
Acara selesai. Semua berjalan lancar tanpa hambatan. Aku duduk termenung, sementara yang lain sibuk membereskan meja dan ruangan. Seteguk dua teguk minuman yang teronggok di meja aku minum. Kopi hangat ala cafe nomber uno.
"Udah jam sebelas malem, lu nggak ada yang jemput? " tanya Dedi dari belakang. Aku menoleh.
"Kagak ada. Si Bara susah banget di hubungin. " jawabku dengan sedikit kesal karena tidak ada yang menjemput. Sementara siang tadi, aku sudah mengabari Bara untuk jemput aku sebelum acara selesai. Nyatanya sampe cafe mulai sepi pun tuh bocah nggak ada nongol.
"Mungkin A Bara sibuk, " katanya sembari ikut duduk di sebelah ku.
"Tau lah. Capek banget gue. Suara gue juga serak. " keluhku sembari mengusap tenggorokan ku yang sedikit sakit.
"Wajar lah, tadi kan banyak yang request lagu sama lu. Gila sih, demi gehu berubah jadi bolu, suara lu mantep banget anjer. " puji Dedi yang terus mengoceh.
"Gue baru nyadar, kalo suara lu sebagus ini. Apa karna sound audio nya yang emang perpek? " imbuhnya dengan sedikit mencibir.
"Siiitttt..., sial amat si lu. Mati aja sanah! " melotot aku sembari melempari dia kacang.
"Haha. Ya udah biar gue yang anter lu balik. "
"Nggak usah. Aku yang akan antar dia pulang. " saut seseorang yang berjalan tanpa suara.
Orang yang datang tak di undang, pulang ya pulang sendiri. Nah kan.
Aku terpaku saat melihat siapa yang datang dengan pakaian rapih tapi biasa namun terlihat sangat tampan.
Ya..., ya..., ya..., dari dulu, bagiku dia sangat tampan dan perpekto. Tapi BO'ONG.
"Dani? " Dedi, berdiri terkejut dengan mata membulat sempurna. Di ikuti aku yang juga berdiri melihat pria yang sudah sangat lama menghilang dari pikiran ku dan juga hidupku yang teramat payah.
"BANGSAT!!! "
BUUKK BUUKKK
BUUUK
BUUUUK
Entah kerasukan setan mana dan jin apa.
Jin tomang atau jin iprit, entahlah. Karena saat ini, yang aku lihat Dedi sedang berolahraga. Upsss...
"BANGSATT LU ANJEENG!! " teriak Dedi lagi dengan terus memukuli Dani yang masih terlihat syok. Raut wajahnya pun sudah terlihat sedikit ngeblur.
Sementara aku masih berdiam diri tanpa bicara atupun berteriak. Mungkin efek suaraku yang mulai serak jadi nggak bisa teriak atau mungkin aku masih terkejut. Ahh bodo mamat.
"Apa-apaan sih lu kunyuk! " teriak Dani yang sudah terhuyung tak berdaya. Dengan tangan kiri memegangi ujung bibirnya.
"Ngapain lu nongol di depan gua, Bangsat! " umpat Dedi. Wajahnya merah padam.
__ADS_1
Buuk Bukk
Bukk...
Pukulan demi pukulan terus mendarat di setiap inci wajah Dani, bahkan perut, kaki dan sebagainya. Dedi benar-benar seperti sedang kerasukan jin tomang yang kehabisan cemilan. Ohh sungguh menggelikan.
Mulutku menganga lebar, aku masih syok dan malah terdiam. Hanya mata dan mulutku saja yang megap-megap kek ikan mujaer yang mendadak di jemur.
"Ini belum seberapa sama penderitaan yang di alami sahabat gua! " kecam Dedi. Mencakar baju Dani. Nafasnya tersenggal-senggal saking lelahnya memukuli Dani. Jari nya menunjuk-nunjuk wajah Dani yang sudah..., ahh pokonya menggemaskan. Jadi kasian...
"Tunggu dulu. Lu jangan so tau kalo lu nggak tau permasalahan nya apa! " bela Dani. Aku masih terdiam tak bergeming.
"Berdiri lu bajingan!! " tanpa ampun, Dedi menarik baju Dani agar berdiri.
Sungguh pertunjukan yang sangat menegangkan melebihi pilm Bery Prima. Film action kesukaan almarhum ayahku.
"Gua bisa jelasin sama lu. Lu jangan main hakim sendiri. Lu kagak tau inti masalahnya apa. Maen asal bogem aja lu! " maki Dani yang sudah teramat lemas.
"Cihhh..., lu kira gua orang yang nggak tau etika. Anjeeng! "
"Cukup De, cukup! " teriakku mencoba memisahkan dua insan yang sedang memadu kasih ini. Ku tarik baju Dedi agar menjauhi Dani.
