
" Setelah aku lumayan sehat dan bisa berjalan dengan normal. Aku akan menjemput anakku secepatnya. " gumamku sembari melahap sendok demi sendok.
"Nih minuman lu... " Bara dengan meletakan minuman dimeja tepat didepanku. "Muka lu pucet banget."
"Mana ada. ngaco lu! "
"Serius. Lu sakit? "
"Nggak. Mungkin gue kecapean kali, kan tadi abis jalan kaki nyari warteg. " Aku berbohong. jangan sampai bara tau tentang aku yang sebenarnya. Apalagi dia kenal dekat sama kak Surya. Kakaku. Bisa kiamat.
"Bar, " panggilku dengan memegangi tangannya yang santai di meja, susah aku menelan saliva ku untuk membuka obrolan penting padanya, dengan seksama Bara menatapku, sesekali ia melihat kearah tangannya yang aku sentuh. "Lu bisa jaga rahasia kan? " lanjut ku dengan kening mengerut.
"Rahasia apa? "
"Tapi sebelum itu, gue mau nanya. Aa gue suka nongki-nongki alay nggak sama lu sekarang? "
"Mana ada, A Surya kan di Jakarta. Masa lu kagak tau si? "
Waduhhh, salah nanya kan. "Bukan. Maksud gue lu masih kontekan nggak sama Aa gue? "
"Ya masih lah gila. Emang napa si? " wajahnya semakin dekat padaku. Oh my God.
"Jangan deket-deket napa! Kaya orang budek aja lu! " umpatku dengan mendorong wajahnya menjauh dari wajahku.
"Grogi lu ya?" dengan terkekeh, "Gue pikir tomboy lu ilang Na, ternyata masih nempel aja, "
"Paan si lu! "
"Yaudah lanjut, sambil nunggu jam 1." ucapnya.
"Jadi gini, gue moho.....! " Ucapan ku terpotong oleh suara seseorang yang memanggil Bara.
"Bar! Beresin dulu lah! " teriak orang itu. Mungkin bos nya.
"Iya Bang." sautnya, "Nanti aja ceritanya kalo gua dah kelar, abis ini kita mampir dulu ke suatu tempat. " setelah mengatakan itu ia berlalu dari hadapanku dan mendekati suara yang memanggilnya tanpa menunggu jawaban dariku.
🍎🍎🍎🍎🍎🍎
"Mau kemana kita Bar? " tanyaku berteriak, karena Bara yang memakai helm terlebih suara knalpot Bara yang membuat gendang telingaku pecah. Belum pecah sih.
"Jangan ngomong dulu, lu diem aja! " balesnya dengaan teriakan lagi. Seketika aku pun diam menuruti apa yang dia ucapkan padaku.
Setelah beberapa jam, Bara membelokan motornya kesuatu tempat yang cukup bagus buat selfi. Sebuah bendungan yang dibuat pada masa belanda dulu. Sungai yang membentang luas, entah bagaimana jika bendungan itu bedah. Mungkin kita semua akan tenggelam didalam pelukan mantan. Hisshh mantan tak perlu dibahas sangat tidak penting. Jangan ditiru itu berbahaya.
"Turun! " ucapnya sembari membuka helm.
Gila ni orang bawa motor kaya orang kesurupan. perut gue ampe sakit gini, darah gua juga keluar banyak lagi. hhuhhhh batinku.
"Bar, lu mau gue mati ya? " bentakku memukul lengannya.
"Mati? Maksud lu? "
"Lu bawa motor mau ngajak gue ke tempat yang indah atau mau ngajak gue ke neraka si? gila bawa motor kaya nantangin malaikat ijroil lu! " umpatku dengan memegangi perutku yang semakin sakit.
"Paan sih lu ah. Gitu doang. Malah biasanya lu lebih gila lagi dari gue kalo bawa motor! "
"Bacot lu ah!! " dengusku lantas beranjak mencari tempat duduk untuk mengistirahatkan perutku yang semakin sakit. Peluh keringat mulai bercucuran di pelipis antara mata dan dahiku.
"Na. lu sakit? Lu pucet banget, parah! " dengan raut wajah cemas Bara berjongkok didepanku.
"Perut gue Bar, gue lagi mens. Nggak tahan sakit banget! " rintih ku.
"Napa lu kaga bilang lu lagi mens, kan gue bisa santuy ngegas motornya. "
__ADS_1
"Pala gue sakit Bar, sumpah gue nggak kuat. Anter gue balik sekarang. "
"Kosan lu dimana? "
"Deket Komplek Griya Asri. Tapi gue bukan disitunya, masuk gang lagi, yang ada tukang ojeknya. " jelas ku masih menahan sakit.
"Gila. Jauh amaat! "
"Udahlah buru anterin gue Bar! " rintih ku.
"Oke-oke. Lu tahan ya. Jangan mati dulu! "
"Anj lu. Lu pikir gue lagi sakaratul maut! "
"Ya abis lu udah nggak berdaya gitu, "
"Buruan kampret, gue nggak tahan nih sakiit! " rintihku dengan memaki nya yang mulai banyak cincong. Maklum lah kalo udah sama si Bara bahasanya mendadak kasar. Jadi mohon di maklum ya kaka readers.
Dengan cekatan dan hati-hati Bara menuntun ku duduk di jok belakang, Di susul dia yang menaiki jok depan dan menyetir, dengan tangan kiri yang memegangi badanku. Bara mengegas motornya dengan kecepatan standar antara kencang dan cepat.
Benar-benar diluar dugaan, darah nifasku sampai rembes menembus celana katunku hingga membasahi jok motor Bara. Tubuhku lemas, wajahku menyender pada punggung Bara, mataku terpejam namun aku masih sadar.
