
"Tuhan..., Kenapa engkau berikan ujian seberat ini... " rintihku menangis.
💐💐💐
Waktu semakin singkat, hari demi hari terus aku lewati. Pernikahan Ryan pun sudah di selenggarakan kemarin pas hari rabu. Sebenarnya aku datang, tapi aku hanya melihatnya saja dari jauh, dan kado pernikahan nya aku titipkan pada gadis kecil yang seperti nya masih sodara dengan Ryan, atau mungkin tetangganya aku tidak tau.
"Syantikk... " panggil ku pada gadis kecil mungil, cantik dan lucu. Ia menghampiri 'ku
"Ada apa kaka? " sautnya sembari mendekat padaku, tersenyum manis melihatku.
"Tolong berikan kado ini untuk pengantin pria, bisa kan? "
"Baik kaka cantik, " Aku tersenyum menanggapi jawaban bocah kecil itu. Lantas ia mengambil kado yang aku sodorkan dan berlalu menghampiri pengantin pria yang terlihat sangat tampan, di gandeng wanita cantik tinggi semampai sangat beda jauh denganku.
"Semoga pilihanmu akan bisa membuatmu bahagia Ian. " gumamku, melihatnya dari jauh. Tak terasa air mataku menetes. Ku usap perlahan, dan berlalu pergi meninggalkan tempat yang membuatku harus menitikan air mata.
Kini aku benar-benar hidup sendiri. Hidupku menjadi terasa hambar, hanya ada tiga sekawan yang menemani aku. sementara Wahyu hanya mengabariku lewat telpon dan itu pun sangat jarang.
"Apa kamu sudah bahagia sekarang? " itu yang selalu aku pertanyakan, untuk Bara yang jauh dariku.
Aku mengerti, mungkin dia sibuk dengan pekerjaan nya. Dan terkadang, Wahyu juga datang, menengokku. Tapi ucapannya yang waktu itu ingin mengajakku bertemu anakku seperti terbawa angin. Dia lupa, atau sibuk aku tidak tau. Dani dan Maya juga menghilang tanpa kabar. Sementara aku tidak pernah tau dimana Senja berada.
Pernah aku menanyakan pada Wahyu, "Dimana Senja?"
"Aku tidak tau soal Senja, yang."
"Kau bohong!"
"Untuk apa aku bohong? Aku di jakarta sekarang. Tak pernah pulang ke Bandung."
"Kamu kan bisa tanyakan sama Dani atau nenek, teh Maya! " protes ku.
"Aku akan tanyakan nanti."
__ADS_1
Kata nanti, benar-benar nanti. Dan nanti itu entah sampai kapan akan terjadi. Setiap aku tagih, Wahyu selalu beralasan, membuat ku semakin malas.
Sudah pernah ku coba datangi rumah nenek yang di Tangerang. Namun nihil, rumah itu tak berpenghuni lagi. Menurut para tetangga, nenek dan teh Maya sudah lama meninggal kan rumah itu.
Aku sempat prustasi, putus asa, sedih, kacau, menangis tiada henti. Dedi yang emosi sempat memecahkan kaca rumah milik nenek. Dan nyaris terjadi keributan antar Dedi dan warga setempat. Namun Faiz yang pinter, bisa meng-handle semuanya. Sementara Hada sibuk membersihkan kaca yang berserakan.
Waktu seperti berjalan di atas kereta, begitu cepat melesat, tak terasa sudah hampir satu tahun. Bagaimana dengan hidupku selama ini?
Jelas tidak ada arti, semuanya seperti sia-sia saja. Aku menjalani hidup seperti anak gadis yang tak memiliki anak, hidupku bebas tak terbatas.
Wahyu sempat ingin membawaku ikut bersamanya, tapi aku menolak, karena ancaman dari sang ibu yang sangat membenciku. Yang hingga sekarang, aku tak tau mengenai kabar Wahyu lagi. Hubunganku dengan keluarga Dani, Maya, Wahyu seakan terputus begitu saja.
Entah sampai kapan begini? aku tidak tau.
Malam ini hujan, aku sendiri di rumah, hujan badai membuatku dingin merintih.
Aku yang rebahan di atas kasur berselimut tebal berusaha memejamkan mataku. Namun mata ini seperti sulit untuk terpejam.
