My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 14 Kotak hadiah


__ADS_3

Airmata ini terus mengalir, membanjiri pipiku. Aku sudah tau sekarang, dia hanya memanfaatkanku. Dasar brengsek.


"Yang... tunggu!" Seketika langkahku terhenti.


Aku tidak menoleh, aku tidak mau terlihat lemah di depan nya. Berusaha kuat, secepat kilat aku menyeka airmataku.


"Apalagi?"


"Maafkan Aa yang, Aa janji akan menikahimu," ujarnya, memelukku dari belakang.


"Jangan mengumbar janji palsu mu padaku!"


"Maaf yang, maaf... "


Hanya itu yang dia katakan. Kata maaf sungguh tidak cukup untukku. Kutahan bulir bening yang sudah ingin berjatuhan, menahan rasa sakit yang teramat dalam hingga menyelusup kerelung kalbu jiwaku.


Pelukan hangatnya benar-benar membuat aku candu. Bahkan aku tak mau melepaskan kan pelukan itu, aku bukan orang munafik, aku juga ingin dipeluk seperti ini. Karena, aku tau, aku pasti akan merindukannya. Dan aku juga tau, dia tidak bisa membantah ayahnya.


"Jangan seperti ini, malu!" kuenyahkan tangannya yang bergelayut pada tubuhku.


"Iya, tapi tolong lihat Aa yang," Pintanya lirih.


Dia membalikan badanku. Menatapku sendu.


"Kata Rudi, kamu menjual hp mu?"


Aku jawab dengan anggukan angkuh, sungguh aku tak sanggup bicara didepannya.


Terlihat dia merogoh kantong, dan menyodorkan sebuah ponsel yang cukup bagus padaku.


"Ini. Aa sengaja membelikannya untukmu,"


"Untuk apa?"


"Supaya Aa mudah menghubungimu, yang,"


"Tidak perlu, aku tidak mau di sogok!" ku singkirkan tangannya yang memegang benda pipih itu menjauh.


"Ini bukan sogokan. Aa tetap ingin berhubungan dengan mu, yang. Ayolah terima, ya." paksanya dengan terus meraih tanganku.


Aku menghela nafas panjang, berusaha untuk menjadi seorang yang kuat dan tangguh. Lantas, aku pun terpaksa menerima ponsel yang dia berikan padaku.


"Nah, gitu dong. Senyum," ujarnya, menjembel kedua pipiku menyeringai


Aku mengembangkan senyumanku, kali ini aku ikhlas tersenyum padamu, Dani. Bukan karena pemberian mu, tapi memang aku udah bucin banget sama kamu.


Seperti biasa, dia menggandeng tanganku erat. Kemudian mengantarku ke tempat kerja lagi.


Aku berhenti di depan warung es kelapa milik bunda Ria. Kebetulan lagi tutup. Dia kembali merogoh kantong, entah apa yang dia cari didalam kantong jaketnya itu.


Aku terus memperhatikan dia. "Cari apaan?" tanyaku, penasaran.


Dia tersenyum, "Ini ada sesuatu buat kamu,"


Dia kembali memberiku kotak panjang, dengan berbalut sampul kertas kado. Bercorak love. Aku menerima nya lagi.


"Ini apaan?" Tanyaku dengan menolak balikan kotak panjang yang entah isinya apa. Sesekali aku kocok karena penasaran.


"Buka aja, tapi nanti ya. Kalo sudah tutup, Aa akan telpon kamu nanti jam 11, ya."


"Hmm..."


Aku kembali bekerja, waktu semakin singkat, hari sudah malam, seharian ini aku lebih banyak diam, meskipun Mely terus memberondong pertanyaan padaku, tapi aku tidak menjawab.


Bukan nya aku tidak butuh solusi atau apapun, tapi aku tidak mau membuka aibku.


Ya Allah ... Ampunilah dosaku...


Aku tidak ingin terjerumus dalam dosa Ya Allah ...


Lagi, bulir bening seketika lolos dari bola mataku. Cengeng banget, lagi lagi nangis, lagi lagi nangis...


Malam ini aku mengunci diri, ya biasanya juga gitu sih. Tapi kali ini seseorang kembali mengetuk pintu kamarku, baru saja ingin membuka kado yang Dani berikan padaku. Huuhhh.


