My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'

My Regret 'Hamil DiLuar Nikah'
Bab 56


__ADS_3

Tanpa aku pedulikan suster aneh itu. Aku kembali fokus dengan menunggu wanita little ku terjaga, meskipun aku sudah sangat lelah menunggunya, yang entah sampai kapan akan berakhir.


Namun, rasa penasaran ku seakan bergejolak, mengingat respon dari suster itu. Yang mungkin usianya sama dengan Erna. Tanpa berfikir panjang, kaki ini seakan bergerak sendiri mengikuti pikiranku, berjalan meninggalkan wanita ku yang masih berbaring, kususuri tepian koridor rumah sakit. Tak henti aku mencari suster yang baru saja berbicara denganku.


"Kemana suster itu?" lirihku gemas, dengan tangan meremas mengepal seperti ingin meninju seseorang.


Mataku terus mencari, kanan kiri tak kunjung aku temui, "Sial!" desis ku.


Geram rasanya.


Tapi, pucuk di cinta ulam pun tiba. Seorang suster kembali menabrak ku saat aku berbalik badan dan ingin kembali keruangan wanitaku.


Sontak dia terkejut kaget, mencoba lari dariku, namun ku cekal tangannya hingga dia tidak bisa lagi lepas dariku.


"Mau kemana kamu?" tanyaku.


"Lepaskan saya pak! " teriak nya dengan terus berusaha melepas cekalan ku.


"Kamu kenal dengan Erna? Wanita yang baru saja kamu temui diruang PIV MERAH 2?" tanyaku lagi. Tanpa peduli dengan ucapannya.


"Tidak!"


"Jangan bohong!"


"Lepaskan! atau aku akan teriak!" ancam nya.


"Teriak saja jika kamu berani! " tantangku.


"Tolo, mmmmm, " sigap kututup mulut nya dengan tanganku, ku dekap dia dan menyeret nya menuju ruangan Erna yang tidak jauh dari tempat ini. Tidak peduli meskipun banyak yang lalu lalang melihat kami. Ku seret dia paksa masuk keruangan PIV MERAH 2. Ruangan dimana pujaan hatiku ku dirawat.


Aku hanya takut. Jika wanita yang aku seret ini kenal dengan Erna dan keluarga nya lalu membocorkan pada keluarga nya. Bukan lelucon jika hal itu sampai terjadi. Bukan pula karena aku egois. Hanya saja belum waktunya keluarga Erna tau tentang keadaan anak gadisnya yang sudah memiliki anak.


Setelah kami berhasil masuk, ku dorong dia hingga jatuh tersungkur.


Berat juga nih cewek. badan kecil kaya kerdil, beratnya kek gajah bengkak. Batinku dengan nafas masih tersenggal-senggal.


"Ahh... " rintihnya. Dengan mengusap kakinya yang terbentur kursi.


"Kamu kenal dengan wanita ini? " tanyaku lagi dengan menunjuk Erna yang masih stay tidur tanpa bergeming.


Bertepatan dengan pertanyaan ku, dia menggelengkan kepalanya dengan wajah yang menunduk takut. Segera aku kunci ruangan ini. Biar dia tidak bisa kabur dariku.


"Saya masih banyak pekerjaan yang belum saya selesai kan pak! Tolong biarkan saya pergi!" Mohon nya pada ku.


"Enak aja. Jawab dulu pertanyaan ku tadi. Kalo kamu cepet jawab, kamu juga bakal cepet bebas, tinggal pilih, " ucapku santuy dengan tangan ku lebarkan ke kanan dan kiri sedikit bahu terangkat, lantas berjalan kembali mendekati kursi yang selalu setia menemaniku menjaga wanita ku.

__ADS_1


"Semua bergantung pada dirimu sendiri! " imbuhku dengan beringsut menyenderkan punggungku pada tumpuan kursi. Dengan wajah mendongak ke atas tangan yang menjuntai kutatap langit-langit kamar yang tak berwarna ini.


Hampir setahun Erna meninggalkan rumah tanpa pulang tanpa kabar. Bagaimana dengan keadaan ibunya? adiknya? kakanya? semua keluarga nya?


Ya Allah miris banget hidup mu ini yang ... aku mendengus, untung saja otakku cepat berfikir. Telat sedikit saja, hancur semuanya. Bisa-bisa mulut cewek ini ember.


Kalo dipikir-pikir, gue berani juga ya nyeret ni cewek ampe masuk kesini. Meskipun ni cewek berat ke gajah bengkak, padahal tubuhnya kecil ke kerdil. Hadeuh... Batinku, dengna menatap wanita suster itu.


Kulihat dia mulai beringsut membenarkan posisinya. Sesekali matanya melirik Erna dengan wajah gusar. Ku ambil gulungan kertas lantas ku lemparkan pada punggungnya.


"Woi. Lu kenal kan? Jawab aja napa sih! " tukasku lagi. Hingga dia terjinggut kaget. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca, lantas tangan kirinya mengusap mata kirinya pula dengan kasar.


Nangis??


"Dia sahabat kecilku." ujar nya tiba-tiba, dengan suaranya yang parau. Kuperhatikan dia dengan baik, tatapanku lekat tertuju padanya. Menunggu dia melanjutkan ucapannya.


