My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab


__ADS_3

Pagi mentari menyinari bumi, semalam aku lupa menutup jendela kamarku. Sehingga cahaya masuk dan menembus dari celah-celah jendela hingga menyorot ke wajahku. Aku mengerjapkan mata, akibat pantulan sinar matahari yang sangat terik di pagi ini.


"Astagfirullah, udah pagi!" gegas aku tergopoh-gopoh, gara-gara semalam tidur terlalu larut sampe kesiangan gini. Segera aku keluar kamar untuk mandi. Tak lupa membawa alat perang ku yang sudah tersedia di dekat pintu.


' Ahh sial! Antri banget! Dengusku, saat melihat sosok manusia masih berjajar rapi menunggu giliran.


Serius, kalo telat bangun ya gini, susah mau mandi, padahal kamar mandi ada banyak. Setiap lantai memiliki 2 kamar mandi masing-masing. Tapi tetep aja antri.


"Sabar ya neng, " goda Rian. Ku kerut bibirku seraya berlalu pergi meninggalkan TKP. Kembali naik ke atas.


Terlihat bi Timah yang bekerja sebagai art diruko milik Uda dan Uni ini tengah sibuk memasak dan memotong sayuran. Aku mendekatinya, membantu memasak sarapan dan mencuci piring. Aku selalu seperti itu, meski Uni dan Uda melarangku untuk tidak bekerja rumahan, tapi, aku tidak peduli. Lagipula ini tidak berat. Menurutku.


Setelah selesai membantu bi Timah, aku segera mandi, jam sudah menunjukan pukul 08:00 pagi, dengan tergesa aku merapihkan pakaian ku setelah kelar mandi, aku turun terbirit-birit ke bawah. Tenyata Uda sudah duduk di kursi kebesaran nya. Bang Zul juga sudah asik melayani pelanggan yang sedang cetak foto.


Aku berjalan pelan. Mulai membersihkan mesin fotocopy. Seperti biasa.


"Kamu kesiangan Na? " tanya Uda padaku.


"Maaf Uda, Erna semalam gak bisa tidur!" Jawabku sedikit pelan.


"Kenapa?"


"Galau dia Bang, " timpal bang Zul. Sambil cengar-cengir ke kuda liar.


"Galau kenapa kamu Na?"


"Ahh, bohong uda. Jangan percaya omongan bang Zul," melihat wajahku yang ditekuk masam, bang Zul malah terkekeh-kekeh menertawakan aku. Dasar tukang ngibul.


"Erna, sini dulu. Uda mau bicara!" perintah Uda padaku. Aku pun segera menghampirinya dengan membawa kemoceng di tangan kananku.


"Tadi Aa mu Misca telpon sama Uda," berhenti sejenak, menatapku dengan posisinya yang elegan. Menyenderkan punggungnya ke kursi kebesaran nya. "Dia minta sama Uda, untuk membatasimu keluar tanpa Izin. Bukan mengekang, tapi ini demi kebaikanmu juga. Teringat usiamu yang baru 16 tahun. Uda sendiri setuju sama Misca!" tambahnya, dengan menatapku sambil menganggukkan kepalanya perlahan.


Aku terdiam, hanya menganggukkan kepalaku saja. Lalu kembali bekerja. Membersihkan debu-debu jalanan yang hinggap di setiap kaca etalase dan kertas-kertas lainnya. Membuatku pusing.


Boleh diketahui, A Misca ini adalah Kaka iparku. Dia menikah dengan kakak perempuanku yang bernama Nery. Dia termasuk kaka yang peduli padaku, bapakku, yang biasa aku sebut abah ini, menyerahkan semuanya pada A Misca ini. Karena dia yang memberiku kerjaan. Dan kebetulan Uda dan A Misca ini teman dekat.


Aku sendiri baru lulus sekolah, niat hati ingin melanjutkan ke SMA. Hanya saja biaya yang sangat mahal. Membuat aku putus ditengah jalan. Karena waktu itu belum ada bantuan sepeserpun dari pemerintah. Terpaksa harus berhenti sekolah. Sedih banget memang, melihat teman-teman ku yang lain sekolah. Sementara aku harus mandiri. Bekerja keras untuk menghidupi diriku sendiri, tanpa harus merepotkan orang tuaku dan kakak-kakakku yang lain.


Aku belum lama bekerja disini. Baru sebulan bekerja. Bapakku yang hanya penjual Es keliling, sering mampir ketempat kerjaku. Aku tidak pernah malu dengan profesi bapakku yang sebagai penjual es cream itu.


Bapak selalu menasehati ku, tentang akhlak, sifat dan etika yang baik. Sopan santun, bahkan tentang penting nya agamaku. Menjaga diri dan lain-lain. Aku harus mentaati semuanya. Aku ikuti setiap nasehat bapak. Karena dia laki-laki yang sangat aku cintai lebih dari Dani, yang sekarang menjadi kekasihku.


🥀🥀🥀🥀🥀


Sudah hampir satu minggu lebih tak ada kabar. Di telpon tak di angkat, di sms gak di bales. Aku prustasi. Tapi aku tak menyerah. Aku telpon lagi, dan ternyata tersambung. Tak lama dia angkat.


Aku sangat merindukannya, suaranya yang berat, membuatku terbuai. Meski hanya dari balik telpon, tapi aku sangat bahagia. Aku terus mengumbar kerinduanku, dan dia sepertinya tidak kembali marah padaku, nada bicaranya kembali hangat, aku tau, Dani sangat mencintaiku. Terlihat dengan segala pengorbanan yang dia lakukan untukku.

__ADS_1


Dia mengajakku kembali bertemu, aku mengiyakannya. Kami janjian di didepan warung es kelapa, milik bunda Ria yang berada di depan tempat kerja ku seperti biasa.


