
Sudah seminggu ayahku tiada, sungguh sangat sulit untukku mengisi hari-hari ku tanpa kehadirannya. Aku harus bisa mulai menguasai diriku agar terbiasa tanpa sosok seorang ayah.
Esok paginya, aku kembali bekerja. Di antar oleh kakak laki-laki ku.
"Jangan terlalu banyak pikiran Na, Aa balik dulu ya, jaga dirimu baik-baik," ucap kakakku. Kemudian dia pergi meninggalkan ku didepan ruko.
Aku melangkah gontai masuk kedalam. Uni yang sudah menungguku sedari tadi, mengembangkan senyuman padaku. Aku pun menyambutnya dengan senyumanku juga. Karena sebelum berangkat, aku sempat memberi kabar uni, jika aku akan segera kembali bekerja.
"Kakamu sudah pulang Na?" tanya uni padaku.
"Sudah uni," jawabku tersenyum.
"Uni harap, kamu bisa melupakan semua kesedihan mu Na, bukan maksud uni menyuruhmu untuk melupakan ayahmu, tapi setidaknya bisa menghibur dirimu,"
"Iya uni, Erna mengerti. Erna masuk dulu ya,"
Uni mengangguk, akupun segera masuk kedalam, menaruh tasku. Dan segera kembali bekerja.
Aku duduk merenung didepan, seperti biasa menopang dagu bertumpu etalase menatap jalanan yang penuh dengan drama kehidupan. Benar-benar sangat malas.
"Na, abang turut berduka ya, atas meninggalnya bapak mu," ucap bang Zul tiba-tiba.
"Hmm." Jawabku.
"Sabar ya, mungkin ini sudah takdir. Kamu harus kuat ya," timpal kak Eva, adik tiri uni.
memberi semangat padaku.
'Sejak kapan dia perhatian.' pikirku
"Iya, makasih." Jawabku singkat. Dengan masih menatap jalanan yang ramai kendaraan lewat.
"Udah, biarin dia sendiri. Dia butuh waktu. Jangan ganggu dia," uni menimpali, kak Eva dan bang Zul pun pergi meninggalkan ku.
Dreett dreeettt
Suara getar ponselku, aku sangat malas menerima telpon dari orang lain saat ini, tanpa terkecuali A Dani.
Aku simpan ponsel ku, di dekat mesin Fotocopy.
Kemudian kembali melayani para pelanggan setiaku.
"Neng, katanya bapakmu sudah meninggal ya?" tanya pak Wahyu, seorang pegawai negeri sipil.
"Iya pak," jawabku malas.
"Sabar neng,"
"Iya." Jawabku singkat.
'Tolonglah, jangan bahas ayahku, bapakku, aku sangat malas' gerutu ku dalam hati.
__ADS_1
Setelah beberapa jam aku bekerja, dan toko sudah tutup sekitar jam 9 malam.
Aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur kebanggaan ku.
Aku capek, aku kelah, apalagi kalo orang-orang sibuk menanyakan ayahku, membuat aku semakin malas bekerja.
Tok tok tok
Suara ketukak pintu dari luar.
'Isshh, gak bisa kah tidak mengganggu ku!' Rutukku. Tetap diposisi rebahan.
"Na ... kaluar heulan, ieu Rian! ( Na keluar dulu, ini Rian!"
'oh, Rian.'
Aku segera membuka pintu kamarku.
"Naon? ( Apa? )"
"Kaluhur sakeudeung, urang diheula nya. ( Keatas sebentar, aku duluan ya )"
"Iyaa." Aku menatap Rian yang sudah berlari naik ke atas. Lalu aku masuk lagi mengambil jaket dan ponsel ku yang tergeletak di atas kasur.
"Erna, mau kemana?" tanya bang Yoga, yang sedang asik menyendok nasi.
"Ke atas." Jawabku singkat, segera aku berlari menyusul Rian yang sudah menungguku di atas lantai tiga.
Aku tersenyum, lalu mendekatinya.
"Ekhemm." Dehemku, membuat Rian membalikan badan.
"Ehh, sini, jangan jauh-jauh. Kaya kesiapa aja." Rian menyeret tanganku, agar aku bisa berdiri sejajar dengannya.
