My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab24 Rencana nikah sirih


__ADS_3

"Bisa, gini doang mah nggak ada apa-apa nya, dibandingkan yang ini!" umpatku, dengan menunjuk dadaku yang masih sakit.


"Yang... Aa tau kamu sakit hati, tolong maafin Aa ya, please!" ucapnya memohon dengan memegangi tanganku.


'Nggak habis pikir, kok ada ya, manusia tidak tau malu kaya dia. Sialnya, kenapa aku nggak bisa move-on meskipun disakiti berkali-kali.


Ya gimana bisa move-on, setiap ketemu dia selalu bersikap lembut sama lu! Manis banget lagi kaya gula.'


Sial, sisi lain hatiku selalu berdialog dan debat.


Aku tatap dia tajam-tajam, lalu kugibaskan tanganku yang dipeganginya, tanpa menjawab aku berlanjut mencari Maya.


Tapi sialnya, pintu depan terkunci.


"Mau kemana kamu yang? Pintu dikunci dari luar sama teh Maya, biar kita nggak bisa kabur!!"


"Apa?? Dia gila kali ya, ngurung gue sama pengecut kaya lo!" umpatku kesal, sampe keceplosan ngomong gue, elo.


"Kamu ngomong apa yang? Lancar banget ngomongnya!" cecarnya, dengan wajah menyeramkan, berjalan kearah ku yang senderan dipintu.


Aku hanya diam, bodo amat lah. Toh dia bukan siapa-siapa aku lagi.


"Sebenci itukah kamu sama aku yang? Aku ini emang pengecut, pecundang! Terus kamu mau apa?"


"Aku mau gugurin kandungan ini!!" Ceplosku.


"Haha... kamu mau mati?? Kamu pikir gampang gugurin kandungan yang udah memasuki usia 4bulan? Yang bentar lagi bakalan ada detak jantungnya?? Sana gugurin kalo bisa? Minum apa ke, terserah!! Nanti, bukannya anak kita mati, tapi cacat!! Kamu mau anak kita cacat? Hah??"


Aku tak bergeming, tubuhku gemetar, sementara Dani semakin dekat berada didepanku. Sungguh aku tidak bisa berkata-kata lagi.


Kedua tangannya mulai melingkar dipinggangku.


"Mau apa kamu!!"


"Aku mau nengok anakku yang, boleh ya?" Bisiknya, membuat bulu periangku merinding.


"Maksud kamu??"


"Maksudku... aku mau kita..." seketika ucapannya terhenti karena terdengar suara hentakan sepatu dari luar, dan mulai membuka kunci pintu.


Seketika aku mendorong Dani, namun ternyata, tenaganya kuat banget. Malah aku yang terbawa oleh dia. Menjauh dari pintu.


Ceklek


Deg,


Jantung ku mulai tak beraturan, takut-takut orang lain yang datang.


"Kalian?" tanya Maya yang masih berdiri di tengah pintu, dengan menenteng paper bag, entah isisnya apaan.


"Ngapain kalian berdiri disini?? Pake acara gandengan segala, kaya truk aja!" Celotehnya.


"Kita emang bakalan jadi truk gandeng teh," sahutnya sengengesan.


"Apaan sih!" aku lepaskan rangkulan tangan Dani pada pundakku. Beralih mendekati Maya.


"Yang, ko pindah sih?" meraih kembali tanganku.


"Aku nggak mau sama kamu!! Serem!!"


Kini hanya Maya harapanku satu-satunya, orang yang membelaku satu-satunya dari pihak Dani.


Dari pihak manapun, aku sudah kecewa sama Mely. Dia bener-bener bikin aku darting. Nyesek sampe sekarang.


"Teh, bawa apaan??" tanyaku mengalihkan keheningan.


"Makanan, maaf ya, teteh kunci dari luar, takut si bocah tengil itu kabur!" jawabnya menunjuk dani dengan dagunya. Kemudian berjalan mengambil tikar. Dirapihkannya untuk kita duduk.


"Apa? Tengil?? Nggak ada kata lain yang lebih bagus gitu teh, misalnya cowo tampan, atau bocah keren, gitu."


"Amit!!" lirihku, bergidik-gidik.


"Kamu kenapa yang bergidik-gidik?" tanyanya sambil berjalan mendekati kami yang sudah duduk.


"Nggak apa-apa!" jawabku ketus.


"Udah deh, kalian tuh jangan debat terus!! oya Dan, teteh minta jawabannya sekarang soal semalam." kata Maya, sambil mengeluarkan makanan dari paper bag.


"Emang teteh ngasih soal apa ke Dani? Sampe minta jawaban gitu?"


"Jangan pupube deh! Males aku!" Ketusnya.


"Pupube?? Apaan??" tanyaku dan Dani kompak.

__ADS_1


"Ciee... ampe kompakan gitu, serasi banget emang."


"Kita emang serasi teh," ucapnya duduk bersila didekatku, merangkulku lagi. Hiiihh sebel.


Maya malah cengengesan melihat tindakan sepupunya.