"Buruan Bar... " lirihku.
"Sabar Na. Lo yang kuat! "
Setelah hampir 2 jam, Kami sampai dan sudah memasuki gang, "Na, lu masih idup kan? " tanya Bara.
"Masih bloon. Lu kira gue udah mati! " makiku .
"Kostan lu dimana? " tanya lagi.
"Yang ada pagar besi warna hitam, Cet rumah Warna ijo. Itu rumah gue! " jawabku masih posisi tadi.
"Buruan Bar, gue udah nggak tahan pengen pingsan! " rintihku dengan suara lemas.
"Sabar lah jangan pingsan dulu, Jeda dulu deh, nanti kalo udah sampe baru lu pingsan! " saut Bara.
_____________
POV MAYA.
"Kira-kira mereka ada masalah apa ya mas? " tanyaku saat sudah berada didalam lift.
"Mana ku tau." jawab mas Bayu. "Mending kita sekalian cari Wahyu. " lanjut Mas Bayu.
"Lahh, itu Wahyu Mau, sama siapa tuh? " tunjuk mas Bayu saat kami sudah berada di kantin. Tanpa Ragu aku dan mas Bayu mendekati dua manusia itu. Wahyu dan Seorang perempuan yang akupun tidak mengenal nya.
"Wahyu! " panggilku, seketika Wahyu menoleh gugup. "Kamu ngapain? " tanyaku dengan penuh selidik.
"Ehh... ini Ana teh, temen SMA Wahyu, "
"Ana? " aku mengulang menyebutkan nama gadis itu, mengendap mas Bayu menyenggol lenganku. Aku mengangguk paham.
"Oh,,, kamu udah lama disini? " tanya Maya pada Wahyu.
"Baru kok, teh. " saut Ana.
"Ehh, gue kagak ngomong ama lu ya! "
"WAHYU! "
"Iya teh, baru aja. Belum satu jam, "
__ADS_1
"Jangan macem-macem ya! " ancamku.
"Satu macem doang kok teh. Nggak usah parno gitu deh. "
"Awas aja lu! " tudingku.
Puk puk
Mas Bayu menepuk pundak Wahyu.
"Inget Yu, ada hati yang harus kamu jaga. " ucpa mas Bayu mengingatkan. Wahyu hanya diam membisu, tertunduk. Entah apa yang ada di pikirannya.
"Ayok mas. Kita cari tempat lain aja! " ajakku dengan menarik tangan Bayu. Sementara kulihat gadis itu menunduk takut.
Siapa lagi dia! Bisa-bisa nya muncul di kehidupan Wahyu lagi. gerutuku kesal.
Aku dan mas Bayu mencari tempat yang tak jauh dari tempat Wahyu. Sengaja, biar bisa mengawasi dia dari jauh. Jangan sampai Erna terluka untuk yang kedua kalinya.
Hingga berjam-jam aku menunggunya. Namun Wahyu tak juga kunjung pergi menemui Erna yang sendiri di kamar. Aku mulai kesal, aku mulai dongkol, darahku mulai naik.
"Ayok mas, kita dekati lagi mereka! " ajakku berdiri dengan merapihkan bajuku.
"Kita tungguin aja disini May,"
"Nggak bisa mas, ini udah jam berapa coba? Dia masih asik aja disitu ngobrol ampe berjam-jam. "
"Ya udah. " pasrah mas Bayu yang melihatku sudah kebakaran jenggot. Dengan langkah cepat aku mendekati Wahyu dan gadis itu.
BRAKK
Gerakan tanganku membuat keduanya terjinggut kaget.
"Masih disini aja? " tanyaku membentak.
"Ya teh, maklum lah. " saut Wahyu santai. Seakan tak ada masalah. Lantas aku duduk diikuti mas Bayu karena waktu sudah hampir mau dzuhur.
"Cepat naik atau kamu akan menyesal! " setelah mengatakan itu aku berlalu dari hadapannya. Dan segera menemui Erna yang sudah aku tinggalkan berjam-jam.
CEKLEK.
Kubuka pintu perlahan saat sudah berada didepan kamar Erna. Sengaja, karena takut dia bangun. Tapi ternyata dugaan ku salah. Aku malah tak melihat sosoknya sama sekali.
"Erna!! Na!! Kamu dimana sayang? " teriakku dengan mencari kesana dan kemari.
"Erna mana Mau? "
"Mana ku tahu mas, pintu kamar mandi juga kebuka, dan nggak ada siapa-siapa! " panik. Jelas aku panik, kondisinya belum cukup normal masih jauh dari kata normal.
"Ini May, dia ninggalin surat! "
Sontak aku berlari menghampiri mas Bayu, dan merebut kertas yang dia pegang.
"Teh, aku pulang. Maaf ya sudah merepotkan kalian. Aku janji tidak akan mengganggu kehidupan kalian lagi. Aku sudah banyak merepotkan kamu teh. Terimakasih banyak sudah baik padaku, sudah sayang padaku. Please jangan cari aku. Aku butuh sendiri teh. Oh iya. aku mengambil uang limaratus ribu dari dompet teh Maya. Maaf ya teh, aku butuh banget buat ongkos. Nanti aku ganti setelah aku bisa bekerja. "
Aku terduduk lemas. Air mataku tumpah. Sudah jelas, dia pasti melihat apa yang aku lihat. Keterlaluan kamu Wahyu. Geram aku sembari meremas surat itu.
CEKLEK
Suara pintu terbuka. Aku menoleh pada laki-laki yang berdiri tegap didepan pintu.
Plup. pintu tertutup.
"LU NYAKITIN DIA WAHYU!! " teriakku dengan melemparkan gulungan kertas itu pada wajahnya.
__ADS_1