Malam yang sangat aku tunggu, aku bisa keluar dengan alasan ingin berjalan-jalan kepasar malam yang berada di perempatan. Terlihat Dani sudah menungguku dengan masih duduk di atas motor, dan melipat kedua tangannya didada.


"A Dani!" panggilku, aku tersenyum manis. Betapa aku sangat merindukannya. Agak alay memang ya. Biarlah, namanya juga anak muda.


Dani membalas senyumanku, "Mau kemana kita, yang?" tanyanya.


"Terserah Aa saja, aku manut,"


"Baiklah, ayo naik."


Aku mengangguk, menaiki motor besarnya. Setelah duduk di belakang joknya, lantas aku memeluk pinggangnya. Wangi banget, wangi yang sangat aku rindukan. Aku tak membuka suara selama berada di motor. Dani juga fokus menyetir.


Setelah beberapa saat, kami sampai di PM ( pertamina ) tempat anak muda nongkrong, banyak penjual makanan dan minuman di sana, apalagi pas malam minggu. Sangat ramai.


Aku turun dari motor, duduk di bawah motor yang sudah terparkir dekat pesawahan. Sementara Dani pergi membeli makanan dan minuman. Tak berapa lama dia kembali dengan menenteng makanan dan minuman di tangannya.


"Ini yang, minum dulu," dengan menyodorkan kresek kecil padaku.


Aku menerima minuman yang dia berikan padaku, "Terimakasih."


"Maafkan Aa ya," ucap Dani tersenyum menatapku.


"Iya A, gak apa-apa."


"Baik. Oya, semalam aku mimpi gigiku copot semua A, rasa nya sakit banget, kaya nyata gitu. Itu tandanya apa ya?" tanyaku, setelah aku ingat tentang mimpiku yang semalam.


"Kata orang sih, kita akan kehilangan orang yang kita sayang. Tapi entah, itu kan hanya mimpi. Kamu enggak usah terlalu memikirkan nya, yang," ujarnya dengan membuka makanan ringan yang dia beli, lalu menyuapkan nya padaku.


"Oh, gitu."


Lanjut, kami asik mengobrol, hingga larut malam, seperti biasa. Dani selalu minta jatah cium dariku sebelum pulang kencan atau jalan-jalan. Aku pun rela memberikan itu padanya. Biarlah, daripada harus meminta lebih. Toh, aku juga menikmatinya.


"Pulang yuk. "


"Ayuk lah, masa mau nginep sini, " celoteh ku.


"Hehe... yang, makasih ya kiss nya, "


"Apaan sih. Bikin wajahku ke tomat aja, "


Kami kembali pulang, saat sampai depan tempat kerja ku, aku kepergok sama bang Zul dan kak Baru yang baru saja dari pasar malam.


"Ekhemm..." dehem bang Zul.


Sementara kak Baru diam saja menatapku. Menatap sinis sama Dani.

__ADS_1


"Sape dia nong?" tanya bang Zul.


"Saya Dani bang," Dani sendiri yang memperkenalkan nya.


Bang Zul hanya mengangguk, tidak menerima uluran tangan Dani.


'Shombhong amaaatt.' pikirku dengna bibir kunaikan keatas.


"Aa pulang dulu ya, jaga dirimu."


"Iya A. Terimakasih."


Dani kembali menyalakan motornya dan segera mengegas lantas pergi dari hadapanku dan dua makhluk ini.


Bang Zul menatap sinis padaku. Apalagi kak Baru terlihat sangat kecewa. Entah kenapa.


Bodo amat ah, aku mana peduli dengan mereka, yang penting aku sangat bahagia hari ini. Karena A Dani tidak lagi marah padaku.


__________


Paginya, kak Baru terlihat murung.


Aku terus memperhatikannya.


"Napa kak? lagi ada masalah ya?" tanyaku penasaran, dengan menyenggol bahunya.


"Kaka kecewa sama kamu Na." setelah mengatakan itu, dia berlalu pergi dari hadapanku.


Jelas aku bingung, aku heran, ada apa dengannya. Kenaoa ngadak-ngadak marah gitu. Kagak jelas.


"Dia cemburu sama kamu!" Kata bang Zul.


"Cemburu? ko bisa?"


"Bisa lah, kamu pikir dong nong. Kamu baik dan perhatian sama dia, dia ngira kamu menyukainya. Bahkan uda juga berniat ingin menjodohkan kamu sama dia." jelas bang Zull pake acara nyolot pula. Hisshh


"Apa! kagak! aku kagak mau lah. Aku mau nikah sama Dani bang, lagian aku nganggap kak Baru kaya ke abang gitu, gak spesial sama sekali bang. Apalagi harus dijodohkan. aku gak suka dan nggak mau!" aku marah dengan penjelasan bang Zull. Bahkan setelah ini, aku juga mendadak acuh sama kak Baru aku juga enggak peduli sama dia. Takut-takut salah paham lagi dengan kebaikan ku.


Aku gak mau ambil resiko, lagian kak baru itu terlalu tua untukku, usianya yang sudah 28 tahun. Sedangkan aku masih 16 tahun. Sangat jauh perbandingannya.


Aku menelpon Dani, menceritakan semuanya. Jelas, Dani marah. Bahkan dia memintaku untuk berhenti bekerja, atau aku menjauh dari kak Baru. Aku pun mengikuti perintahnya. Karena memang hanya Dani yang aku mau.


jangan Lupa tinggalkan komen kalian Disni 😊😊 klik ❤️ agar tidak tertinggal episode selanjutnya 😁😁


jangan lupa Like dan Vote


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2