"Woii." kirim SMS ku sama Dedi. Hujan masih mengguyur dengan derasnya. Namun tidak ada petir maupun angin kencang. Aku rasa sudah aman untuk aku menghubungi tiga sekawan di antara mereka melalui ponsel.
"Hujan angin disini. " balasan dari Dedi.
"Gue sendiri. Sumpah takut banget gue. " balasku lagi.
"Gue otw."
"Okay."
Pengertian sangat. Sangat pengertian.
Dedi memang tidak ada duanya. Dia selalu ada buat gue, semenjak Bara pergi, Dedi menggantikan posisinya. Sampai-sampai dia putus sama Anis hanya karena aku.
Tak perlu menunggu waktu lama, Dedi tiba dengan berbalut jas hujan. Aku sendiri pun sudah menunggu dia di depan rumah.
__ADS_1
Ku sodorkan handuk kecil padanya, "Cepet banget lu nyampe, "
"Ngebut." jawabnya singkat, "Gue udah suruh Faiz sama Hada buat kesini, gue juga udah nyuruh mereka buat bawa makanan. Karena gue tau, di rumah lu mana ada makanan. " Aku tersenyum. simpul menanggapi ucapan Dedi.
Meraka tau, gajiku yang tidak seberapa harus aku bagi, untuk aku kirim pada ibuku di kampung, dan untuk aku hidup sendiri. karena Maya sudah tidak memberi aku uang lagi semenjak hari dimana aku menanyakan anakku dan dia malah memakiku. Tidak ada masalah bagiku. Tapi yang jadi permasalahan saat ini hanya anakku. Bagaimana hidupnya selama setahun ini? Apa dia sudah bisa berbicara? atau sudah bisa berjalan? Ya Allah, aku harus kuat menghadapi ini semua. Anak yang aku lahirkan dengan susah payah tidak pernah bisa aku sentuh. Melihatnya pun aku tak bisa.
"Masuk, " ajakku, "Lu bawa kopi kan? sini, biar gue seduh. "
"Nggak perlu, lu istirahat aja. Gus bisa bikin sendiri."
Aku mengangguk mengiyakan. Kulanjutkan rebahan diatas kursi bermain dengan ponselku.
Tak lama dua sahabatku menyusul, masuk dengan membawa beberapa kantong makanan.
Semalaman kami menikmatinya, bercanda dan mengobrol ngalor ngidul tak tau arah.
Esok pagi. Aku sengaja bangun pagi, karena ada janji bersama seseorang yang selama ini cukup dekat denganku.
"Udah rapih aja lu?" ujar Faiz yang masih berselimut sarung.
"Gue ada janji. Maaf ya Iz. gue berangkat dulu. nanti gue masuk kerja agak siangan, nggak apa-apa kan?" Faiz menatap dengan intens "Nggak apa-apa lu bisa potong gaji gue."
"Serah lu dah." dia kembali menutup wajahnya dengan sarung. Sementara dua yang lain masih dalam mimpi.
Aku duduk di kursi depan untuk menunggu seseorang yang sudah ada janji denganku. Cukup lama aku menunggu. Pria yang aku tunggu akhirnya datang, dia membuka helm dan tersenyum padaku. Lantas aku berjalan mendekatinya.
Dia menyodorkan helm padaku sambil bertanya, "Lama ya?"
"Lumayan." jawabku menerima helm yang dia kasih. "Kamu mau ajak aku kemana?" tanyaku.
"Naik aja dulu, kita kesuatu tempat." Aku mengangguk, lalu menaiki motornya dan melesat dengan kecepatan sedang.
Aku kenal dengannya karena dia pelanggan setia di cafe yang aku kerja saat ini. Dia sering memperhatikan ku, memberiku makanan, terkadang mengantarku pulang. Dia pria yang baik untuk saat ini, meskipun dia seorang duda beranak satu. Aku hanya ingin menjadi temannya, tidak lebih. karena dihatiku tetaplah Wahyu. Hanya Wahyu. meskipun dia tak pernah mwngabariku setahun terakhir ini. Tapi harapan aku besar padanya. Aku yakin, dia akan datang menjemputku, mengajak aku menikah membina keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Setiap doa dalam sujudku, tak henti agar aku dipersatukan dengannya.....
__ADS_1