku berkecamuk. Ingin aku menangis sejadi-jadinya. Tapi bukan aku jika hal itu sampai terjadi. Aku wanita kuat, aku tangguh. Aku yakin dan pasti bisa melewati ini semua.


"Woii, kenapa? Ngelamun mulu dari tadi!" tanya Dedi, yang juga ikut party di rumah Faiz.


"Apaan sih lo,kaget gue!"


"Ada masalah apa Na? Gue tau, lo lagi banyak masalah. Keliatan sama muka lo. Ancur!"


"Lo putus sama mas Dani?" sela Hada, berjalan mendekati kami yang tengah duduk.


"Ehh... pinjem hape lo, gue mau nelpon bang Zul," Aku mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Nih." Hada memberikan poselnya padaku, untung saja aku ingat no telpon bang Zul.


Segera aku memberi kabar, jika aku akan minta libur beberapa hari kedepan. Memang banyak pertanyaan yang bang Zul tanyakan padaku,, kenapa, apa alasannya.


Aku terus menjawab dengan seribu alasan.


Setelah di setujui, aku segera menutup panggilan itu.


"Nih." Aku mengembalikan ponsel Hada.


"Sory, pulsa nya abis, no bang Zul X*. Lo Ax**. Hehe"


"Huh, kebiasaan lo!"


"Udah lah Na, gue tau hati lo lagi kacau. Kenapa sama si Dani?" sela Dedi kembali ke topik awal.


"De, lo kan sering kikuk-kikuk sama Anis, tapi ko si Anis kagak bunting-bunting?"


Pertanyaan anehku sontak membuat mereka melongo kaget.


"Kenapa? Dani ngelakuin itu sama lo?"


"Hmmm..." Aku mengangguk.


"What?? Kapan ?" Tanya mereka kompak.


"Biasa aja kali. muncrat!" kataku sembari mengusap wajahku yang penuh dengan iler mereka.


Mereka malah tertawa.


"Hmmm, pake pengaman nggak?" tanya Hada, kepo. Sembari menyenggol bahuku.


Aku menggeleng,


"Terus, berapa kali?" tanya Faiz, yang juga ikut nimbrung.


"Iya berapa ronde?" Timpal Hada kepo.


"Ronde? Apaan?"


"Berapa kali? Udah ah, lo pada diem napa sih, kepo aja lo!"


Heuh, mereka bertiga malah ribut.


"Dah lah, males gue!! Gue mau pulang. Anterin Gue ya. Please!" rengekku.


"Ceritain dulu lah," Hada mulai kepo.


"Males ah!" ketusku "Anterin gue De,"


"Iya, gue anterin..." Tanpa ada yang memaksaku untuk bercerita, dan akhirnya aku di antar pulang oleh Dedi, karena, aku lebih dekat dengan Dedi ketimbang yang lainnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian kami sampai rumah ku, Dedi juga sudah kembali ke rumah Faiz. Terlihat sangat sepi rumah ku ini.


"Pada kemana?" Pikirku. Aku terus berjalan masuk ke kamarku, untuk merebahkan tubuhku yang sangat lelah. Tas dan juga dompetku, tertinggal dirumah Dani.


Ahh, bodo amat lah. Seketika aku langsung memejamkan mataku.


🥀🥀🥀🥀🥀


4 hari telah berlalu....


Aku sengaja menghindarinya. Aku sudah sangat sakit dengan setiap ucapan ayahnya padaku waktu itu. Yang sampai sekarang masih terus terngiang di telinga ku.


Sebenarnya, aku juga menunggu Dani kerumah, tapi... Tak kunjung datang.


Beberapa hari telah aku lalui, empat hari sih lebih jelasnya. Aku kembali bekerja, di antar oleh kakakku lagi.


Didepan Ruko, aku melihat Mely dan bang Zul sedang melamun. Mereka kompak sekali.


"Cieee baru masuk kerja lagi." Ledek bang Zul. Si Mely mesem.


