My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 54


__ADS_3

Tanpa menjawab Wahyu mengeser kursi dekat dengan ranjangku dan duduk manis tak lepas menatapku yang sudah malu setengah mati.


Hadeuh...bikin aku mati kutu.


Dengan menopang dagunya Wahyu terus menatap tanpa berkedip barang sedetik pun. Sebenarnya apa yang dia lihat dariku? Apa wajahku ada cemong? Atau mataku ada kotorannya? atau yang lain?


Ahh... kaca mana kaca... jeritku dalam batin.


Aku benar-benar ingin melihat rona wajahku saat ini. Apa sudah berubah menjadi cabe giling? atau kepiting rebus?


Sial.


Darahku juga malah ikut berdesir, bulu kuduk ku merinding. Tubuhku serasa kaku tak sanggup beringsut sekejap saja. Skakmat!


Malu Malu Malu!!


Hening...


Aku diam.


Dia pun ikut diam.


Dasar pengikut.


Lihat saja matanya. Iya matanya.


Ya Tuhan. Mata itu kenapa terus bersinar, seakan terus menampakan keceriaan nya padakku. Tanpa ada rasa beban dalam jiwanya. Dia begitu tenang dan damai.


Bener-bener bikin aku klepek-klepek.


"Apa? Kenapa?" tanyaku sinis dengan tatapan mata jahatku. Ku beranikan diri memulai, meskipun berat untuk membuka mulutku ini.


"Ciee, grogi ya?" ledeknya padaku. Masih dengan posisi menopang dagunya. Apalagi dengan senyuman jenaka nya yang tak surut padam dari bibir nya itu.


"Siapa? Grogi apa?" kilahku dengan wajah ku palingkan melihat tembok. Ah... sial banget sih nih orang. Bisa aja bikin aku naik level.


Nggak tau apa kalo jantungku lagi main disco sekarang.


"Tuh, mukanya kaya tomat." dengan mencuil hidungku lalu menyeringai. Tidak terkecuali dengan kelakar nya yang khas.


Kuusap perlahan hidungku yang tidak gatal itu. Bagaimana bisa dia berseloroh dengan santainya dan tanpa beban seperti itu?


Sebenarnya makhluk apa sih ini? Kenapa selalu bersikap santai setiap ada permasalahan?


Tenang... mengalir bagaikan air.


"Jangan banyak omong. Cepat jelaskan semuanya padaku!" tukasku, sengaja kualihkan pembicaraan ini. Atau dia akan puas meledekku dengan sikap santuy nya.


"Jelaskan apa?" tanya nya kaya orang linglung, dengan wajahnya yang so polos itu.


"Yang tadi! "


"Tadi apa lho? aku nggak paham deh,"


"Kagak usah, kura-kura dalam perahu deh!" jawabku geram.


"Perahunya siapa yang ada kura-kura nya? "


"Hisshh. Males deh aku ah! Pergi aja sana!" kudorong dia kasar, biar aku usir saja sekalian. Daripada bikin vertigo.


"Haha... gemes deh aku kalo liat kamu ngambek, bibirnya persis banget kaya donal bebek. "


Kukerutkan hidung ku ini. Semakin kesal aku dibuat nya.


"Terus saja menghinaku sampai puas!"


"Hina? siapa yang menghinamu gadis cantik, "


"Apa? gadis cantik? kau malah semakin menghinaku dengan menyebutku gadis cantik! Sementara kamu tau kalo aku ini baru saja melahirkan seorang bayi! Asemmm!" tandasku. Dengan memukuli nya pakai bantal.


"Pergi saja lah! Malass aku!" imbuhku dengan nada mengusir. Namun yakin, kalo hatiku kecilku ini tidak rela dia pergi.


"Ya udah, aku pergi," dengan santai nya dia beringsut menggeser kursi yang ia duduki dan mulai berdiri melangkahkan kakinya.


Apa dia ini tidak peka? kalo cewek bilang pergi. Itu artinya lu nggak boleh pergi dodol. rutukku dalam hati.


"Sumpah ya, ngeselin banget! " teriak ku menekan.


"Ok ok ok. Ambekan ih." dengan berbalik badan dan kembali menggeser kursinya, lantas duduk seperti semula.


Kulipat kedua tanganku kepada, tak lupa ku pasang juga muka judesku padanya.


