My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 10


__ADS_3

Setelah berendam hampir dua jam, Aku dan Dani bermaksud mau berhenti main air, karena emang lemes dan sedikit mual.


Namun, ternyata, si cewe wc itu malah sibuk liatin Dani.


'Perasaan tuh cewe ada disekitar ini mulu deh!' gumamku. Dan aku pun langsung punya ide. Otakku memang berilian.


"A, aku mau foto bareng pas lagi mandi di pemandian ini, tapi siapa yang mau fotoin ya?" tanyaku pura-pura bingung garuk-garuk kepala yang tidak gatal.


"Tuh, itu aja tuh!" tunjuk Dani, sama seorang anak kecil laki-laki sekitar usia sepuluh tahunan. Sepertinya anak sini.


"Jangan-jangan," Cegahku, aku berjalan naik ke atas, mengambil ponsel Dani yang di taruh dekat tas ku. Aku melirik Dani dengan tersenyum jenaka, sementara Dani melongo menatap ku.


Lalu aku berjalan, mendekati cewe wc itu. Cewe yang tadi, yang ketemu di wc, jadi aku namain dia cewek wc.


"Mbak, bisa tolong fotoin kami? biasalah, pengantin baru lagi honeymoon!" ucapku dengan nada sensual.


"Bisa kan?" tanya ku lagi.


"Bi-bisa" jawabnya gugup, namun aku tau, kalo mukanya muka wedus, kesel kan lo.


Haha.


"Baik terimakasih!"


Aku kembali berjalan mendekati Dani, sedangkan si cewek wc itu mengekor dibelakang ku.


"Kenapa dia yang?" tanya Dani heran.


"Biarin aja, aku kesel! dia liatin kamu terus A!" jawabku setengah berbisik.


"Oh, oke, Aa tau maksud kamu!" balasnya.


"Tolong fotoin kita ya mbak, biasa lah, pengantin baru," celetuk Dani.


"Whatt??" gumamku kaget, ternyata kita sepemikiran dan sehati juga ya. Aku tersenyum memandangi wajah tampan calon suamiku ini.


"Iya mas," sahutnya dengan manja-manja alay. Dia pikir cowok gue doyan apa sama cewe ceking kaya lo. Gue aja di suruh nambah dua kilo haha. Parah!


'Apa? mas? wah, benar-benar cari masalah sama gue!' rutukku kesal.


"Sayang, kamu cium pipi Aa ya!" ucap Dani dengan tersenyum senang. Aku kembali terkejut dengan ucapan Dani, dasar MKDK.


'Ya elah, malah cari kesempatan dalam kesempitan' gumamku.


"Iya." Jawabku malas. Jelas malas lah, punya cowok mesumnya kebangetan.

__ADS_1


Setelah itu, kami langsung berfose, dengan posisi aku memeluk pinggangnya dan dia mencium pipiku.


Jeprett, jadi deh fose pertama.


"A, katanya aku yang cium pipi kamu, terus kenapa kamu yang cium pipiku?" tanyaku


"Ya udahlah yang sama aja kan?" jawabnya.


"Sekali lagi ya mbak!" ucap Dani. Si cewe wc itu hanya mengangguk. Aku tau, kalo kamu ini kesel kan cewe wc, haha.


"Sayang, kamu rangkul pundak Aa, Aa rangkul pinggangmu. Kita kiss ya?" ucapnya lagi padaku tanpa rasa malu.


'Malah makin parah!' Gumamku lagi. Sial!!


"A, ini banyak orang lho, malu!!" ucapku sedikit marah, kalo banyak, tentunya aku nggak bisa. Sumpah, nggak bisa marah sama cowo ini.


"Wajar lah yang, kita kan pengantin baru," jawabnya enteng banget.


Dengan terpaksa aku mengikutinya. Sudah dalam fose, kemudian kami saling memadukan bibir kami. Daan.


Jepret,,, jadi deh fose ke dua.


Kulihat raut wajah cewe wc itu mulai merah, entah malu atau marah aku tidak tau, biarin aja lah, biar nyaho kan.


"Sudah mbak, makasih ya!" ucap Dani dengan mengambil ponselnya yang di pegang cewe wc itu.


Cewe wc itu langsung melengos kesal. Ya ya, kasian emang, tapi bodo amat, Erna di lawan. Hahaha.


Setelah berfoto ria, kami segera untuk mengganti pakaian kami, dan bergegas lanjut jalan-jalan muterin tempat wisata pemandian air panas ini. Tapi, makan dulu pastinya.