"Kenapa Na? Mukamu kusut, ke habis ilang keperawanan aja!" celetuk nya.


Aku mendelik mendengar ucapan Mely.


Aku diam tak menjawab, belum lima langkah masuk, seseorang dari sebrang jalan memanggilku.


Aku melihat siapa yang memanggil ku. Ternyata Dani. "Mau apa dia?" Gumamku.


Dia menyebrang jalan, lalu mendekatiku.


Mely dan bang Zul hanya menonton drama yang aku lakukan dengannya.


"Yang, kamu kemana aja?" panik, ya, Dani terlihat sangat panik dengan menyentuh tanganku. Berusaha menggenggam tanganku.


"Lepas!"


"Yang," lirihnya berusaha meraih tanganku.


"Malu!! " kulepaskan tangannya, "Selama ini aku selalu dirumah. Menunggumu datang, tapi mana? Kamu tidak kerumahku, kamu malah kesini!" cecarku dengan tangan menuding wajahnya.


"Maaf yang, sulit membujuk papah, "


"Hey hey hey. Pacaran jangan disini!" bang Zul melerai. "Na, kelarin dulu urusan kamu. Kalo di liat uni dan uda. Bisa-bisa marah ntar!"


"Iya-iya."


Aku menarik tangan Dani. Menyebrang jalan, dan mencari tempat yang pas buat membicarakan masalah kami.


"Siapa Fitri?" tanyaku, saat kami sudah berada di sebuah cafe kecil. Yang tempatnya lumayan buat ngobrol. Agak sepi juga. Masih agak pagi soalnya waktu itu, sekitar jam 10an tak jauh dari tempat kerjaku.


"Dia mantan Aa yang," jawabnya, "Maaf, Aa tidak pernah menceritakan tentang kisah cinta Aa sama dia ke kamu,"


"Kisah cinta??" Aku menyeringai.


"Perjodohan mu juga kamu tau? Dan kamu merahasiakan nya padaku?" tanyaku menyelidik. Mengepal tanganku, ingin rasanya aku menonjok wajah itu.


"Maaf yang," lirihnya. Aku menyeringai


Apa hanya kata maaf yang bisa kamu katakan Dani! maaf saja tidak cukup buat ku! Makiku dalam batin.


"Kamu pintar sekali A, perpek!"


"Perfeck yang,"


"Ya, itu, maksudku."


"Yang, kita nggak pake pengaman lho,"


"Terus??"


"Aa takut kamu hamil,"


Brakkk !


Gelas yang berisi jus memutar akibat gebrakan ku yang cukup kuat dan keras. Pelanggan pojok kanan sana seketika melihat ke arah kami.


Aku mengerutkan bibirku, berdiri didepannya. "Kau menyesali perbuatan mu?" tudingku.


"Tidak, hanya..."


"Hanya apa? Enak banget ya, udah ngelakuin, kamu bilang takut aku hamil? Brengsek!"


PLAAKKK


Tanpa ba bi bu aku menampar wajah so polos nya itu.


Dasar brengsek! baru saja kemarin bilang akan menikahi ku. Sekarang malah beda lagi! Geram. Hingga tanganku membentuk kepalan.


"Yang, Aa khilaf,"


"Khilaf? Dua kali lho," aku menunjukan kedua jariku di depan matanya. "itu yang namanya khilaf?"


Dia terdiam, meremas wajahnya.


Sejenak hening...


"Baiklah, aku tau, memang seorang anak laki-laki harus menuruti semua kemauan orang tuanya! Jangan membantahnya, turuti semua keinginan mereka!" tandasku.


Aku berlalu dari hadapan nya, berjalan melangkah pelan. Sungguh, sebenarnya aku tidak bisa sekuat ini, tubuhku gemetar, kaki ku lemas. Hatiku sangat HANCUR BERKEPING-KEPING.


Ku menangis lagi 😭😭

__ADS_1


__ADS_2