"Gini ya. Biar aku jelasin semuanya tentang aku yang pergi dari rumah hanya demi kamu. Sebenarnya bukan demi kamu kok, tapi demi aku sendiri, kamu jangan kege'eran deh" katanya dengan bibir bergetar seperti menahan tawa.


"Lagian siapa yang peduli!"


"Lho, kamu nanya tandanya kamu peduli dong, "


"Bukan berarti aku peduli ya! Aku cuma nanya kok,"


"Ko malah sewot sih? "


"Kamu yang udah bikin aku naik darah! "


"Hadeuh, cewek kalo lagi sensi gini amat." lirih nya dengan mengurut kening nya perlahan dan wajah sedikit menunduk.

__ADS_1


"Cepet!"


"Iya iya oke, kamu siap membuka telinga lebar-lebar? " tanyanya, mencoba meyakinkan aku.


"Hmmm." Dia mengangguk mendengar jawabanku. Akan aku pasang telingaku selebar mungkin. Agar bisa menangkap semua penjelasan mengenai dia dan keluarga nya.


"Jadi... " ucapannya seketika terhenti dan membuang nafas perlahan. Ia tertunduk.


Mungkin terbesit bayangan masa kelam nya kali ya.


"Jadi?" aku ulangi lagi ucapannya perlahan namun pasti.


"Jadi..." Wahyu kembali diam. Raut wajahnya ia benamkan pada telapak tangannya. Aku semakin penasaran dengan semuanya, kesel juga kalo kaya gini. Bikin naik darah aja.


"Jadi apa?" tanyaku sedikit menekan.


"Ciee... nungguin ya?" selorohnya lagi. Dengan memasang wajah so imut.


Dia pikir, dia ini ganteng apa. Issshhh


Aku mendengus. Bahkan ku tepuk jidatku berkali-kali, sementara dia malah asik cengengesan melihat aku yang sudah geram karena saking keponya.


"Kamu ini terlalu berkelit tau nggak! "


"Iya Oke. Jadi gini. Apa yang dikatakan oleh Ratna itu benar semua. Lalu, apa yang aku katakan juga benar. Aku menolak perjodohan itu secara mentah-mentah, ya karena aku udah nggak ada rasa lagi sama Ratna, bukan karena kamu," dia kembali berhenti sejenak.


Apa? jujur banget sih nih orang. Tadinya mau Gr malah napsu. Batinku.


"Sejak dia memutuskan pergi ke Batam dan menetap disana. Aku sudah memutuskan bahwa aku dan dia itu hanya masa lalu, yang aku butuhkan adalah masa sekarang, masa depan." imbuhnya lagi.


Seketika aku terdiam, beringsut untuk merebahkan tubuhku kembali. biar bagaimanapun, bekas jahitan itu masih terasa. Apalagi aku tidak tau selama aku pingsan, apa perbanku diganti?


"Sudahlah, aku mau tidur. Penjelasan mu itu nggak masuk di otak ku,"


"Terserah kalo kamu nggak percaya. Aku mau keluar sebentar. Kamu mau nitip apa?"


"Nggak usah!"


"Hmm. Punya calon bini gini amat." desisnya. Tapi tetap saja aku dengar. Sekejap Wahyu berlalu dari kamarku, entah apa yang mau dia beli.


"Laperr.... berapa hari aku kagak makan? " rintihku dengan mengusap perutku perlahan.


POV WAHYU


"Mamah keterlaluan!!" kugendong dia hingga masuk mobil setelah darahnya dibersihkan oleh nenek. Aku benar-benar takut, jika kedua indra nya harus rusak gara-gara kelakuan mamah yang sudah sangat keterlaluan.


Erna terus berteriak-teriak. Miris, kenapa hidupnya malang begini ya Allah...


Didalam mobil dia hanya diam. Derai air matanya tak kunjung surut.


Tak pernah aku berhenti sedetikpun untuk memohon pada yang kuasa, agar wanita disampingku ini bisa hidup bahagia.


_________


Tiga hari telah berlalu, setia aku menunggu nya tanpa lelah. Berharap keajaiban Tuhan datang pada wanita yang tengah berbaring ini.


