My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab36


__ADS_3

Hari ini aku bangun lebih pagi, niatku untuk berpamitan kembali ke asal. Begah rasanya lama-lama disini. Aku ingin bangkit dari keterpurukan ini.


Aku ingin menebus segala dosa-dosa ku, tapi tetap saja, aku tidak mampu untuk berkata jujur pada ibu, bahwa aku sudah berzina dengan Dani dan dia meninggalkan aku saat aku tengah hamil. Biarlah. Aku akan merawat anaku sendiri, tanpa harus campur tangan orang lain.


Mengubur dalam-dalam semua luka yang ia berikan padaku. Karena melupakan-Nya adalah suatu keharusan untukku. Aku tidak ingin tersiksa lebih jauh lagi, masih untung yang datang cuma bu Nesi, bagaimana kalo Fitri. Mungkin aku akan berakhir di rumah sakit. Atau bahkan dikuburan. Tamat lah riwayatku dan anakku, karena aku tau watak istrinya Dani itu kaya apa!


Nenek sihir, melebihi. Bukan lagi.


Sejenak aku melepaskan penat yang menumpuk di hatiku. Tekadku sudah kuat, aku akan menanyakan pekerjaan sama Faiz. Tentang cafe nya yang butuh seorang vokal.


Tok tok tok.


"Na, kamu udah bangun kan?" teriak Maya dari luar.


Perlahan ku buka knop pintu, menatap Maya sendu, aku sudah siap pergi.


"Kamu mau kemana?" Maya tertegun melihatku yang sudah rapih. Dengan menyelendang tas kecil bahkan tatapan itu sangat tajam.


"Aku mau pamit pulang teh. Teh, bolehkan aku tinggal ditempat yang kemarin? Hanya untuk beberapa bulan kedepan teh. Setelah aku lahiran dan dapat pekerjaan, aku akan hengkang dari rumah itu." Paparku.


"Tapi, Na. Itu rumah kamu, "


"Aku tidak mau menerima apapun dari Dani teh, tapi untuk saat ini aku memang masih butuh belas kasihan orang lain, karena aku memang belum bisa bekerja."


Tiba-tiba nenek datang menghampiri kami, "Geulis, jangan pergi. Biar disini sama nenek ya,"


Wajahnya sangat teduh, rasanya aku tidak sanggup menyakiti hati wanita tua ini. Dia terlalu baik.


"Maaf nek, Erna harus pergi, semua yang dikatakan bu Nesi memang benar. Nenek tidak boleh mencampuri urusan rumah tangga mereka. Biar aku yang mengalah, aku malu nek. Sudah dua kali gagal menikah. Mungkin emang aku tidak berjodoh sama cucu nenek."


Nenek hanya tertunduk, kulirik ia sekejap. Menyeka air matanya yang mulai basahi pipi keriputnya.


"Teh, aku pamit ya... Assalamualaikum!"


Mereka berdua tertegun tanpa menjawab salamku, nenek juga menangis,bahkan sudah tak bisa berkata-kata lagi, karena aku yang keras kepala tetap ingin pulang hari ini juga. Aku sangat lelah. Aku ingin melupakan semuanya.


Aku beringsut keluar, berjalan perlahan menuju pintu depan. Tanganku baru saja memutar knop pintu mendadak terhenti karena nenek berkata lagi.


"Nenek harap kamu jangan pulang. Pikirkan lagi matang-matang geulis. Nenek sudah terlanjur sayang sama kamu!"


Kerongkongan ku seakan tercekat. Saat wanita tua itu berbicara dengan suara isak tangis. Kakiku juga seakan terkunci. Hatiku terisis, jiwaku terguncang. Tapi aku harus kuat aku tidak boleh lemah.


"Maafkan Erna nek, Erna harus pulang."


Aku akan tetap pada pendirianku. Tanpa menoleh padanya aku lanjutkan langkah kaki ini.


Tapi sialnya, lagi-lagi Dani sudah datang lebih dulu. Dia itu manusia atau jin? Heran sih, padahal semalam jam 1 dia pergi, Sekarang sudah hadir lagi didepan mata. "Kamu mau kemana yang?"


