
Aku menelan salivaku, jantungku bedegup kencang. Menatap mereka yang sangat menampakan mimik seserius itu. Aku tidak mau mati sekarang.
"Erna... jangan melamun! Ayo lakukan!" Titah bi Timah, mempersilahkan aku untuk segera mencabik-cabik diriku.
Yang benar saja??
Mereka ini gila apa ya! Nggak liat apa aku gemetar kaya gini.
"Bibi ... aku tidak bisa bi, aku takut," lirihku
Aku melempar benda tajam itu menjauh. Aku tidak mau mati konyol hanya gara-gara hinaan dan cacian mereka, semua itu harus menjadi cambuk agar aku lebih kuat dan tegar menghadapi nya.
Terlebih, aku akan sangat berdosa karena sudah membunuh janin secara tidak langsung. Bahkan semuanya tidak akan selesai begitu saja.
Aku harus pikirkan semuanya dengan kepala dingin.
"Kenapa lo lempar pisau itu? Lo takut? Bukannya lo tadi ingin bunuh diri? Kenapa sekarang malah melempar nya?" Cecar Mely.
"Gue nggak mau mati konyol, lagipula, apa kalian tega liat aku mati mencabik-cabik diriku sendiri, apalagi ... di dalam perut ku ada ..."
"Ada apa?? Bukannya lo juga akan gugurin, lebih tepat nya membunuh calon bayi lo?" Cecar Mely lagi, hingga aku kini terpojok.
"Iya iya!! Gue salah! Terus gue harus gimana sekarang?"
"Ikuti apa kata gue! Iya kan bi?" Kata Mely, tersenyum, melirik bi Timah.
"Iya, ikuti apa kata bibi dan Mely, semuanya akan baik-baik saja."
"Baiklah." Aku menurut saja.
Kami terus berbincang hingga waktu dzuhur tiba, kini aku akan lebih dekat kepada sang maha pencipta, dimana tempatku kembali berserah diri memohon ampun.
🌹🌹🌹🌹🌹
Malam semakin larut, meskipun Mely dan bi Timah menyuruhku untuk berhenti bekerja, dan segera meninggalkan tempat ini. Tapi, aku rasa akan sangat egois jika tidak berpamitan dengan para anak-anak TK.
Bang Yoga, bang diky, Ikmal, Rian, Riko. Semuanya nanti akan menjadi pertanyaan besar bagi mereka.
Malam itu... aku terus mendelik ke arah layar ponsel kecil pemberian Dani.
Ragu-ragu, mau nelpon apa nggak ya??
Duhh... Bingung.
Udahlah, nggak usah.
Aku masukin lagi ponsel kecil itu kedalam saku baju kemejaku.
Hari ini aku memang tidak bekerja seharian.
Ke bawah juga hanya untuk membicarakan soal resign ku pada bang Zull.
Ini adalah malam terakhirku disini, aku ingin puaskan memandang langit malam ini, tiba-tiba seseorang mengagetkan ku dari belakang.
"Dorr!!" seru bang Yoga.
Sontak aku terlonjak kaget. Mengusap pelan dadaku.
"Apaan sih bang!! Kaget!"
"Katanya hari ini kamu mau resign ya?"
"Iya bang,"
"Kenapa??" tanya Riko, berjalan mendekati kami, diikuti ketiga temannya...
"Duduklah dulu semuanya, Erna mau bicara penting sama kalian semua..."
Akhirnya kami berkumpul, membuat satu bulatan yang di tengahnya terdapat botol minuman berwarna merah, bukan alkohol ya, tapi Fan**.
__ADS_1
Langsung, aku menjelaskan semuanya kepada mereka, tentang alasan resignku, semua yang mendengar hanya mengangguk tanpa bicara. Hingga waktu terus berjalan, semakin larut. Dan semuanya bubar.