"Bentar..." jawabku, saat seseorang diluar terus memanggil namaku dan mengetuk pintu berkali-kali.


"Rian??" aku menyipitkan mataku sebelah saat melihat pria ini didepanku


"Hehe.. ke atas yuk, gue mau ngomong, ehh ngobrol," ujarnya sambil menarik tangan ku.


"Ehh... Ian, bentaran!" aku melepaskan tarikan tangan Rian.


"Aku duluan, cepet nyusul!" titahnya, kemudian berjalan menginjak tangga satu persatu hingga menghilang dari pandanganku.

__ADS_1


"Erna Dwi Astari dewi melati harum mewangi sepanjang hari... Kemana aja kamu? Abang baru liat kamu lagi..." sapa bang Yoga. Centil, pecicilan, rempong.


"Iya Na, kamu kemana aja?" tanya ikmal.


"Sibuk ya?" jawab bang Diky.


Hadeuhh manusia rempong.


"Mana si Riko?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Apa sayang..." sahut nya dari bawah tangga, yang mulai berjalan mendekati kami.


"Sayang, sayang pala lo peyang!"


"Idih sadis amat."


Sontak semua anak-anak TK pun tertawa.


Aku langsung mengabaikan mereka, kembali ke kamar. Menaruh kotak itu ke dalam lemari. Keluar lagi menyusul Rian yang sudah menunggu di lantai tiga.


Baru satu langkah menginjakan kaki ke anak tangga, si Ikmal malah usil.


"Mau pacaran yak?" ujarnya enteng, kemudian berlalu naik ke atas.


Aku hanya menggelengkan kepalaku, tidak peduli dengan nya, kembali menaiki tangga,mendekati Rian yang sudah duduk di kursi panjang.


"Ehh... lo kemana aja Na? Duduk sini" ujarnya sambil menepuk kursi di sebelahnya.


"Ada." sautku sembari duduk disebelahnya.


"Lagi ada masalah ya?"


"Nggak."


"Jangan boong,"


"Nggak!"


"Yakin?"


"Hmm."


"Nih... Buat lo," Rian menyodorkan makanan ringan buatan ibunya, "Itu dari mamah, sengaja buat lo,"


"Rese lo!"


Aku melahap makanan ringan yang di kasih Rian. Berdiri memandang langit. Aku tersenyum, tapi hatiku menangis, teringat ayahku yang sudah tiada, baru 1 bulan lebih di tinggalkan, aku sudah buat kekacauan separah ini. Aku menghela nafas panjang...


Tiba-tiba Rian memegangi pundakku, beralih merangkulku dari sisi.


"Sabar...hidup itu memang rumit, banyak masalahnya, seperti jalan... Ada yang bagus ada yang jelek... Saat kita berjalan di jalanan yang bagus, kita enak-enakkan, padahal, di depan sudah ada lubang besar yang akan membuat kita terjatuh karna kita lalai dan terlalu enak dengan jalanan yang bagus..." paparnya, mungkin niatnya menasehati ku.


"Hmmm... Ya, gue tau!"


"Gue tau, hidup lo banyak masalah, meskipun gue nggak tau apa masalah yang sedang lo hadapi ini. Tapi, sabar ya,"


"Terimakasih, gue mau kekamar lagi ya, gue duluan," aku berjalan menjauh dari Rian. Merebahkan tubuhku adalah hal yang paling akun tunggu.


"Ati-ati lo..." teriaknya saat aku sudah berada di dalam, dan segera menghilang dari hadapannya.


Aku hanya tersenyum, tanpa menoleh padanya.


"Hay Erna Dwi Astari dewi melati harum mewangi sepanjang hari..." sapa bang Yoga, genit.


"Hay, bang Yoga yang ganteng, caem, campernik, tapi kutet." jawabku, segera berjalan ke kamar dan mengunci pintu.


Hahaha...


Terdengar suara bang Zul dan bang Dyki tertawa ngakak...


Langsung aku membuka lemari, kembali mengambil kotak yang Dani kasih.


Sejenak melihat-lihat setiap sudut kotak itu.


Isinya kira-kira apaan ya?


Segera aku unboxing, dan ternyata, "Kalung??"


Aku mengambil kalung yang berwarna perak itu, dengan bandul inisal Dā¤ļøE.