Beberapa jam kemudian, hari mulai sore, matahari mulai terbenam, waktu sudah menunjukan pukul 16:30. Dia berniat mengajakku menginap.


Waduuhh, bahaya gaes. Aku udah tau otak liciknya. jelas, aku menolak ajakan dia.


"Yang, nggak ada waktu, kita nginep aja di Vila itu!" tunjuk Dani, kesebuah Vila yang terbuat dari bambu, yang sangat asri dan enak buat santai menghilangkan penat.


"Kagak!! Aku mau pulang aja!" Aku ngambek, pasti ada maunya.


"Ya udah, hotel itu aja!" tunjuk nya lagi, kesebuah hotel yang lumayan bagus.


"TIDAK, AKU TIDAK MAU!! Aku mau pulang!" tukasku, dengan menekuk wajahku dan memalingkan nya.


"Kita cuma istirahat doang yang, nggak mau ngapa-ngapain kok, sumpah!" kilahnya,


"Enggak A, aku nggak mau! aku tau otak mu itu mesum!"

__ADS_1


"Siapa yang mesum?"


"Kamu lah!! aku nggak suka dipaksa!! kalo kamu mau tidur dengan wanita yang bisa muasin kamu, silahkan cari! dan kita putus!" tandasku.


Aku terpaksa harus berkata kasar dan tegas. Karena aku tidak mau menyesal nantinya.


Tapi, dia terus membujukku, dan aku terus menolaknya, dan akhirnya perdebatan aku dengan dia berakhir dengan diam. Aku duduk di bawah. Sementara dia duduk di motornya.


'Ya allah, andai aja aku bawa uang. Aku pasti udah pulang tanpa harus berdebat dengan dia!' gumamku, aku malas melirik atau bahkan melihat Dani.


Aku menunggu dia membujukku, meminta maaf padaku, tapi, kenapa malah lanjut diam-diaman gini sih. Hingga tak terasa hari semakin gelap, dan sepertinya akan turun hujan.


Dan ternyata benar, hujan turun di awali dengan gerimis-gerimis kecil.


"Yang, Aa minta maaf, ayo pulang," ajaknya dengan berusaha membuatku berdiri. Karena aku tetap duduk dan tidak merubah posisiku sama sekali.


"Aku nggak mau nginep A, kalo kamu emang beneran sayang sama aku, harusnya kamu nikahin aku secepatnya. Dan nanti aku akan menjadi milikmu seutuhnya. Semuanya milikmu, kamu ngerti kan!"


Air mataku mulai menetes, hatiku sakit. Kenapa dia terus meminta hubungan lebih padaku. Aku tidak mau, aku takut.


"Iya, iya Aa minta maaf. Ayo pulang!" ajaknya lagi. Namun hujan malah semakin derass, Petir dan geludug saling bersahutan, angin yang begitu kencang. Langit menjadi hitam pekat.


Dan inilah malam yang akan menjadi saksi kehancuran hidupku.


"Sini yang, ujan gede banget ini!"


Dani menarik tanganku untuk berteduh di bawah pohon rindang yang dekat dengan parkiran, bajuku dan baju Dani mulai basah, dia memakaikan jaketnya untukku. Karena kaosku yang basah dan tipis menimbulkan setiap lekuk tubuhku, dan membuatku malu.


"Kita gimana A? aku takut, hujan gede banget," Lirihku dengan memeluk tubuhku sendiri. Aku paling pantang kena dingin, hidungku mulai mimisan, secepatnya aku harus menghangatkan tubuhku.


"Hidung mu kambuh lagi yang," ucap Dani terlihat hawatir padaku.


"Ada tisu di tas ku A, tolong ambilkan, badanku lemas," titahku dengan merintih-rintih


"Iya."


Dengan cepat Dani mengambil tisu yang berada di dalam tasku. Dan mengelap hidungku yang mulai keluar banyak darah karena terlalu dingin.


Aku terus memperhatikan


Dani, dia sangat telaten mengelap darah di hidungku, tanpa ada rasa jijik, bahkan dia mengelap darah mimis ku dengan tangannya, karena tisu habis.


"Yang, tolong, kita nginep aja ya, badan kamu lemes banget, wajahmu pucat, Aa takut kamu kenapa-kenapa,"


Aku tidak tau, itu benar-benar cemas, takut atau yang lainnya. Karena pada saat itu, aku langsung tidak sadarkan diri.

__ADS_1


😍😍😍😍😍 peyuk author dongg 😅😅😅😅


__ADS_2