Persis banget kaya jalangkung, pulang sendiri datang sendiri.


"Bukan urusan kamu!"


Kulewati dia, yang terlihat kusut dan lesu. Sesaat dia mencekal tanganku.


"Tolong jangan pergi yang," lirihnya.


Kuhembuskan nafasku. Mungkin ini saatnya aku keluarkan lagi jiwa tomboy ku. "Lepasin tanganku atau wajahmu yang kusut itu akan semakin kusut dan berantakan!"


"Yang, plisss jangan pergi!" memohon dengan wajah memelas. Bikin empet. Kali ini aku nggak akan kerayu lagi. Hinaan dan cacian bu Nesi sudah cukup membuat aku jera.


"Jangan rendahkan harga dirimu dengan memohon kepada wanita hina sepertiku!"


Dani hanya diam tertunduk dengan tangan masih mencegahku.


"Dani... kenapa kamu bisa disini?" Sela Maya, sementara nenek hanya diam menatap.


"Aku hanya ingin menjelaskan semuanya teh," lirihnya.


Dan pada akhirnya, mereka bertiga kembali merayuku, membujuku agar aku tak jadi pergi. Namun sayang. Hatiku sudah tidak bisa lagi di toleransi. Semuanya sudah cukup jelas, bahwa aku tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Aldi.


"Maaf nek, Erna pamit!"


Kutepis tangan Dani yang sedari tadi bergelayutan. "Cukup dan jangan ganggu aku lagi!"


Setelah mengatakan itu segera aku pergi dari hadapan mereka semua. Selamat tinggal, aku akan melupakan semua kenangan pait ini.

__ADS_1


Dani terus mengejarku, seketika itu juga aku hempaskan cegahan tangannya. "Tolong pergi dan jangan ikuti aku! Atau aku akan teriak maling!" bentakku.


"Kamu sudah janji, bahwa kita akan berjuang bersama?" masih dengan suara serak.


"Aku sudah tidak bisa. Lebih baik lupakan aku dan anak ini!"


"Yang mohon...kamu jangan egois!"


"Lepaskan!!"


"Kamu jangan egois seperti ini!!" masih mencegahku kini di temani bulir bening yang mengalir, naas, beraninya dia bicara aku ini egois!! Tidak punya otak. Bikin makin emosiku meluap.


"Dan, cukup!! Jangan lukai hatinya lagi," teriak Maya dari jauh. Aku hanya menoleh padanya lantas kulirik lagi Dani.


Ya Allah... hatiku sangat sakit melihatnya menderita. Aku sangat lemah di depannya, tapi aku harus kuat. Kuat kuat dan kuat. Aku kembali menghempaskan tangan Dani.


"Lepas!!"


Hampir Dani tersungkur akibat ulahku. Aku kembali melanjutkan langkah kakiku. Mengambil seribu langkah menyusuri jalan gang sampai depan yang terdapat ojek.


Belum sampai depan. Wanita itu lagi.


Tapi kenapa jalan kaki gitu? Aneh! Wajahnya pucat, mungkin karena nggak pake make up kali ya.


"Mana Dani?" Teriaknya sambil menunjuk-nunjuk. Padahal masih jauh banget. Aku juga nggak budek. Untung disini gang nya sepi. Dasar nenek sihir.


"Dirumah nenek!" Jawabku saat aku sudah berhadapan dengannya.


PLAAAKKK


Lagi, dia menamparku dengan seenak jidatnya. Apa-apaan coba? Maen tampar mulu! Dia pikir pipiku ini gendang apa!


PLAAAKKK


Huh! Rasakan bogem mentah gue!


Fitri meringis kesakitan, dengan bangga aku menunjuk dia, "Lo nggak punya urat malu atau gimana sih? Oh iyaa, gue baru ingat. Lu kan nggak ada otak. Jadi wajar aja sih," ledekku dengan nada nyinyiran.