"Na, gue tau masalah lo, kenapa sih, lo sebego itu. Nyerahin mahkota lo begitu saja! Akhirnya apa sekarang! Dia ninggalin lo, nikah sama wanita lain! Lo pikir dulu harusnya sebelum ngelakuin hal bodoh itu! Kenikmatan sesaat akhirnya buat lo sesat!!" maki Rian. Sambil berjalan bolak-balik di depanku.
Rian terlihat begitu marah, aku tidak tau, kenapa Rian bisa tau tentang aku. Aku harus tanyakan sama Mely.
Aku diam tak bergeming. Menunduk malu, semua ucapan Rian adalah benar. Aku memang bodoh, mudah dirayu hanya karena alasan Cinta!
Cinta yang membuat ku menderita dan sengsara.
"Sekarang usia kandungan lo berapa bulan?" tanya Rian, melihatku yang terus menunduk.
Ya Allah... Aku malu.
Airmataku menetes begitu saja, aku tidak mau bicara, aku malu pada Rian, aku malu pada diriku sendiri.
"Na, maafin gue, ya! Gue nggak ada maksud apa-apa kok,"
"Iya!"
"Lo tau nggak, kenapa gue bisa tau semua tentang lo?"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Kemarin ... waktu gue pulang, gue ke kamar lo, kata uni, lo nginep dirumah bi Timah, yaa akhirnya gue inisiatif aja kerumah bi Timah, dan ternyata, pas sampe sana, lo pingsan dan tergeletak di lantai yang beralaskan tikar, sementara yang lain asik mengerumuni elo, tanpa bawa lo ke klinik. Disitu gue liat Dani, Mely terus memaki Dani, hingga tangan gue replek, ninju dia sampe..."
"Jadi elo, yang buat dia lebam-lebam?" Selaku.
"Gue kesel Na, lo tau, gue sayang sama lo!"
"Hah?? Sa-sayang?"
"Maksud gue, sayang kaya ke adek gue Na,"
"Lo yakin, cuma anggep gue sebagai adek lo?"
"Yakin lah! lo yang sabar ya, gue akan selalu ada buat lo," ucapnya merengkuh tubuhku yang mulai terlihat gendut.
"Mely yang ceritain semuanya, menurut gue, pukulan gue ke dia tuh nggak sepadan sama apa yang sudah dia lakuin sama elo, Na!"
"Maksud lo?"
"Maksud gue, gue nggak terima dia nidurin elo seenaknya!! Lagian lo itu mau aja di bodohi cowo brengsek itu! Apa sih yang lo harepin dari dia? Cinta? Bulsyiiittt tau nggak!!"
Aku melepaskan pelukan Rian, secara tidak langsung dia sudah menghinaku.
"Aku mencintainya, Ian!"
"Persetan sama cinta!! Buktinya lo, sekarang apa? Menderita kan? Pria brengsek itu harus gue hajar! Bila perlu gue bunuh sekalian!!"
Plaaakkk
Seketika tanganku replek menampar pipi Rian. Aku gemetar, aku sudah tidak sanggup.
"Kau ..." aku tak kuasa untuk memakinya, lebih baik aku pergi meninggalkan nya.
🌹🌹🌹🌹
Hingga esok paginya, aku berkemas merapikan bajuku, memasukan nya rapih di dalam tas besarku.
Aku yakin semua akan berlalu, terbawa angin dan takan kembali lagi. Tuhan sedang mengujiku, menguji kesabaranku.
"Rian ... maafkan aku!" lirihku, saat aku akan melangkah lergi subuh itu.
🌱🌱🌱🌱
Aku terus ucapkan do'a, memohon pertolongan dan kekuatan untuk menghadapi segala ujian yang tuhan berikan padaku.
Aku yakin, tidak ada usaha yang sia-sia, selama kita melakukanya dengan ikhlas dan sabar, semua pasti akan indah pada waktunya.
__ADS_1
Meskipun takdir sudah menggaris bawahi bahwa aku dan dia tidak akan bersama. Setidaknya, aku sudah mengenalnya dan dia juga memberikan sebuah harapan baru untukku, meskipun harapan itu bukan dia, tapi harapan itu lebih baik daripada dia.
