My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
bab 41


__ADS_3

"Kamu mikirin apa??" Keheningan didalam kamar aku pecahkan dengan bertanya padanya.


Dia hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Masih dengan wajah menunduk.


"Lebih baik kamu temui istrimu yang sedang mengamuk diluar!" Ujarku dengan nada dingin. Sedingin salju. Kerana sejak tadi suara Fitri sudah memenuhi rumah ini. Hingga tembus kegendang telingaku, untung saja tidak pecah.


Dia menggeleng lagi.


Tiba-tiba dia memegangi kedua pipiku, dan menatapku tajam. Mataku membulat karena kaget. "Kamu masih sayang kan sama aku?"


Aku menggelengkan kepalaku.


"Jujur yang!" Ucapnya dengan nafas tertahan.


Aku mengangguk.


"Bohong! kamu pasti masih sayang kan sama aku?"


"Lepas!! Apaan sih!" Secepatnya aku melepaskan pegangan tangannya yang menempel dipipiku.


"Aku tidak mencintai kamu lagi!! Aku udah nggak sayang lagi sama kamu!! Lebih baik kamu pergi, temui istrimu dan jangan ganggu aku!!" Mungkin dia tidak akan menyangka aku berbicara lantang dan keras seperti itu didepannya. Aku bahkan tidak peduli jika Fitri akan mendengarnya.


Karena tegas, akan lebih baik dari pada lembek-lembek kaya jelly.


"Kamu bohong kan, yang?" Berdiri dengan tatapan penuh amarah padaku.


"Enggak!! Aku jujur!"


Ia beringsut berdiri didepanku. "Gimana bisa kamu secepat itu melupakan kisah cinta kita, yang?" tanyanya sambil memegangi kedua bahuku. Nafasnya memburu, seperti harimau yang siap memakan mangsanya.


"Gimana bisa kamu menduakan kisah cinta kita secepat itu A?" Jawabku membalikan fakta dengan menghempaskan kedua tangannya yang memegangi bahuku.


"Aku tidak pernah menduakanmu!!"


"Teruss, kenapa kamu nggak bisa mengelak perjodohan itu jika kamu memang mencintaiku dan menyayangiku??" Tanyaku lagi dengan mencecarnya.


"Gimana bisa kamu membiarkan aku seorang diri menanggung beban derita yang kau buat??" Tudingku.


"Kenapa kamu tega melukai hati dan perasaan tulusku sama kamu??" Pecahlah emosiku.


"Mana janjimu sama abah? Janjimu padaku? Yang akan siap menjaga dan melindungiku?? Janjimu sendiri kau ingkari!! Gimana bisa itu semua terjadi hah? Cinta dan sayang mu itu palsuu!!" Cecarku tanpa henti, dengan menagih janji yang dia ingkari, sejenak aku mengatur ritme nafasku.


"Aaarrgghhh....!!" Teriak nya dengan luapan emosi nya yang membara.


PYAARRR


Sontak aku mejamkan mataku saat Dani memecahkan mangkok bubur bekas aku makan tadi.


Tubuhku gemetar, aku takut melihatnya yang sedang kesetanan itu.


Aku menangis di hadapannya. Sengaja aku menundukan wajahku, aku tidak ingin melihat Dani yang sedang marah.


"Kamu tidak mengerti posisiku Erna!!" Bibirnya bergetar, emosinya memuncak, bahkan dia terus menyalahkan aku yang tak mengerti jika berada diposisinya.


"Kamu tau betapa tersiksanya aku menikahi wanita itu?!!" Bentakknya padaku. "Aku juga tidak ingin seperti ini!! Aku sangat menyayangimu!!" Sambungnya dengan mencengkram kuat rambut kepalanya. Semua otot urat emosinya terlihat. Semarah itukah dia padaku.


"Aku mengerti posisimu A, tapi ..."


"Tapi apa hah? Apa?" Kini dia kembali mencengkram kuat bahuku dan mengoyangkan nya kencang.


Aku berontak mencoba melepaskannya, "Sakitt!! Bahuku sakit A, kamu kasar!!"


"Kamu yang memaksaku mengasarimu!!" Lantas menghempaskan tubuhku, hingga aku terhuyung ke belakang.


Aku terus menangis, hatiku sakit mendapatkan perlakuan kasar dari Dani. Hingga aku sesegukan.


Suara Fitri terus berteriak dan menggedor pintu membuat aku semakin takut.


Dani memelukku erat dari samping. "Maafkan aku, kita hadapi dia sama-sama!"


"Lepas, pria kasar!!"


"Maaf, yang maaf. Kita hadapi dia. Kamu nggak mungkin bisa mengalahkan dia!"


"Aku nggak mau, aku takut ..." Tangisanku semakin pecah. Airmataku semakin banjir.


