
Aku tidak melihat matahari pagi ini, aku segera bangun dan melepaskan pelukan Dani yang masih menempel di tubuh ku sejak malam.
Dengan hati-hati aku berjalan pelan mengendap seperti maling.
Aku ingin segera membersihkan tubuhku yang kotor ini. Dadaku masih sesak, mengingat kejadian semalam. Airmataku sudah mengering, karena aku terlalu lama menangis. Sekejap aku mengaca diri, mataku begitu sembab. Ancur. Sirna sudah masa depanku.
Di dalam kamar mandi, aku terus mengutuk diriku yang sudah hina di mata tuhan.
Beribu airmata dan beribu kata ucap maaf pun tidak akan mengembalikan keadaan. Aku tau, ini sudah takdir.
Tinggal aku yang akan meminta dia menikahiku, toh aku sudah di lamar semalam, bahkan aku juga sudah memberi bonus extra untuk nya.
Dari dalam kamar mandi aku mendengar teriakan yang memangil-manggil namaku, jelas, siapa lagi kalau bukan dia.
"Yang!! Kamu dimana?" teriak Dani memanggilku. Aku mendengkus.
"Aku lagi mandi!" Jawabku sambil terus menggosok tubuhku.
Aku segera menyudahi mandiku, sebelum dia menyusulku masuk kedalam kamar mandi dan melakukan nya lagi padaku.
Ahh, aku tidak mau itu terjadi lagi.
"A, bajuku kotor, terus aku pakai baju apa?" ucapku sambil berjalan keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk.
"Nih," Dia memberiku paper bag lagi. Aku terus menatap sinis padanya, ku ambil paper bag itu dengan kasar. Aku curiga jangan-jangan memang dia sudah merencanakannya. Tapi hujan?? Mana mungkin dia bersekongkol dengan hujan, aneh-aneh saja. Namun, bukan aku jika rasa penasaran ini tidak di utarakan.
"Kau sudah merencanakan semua ini ya?" tanyaku sinis. Dia tersenyum.
Bukan nya menjawab, dia malah kembali memelukku dari belakang, berbisik "Aa mau lagi yang,"
"Gila kamu! Lepaskan pelukan mu A, aku tidak suka!" Kali ini aku berontak, aku tidak mau terulang lagi. Aku benar-benar takut hamil.
"Ayolah yang, kita sudah melakukan nya, aku akan tanggung jawab." Bujuknya. Masih terus memelukku semakin erat.
"Enteng sekali kamu bicara!" Aku dengan berusaha menghindar darinya.
"Kamu pikir aku menikmati perlakuan mu semalam?" Masih berusaha lepas.
"Aku mau pulang!!" Sia-sia saja, tenaganya sangat kuat.
Apalah dayaku, aku hanya perempuan lemah, dia terus memaksaku, hingga kami pun kembali melakukannya. Aku semakin kesal, laki-laki yang aku puja-puja ini ternyata bejad dan kasar, aku tidak yakin , jika dia akan benar-benar menikahiku.
( Memang tidak pun. )
"Apakah kau puas!" Aku terus memukul dia berkali-kali.
"Yang, aku akan menikahimu. Sekarang juga kita pulang kerumahku!"
"Rumahmu yang mana? Di bandung? Bulsyit! " tukasku, "Lagi pula, untuk apa? Untuk mempermalukanku? Iya?" imbuh ku dengan nada mencecar nya.
"Tidak yang, aku benar-benar ingin menikah denganmu!" Sorot matanya benar-benar membuatku hilang akal. Buta seketika. Senyuman yang selalu muncul dibibirnya mambuat aku luluh.
"Baiklah, aku ikuti semua yang kau mau!" bentakku.
"Oke, cepat mandi!"
"Gimana aku mau mandi, kamu asik memelukku! Lepasin dong! " Emosiku meluap. Hingga aku tak bisa berbicara pelan lagi.
Dia tertawa, kemudian melepaskan pelukannya. "Baiklah sayang, "
__ADS_1
Aku kembali membersihkan diriku, dua kali melakukan, tidak pakai pengaman apapun.
Apakah aku akan hamil? Bagaimana jika aku hamil diluar nikah? Bagaimana ayah ku yang sudah tiada? Dia pasti akan sangat tersiksa karena ulah kotorku. Itu yang selalu menghantui otakku, yang selalu ada dipikiranku.