Dia pun segera ingin menamparku lagi, tapi sayang tangannya aku tangkis sebelum mendarat di pipi mulusku. Ku hempaskan tangannya. "Jangan pernah menyentuhku!! Apa kau tidak jijik? Menyentuh wanita ****** sepertiku?"


"Brengsek!!" Dengan luapan emosi dia mendorong ku hingga menepi dan hampir jatuh ke got. Untung saja hanya hampir.


Aku pun terus menggerutu kesal sambil berlalu pergi, rasanya pengen banget cabik-cabik tuh mulut.


"Bang, bisa antar ke stasiun Tanggerang ?" tanyaku, sembari menepuk bahu bang gojek.


"Bisa neng, tapi agak mahal kalo mau sampe sana!"


"Emang berapa bang?"


"35000, gimana?"


"Ya udah nggak apa-apa, "


Segera aku menaiki kuda besi itu, melaju cepat ke arah tujuan. Setelah beberapa saat, aku sampai di stasiun Tanggerang lalu turun dan langsung berjalan ke arah loket, mengambil tiket di loket, tujuan karawang Cikampek. Ternyata nggak ada. Terpaksa harus naik bis.


Setelah berlalu lalang mencari bis tujuan cikampek, segera aku menaiki mobil itu sebelum penumpang makin banyak, aku duduk termenung sambil kepala menyender di jendela bis. Rasanya seperti dejavu, hayalan semalam kini teringat lagi sangat keterlaluan bu Nesi menghinaku. Dia tidak tau bahwa anaknya juga bejad sama sepertiku.


Mulai detik ini aku akan meninggalkan Dani dan mengubur semua kenangan bersamanya. Akan aku obati luka dalam ini secara perlahan. Sesaat menatap gawai yang aku genggam, ingin rasanya aku menelpon Wahyu, hanya dia yang mampu menenangkan hatiku.


Tapi aku kembali ragu, kini teringat dengan Mely.


Mely... sejak saat itu dia tidak pernah mengabariku, telpon dan sms ku tidak pernah di balas. Sampai detik ini aku tidak tau alasannya pergi tanpa pamit.


Mel... lu kenapa giniin gue sih?


Entah kenapa jari-jari ku seakan berjalan sendiri menekan kontak bernama Wahyu, beberapa kali ku telpon tidak di angkat. Ku urungkan lagi niat ku untuk menelponnya, mungkin dia sibuk.


Baru saja ingin ku masukan ponsel itu kedalam tas, tiba-tiba ponselku berdering, dan terpampang nama Wahyu.


Dengan sedikit senyum tipis lalu ku angkat telpon itu.


"Halo," dengan ragu aku menyapa.


"Halo, Assalamualaikum. Kamu dimana? Kenapa belum pulang juga?" Sahutnya sangat antusias. Dari nada bicaranya aja Wahyu lebih lembut dan sabar. Andaikan aku bisa menyukainya, mungkin aku akan terima dia sebagai pengganti Dani.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, maaf A. Ini Erna lagi di jalan ko, mau pulang. A Wahyu nanti bisa kan jemput aku??"


"Lho, teh Maya emang kemana?"


"Teh Maya sibuk A, nggak bisa antar aku,"


"Oke, kamu kabari Aa lagi ya kalo sudah mau dekat. Biar aku yang nunggu kamu, jangan sampe kamu yang menunggu, Aa takut ada apa-apa!"


"Iya A,"


Sambungan terputus. Aku menyender di jendela. Teringat lagi dengan peristiwa kelam itu, aku juga teringat ibu, yang terus menanyakan alamat tempat kerjaku yang selalu aku abaikan.


Maafkan aku bu, aku anakmu yang bejad ini tidak sanggup jika harus bertemu ibu dan kaka. Apalagi jika aku sampai melahirkan di sana, ibu pasti akan sangat malu karena ulahku bu, aku tidak mau melemparkan kotoran ke wajah malaikatmu bu. Aku tidak ingin.


Bulir bening kembali membasahi pipiku, kembali lagi teringat ayah, saat ayah pergi Dani selalu ada untukku, tapi sekarang lain lagi. Di usiaku yang menginjak 17 tahun harus menanggung beban berat seperti ini, aku sadar. Cinta itu jika diiringi nafsu akan menyengsarakan diriku sendiri. Aku sangat menyesal.