"Kamu tenang, ada Aa disini, nenek dan teh Maya. Dia tidak akan berani menyakiti kamu dan anakku. Oke!"


"Cepat buka woyy!!! Dasar penjinah!!" Suara Fitri yang mengamuk membuat tubuhku gemetar hebat, pasti sekarang tanduk kudanilnya keluar. Pasti sekarang dia sudah berubah menjadi nenek sihir.


Pikiranku tentang Fitri berkecamuk kacau.


"KurangAjar!! Mulut dia perlu aku sobek!!" Kata Dani dengan membuka pintu


PLAAAKKK.


Tamparan itu akhirnya mendarat dipipi mulus Fitri.


"Berani kamu mengatai aku dan dia penjinah??"


"Kalian memang penjinah!! tidak tau diri!!" Maki Fitri, terlihat pipi sebelah kanan-nya memerah akibat tamparan keras Dani.


Aku bersembunyi di belakang punggung Dani, bagaimanapun aku sedang hamil, saat ini aku tidak bisa melawan Fitri yang tengah mengamuk.


"Sini kau wanita jablay!!" Meraihku, namun Dani menghalangi. Emosinya meluap-luap. Matanya memerah dan seperti habis menangis.


"Jangan pernah kamu mengatai kekasihku denga sebutan yang seharusnya pantas untuk mu, Fitri!!"


"DANI!! Aku istrimu!! Kenapa kamu membela dia??"


"Kamu memang istriku, tapi hatiku hanya untuk kekasihku yang tengah mengandung anakku!! Lebih baik sekarang kamu pergi atau aku akan menceraikanmu sekarang juga!!" Hardiknya dengan mengamcam Fitri. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa Dani akan melakukan hal seperti yang tak aku duga ini.


Maya dan nenek menonton drama yang kami buat.


Dengan tangan bersila, Maya berkata, "Sudah gue bilangin masih ngeyel aja. Sakit kan lo dikasarin sama laki sendiri!!"

__ADS_1


"Kalian semua brengsek! Awass!" setelah mengatakan itu, dia berlalu pergi meninggalkan rumah ini, rumah pemberian Dani untukku.


Aku segera melepaskan tanganku yang mencengkram kuat punggungnya. Duduk di tepian ranjang dengan masih menangis.


Maya dan nenek menghampiri ku, mencoba menenangkan aku.


"Geulis..." Ucapan nenek terhenti saat Dani menyela nya.


"Nenek lebih baik tunggu diluar, biar aku yang menemani Erna. Teh maya, maaf. Tolong buatkan aku jahe hangat yaa."


"Siap!! Jagain Erna Dan. Teteh buatkan teh untuknya." Menepuk pundak Dani lantas beringsut pergi, dengan nenek mengekor di belakangnya.


"Jaga cucu dan cicit nenek ya Dan... Nenek mau istirahat dulu."


"Siap nek!" Dengan tangan hormat, lantas Dani menutup pintu kamarku lagi.


Suara tangisanku bercampur dengan suara beling mangkok yang Dani banting tadi. "Kamu jangan nangis terus yang, Aa beresin beling ini dulu, kamu tunggu disini yaa,"


Aku hanya mengangguk pelan. Dengan mata terus berderai.


🌱🌱🌱


Beberapa hari ini Dani standby dirumah. Dia tidak pulang kebandung ataupun ke Tangerang. Dia memutuskan untuk tetap tinggal disini. Karena tempat kerjanya juga disini. Jadi capek kalo harus bolak-balik Karawang-Bandung.


Meskipun kami serumah, dia tidak pernah melakukan hal mesum padaku. Alih-alih selalu menghargai aku sebagai wanita yang bukan muhrimnya.


Maya juga mendadak sibuk dengan pekerjaan-nya. Nenek juga pulang ke Tangerang.


Semenjak kejadian itu, Fitri tidak pernah lagi datang mengancamku atau bahkan memakiku. Sebenarnya apa yang terjadi?? Aku rasa ada yang aneh.


"A, tante Nesi kenapa tidak datang melabrakku? Apa Fitri tidak bilang sama tante Nesi bahwa kamu dirumah ini sekarang? Bahkan sudah beberapa hari lho?" Tanyaku, saat sedang menikmati langit senja sore hari.


"Mamah tidak akan berani menyakiti kamu lagi yang, dia sekarang mengakui bayi yang kamu kandung sekarang,"


Mataku membulat mendengar penuturan Dani, apa secepat itu?? "Maksud kamu?"


"Ceritanya panjang yang, kamu tau kenapa kemarin-kemarin Fitri tau rumah ini dan mengamuk disini dan dia tidak bisa lagi berbuat seenaknya padamu setelah aku mengancamnya bercerai?"


Aku menggelengkan kepalaku.