"Bajunya pas juga, " katanya, saat melihatku memakai pakaian pemberian dia tadi. Hanya setelan kaos biasa dan celana jeans ketat berwarna hitam pekat.
"Aku tau, kamu sudah menyiapkan semua nya, "
"Nggak yang, ini hanya kebetulan,"
"Halahh... " kugibas tangannya yang memegangi telapak tangan ku.
Beberapa saat kemudian, kami siap untuk pulang. Aku terus menekuk wajahku. Aku sengaja melakukannya agar dia merasa sangat bersalah karena sudah melakukannya padaku.
"Yang, Aa minta maaf ya?" ucapnya berkali-kali, hanya itu yang dia lontarkan padaku, sambil terus berjalan keparkiran. Menggenggam erat tanganku.
Aku tidak mau menjawab apapun. Aku benar-benar malas. Setelah sampai di parkiran, Dani kembali memakaikan helm di kepalaku,
"Aa minta maaf ya, senyum dong."
"Kita mau kemana? "
"Ke rumah Aa lah. Sebelum mereka pindah ke Bandung, Aa bakal kenalin kamu ke mereka, "
Aku hanya mendengkus berkali-kali, membuang nafas kasar. Dengan tatapan tajam menusuk pada pria gila ini.
"Senyum dong yang senyumm, " kata nya lagi sembari menjembel pipi bakpau ku, aku langsung memberikan senyum palsuku padanya.
"Oke, tidak masalah, meskipun senyuman itu palsu, tapi lebih baik, dari pada tidak samasekali!"
Segera aku membonceng dibelakang dengan jarak yang cukup jauh. Wajarlah nama nya juga lagi kesel, dia mencari-cari tanganku. Aku sengaja tidak memberikan tanganku padanya, aku malas memeluknya.
"Yang, duduk nya jauh amat? Benci sih boleh, tapi di tengah kosong, nanti diisi sama jurig loh!" menoleh dan tersenyum menatapku.
Dia merekatkan tanganku ke pinggangnya. Manut aja lah, emang aku nggak bisa ngambek lama sama dia. Entah aku juga tidak tau.
Setelah beberapa jam kemudian, kami sampai di kediaman keluarga nya, yang berada di komplek perumahan Griya Asri. Jantungku terasa berdetak lebih kencang dari biasanya, bagaimana tidak, aku sekarang sedang menginjakan kaki di rumah calon mertuaku. Itu juga kalo direstui.
Aku berdiam tak berani bergerak, sesekali aku melirik Dani yang tengah sibuk membuka helm dan jaket lepis nya.
Tak lupa sarung tangan juga.
Kini mataku beralih menatap rumah yang tepat berada di depan ku ini.
KLEKK. Kutelan saliva ku yang sebesar bongkahan es balok itu, sakatika hatiku menciut. Apa dia sekaya ini??
"Ayo yang, papah hari ini ada dirumah," ajaknya tanpa ragu dan bimbang. Enteng aja gitu. Hisshh
Aku hanya mengangguk, dia menggandeng tanganku. Berusaha membuatku kuat dan tenang, karena jujur, aku saat itu gemetar dan keluar keringat dingin. Dia terus melontarkan senyumannya padaku.
Dengan segenap hati jiwa dan perasaan, aku kumpulkan kekuatan ku untuk menghadapi sang calon mertuaku.
Baru sampai depan pintu utama, aku menarik tanganku yang Dani genggam erat.
"Apa yang? Kenapa?" tanyanya.
"Aku takut," desisku, dengan menunjukan wajah gusarku padanya. Peluh mulai berjatuhan di pelipis keningku.
"Ada Aa di sini, jangan takut yaa,"
__ADS_1
"Hmmm..."
Aku teguhkan jiwaku untuk menghadap sang calon mertuaku. Melangkah dengan hati-hati. Rumah Dani inj memang sangat besar. Komplek nya saja sudah termasuk elit. Untuk berjalan ke ruangan tamu aja harus berjalan cukup lama. Setelah aku berhasil masuk meski gontai langkah kakiku.
Kulihat sosok ibu-ibu, yaa, aku sudah pernah bertemu dengannya. Dia juga asik aja kalo ketemu sama aku. Tapi, aku belum pernah ketemu sama camer yang laki-laki.