Seorang calon malaikat kecil yang akan menemaniku menggantikannya.
Aku ikhlas jika harus melahirkan anak ini tanpa dia disampingku.
Berharap akan ada pelangi setelah hujan.
Ya tuhan... berilah aku sedikit kebahagiaan nanti, jika aku sudah tidak bisa menyentuhnya lagi.
Karena aku tau, cinta tak harus memiliki. Melihatnya bahagia itu sudah sangat berarti bagiku.
Sejak hari itu, hari dimana aku pergi meninggalkan dia di klinik. Dan menyuruhnya jangan mengikutiku, dia benar-benar hilang seperti di telan bumi. Hilang tak ada kabar.
Hari demi hari kulewati, betapa aku sangat tersiksa karena nya.
Aku duduk di kursi depan rumah bi Timah, aku melamun membayangkan wajah itu tersenyum padaku.
Manis sekali, aku pun tersenyum manis padanya. Bayangan itu seakan nyata. Mendekat dan memelukku.
Aku sangat merindukan mu Dani ...
Dani Anjasmara ... Pria kelahiran 1990...
Aku selalu merindukanmu...
Kini usia kandungan ku sudah 3bulan.
Setelah kesepakatan itu, bahwa aku akan ikut ke kota S bersama Mely, namun, semua nya batal. Jadi aku tinggal bersama bi Timah selama 2bulan ini.
Seakan-akan semua berjalan sangat lancar tanpa hambatan. Ibuku juga mengijinkan ku bekerja bersama Mely, bahkan ibu merespon dengan sangat antusias.
Maafkan anak mu yang pembohong besar ini bu, anak mu yang tidak tau diri ini. Anakmu yang bejad ini. Maafkan aku ...
Sungguh aku bukan lah anak kebanggaan mu, andaikan engkau tau yang sebenarnya aku, mungkin, aku sudah bukan putrimu lagi.
Bayangan itu seketika hilang, berganti dengan sosok perempuan yang pernah aku lihat, yang pernah datang saat aku di klinik.
Maya... dia Maya, berjalan mendekati ku.
Tersenyum ramah, sangat elegan dan berwibawa... Dengan balutan dress merah maroon, tas yang menggantung di tangan sebelah kiri, membuat nya sangat cantik dan sempurna. Perfeck.
"Assalamualaikum..." Salam Maya, tak lain adalah kaka sepupu dari Dani.
"Wa alaikumsalam... ka-kamu..." jawabku, terbata-bata.
Ngapain sih wanita aneh itu?
"Erna ... apa kabarmu??" tanyanya, tersenyum ramah dan duduk di dekatku.
"Ba - baik teh," jawabku terbata. Kaget juga.
"Waahh, sekarang kamu gendutan ya Na," ujarnya terkekeh-kekeh, sambil mengusap tanganku yang sedang memegang perut buncitku.
"Ngapain teteh kesini? Ada perlu apa?" tanyaku ketus.
"Kamu harus ikut sama teteh ke kota S, atau jika kamu mau, tetap disini juga tidak apa-apa, tapi jangan di sini, nanti akan beredar fitnah, sementara pemilik rumah ini ada seorang pria dewasa Na,"
"Maksudnya?"
"Maksud saya, kamu ikut saya, Dani sangat rindu sama kamu!"
"Jika dia rindu, kenapa tidak kesini bertemu denganku? Dengar ya teh, lebih baik teteh pergi dari sini!! Aku tidak mau di ganggu!!"
Aku berjalan masuk meninggalkan Maya yang masih bergeming di tempat.
Brakkk...
Dengan sengaja aku membanting pintu rumah bi Timah tanpa rasa malu. Mengingat diriku yang hanya menumpang hidup.
__ADS_1
Dukung author terus yaa..
like komen share 😁😁 terimakasih 🤗🤗