"Fitri mandul yang,"


"Apa?? Mandul??"


"Iya. Dan yang lebih parahnya, Aa juga terkena Verikokel yang," raut wajahnya berubah murung. Kusut dan tak berekspresi. Tatapannya kosong.


"Verikokel?? Apaan itu?" Tanyaku dengan dahi mengerut.


"Semacam pembengkakan pembuluh darah pada testis, nunut." Katanya.


Aku molongo, kaget bukan main. "Apakah itu parah??"


"Nggak tau Aa juga. Itulah sebabnya mamah tidak mengganggumu lagi, alih-alih mau mengakui anak kita sebagai cucunya."


Benar-benar diluar dugaanku. Mereka mengidap penyakit seserius itu.


"Kamu sudah masuk HPL kan yang??" tanyanya dengan membalikan badannya menghadapku.


Aku mengangkat kedua bahuku.


"Besok kita periksa ya. Apa kamu nggak ada tanda-tanda mules atau apa gitu?"


Aku menggeleng tanpa menjawab. Pikiranku masih menetap pada ucapan Dani yang katanya dia terkena Verikokel. Fitri juga mandul.


Ya Allah, aku tidak membencinya, aku tidak dendam. Tapi kenapa engkau memberi penyakit yang susah buat punya anak pada mereka??


Aku sama sekali tidak dendam ya Allah... kerana Alm abah selalu mengajarkan aku agar tidak menjadi orang yang pendendam.


"A, kamu yang sabar ya, Allah pasti akan menyembuhkan kamu,"


"Terimakasih sayang."


Saat dia ingin mengecup keningku, aku langsung mengelak dan menjauhkan diri.


"Maaf A, aku masuk dulu."


Segera aku beringsut masuk kamar dan mengunci kamarku. Aku tidak mau terlena dengan semuanya. Sudah cukup, toh aku juga tidak akan bisa memiliki dia, meski Fitri tidak akan bisa memberi dia keturunan. Tapi aku tidak mau menyakiti hati dan perasaan-nya. Cukup aku yang merasakan sesakit ini dengan goresan luka yang tak berdarah namun berkarat hitam dan akan sulit dihilangkan.


Aku harus tau diri. Di beri tempat tinggal saja sudah untung, biaya hidup di tanggung semuanya juga sudah Alhamdulillah. Aku harus banyak-banyak bersyukur, meski aku harus melupakan dia.


🌱🌱🌱


"Yang... cepetan, kita udah telat nih!!" Teriak Dani dari luar kamarku.


Pagi ini aku diajak periksa untuk mengetahui HPL anakku. Semakin hari semakin berat perutku. Tubuhku juga semakin gembul. Pipiku makin tumpeh-tumpeh lumer kaya bakpau.


Kuacak-acak lemari pakaian ku, memilih baju yang pas untukku. Tapi sebagus apapun aku tetap memilih yang nyaman dipakai. Yaitu daster. Hanya daster yang pas untukku.


Setelah berpakaian rapih dan menyelempang tas kecil, aku segera keluar menyusul Dani yang duduk di bangku depan.


"Sudah!"


Dia melihatku dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan posisi masih duduk. "kamu yakin??"


"Yakin apanya??"


"Pake baju beginian? Rambut kamu juga digelung?"


Aku melihat lagi keadaan pakaian yang menempel ditubuhku. "Iya yakin?? Kenapa? Kamu malu?"


Dia hanya tersenyum kecut. "Ya rambutnya jangan digelung atuh, dikuncir kuda kaya biasanya aja. Lebih cantik. Kalo gini udah kaya emak-emak!" Protesnya.


Akue mendengkus, ku ulangi lagi penataan rambutku menjadi kuncir kuda. Mau potong rambut juga nggak boleh kalo lagi hamil. Katanya. Jadi mau tidak mau harus ribet dengan rambut panjangku ini yang kriting.


"Lagian, kita bukan suami istri. Aku juga bukan siapa-siapa kamu. Jadi nggak usah malu. Anggap aja aku ini orang lain!" Ketusku, setelah merapikan rambut gelungku.

__ADS_1


"Ko kamu gitu amat sih,yang?"


"Jadi nggak nih??"


"Iya deh, serah kamu aja!!"


Aku tersenyum, lantas berjalan cepat masuk mobil Dani. Kebetulan hari ini hari minggu, jadi Dani nggak kerja. Dia juga sengaja mendatangi dokter langsung dirumahnya bukan di klinik. Karena ini hari minggu.


Setelah beberapa saat, kami sampai didepan rumah dokter cantik yang biasa aku temui di klinik bersama teh Maya.


Dengan papan Nama yng menggantung di pintu pagar.