"Waktu itu, ibunya sakit parah dirawat hingga beberapa hari di rumah sakit, A miska sudah berusaha menelpon, tapi dia bilang tidak bisa pulang karena pekerjaan yang menumpuk, " sejenak terhenti, lantas dia berdiri dan berjalan perlahan mendekati Erna yang katanya teman masa kecilnya.


"Dia bilang, dia bekerja di sukabumi. Nomornya sama sekali tidak bisa di hubungi, adiknya Dian juga sering menanyakan nya padaku. Dan sekarang aku malah bertemu dengannya disaat dia kaya gini, " tandasnya.


"Ada lagi yang mau kamu katakan? "


"Dulu, saat mau pergi bekerja dengan temannya yang bernama Mely itu, Malam nya dia datang padaku, menangis didepanku, tanpa sepatah katapun dia ucapkan, "


"Aku juga tau, bahwa dia mempunyai kekasih yang bernama Dani, aku pikir dia masih sama Dani. Ternyata sama bapak, "


"Apa wajahku ini keliatan sudah tua ya?"


"Nggak sih, tapi setidaknya aku menghargai bapak sebagai suami Erna, "


Ohhh ... Jadi dia berfikir bahwa aku ini sumainya,


"Lanjutkan."


"Aku tidak ta... " suara knop pintu itu membuat ucapan nya terhenti. Akun dan dia pun sama-sama melihat ke arah pintu yang terus diketuk oleh seseorang sambil berteriak-teriak.


"Fuhhh... Nyarisss. " desisku. Kulangkahkan kakiku berjalan membuka pintu. Terlihat seoarang dokter dan suster sudah berada didepan pintu.


"Kenapa dikunci?" tanya dokter, tak lain adalah teman ayahku, "Lho, Nura. Kamu ngapain disini? bukannya kamu harus ke bawah, " imbuhnya, dengna menatap nya heran.


"Maaf Dok, saya akan kebawah sekarang. Permisi, " katanya dengan berjalan pergi meninggalkan ruangan ini.


Sial!! Belum sempat diceritakan semua, kenapa dokter harus masuk coba. Batinku, sembari menatap suster itu ynag sudah berlalu drai hadapanku.


"Wahyu, ko dikunci? "

__ADS_1


"Kekunci kayanya dok," kilahku "Wahyu juga kagak tau kenapa? " Dengan perasaan malas aku kembali duduk disofa dekat jendela. Kupijit keningku yang mulai pening. Ngantuk, lelah, lesu, itu yang aku rasakan sekarang.


"Kamu kayanya capek banget, Yu, " tanya dokter lagi, namun masih tetap fokus memeriksa Erna.


"Hmm." jawabku.


"Saya tau, dia ini bukan sekedar teman biasa doang kan, Yu, " katanya lagi. Ucapannya membuat aku tak lepas menatapnya. Kaget sih nggak, tapi... entahlah...


"Cuma sebentar doang dok periksa nya? " tanyaku, mengalihkan, "Kapan dia akan bangun? "


"Saya kurang tau, Yu. Semuanya sudah berfungsi normal. Tapi kenapa dia masih belum sadar, "


"Apa mungkin ada kesalahan? "


"Tidak ada. Semuanya normal." terdengar dokter yang biasa ku sebut Dokter Andy itu mendengkus, dengan membuka kacamatanya. Menatap ku, "Sudahlah, tunggu saja. Banyak-banyak berdo'a. " katanya, berlalu pergi dari ruangan ini. Di susul suster yang membawa alat perang milik Dokter Andy itu.


PPLEPP


Suara pintu yang susah tertutup rapat.


"Kayanya suster itu benar-benar tau semua tentang kehidupan Erna. Aku harus cari dia lagi sampai dapat! " ucapku. "Na, bangun lah. Kamu nggak capek apa, tidur terus. Aku lelah, ayo bangun, kita jemput Senja, beberapa hari lagi acara Peresmian namanya akan di adakan Na, ayolah bangun sayang... " Kugenggam erat tangannya yang penuh dengan infusan itu. Berharap dia akan bangun, berharap meski hanya menggerakan satu jarinya saja aku tidak masalah. Asalkan tidak seperti ini.


DDRTTT DDRTTT


Getar ponsel yang teronggok dimeja membuat aku meliriknya, kuraih benda pipih nanti kecil itu. Sebuah BBM masuk dari kontak yang aku namai Dan.


[ Yu, gimana keadaan Erna sekarang? ]


[ Yu, jawab dong BBM gue! ] pesan ke dua.


Ternyata dari tadi banyak pesan masuk dari Dani. Tumben amat dia nanyain kabar Erna?


[ Yu, kalo ada apa-apa hubungi gue! ] pesan ke tiga.


[ Gue kagak bisa temenin dia Yu, Lu tau sendiri gimana bapak gue. ] pesan ke empat.


[ Please... Jaga dia buat gue Yu. ] pesan terakhir.


Jengah aku membacanya.


"Apaan sih, nggak banget deh! " decakku. Kulempar lagi benda pipih itu menjauh. Tidak ada ynag aku balas satu pun pesan dari Dani. Alih-alih, esal aku membaca BBM dari dia. Apaan coba, so perhatian ma calon bini gue.


Aku kembali bersenandika. Sembari menatap wanita pujaan ku tidur. "Apakah selelah ini yang. Apa kamu benar-benar capek dan tidak mau bangun lagi? " gumam-gumamku...


Lanjutt???? 😅😅😅

__ADS_1


__ADS_2