"Na, gue turut beruduka cita atas meninggalnya bapakmu," ucapnya lagi.
"Gue sudah tau, lo pasti mau ngucapin itu kan, karena emang sedari tadi orang-orang selalu ngucapin itu sama gue,"
"Ya, lo yang sabar ya," ucapnya, dengan memegang kedua pundak ku. Aku gak grogi dan bahkan gak deg degan. Malah sebalik biasa aja gitu, padahal Rian ini cowok yang baik dan sopan, perhatian pula. Poin + nya ganteng, kaya pemeran Dilan, cuman beda poster tubuh nya doang x ya. Riyan lebih tegap dan berisi.
"Apaan si lo, kebanyakan drama," aku melepaskan tangan Rian dari pundakku. Lalu kembali menatap langit-langit dan atap-atap rumah.
Angin malam yang sejuk, menemaniku dan Rian yang tengah asik mengobrol hingga dinihari. Aku sempat melihat ka Baru, yang mengintip dibalik pintu. Langsung deh, aku sengaja menyenderkan kepalaku di bahu Rian, sengaja iseng aja gitu. Eeh si Rian malah asik senyam-senyum kagak jelas.
Lagi, aku masih mengobrol dengan Rian di atas balkon. Tiba-tiba ponselku bergetar .
"Angkat Na, kasian si Dani. Dari tadi nelponin lo terus," titah Rian. Dengan menunjuk ponselku yang aku genggam.
Aku langsung memencet tombol jawab.
"Halo"
__ADS_1
"Kamu kemana aja? Aa telponin dari tadi nggak di angkat-angkat!" maki Dani padaku, sebenarnya bukan memaki, namun lebih tepatnya cemas yang berlebihan, karena emang sedari siang aku hilang tanpa kabar, padahal ponselku aktiv.
"Maaf A, " lirihku.
"Lain kali jangan kaya gini ya, Aa gak suka!"
"Iya, maaf." Jawabku dengan menatap ke arah Rian.
"Si Erna sama gue Dan, lo tenang aja dia aman ko," teriak Rian, sengaja supaya Dani mendengar suaranya.
"Gila lo, kuping gue mau pecah!!" bentakku sama Rian.
"Haha, bomat. Udah ah, gue mau masuk, udah jam setengah 3 pagi ini. Lo gak mau tidur?" tanya Rian yang sudah mulai menjauh dariku.
"Iyaa, tungguin gue, pintunya jangan di kunci!!" teriakku sambil berlari mengejar Rian.
Aku kembali turun kebawah, kemudian segera masuk kamar. Tak lupa mengunci pintu. Sebenarnya aku rada sedikit merinding, karena sedari tadi kaya berasa ada yang menguntit ku dari belakang atau dari jauh. Aku bergidik ngeri, segera menutup pintu dan menguncinya.
Aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur, aku mulai ngantuk, namun aku teringat Dani.
"Ya Allah A Dani?!" tepok jidat.
Aku segera mengambil ponselku, ternyata panggilan itu masih terhubung.
"Halo. A, kamu masih hidup kan?" tanyaku sedikit gugup dan terbata-bata.
"Kamu pikir Aa sudah mati?"
"Hehe, maaf A. Erna lupa kalo Aa telpon tadi,"
"Lagian, ngapain sih sama si Rian?"
"Nggak apa-apa, cuma ngobrol diang kok,"
"Awas ya kalo macem-macem!" ancam nya.
"Iya A,"
"Ya udah, kamu bobo gih. Udah mau pagi ini, bandel amat punya calon bini!" ucapnya dengan nada manja.
"Haha, apaan sih A. kamseupay deh,"
"Biarin!!"
Setelah berbincang sekitar 15 menit, kami mengakhiri panggilan kami, dan segera tepar. Karena emang udah ngantuk banget.
Maaf ya, waktu itu. Kata LEBAY belum muncul dan belum ada, kalo kata KAMSEUPAY itu baru ngetren deh kalo gak salah. Hehe maaf, lupa soalnya udah lama banget.
Terimakasih,
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗🤗
__ADS_1