Dr. Renta Yudiasti. Sp.A.K. [ nama aku samarkan ya. Tapi agak mirip sih 😁 ]


"Ayo masuk yang,"


Aku mengangguk, mengekor dibelakang Dani. Berkali-kali Dani memencet bel. Setelah beberapa menit. Seorang suster keluar dan mempersilahkan kami masuk.


"Halo Dani..." sapa Dokter cantik bernama Renta itu.


Aku hanya tersenyum melihat mereka yang cipika cipiki. Aneh.


"Ohh, jadi ini istri kamu??" Ujar Dokter Renta. "Saya sih sering memeriksanya Dan. Tapi dia selalu ditemani perempuan."


"Betul Dok, dia bibi saya."


"Hmmm..." Jawab Dokter itu dengan menganggukan kepalanya. Terus menyuruhku berbaring dan segera dia memeriksanya dengan cermat.


"HPL nya bulan sekarang dan bulan depan Dan. Antara tanggal 28 November dan 7 Desember... Atau bisa jadi maju dan mundur dari tanggal yang ditentukan." Jelas Dokter itu.


"Keadaan anakku bagaimana Dok?"


"Sehat dan baik. Selama ini kandungan istrimu selalu baik dan sehat lho Dan."


"Oh gitu, apa harus ada vitamin yang ditebus??"


"Nggak perlu Dan."


"Oke. Terimakasih Dokter Renta."


🌱🌱🌱


"Kita mampir dulu ke minimarket ya yang, beli makanan ringan buat kamu." Lantas Dani pun membelokan mobilnya keparkiran depan tanpa menunggu jawaban dariku.


"Ayo. Kita masuk. Kamu pilih cemilan yang banyak. Aku mau anak kita sehat terus." Ujarnya dengan membuka belt dan keluar dari mobil.


Tanpa menjawab aku ikut Dani keluar mobil dan masuk kedalam minimarket itu. Dengan ciri khas merah kuning.


Saat sedang asik memilih makanan, seseorang menepuk bahuku.


"Apa A, aku lagi nyari Good Time yang ukur..." Ucapanku terhenti saat suara itu terdengar jelas ditelingaku.


"Erna??"


Sontak aku menoleh kebelakang.


"A Misca??"


BRAAK


Krinjangku jatuh kelantai, mulutku menganga, mataku membulat. Jantungku seakan berhenti berdetak. Tubuhku kaku, darahku seakan berhenti mengalir. Aku tak bisa lagi mengelak, airmataku tumpah tanpa seijin dariku.


Aku sama sekali nggak ngeuh, kalo ternyata didalam Minimarket ini ada A Misca. Kaka iparku.


"Kamu hamil??" Ujar A Misca. Yang melihat perut buncitku.


Aku menelan ludah berat. Bibirku terasa kelu. "JAWAB!!" Bentakknya padaku. Aku menunduk, Malu rasanya ya Allah.


"Aku... aku..."


PLAAAKKK.


"Kamu sudah mencoreng kotoran diwajah ibumu, Erna!!" maki A Misca didalam minimarket ini. Aku tetap menunduk malu. Mengusap pelan pipiku yang ditampar keras kaka iparku.


Aku menangis, "Maaf A, maafkan aku.."


Tiba-tiba Dani datang menghampiriku. "Ada apa ini, yang?"


BUUUGGH.


Tanpa aba-aba, A Misca meninju Dani hingga dia terhuyung dan menabrak rak makanan dibelakangnya.


"Sudah A, sudah. Aku bisa jelaskan!!" Aku mencoba menenangkan kaka iparku yang sedang terbakar emosi itu.


Semua petugas minimarket sibuk melerai baku hantam yang dilakukan A Misca pada Dani. Dani sendiri tak membalas pukulan itu.


Sementara aku hanya menangis, Malu dan sedih bercampur menjadi satu.


"Kalian ikut saya!!" Setelah mengatakan itu. Kaka iparku berlalu pergi meninggalkan minimarket ini dengan sisa emosi yang masih penuh.


"Ada apa mbak??" tanya seorang kasir minimarket padaku.


Semua pembeli juga turut menonton kami. Wajahku memerah karena malu yang tak bisa digambarkan.


"Tidak apa-apa, mbak. Maaf kami tidak jadi belanja!" jawab Dani dengan sedikit memar dibagian ujung bibirnya.


"Ayo kita hadapi yang, aku akan menjelaskan semuanya pada kaka mu!!"


Dani menarik tanganku. Menggenggamnya erat. Semua orang terus fokus padaku dan Dani. Termasuk para kasir Minimarket itu.


Mereka pasti bingung dengan kejadian ini. Masih untung A Misca hanya seorang diri, gimana kalo ka Eni juga tau. Aku bisa mati berdiri.


Author lagi ada waktu luang nih...


bantu vote dan like komennya ya kak terimakasih 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2