
"Aku sunggokong. Kau anak kutu, ku pites mati deh dipelukan aku, Haha" kelakar nya dengan mencuil-cuil rambutku yang entah sejak kapan tidak disisir bahkan dicuci.
"Males ah! Siniin lontong nya, pelit amat! " kataku dengan mengambil piring ditangannya.
"Tadi katanya nggak mau, sekarang malah direbut, "
"Lagian, kalo cewek bilang nggak tuh, artinya iya. Gimana si, gitu doang nggak ngerti. "
"Iya. Gimana badan kamu, udah mendingan? " tanya Wahyu padaku, dengan menunjukan wajah seriusnya.
"Udah, tapi masih sedikit lemes. " jawabku sembari melahap lontong sayur. "Beli lagi dong, aku masih laper. " imbuhku dengan mulut yang masih penuh.
"Abisin aja dulu. nanti beli lagi. "
"Kamu liat HP ku nggak A?"
"Nggak."
"Apa dirumah ya? " lirih ku, namun masih terdengar oleh Wahyu.
"Iya kali. "
"A, aku mau pulang, aku mau ketemu anakku, "
"Mangkanya cepet sembuh, biar bisa cepet pulang sayang, " katanya, beranjak mengambil air minum lantas menyerahkan nya padaku, "Minum dulu, "
"Kapan acara peresmian nama anakku A? "
"Di undur hari rabu. Tadinya mau besok, tapi katanya bagus hari rabu atau jum'at." ujar Wahyu dengan menggeser kursi dan mendekat ke arahku. Lantas mengambil piring ditanganku, "Sini biar aku suapin, "
"Nggak perlu, aku bisa sendiri sunggokong. Lebih baik kau bantu kera sakti untuk mencari kitab suci, " selorohku dengan merebut kembali piringnya.
"Anak kutu."
____________________
Masih seperti biasa, pria yang bernama Wahyu itu tetap setia menemaniku. Setelah tadi sore dokter Andy memeriksa ku. Tidak sedetikpun dia menjauh dariku.
Keadaan ku membaik, tapi yang bikin aku lemes adalah payudaraku. Rasanya seperti mau meledak, jangankan disentuh, di usap aja sakit banget, air susunya juga rembes. Badanku menjadi panas dingin karena lama tak menyusui.
Tapi aku nggak mungkin ngomong sama Wahyu. Malu
__ADS_1
"Kamu napa sih deket aku terus, nggak bosen? " suaraku yang keras memecah keheningan.
"Napa? kamu bosen ditemenin sama sunggokong? "
"Hmmm.. " sautku sembari mengangguk perlahan, "Oh ya. Siapa yang mengganti kasa dan membersihkan jaitanku? "
"Aku." jawab Wahyu singkat tanpa menoleh.
Mendengar jawaban Wahyu membuat aku beranjak duduk tegap, menatap nya tajam. Sementara dia masih asik dengan ponselnya.
"Kau bohong." ujarku sembari menunjuk punggunggnya.
"Tidak."
"Jika kau bohong, hidungmu akan berubah seperti Petruk. "
"nggak akan. Orang aku nggak bohong. "
"Halaaahh, gue nggak percaya! "
"Ya udah. Lagian aku udah liat semuanya, " katanya dengan beringsut berdiri dan menaruh ponselnya di atas meja.Entah hendak kemana lagi ini orang.
"Hmm.. Semuanyaa. Sangat detail, bahkan sempat aku mainkan, " ujarnya dengan tawaan kecil yang menghiasi bibirnya.
"Dasar gila! " teriakku dengan terus memukulnya pakai guling. "Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan Wahyu! " teriakku lagi.
"Ya habis mau siapa lagi kalo bukan aku, " sangkalnya, "Tidak ada orang lain kecuali aku sayang, " imbuhnya dengan nada sensual.
Jantung ku serasa mau copot. Malu setengah mati kalo sampe beneran dia yang ganti kasa dan membersihkan area mis V ku.
Lantas ia beranjak masuk kamar mandi, kutatap punggung itu lekat. Ya... terlihat sangat lelah memang.
Aku terus mendengus,"Lebih baik aku tanyakan lngsung pada Nura jika dia kembali keruangan ini. " batinku.
