My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
73


__ADS_3

Belum lama aku duduk memandangi jalanan yang masih padat di isi para pengendara bermotor maupun bermobil yang sibuk lalu lalang, bahkan bersepedah pun, dan masih banyak yang lain nya.


Malam yang sangat membagongkan.


Tak lama mataku memandang jalanan, sebuah motor melintas dan berhenti tepat di depanku.


Memakai helm, jaket serta komplit perlengkapan lainnya. Sangat Familiar.


"Siapa dia? " kening ku mengerut, halis beradu, mata menyipit. Aku berdiri diikuti Dedi


Aku mendengus. Antara kesal atau tidak, yang jelas perasaan ku lagi kagak bisa di kompromi.


"Sejak kapan A Bara punya motor gede dan bergaya horang kaya? " tanya Dedi keheranan.


"Dia bukan Bara. Tapi Wahyu." celetukku


"Hah? " Dedi terkejut. Sontak berlari menghampiri orang yang tengah sibuk membuka helm dan masih stay di atas motor.


"Lu Wahyu? " Tanya nya.


Wahyu tersenyum saat helm nya sudah terlepas. "Iya." sautnya mengangguk. Beralih mendekatiku.


"Ayok pulang." ajaknya tanpa basa basi, meraih pergelangan ku.


"Tunggu. Dia bakal pulang sama A Bara, ngapain lu ngajak dia pulang? " cegah Dedi menahan tangan Wahyu. Wahyu kembali tersenyum, melepaskan cegahan tangan Dedi.


"Bara udah nyerahin sama gue. Lu kagak usah hawatir. Kalo lu nggak percaya, lu bisa telpon si Bara sekarang. " mendengar jawaban Wahyu, Dedi terdiam.


"Ayok." ajaknya lagi padaku menarik tanganku. Aku hanya diam mengikuti langkahan Wahyu.


"Yu." panggil Dani. Sontak membuat kami menoleh.


"Lu kenapa? "


"Gua di pukulin anak ingusan ini. " tunjuk nya pada Dedi.


"Di pukulin? "


"Iya, rese banget. "


"Kenapa lu nggak lawan? "


"Ya mana bisa gua lawan. Dia nggak ngasih kode sama gua. Maen bogem aja! " Dani terus mendekat.


"Jangan mentang-mentang lu lebih tua dari gue terus gue takut sama lu, bangsat! " kecam Dedi menunjuk Dani yang berjalan perlahan ke arah kami bertiga.


"Lu denger kan. Bacot nya. " kata Dani pada Wahyu.


"Anjeeng lu." Dedi kembali emosi, saat dia ingin melayangkan tinjuan nya lagi. Tiba-tiba di tangkis oleh Wahyu.


"Lepasin gua! " teriak Dedi mencoba melepaskan pegangan Wahyu.


"Lu nggak perlu ngotorin tangan lu buat dia. " ujar Wahyu. Lantas melepaskan tangan Dedi. Sementara Dedi masih dengan emosinya yang tertahan karena ucapan Wahyu.

__ADS_1


"A. Sory. Bukannya gue mau ngebela anak ingusan yang lu sebut ini. Tapi semata-mata karena dia sayang sama sahabat nya. " ujar nya sembari menatapku lalu tersenyum.


"Napa lu belain dia? "


"Lu koreksi kesalahan lu, A. Gua nggak bisa komentar apa-apa. "


"Thanks ya, lu udah jagain cewek gue. " kata Wahyu pada Dedi. Aku terus diam tak bergeming. "Ayok. Kita pulang. "


Aku mengangguk, kembali mengikuti langkah Wahyu. Menaiki motornya dan segera pergi dari cafe. Diikuti Dedi dari belakang. Mungkin dia masih penasaran.


Setelah sampai depan rumah. Kulihat Bara sedang duduk di luar dengan di temani secangkir kopi dan sebatang rokok di tangannya.


Segera aku turun dan mendekati Bara.


"Enak banget idup lu. " ujarku.


"Hidup itu harus di nikmati, bukan di ratapi. "


"Gua setuju. " sela Wahyu.


"Gua masuk dulu, mau mandi ganti baju terus tidur." Aku beranjak berdiri, melangkah masuk dan menyelesaikan aktivitasku dan segera beristirahat. Tak peduli dengan mereka berdua yang lanjut ngopi ganteng depan rumah ala cafe.


☘☘☘☘


Mataku mengerjap, tanganku merayap mencari benda pipih milikku. Kulihat jam sudah pukul delapan pagi. "Masih pagi, " Aku kembali memejamkan mataku, kembali tidur. Tapi, aku kembali teringat oleh seseorang tadi malam yang mengantarku pulang. Aku terbangun hingga tergopoh-gopoh.


"Selamat pagi neng. Mandi dulu sanah, " titah Wahyu yang sudah terlihat rapih dan ya... ganteng. Kaya sekoteng nya mang oleh.