Segera aku memberi kabar pada Maya, tentang keadaan Erna yang sedang down. Maya juga menyuruhku untuk tetap berada di sampingnya. Karena dia sama sekali tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


"Yu, please. Jangan tinggalin Erna sendirian. Kalo bisa kamu stand by dan nggak boleh kemana-mana. Oke, " pinta Maya kemarin lewat telpon.


Masih terngiang, senyuman dan ocehannya, baru tiga hari saja rasanya seperti tiga tahun.


"Sayang, bangun lah. Aku lelah menunggumu, kapan kamu bangun?" lirihku, dengan mengepal ke dua tangannya. tidak sedetikpun mataku beralih. Tatapanku selalu tertuju pada wanita muda yang tengah tertidur lemah ini.


Drttt drttt


Getar ponselku membuyarkan lamunanku, kurogoh benda pipih yang ku taruh didalam saku celanaku. Melihat siapa yang menelpon.


Aku membuang nafas berat, saat tau siapa dia.


"Yu, Erna di ruangan berapa?" tanya seorang wanita dari balik telpon.


"PIV Merah 2" jawabku singkat.


Tut tut...


Sambungan terputus.


"Sumpah ya, ini orang kagak ada sopan sopannya!" rutukku, pada si penelpon wanita itu.


Tidak berapa lama, dan tanpa mengetuk pintu, bahkan ucap salam. Keluarga ku datang tiba-tiba, dan tatapanku tak lepas dengan bayi mungil yang di gendong nenek.


"Ucap salam dulu kek!" aku beringsut dari duduk ku. Berdiri untuk menyalami nenek dan kedua paman bibiku, termasuk kedua orang tua ku yang juga ikut menjenguk.


"Assalamu'alaikum, gimana Erna, Yu? " tanya nenek dengan mendekati ku.


"Entahlah, dia tidur terus nek, nggak bangun-bangun, " keluhku, badanku lemas. Memang, sudah seharian ini aku tidak makan dan minum, "Eh Fit, lain kali kalo nelpon yang sopan dong!" imbuhku, pada wanita minim itu. Tanpa menjawab, dia memalingkan wajahnya yang pas pas'an itu dari ku. Berdiri mensejajari Dani yang juga ikut serta.


"Mamah ini sebenarnya ngapain dia? Sampe nggak sadar berhari-hari gini? " ucap ayah ku tiba-tiba. Dengan angkuh dia berucap dan berkacak pinggang. Begitulah ayahku.


"Mamah kesel. Karena wanita ini, Wahyu selalu melawan mamah! " ungkapnya.


"Wahyu tidak melawan mah. Wahyu hanya merasa kalo Wahyu ini sudah bukan anak kecil yang harus terus menerus diatur hidupnya. Wahyu punya pilihan sendiri, dan mamah tidak punya hak untuk mengatur hidup Wahyu. Itu saja!" belaku.


"Cukup Wahyu! dari bayi papah dan mamah mengurusimu dengan baik, apa ini balasannya? " tutur ayah.

__ADS_1


"Papa dan mamah mengurusi Wahyu karena memang sudah kewajiban kalian. Jika kalian tidak ikhlas merawat ku, untuk apa aku dilahirkan? lebih baik aku tidak ada didunia dari pada harus seperti dia! " tandasku, dengan menunjuk Dani yang tengah berdiri menyender tembok seperti orang tidak punya malu.


"Makin lama makin kurang ngajar kamu ini! " Dengn bibir bergetar ayahku melayangkan tamparan keras padaku.


PLAAKKK.


"Aku benar-benar tidak menyangka! " lirihku dengan mengusap pipiku yang memerah.


"Sudah cukup. Apa kalian tidak malu? Lihat wanita ini, berbaring lemah tidak berdaya akibat ulahmu Mary." tunjuk nenek, "Coba kamu lihat wajahnya, dia ini anak yatim," maki nenek "Lebih baik kalian semua pulang jika akhirnya harus berdebat didepan orang yang sedang sekarat!" imbuh nenek. Dengan nada tinggi.


"Mary, lebih baik kalian ini pulang saja." sela bu Nesi.


"Kamu juga pulang mah," saut om Aldi.