"Awas lu bangsat! " tunjuk Dedi masih penuh dengan amarah yang meluap. Di bumbui nafas yang ngos ngosan seperti habis lari di kejar semut. Semut nya pake treuk, jadinya yaa... begitulah.
"Lagian, mau apa sih lu kesini? " Aku berjalan mendekati Dani, mencoba menuntunnya hingga duduk di kursi yang tadi aku duduki bersama Dedi.
"Sory, tadi pagi aku ngikutin Wahyu sampe sini, yank. " ujar Dani masih dengan suara lemah.
"Anjeng lu ya! masih aja lu panggil dia dengan sebutan peyang. Gua beri lagi baru nyaho lu! " kecam Dedi masih dengan emosinya.
"Udah De. Biarin aja. Mulut-mulut dia."
"Kesel gua. Masih untung cuma gua yang ada di sini. Kalo aja temen gua pada kumpul, bisa berakhir di UGD bahkan kuburan saat ini juga. " umpat nya.
"Mending lu balik, De. " ujar ku.
"Kagak bisa. Gua harus tetep di sini. Gua mau nelpon seseorang. " Dedi berlalu, sedikit menjauh ke ujung gank, ehh ruangan. Sementara aku dan Dani terus menatap kepergian Dedi. Aku tau, siapa yang dia telpon.
"Maafkan Aa, Na. "
"Gua udah maafin lu. "
"Entah kenapa beberapa hari ini pikiran aku selalu tertuju padamu, selalu kamu yang Aa ingat." ujarnya menatap ku. Ku tatap balik dia.
"Bulsyiiit." lirih ku. Namun seperti nya masih bisa di dengar oleh Dani.
"Na, " mencoba meraih tanganku.
__ADS_1
"Nggak usah pegangin gue."
"Maafin Aa. Kamu mau kan ikut Aa buat ketemu Senja?"
Mendengar nama Senja, jelas membuat hatiku down lagi. "Memang nya dia dimana? "
"Anak kita ada sama mamah, kamu mau ya ikut Aa, " pintanya.
"Najiss!! Enek gua dengernya. " sela Dedi yang tiba-tiba muncul lagi.
"Lu kagak usah ya, nipu dia dengan alasan lu yang memakai nama Senja. " kata Dedi.
"Siapa yang beralasan? "
"Masih aja nyangkal lu. "
Dedi dan Dani terus berdebat. Sementara yang ada di pikiranku hanya anakku, Senja. Sedang apa dia? Bagaimana senyum nya? Apa dia cantik? Apa dia kuat? Apa dia merindukan aku yang sebagai ibunya? Apa dia cengeng?
Ahh..., banyak asumsi yang mendarat di pikiranku tentang anak gadis ku. Lama sekali aku tak bertemu dengan nya.
Air mataku jatuh. Tak bisa ku tahan lagi. Deras membanjiri pipiku.
"Gara-gara lu! Awas lu! " masih emosi, Dedi duduk di tengah-tengah aku dan Dani. "Lu kenapa? Inget anak lu? " Aku menggeleng. Menunduk, hatiku remuk. Belum lama aku memandangi gadis kecilku. Karena saat itu, baru sehari aku menimang nya, dan saat itu juga aku sudah tak melihatnya.
Belum puas aku memandangi gadis kecilku saat itu. Aku menyesal. Mendadak emosiku memuncak, teringat akan penderitaan yang aku alami saat ini dan saat kemarin. Dan ini semua ulah dari orang yang saat ini sedang bersamaku. Aku berdiri, sontak membuat Dedi dan Dani menatapku.
"Gua udah telpon A Bara. Dia jawab oke. Mungkin lagi on the way. Jadi lu kagak perlu balik sama orang GILA ini. " ujar Dedi. Aku menoleh melihat Dani.
"Jangan asal ngebacot lu! " tunjuk Dani.
"Tai ucing di lebuan. " Dedi berdiri, menuntunku keluar. "Kita tunggu di luar, lu kagak usah dengerin manusia bangsat itu. "
"Kampret anak ingusan! " umpat Dani.
Aku menurut melangkah keluar untuk menunggu Bara.
"Na, Tunggu dulu. Aa mau bicara penting. Soal senja." Teriaknya.
"Lu diem aja njeeng. Mau gua beri lagi? A Bara bakalan dateng, lu kagak usah macem-macem. Satu macem aja. Yaitu Mantog sia! "
"Lu bisa diem kan. Gua nggak ada urusan sama lu. "
"Berisik banget si lu."
Terdengar Dani mendengus kesal. Tapi tak mengejar, mungkin karena tubuhnya masih lemas akibat pukulan Dedi yang kesetanan.
Setelah sampai di luar, aku duduk di depan cafe, menunggu Bara yang akan menjemput ku, di temani Dedi yang sekarang diam menemaniku. Dia tau dengan perasaan ku saat ini. Maka dari itu, dia diam tak banyak bicara lagi padaku.
__ADS_1