Ehh, Btw, sekarang mang oleh juga jualan sekoteng, bukan cuma odading doang.


Bukan ngarang, cuma ngayal doang, Aw.


Oke lanjutttt


"Isstt. Siapa lu. " ketusku.


"Gua? pacar lu lah. "


"Apaan sih! " Aku kembali masuk kamar mengambil handuk dan segera mandi biar bagaimana pun aku malu terlihat dekil dan kumel di depan Wahyu.


Karena sebenarnya aku sama dia kan memang belum putus. Belum mengakhiri semuanya. Hanya saja dia yang mendadak ngilang setelah aku usir beberapa bulan lalu. Rasa nya aku juga sangat merindukan sosok dan pelukannya, ocehan recehnya yang kadang nggak berfaedah.


Selesai mandi pakai baju dan sudah rapih ples wangi. Saat aku tengah sibuk merapihkan rambut gombal ku, ponselku berdering hebat.


"Faiz? " gumamku, sembari memencet tombol bergambar gagang telpon itu.


"Na, hari ini lu libur dulu. " ujarnya.


"Waalaikumusalam." sautku.


"Hehehe, sory Na. Gua lupa, Assalamu'alaikum. "


"Waalaikumsalam. Gitu dong, gua kan enak ngemeng nya. Btw kenapa gua libur? "

__ADS_1


"Ya lu kan capek seharian nyanyi kemarin, dan gua mau lu istirahatin suara lu dulu biar nggak serak."


"Gua kan baru kerja dia hari. Masa iya libur si? "


"Lagian cafe juga gua tutup, soalnya lagi ada perbaikan di cafe. hehe. "


"Yeeee. Kambing dasar. "


"Ya udah bay... "


"Najis al... " belum selesai aku melanjutkan perkataan ku, Faiz sudah menutup telponnya kasar.


TUT TUT TUT.


"Najis alay. Maen matiin aja lagi. Kupret emang! " umpatku.


Aku keluar kamar dengan pakaian rapih dan sedikit feminim. Bara yang sudah terjaga melohok melihat aku yang memakai rok dan baju kaos sedikit ketat sexy.


"Lu kenapa oii! " teriak ku.


Wahyu yang melihat pakaianku segera menutup mata Bara dengan tangannya. "Ganti baju lu. Ngapain pake baju anak kecil. lu udah racuni mata gua sama Bara. "


"Racun? "


"Iyalah, buruan ganti. Atau mau gua yang gantiin? "


"Idihh ogah. " Aku kembali masuk dan menutup pintu, tak lupa menguncinya.


Aku berdiri termenung didepan kaca. Berlenggak lenggok layaknya model sampo zink. "Apanya yang salah? Gue cuma berusaha feminim di depan Wahyu. " gumamku masih stay depan kaca.


"Ahh, sial. Ternyata dia nggak suka sama penampilan gua yang begini. " Dengan bertahan hati aku mengganti pakaian ku yang seperti biasa, celana panjang dan kaos over size.


Aku kembli keluar, namun mataku tak menemukan Bara. "Bara mana? "


"Balik. Nah, gini kan aman mata aku yang. "


"Yang yang pala lu peyang. "


"Sini duduk. " Aku terkejut saat Wahyu mendadak menarik tanganku dan memaksaku duduk di sebelahnya. Dia menatap ku intens. Wajahku dan wajahnya bertatapan sangat dekat, hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya.


Jangan di tanya ya readers. Sudah pasti jantung si Erna ini lagi disco, jedag jedug kagak karuan.


"A--Apa? "


"Maafkan aku soal di rumah sakit waktu itu. Dia hanya teman SMA ku. Bukan siapa-siapa. Aku hanya mencintai kamu. Hanya kamu. Please, Terima aku buat kembali berada di sisimu lagi ya. Aku benar-benar tulus sama kamu. Please Na. Aku mohon biarkan aku menemani hidupmu kita menua bersama. Biar hanya maut yang memisahkan kita. Jangan percaya sama ucapan orang lain, mari kita berjuang demi masa depan. "


Setengah mati aku menahan rasa, rasa coklat stroberi, mangga, apel. jeruk, nanas dan masih banyak lagi Semuanya bercampur menjadi satu.


Sungguh aku di buat mati kutu. Tatapannya yang dalam dan terlihat sangat tulus mampu menghipnotisku.


Cukup Wahyu cukup. jangan menatap ku seperti itu. Kamu tau? Aku kaya mati di dalam lemari es yang terkurung. Beku. teriak ku dalam batin, tentu saja karena nyatanya, bibir ini terasa kelu. Jangan kan bicara mangap aja kagak bisa gue.


Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin buat para kakak readers yang sangat setia menunggu up dan mendukung ceritaku 🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


Semoga kalian tidak akan pernah bosan buat terus baca kisahku 😊😊😊


next in sya Allah ngebut up 🥰🥰🥰


__ADS_2