"Mamah masih ada perlu, kalian duluan saja,"


"Kita baru aja sampe lho, masa harus pulang lagi, kasian wanita malang ini, gimana kalo dia nggak sadar-sadar terus mati? " kata Fitri yang juga ikut menyela


"Jaga ucapanmu Fitri." ku tunjuk dia, sekali lagi dia berbicara asal, akan aku sumpelin mulutnya pake sambel.


"Ayolah Mer, kita pulang! biarkan anak ini mengurus hidupnya sendiri!" kata ayah, dengan menarik paksa lengan istrinya. Alias mamah ku.


Mamah mendengus, menatap ku penuh harap. Ya, berharap jika aku akan menuruti semua keinginannya. Tapi sayang, keputusan ku sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi.


"Papa juga tunggu diluar, " ucap om Aldi. Ayahnya Dani. "Bu, Aldi tunggu diluar, " ijinnya pada nenek.


"Sana lah. Untuk apa juga disini! " tukas nenek. dengan mengibaskan tangannya.


"Yang, ayo keluar. Ngapain liatin mayat idup ini. Mati kagak idup kagak," ucap Fitri.


Geram sekali aku sama mulutnya ini.


"Fitri. Kamu bisa diem kan?"


"Aku bicara fakta yang, kenyataan nya si Erna ini hidup segan mati tak mau. Menyusahkan semua orang. "


"Fitri jaga ucapanmu. Bisa nggak sih kamu diem!"


"Fitri bicara apa adanya mamah, "


Ku lihat Dani dan bu Nesi hanya mengurut kening saja. Apa mereka berdua sama sekali tidak bisa mendidik mulut menantu dan istrinya ini?


"Mulutmu perlu gue cabein Fit! " ucapku, dengan mengambil sambal bekas kemarin aku makan Ayam geprek yang belum sempat aku buka.


Dengan melangkah cepat aku membuka ikatan karet sambel dan langsung aku sumpelin tuh mulut nya.


"Ini akibat dari mulut lu yang nggak makan bangku sekolah!" terkejut Fitri menerima tindakan konyol ku. Apalagi Dani, nyaris menghantamku dengan kepalan tangannya namun aku mengelak.


"Gila lu Yu!"


"Dia pantes dapetin itu Dan!"


"Ahhh...pedess. Dasar sinting! Semua yang membela Erna sinting dan gila!" makinya


"Wahyu! "


"Dia pantes dapetin itu bi. Menantu bibi ini perlu dikasih sambel. malah menurutku kurang banyak! "


"Cepat bawa istri mu pergi Dani." usir nenek


"Dasar gila! "


Tanpa ba bi bu mereka berdua pergi dari ruangan ini. Kini hanya tersisa aku, nenek dan bu Nesi. Langsung aku melangkah ke kamar mandi untuk mencuci tanganku yang juga ikut kena sambel.


"Apa nggak ada perubahan sama sekali Yu? " tanya bu Nesi saat aku sudah kembali duduk didekat ranjang wanita ini.


"Entahlah bi, Wahyu bingung, "


Aku terus mendengus, memikirkan cara agar dia bisa kembli sadar lagi.


"Yu, jika terus seperti ini, lebih baik senja nenek bawa ke Bandung ya,"


"lho, kenapa gitu nek? "


"Gini Yu, Kita nggak tau kapan Erna akan sadar, jadi ada baiknya senja kita bawa dulu ke Bandung. Iya kan bu? "


"Iya Yu, nenek yang akan jamin, "


"Tapi nek, " aku membuang nafas kasar. Kembali menatap wajahnya yang polos ini.


"Keputusan ada di tanganmu Yu," ucap nenek lagi.


"Aku nggak bisa mengambil keputusan nek,"


"Ini demi kebaikan kita semua Yu, demi kebaikan Senja juga, "


Sejenak aku berfikir. Jika senja bersamaku, aku tidak akan bisa mengurusi ibunya dengan baik, waktuku pasti akan terbagi untuk senja juga, sementara Senja juga butuh orang yang merawatnya dengan baik.


Ya Allah, semoga keputusan ku tidak akan membuat penyesalan untukku nanti.


"Ya sudahlah, aku ngikut kalian saja."


Mendengar keputusan ku, mereka berdua tersenyum lebar. Entah apa maksud dari senyuman itu. Yang jelas, aku benar-benar tidak punya pilihan lain.


Maaf yaa... up nya lamaaa 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2