Lamunanku buyar, saat bis sudah berjalan dan suara pengamen juga mulai membisingi bis kelas ekonomi yang aku tumpangi. Bahkan aku tidak menyediakan uang recehan karena niatku tadi naik kereta bukan bis.


Setelah beberapa jam kemudian. Kenek pun berteriak-teriak kampek-kampek. Aku pun segera turun dan langsung menghubungi Wahyu.


"Halo, A aku sudah sampai terminal Cikampek."


"Oke tunggu bentar jangan kemana-mana. Aa akan jemput kamu sekarang!"


"Aku tunggu di warung ya A, deket tukang ojek."


"Oke, jangan kemana-mana sebelum Aa datang."


"Iya."


Aku berjalan lagi menuju warung kecil dekat tukang ojek. Duduk sesaat sambil minum es, aku jadi ingat, Faiz kan punya cabang toko kelontong disini, kini ingatanku buyar bahwa harus menunggu Wahyu, kakiku berjalan lagi mencari toko kelontong milik Faiz. Bukan milik Faiz sih, lebih tepatnya punya orang tuanya. Karena Faiz juga masih SMA, tapi dia sudah punya usaha sendiri yaitu Cafe STARRY NIGHT.


Dan ternyata benar, Faiz ada disini. Bibirku kembali mengembangkan senyum tipis berjalan menghampiri nya yang sedang mengatur karyawan ayahnya bongkar barang.


"Faiz..."


Ia menoleh dengan mata menyipit akibat sinar matahari.


"Siapa ya?" sahutnya.


"Gue Erna..."


"What!!" ia tertegun melihatku, meraba-raba tubuhku dari kepala bahu dan tangan. Memastikan jika wanita hamil didepannya benar-benar sahabat nya. Aku diam tersenyum melihat wajahnya yang panik.


"Lu... ya Allah, ayo duduk sini."


Aku dituntun duduk oleh Faiz. Mendadak dia menjadi rempong, sibuk sana sini dan menyuguhi aku dengan secangkir susu.


"Lu napa bisa disini? Lalu perut lu? Jadi benar apa yang dikatakan Dedi sama Hada?"


Aku mengangguk.


"Siapa pria brengsek yang sudah menghamili lu Na?" Bertanya dengan penuh emosional. Urat lehernya sampek keliatan.


Aku tertunduk, malu rasanya, tapi aku terpaksa, tujuanku ingin menanyakan loker di cafenya.


"Pasti Dani? Iya kan? Sialan!! Brengsek!! Awas aja kalo ketemu!" ujarnya dengan tangan terkepal. Wajar saja dia marah, aku Faiz Hada dan Dedi adalah teman baik sejak SMP. Kami saling melindungi, kemana-mana bareng. Sayang nya di antara mereka yang memiliki nasib buruk adalah aku.


"Udahlah Iz, semua sudah berlalu. Tujuanku ingin melamar kerja di cafe lu,"


"Pasti jadi vokalis kan?"


"Iya,"


"Bisa, bisa banget. Gue tau suara lu, pasti pengunjung cafe bakal rame."


"Tapi gue hamil? Nggak apa-apa kan?"


"Nggak masalah Na, kapanpun lu butuh dateng aja. Oke"


"Oke, terimaksih ya Iz,"


Akhirnya kami mengobrol sampai lupa kalo Wahyu sudah menelpon berkali-kali.


Akhirnya aku mengangkat panggilannya, bahwa aku menunggu di toko kelontong dekat toko kosmetik SARY.

__ADS_1


Tapi, sialnya Wahyu kecelakaan karena berbelok tidak menengok kanan kiri. Hingga terjadilah kecelakan yang membuat ricuh dan sibuk masyarakat aku sendiri tertegun, berlari-lari menghampiri Wahyu yang terpisah dengan motornya.


Halooo... baru bisa up ni 😁😁😁


__ADS_2