Aku nggak bisa ngelak sumpah... kenapa dia bisa sesantai ini menanggapi hal serius yang sedang aku alami sekarang. Apa karena dia banyak uang? Apa karena emang udah wataknya begitu?


Aaarrgghhh... lama-lama aku bisa vertigo kalo gini terus. Pusing mikirin nggak bisa move-on - move-on.


"Nah, berarti udah deal ya. Mumpung perut kamu belum terlalu besar. Kita adain besok gimana?" kata Maya.


"Kalian bicarain apa sih? Aku nggak ngerti." tanyaku bingung.


"Kita nikah sirih, kamu mau kan?" tanya Dani, menatapku tajam.


"Nikah?? Sirih??"


"Iya, Na. Biar kalian bisa tinggal disini bareng'. Tapi, Dani tetap menikah sama si Fitri. Gimana?? Setuju kan?"


"Tapi..."


"Udahlah, jangan banyak tapi-tapi. Kita adain besok teh. Sekitaran ini aja. Walimu biar wali hakim aja ya. Atau wali band"


"Hereuy wae maneh mah Dan, serius atuh!"


"Iya teh, aku serius ko. Nya kan yang??" tanyanya, membelai daguku.


"Sayang banget aku sama dia teh!" ucapnya lagi, memelukku dari belakang.


Hening....


Semetara Maya hanya menatapku dan Dani manja. Mungkin dia bahagia kali ya, melihat keharmonisan aku sama dia.


Jujur aja, selama hubungan setahun sama dia, kita nggak pernah berantem, kecuali kalo dia minta itu, aku suka nolak. Dan marahan. Tapi kalo nggak, ya enggak samasekali. Bisa dibilang sangat harmonis manis.


Tapi sayang, semua ini terjadi hanya beberapa bulan doang. Aku merindukan saat-saat dulu, saat dimana aku belum disentuhnya sama sekali. Hanya cium kening, udah.


"Kapan makannya, aku laper!" ucapku membuyarkan keheningan ini. Membuka satu persatu makanan yang di bungkus box. Melahapnya dengan cepat. Sampe aku tersedak.


"Mangkanya, laper sih laper, tapi pelan atuh makannya! Kasian anakku!" ujarnya memberiku minum dan menepuk-nepuk punggung ku.


"Na, kamu mau kan menikah sirih dengan Dani?" tanya Maya, membuatku kembali menyemburkan minumanku yang sudah didalam mulut.


"Ya ampun yang, kamu kenapa sih??" tanya Dani lagi.


Aku beranjak dari dudukku, berdiri dan mulai melangkah cepat menuju kamarku yang semalam aku tiduri. Tak lupa menutupnya dan mengunci dari dalam.


Aku menangis... aku melakukan ini karena aku tak sanggup menahan bendungan air yang akan segera tumpah. Aku nggak mau terlihat cengeng di hadapan mereka semua.


Maafkan aku bu, maafkan aku yah, tolong maafkan...


Aku sudah sangat berdosa, didikan kalian tentang pentingnya iman dan islam sirna begitu saja, kepintaran mengajiku tidak ada gunanya. Mengerti tentang akidah akhlakkul Karimah pun seperti terbuang sia-sia.


Semua kepintaran ku tentang agamaku rapuh tertelan lubang hitam yang aku buat. Hingga aku terjerumus bersama dosa-dosa.


Tangisanku pun tidak akan mengembalikan waktu. Penyesalanku pun takkan bisa berbalik lagi kemasa lalu.


Duniaku hitam, senjaku berubah menjadi gulita. Aku si wanita kotor' yang berharap diampuni dosanya, meskipun hanya sedikit saja.


Saat aku asik menangis meratapi nasib. Suara ponselku berdering nyaring. Segera ku ambil dan melihat siapa yang menelponku.


Dan ternyata ibuku...


Ragu, angkat ngga... angkat enggak... Duh bingung... tapi ponselku terus berbunyi...


"Halo, assalamualaikum bu," salamku, dari balik telpon pada ibu.


"Wa alaikumsalam salam. Apa kabarmu neng?" sahut ibu.


"Baik,bu. Ada apa bu, tumben telpon??" tanyaku berusaha rileks.


"Nggak apa-apa, neng. Emang ibu nggak boleh nelpon anak ibu?"


"Hehe... boleh kok bu,"


"Neng, Akhir-akhir ini, ibu sering mimpi kamu telanjang bulat dan di arak oleh masa keliling kampung. Sudah terjadi 3malam berturut-turut. Kamu tidak melakukan yang seharusnya tidak kamu lakukan kan neng?" tanya ibu terdengar sangat hawatir.


Aku tertegun, mendengar ucapan ibu yang bermimpi aneh menurutku.


"B-baik bu, neng baik ko, nggak pernah ngelakuin apa-apa."


"Syukurlah lah neng, ibu hawatir terjadi sesuatu sama kamu. Oh ya, Dian mau bicara sama kamu. Ibu berikan ya sama Dian." Ucapnya lembut.