Jelas, aku tersenyum lebar. "So sweet juga ni orang." kataku, sambil membuka pengait kalung itu. Aku pun langsung memakaikan kalung itu keleherku. Bahagia banget, meskipun bukan dia yang memasangkan nya langsung, tapi aku sangat bahagia tiada terkira. Sejenak lupa tentang masalahku bersamanya.


Malam ini aku tertidur lelap...

__ADS_1


Bulan berganti minggu, minggu berganti hari. Hari demi hari ku lewati, jam berganti menit berganti detik. Pokonya mah sudah berminggu-minggu ku lewati.


Hubunganku juga kembali membaik, Dani juga berhasil membuat ku luluh lantah. Dengan semua kejutan-kejutan yang dia berikan padaku.


Aku sangat menghargai itu semua, terlebih karena aku sangat menyayanginya, tidak bisa di pungkiri, meski bibir ini selalu berkata menyesal dan membencinya, tapi hati kecilku selalu berontak dan menolak semua perkataan yang keluar dari bibirku.


Ahh, sial.


Libur kembali menghampiriku.


Lagi lagi Dani mengajakku kencan, kali ini hanya muter-muter nyari tempat ngadem. Katanya.


"Hmmm... seger juga di sini?" Aku memejamkan mata, menghirup suasana angin segar sepoi-sepoi. Dengan pemandangan yang sangat indah.


Dani kembali memelukku, dia bilang hal yang paling menyenangkan adalah memelukku dari belakang. Mencium leherku. Dan yang membuat dia kecanduan adalah bau badan ku yang katanya khas.


Entahlah, itu hanya alasan atau kenyataan. Aku tidak tau. Hanya dia dan tuhan yang tau.


"Yang... Maafkan Aa yang selalu meminta hubungan lebih padamu,"


"Hm... Kenapa?"


"Aa sangat mencintaimu yang... Maafkan atas perkataan Aa waktu di cafe, bukan maksud Aa tidak ingin kamu hamil, tapi..."


"Tapi bapak mu yang tidak merestui hubungan kita?"


"Yang, Aa sedang berusaha meyakinkan papah, kamu tau sendiri, Aa anak laki-laki satu-satunya, Aa juga harapan papah, yang"


"Aku mengerti!"


Hening


Tidak ada lagi pembicaraan di antara kami. Mataku terus menatap lurus, berharap bisa melihat bentuk angin seperti apa.


Ya... begitulah harapanku pada pria yang masih memelukku ini, tidak akan mungkin aku bisa melihat bentuk angin seperti apa. Sangat mustahil.


"Apa kamu juga menerima perjodohan itu?" tanyaku tiba-tiba. Sebenarnya aku tidak mau bertanya tentang itu, tapi aku sangat penasaran.


Dia diam, malah semakin memelukku erat, membenamkan wajahnya di leherku.


Sial, aku malah tarangsang.


"A, lepas!" aku berusaha melepas pelukan Dani yang semakin bernafsu.


"Kenapa?"


"Aku tidak mau melakukan hubungan intim dengan mu lagi!"


"Kenapa?"


"Aku tidak mau!!"


"Malah aku mau mengajakmu lagi,"


Aku berontak, tapi dia malah semakin mengeratkan pelukannya. Sial sial sial.


Aku malah selalu menikmatinya.


"Aku tidak mau di sini! Memangnya aku cewe apakah yang seenaknya di gituin di kebun-kebun macam ini!" makiku.


"Berati kamu mau ya?"


"Tidak!"


"Yang, bibirmu bilang tidak, tapi badan mu berkata iya,"


"Apaan sih!"


Dia melepaskan pelukannya, menarik tanganku untuk berjalan ke arah motor yang terparkir.


"Naik yang, ayo kita pergi makan. Sudah mau sore, kamu pasti laper kan?"


"Iya lah, bisa-bisanya kamu membuat anak yatim kelaparan!"


"Ya Allah yang, anak yatim nya jangan di sebut dong, Aa malah semakin bersalah sama kamu."


"Bagus, kalo nyadar!"


"Sayang bangett." ujarnya dengan memelukku erat, meskipun hanya sekejap.


Kami kembali melaju, mencari tempat makan yang adem dan nyaman.


Kali ini aku bawa uang sendiri gaes, takut-takut terjadi hal seperti di Ciater.

__ADS_1


😁😁😁


__ADS_2