Drrttt Drtttt
suara ponselnya terus bergetar, membuat jiwa kepoku meronta.
kutengok layar ponsel yang terus bergetar itu, "Mamah! " nama yang terpampang di layar ponselnya.
Namun saat aku hendak mengangkat nya, mendadak panggilan itu mati, selang beberapa menit, ponselnya kembali bergetar, namun ini hanya sebuah pesan BBM yang masuk.
__ADS_1
Kuambil ponsel yang teronggok itu, ku geser layar kuncinya. ternyata tidak dia gembok. sehingga aku mudah membukanya.
"Wahyu!Cepat pulang. Mau sampe kapan kamu meladeni wanita itu? sudah jelas dia tidak akan bangun lagi. mungkin dia sudah mati. cepat pulang Wahyu! " isi pesan dari bu mary.
Aku yang membaca seketika remuk. Tak habis pikir dengan apa ynag aku baca barusan. Kenapa wanita ini kejam sekali?
Terbuat dari apa hati wanita ini? Mulutnya seperti menyimpan banyak bangkai.
Dengan hati teriris perih, kutaruh lagi ponselnya. Tapi... pikiranku bergerilya, dengan sendirinya tangan ini kembali meraih ponsel milik Wahyu, dengan telaten jari jemari ini menscrool setiap pesan BBM. Semuanya terlihat biasa dan tidak ada yang aneh.
Kutekan pesan BBM yang bernama DAN itu. Lantas kubaca saat pesan itu terbuka. Jeli satu persatu ku baca pesan itu, ada rasa harus dan benci saat aku membaca nya.Bahkan Wahyu sama sekali tidak membalas pesan dari kontak bernama DAN itu.
Lagi-lagi hati kecilku berbisik untuk lebih dalam mencari tau pesan apa saja dan dari siapa saja.
"Mamah! " kembali ku buka pesan BBM dari bu Mary. Pesan itu....
"Wahyu, mamah kasih waktu sampai tujuh hari. Jika dia tidak sadar, kamu tinggal kan wanita itu!" pesan pertama yang aku baca, tapi Wahyu tak membalasnya.
"Wahyu, Papa dan om Bagus sudah merencanakan pernikahanmu dengan Ratna. Kamu harus segera bersiap Wahyu! Tinggalkan wanita itu! " pesan kedua, Lagi, Wahyu tidak membalasnya.
"Wahyu. Jika kamu tidak menuruti apa yang mamah katakan, lebih baik mama mati Wahyu! Mama tidak sudi mempunyai anak durhaka seperti mu! " pesan kedua setelah beberapa jam yang lalu.
"Mamah jangan seperti itu mah, " balas Wahyu
"Mangkanya. Kamu dengerin mamah.Mama tidak pernah main-main Wahyu! " balasnya lagi.
"Iya mah iya. Wahyu akan tinggalkan wanita ini dan akan menuruti semua yang mama inginkan, termasuk menikah dengan Ratna. " Balas Wahyu lagi. Seketika kelopak mataku basah, genangan air mulai membanjiri. Hatiku sangat sakit membaca balasan pesan Wahyu untuk mamah nya.
"Dasar pembohong!! " makiku, reflek ku lempar ponselnya hingga jauh dan pecah
PYARRR
Pada kenyataannya, siapa lah aku... tidak akan ada laki-laki yang sudi menerimaku yang malang ini.
Dengan tergopoh dan tangan kiri memegangi besi kaitan infusanku,lantas aku menuruni ranjang, mencoba berjalan perlahan agar aku bisa keluar dan meninggalkan laki-laki yang sedang sibuk dikamar mandi itu.
Kuusap kasar air mata yang menetes ini, "Lebih baik aku pergi. " lirihku serak.
Setelah beberapa menit berhasil keluar kamar dan aku menyusuri tepian koridor dengan bantuan merayap tembok dan berpegangan besi infusanku, aku terduduk lemas di kursi tunggu. Infusan yang masih menempel segera aku cabut. Darah ditanganku terus mengalir cepat bekas jarum infus yang aku cabut secara paksa. Perih memang, tapi tak seperih hatiku saat ini, apalagi jika aku mengingatnya lagi.
"Aku harus kemana sekarang ya Allah,,, " gumamku dengan isak tangis yang memilukan. Ku usap bekas infusan ini, perih ditanganku sungguh tidak sebanding dengan yang aku alami sekarang...
__ADS_1