Mukanya ganteng, tapi, serem. Aku juga melihat ada satu sosok perempuan, manis, cantik dan anggun, nggak kaya aku, tomboy, polos aja. Aku tau, Dani memiliki dua kaka perempuan. Hanya saja mereka sudah menikah
"Assalamualaikum," Salam kami kompak.
Dani terus menggenggam tanganku. Erat.
Semua orang yang berada di ruang tamu itu sontak melihat ke arah kami, Termasuk wanita itu. Dia tersenyum manis pada Dani.
Aku tidak tau dia siapa, tapi hatiku sakit saat melihat perempuan itu, yang memberi senyuman manis pada pria yang berdiri di sampingku... Dani ku.
"Dani," sapa wanita itu.
Aneh juga, Dani sama sekali tidak menjawab sapaan wanita itu, dia justru terus menggenggam erat tangan ku dan melangkah kan kaki berajalan ke arah mereka.
"Mah, pah, dia Erna, calon istriku. Yang sering aku ceritakan pada kalian semua, " ucapnya.
Seketika aku membulatkan mataku, terkejut juga kaget, ternyata Dani seserius itu.
"Mamah sudah tau," jawab ibu Nesi, mamah nya Dani, ( nama aku samar kan ya kak takut yang bersangkutan tidak berkenan, disini aku juga tidak akan menceritakan dengan detail tentang keluarga Dani. )
"Dan, untuk apa kamu repot-repot mencari calon istri, sedangkan papah sudah memiliki calon yang sepadan dengan mu," ujarnya santuy, sembari mengusap pelan pundak gadis itu.
Apa?? Calon?
Mendengar itu, hatiku langsung menciut, jantung ku seakan berhenti berdetak, darah ku juga seakan-akan berhenti mengalir. Aku seperti mati berdiri. Tak bisa bergerak.
"Pah, Dani tidak menyukai Fitri, lagian aku dan dia hanya masa lalu, kita sudah putus sejak dua tahun yang lalu!" tolak Dani, aku melirik kearahnya.
Apakah benar begitu A? Batinku.
"Jadi, dia... " sm aku, sembari menunjukkan wanita bernama Fitri itu.
"Udah yang, kamu diem aja. Aa akan terus berjuang demi kamu!" ucapnya lirih, dengan sedikit membungkuk karena memang tinggiku hanya sepundak Dani saja.
"Dani. Mamah tau, tapi, keluarga kami sudah sepakat, kamu tidak bisa menolak." sela bu Nesi, "Erna. Saya tau, kamu gadis yang baik, tapi, Dani sudah kami jodohkan dengan Fitri. Tolong kamu mengerti dan jauhi Dani," Paparnya, dengan lembut dan keibuan.
"Mana bisa begitu, mah" Dani terlihat kesal.
"Tapi bu, aku sud..." aku menghentikan ucapanku, harga diriku akan sangat terinjak-injak jika aku memberitau aibku semalam. Dengan terpaksa aku menahan emosi dan amarahku. Ingin rasanya aku teriak sekencang-kencangnya.
Di balik itu. Dani menatapku, aku tidak tau arti dari tatapan itu.
"Aku sudah melakukan hubungan intim dengan nya Mah, aku harus bertanggung jawab!" ucapan Dani membuat aku terpaku. Kenapa dia mudah sekali berkata-kata.
"Jangan mencoba menipuku Dani!" Bentak sang ayah. "Kau!! Perempuan jab***, kecil-kecil sudah berani melakukan hubungan intim! Benar-benar murahan!" Maki ayah Dani padaku.
"Jika benar kau sudah melakukan itu... Ambil ini! Dan pergilah menjauh dari anaku!"
Seketika airmataku mengalir deras, yang paling sakit adalah, saat ayah Dani melemparkan lembaran kertas yang di sebut uang itu ke arahku. Aku terlihat sangat murahan, hina dan kotor.
"Papah! Dia calon istriku, calon menantumu juga!"teriak Dani sembari berjalan mendekati ayahnya.
Aku diam tak bergeming. Aku tak bisa bicara sepatah katapun. Aku hanya bisa menangis.
__ADS_1
Aku segera melepaskan genggaman tangan Dani, dan pergi menjauh dari hadapan mereka semua, itu akan lebih baik. Dari pada harga diriku terinjak-injak.
Minta dukungannya kaka 🤩🤩