__ADS_1


"Iya bu,"


"Hallo teh, apa kabar teh?" tanya adikku Dian, yang masih duduk dibangku kelas 5sd.


"Baik, dek. Ada apa tumben??"


"Dian mau beli sepedah teh, tapi nggak ada uang, si Aa juga belum gajihan... teteh yang lain juga pada nggak ada uang. Mungkin teteh ada. Kan teteh kerja." Ujarnya, suara kecil yang terdengar tak ada beban. Membuat hatiku luluh lantah. Hancur berkeping-keping.


Aku harus jawab apa?? Sedangkan aku nggak kerja. Makan aja di tanggung sama Maya. Gimana mau kirim duit buat beliin dia sepedah.


Arrgghh... sial sial sial!!!


"Teh, ko diam?? Nggak ada uang ya?" ucapnya, terdengar lirih.


"Hmm. Ada dek, nanti bentar lagi teteh gajian. Setelah itu, teteh kirim uang buat beli kamu sepedah ya, sekalian buat ibu juga." Ucapku enteng, lancar lagi. Padahal duit dari mana coba.


Ahhh... mumet lagi deh ni otak.


"Terimakasih teh, akhirnya Dian punya sepedah baru..." jawabnya girang. Mungkin sambil loncat-loncat juga kali ya.


"Udah dulu ya dek, nanti teteh telpon lagi."


"Iya teh, assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam."


Segera aku memutuskan panggilan itu.


Kembali merebahkan tubuhku. Airmataku menetes lagi. Berpikir keras, dapat uang dari mana aku...


Sepedah kan mahal. Pake acara segala ngomong buat ibu juga lagi.


Ahhhh. **** banget sih.


Harus gimana aku sekarang...


Aku terus merintih rintih.


_______


POV MAYA


"kamu sih Dan!!" ucapku. Saat melihat Erna yang berlalu dari hadapan kami.


"Ko aku sih yang disalahin?"


"Ya iya lah, emang mau nyalahin siapa?? Tukang sayur? Atau tukang bebek?? Gila kamu, kalo nyalahin mereka!!" Ketusku.


"Kejar sana!" titahku, yang geram melihat Dani tetap bergeming.


"Nggak usah lah teh, biarin dia sendiri dulu. Aku mau merenungi kesalahanku."


"Bagus kalo nyadar!!" Tukasku melahap makanan yang sedari tadi menangis karena dianggurin.


"Teh, ibu hamil itu sensitif banget ya teh?" tanya Dani terheran-heran.


"Iya, apalagi lakinya kaya kamu! Bikin vertigo. Untung si Erna nggak mati berdiri!" cecarku.


"Ya Allah, teh. Aku sayang sama dia teh. Aku jadi ingat saat dia menunggu aku melamar kerja ditempat kerjaku yang sekarang. Panas-panas berdiri dipinggir pos satpam. Pas aku keluar dari interview, dan kesal karena di tolak. Dia malah tersenyum manis, menyabarkan hatiku. Menenangkan aku, memberiku semangat supaya aku tidak menyerah." Paparnya, sangat menyentuh.


"Nah, itu. Calon istri yang baik."


"Tapi... ayah, aku takut sama ayah teh. Apalagi mamah juga ikut-ikutan sekarang membela ayah. Pusing banget aku teh. Apalagi, aku merasa dihantui rasa bersalah, aku sudah berjanji pada almarhum abahnya dia, akan menjaganya. Tapi... janji itu aku ingkari karena keegoisanku. Aku harus gimana teh?" Jelasnya. Malah curhat dia.


"Ya, itu. Kamu harus pertanggung jawabkan Dan. Atau kamu akan menyesal melihat dia bersanding dengan orang lain." ucapku, sedikit merayu' mencoba membuatnya sadar.


"Iya teh." Jawabnya singkat.


"Teh, Erna kenapa tuh? Nangis-nangis?" ucap Dani, yang mendengar suara Erna menangis merintih-rintih.


"Coba atuh liat."


"Yang kamu kenapa yang?" teriak Dani, menggedor-gedor pintu kamar.


Namun, tidak dibukanya. Malah seketika hening kembali. Membuat kami semakin hawatir.


Aku tau, Erna sangat depresi, mengenai dirinya yang mengalami hal buruk. Aku sangat kasihan padanya. Diusia muda, bukannya menikmati masa remaja, malah tersiksa seperti ini, akibat ulah dari nafsu ponakanku.


Aku, selaku orangtua dari Dani, akan menjagamu Na, seperti adikku sendiri. Aku janji. Gumamku sambil melihat Dani yang terus menggedor-gedor pintu kamar, yang tak kunjung dibuka itu.


"Aku nggak apa-apa, aku hanya sakit karena kakiku kesenggol ranjang!" teriak Erna Dari dalam.


Aku dan Dani pun membuang nafas panjang, merasa lega, karena dia nggak apa-apa.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca...


Jan lupa, like komennya kaka readers tersayang 😍😍


__ADS_2