
"A udah dulu ya, gak enak sama bang Zul," ucapku sambil menatap bang Zul yang asik menatapku dengan tatapan menusuk jantung. Sementara Mely malah asik main komputer.
"Iya deh, by sayang!"
"Iya by."
"Kiss nya!"
'Ya ampun ni orang use ( Udik sekali) banget sih' pikirku.
"Yang, ko diem?"
"Jangan-jangan, malu ih!" ucapku dengan sedikit berbisik.
"Sekarang kamu jadi pemalu gitu sih?"
"Ya kali A, di sini ada bang Zul sama Mely, nggak mungkin lah!"
"Iya iya, kangen aja nggak boleh!"
"Bukan nggak boleh A, malu!"
"Iya iya, ya udah. Kalo udah tutup miscal Aa ya,"
"Iya!"
Sambungan terputus.
Aku cengengesan melihat bang Zul, eeh dia malah ikut cengengesan. Ko aneh?
"Hahaha..., kok telponan nya udahan? lagi sepi ini tokonya, " tanya bang Zul mendekatiku.
"Nggak apa-apa," jawabku menyeringai.
"Nong, cowok kamu sayang banget ya sama kamu?" tanya bang Zul lagi.
"Iya... begitulah, emang kenapa? ko tumben nanya-nanya?" jawabku heran.
"Ingat pesen abang ya, sesayang sayangnya kamu sama dia, jangan pernah memberikan harga dirimu nong!"
"Ko gitu?"
"Ya dosa lah, kan belum muhrim!" celetuk nya.
Aku diam memperhatikan nya, ya karena jawabnya kaku gitu, kek kanebo kering.
'Aku yakin, pasti bukan cuma itu alasannya' gumamku.
"Baiklah baik, akan aku ingat pesan bang Zul, yang baek caem + galak ini! haha, "
Tiba-tiba bang Zul melempar gulungan kertas ke dalam mulutku yang sedang tertawa lebar.
"hmmm, uhuk uhuk, puih puih! buseng deh bang, parah banget! untung aku nggak mati!"
"Hahaha...nyawa kamu kan banyak, " selorohnya.
"Apaan sih ribut mulu perasaan?" tanya Mely yang ikut mendekatiku, sementara bang Zul malah tertawa ngakak.
"Tuh, mulut gue di sumpel kertas, gila emang ya!!" Makiku. Kesal emang, masih sepet aja ini lidah.
"Haha, Lo sih ketawa nya kurang lebar!"
"Dia nya aja yang jail. "
Sedang asik bergurau, suar mobil berhentui di depan ruko, yaa siapa lagi kalo bukan si bos.
__ADS_1
Tiiddt tiiddt
Seketika kami menghentikan pekerjaan kami yang menyenangkan ini.
"Zull, gimana hari ini? si Baru abang pindahin ke Purwakarta. Kasian si Upik sendirian, lagipula, di sini udah ada Mely ya. Cukup kan bertiga?" tanya uda dengan berbagai pertanyaan.
"Lancar bang, udah cukup ko!" jawab bang Zul.
Dan uda pun langsung naik ke atas setelah menanggapi jawaban dari bang Zulk. Sementara jam sudah menunjukan pukul 21:30. Saatnya tutup.
Kami pun langsung beresin semua yang berserakan, setelah selesai, Mely langsung pulang, sementara aku naik ke atas, bang Zull tutup gerbang ruko.
"Pantesan, kagak liat-liat batang idung nya kak Baru." Gumamku, sambil berjalan naik ke atas.
"Na, udah tutup ya?" tanya uni yang berada di dapur.
"Udah uni, Erna mau istirahat!" jawabku sambil berjalan ke kamar.
"Sudah makan?"
"Sudah uni!"
"Baiklah, langsung istirahat. Jangan lupa kunci pintu, katanya kemarin malam si Oga masuk ke kamar kamu, ngambil charger,"
"Apa!!"
"Mangkanya, kunci pintu. Takut ada setan lewat, tau sendiri. Kamu kan cewe sendiri di sini!" jelas uni padaku.
"Iya Ni, tapi perasaan udah Erna kunci deh pintunya!"
"Masa sih? ya udah, tetep kunci pintu ya!"
"Iya uni,"
"Aneh, ko bisa sih?" Gumamku, menyenderkan punggungku di balik pintu.
"Mana aku pake tengtop doang lagi!!" rutukku berdecak sebal.
"Kira-kira tu orang liat gak ya? ishh nyebelin banget si tuh orang!!" Gumamku lagi, sedikit panik sambil liatin seluruh tubuhku. Ya takut nya dia ngintip gitu, bisa aja kan, bang Yoga ini emang orang nya iseng dan jail banget.
_________
Pagi ketemu pagi, malam ketemu malam. Aku sama Rian agak sedikit jauh sekarang, semenjak ada Mely dia sering deketin Mely. Ya kagak apa-apa si, aku sendiri juga mulai deket sama si Ikmal dan bang Dyki. Mereka semua baik.
Sebulan penuh sudah aku lewati, kali ini aku nggak dapat gaji, yaa habis udah di ambil sih waktu ayahku kecelakaan. Tidak terasa,sudah dua bulan aku berada di Abadi grup ini.
Dan, hari ini adalah jatah ku libur. Aku sudah membuat janji sama Dani akan jalan-jalan hari ini. Yaa, seharian penuh pokok nya.
Seperti biasa, aku menunggu Dani di depan rumahnya bunda Ria, penjual es kelapa langganan ku.
"Mau jalan-jalan sama siapa, Na?" tanya bunda Ria padaku.
"Hehe, sama temen bun, mau ada reuni gitu," jawabku asal.
"Ohh, cowok apa cewe?"
"Cowok bun, tapi temen ko," bunda Ria hanya mengangguk tersenyum.
Tidak lama kemudian, Dani datang mendekati ku, ya seperti biasa, dia selalu pakai helm dan sarung tangan dihiasi jaket lepis nya.
Aku tersenyum, segera mendekatinya dan naik ke motor nya, tanpa disuruh sama dia. Setelah itu langsung tancap gas, aku nggak tau mau di bawa kemana sama dia. Ngikut aja lah, di bawa kabur juga nggak apa-apa.
Sumpah ya, kalo kata jaman sekarang udah Bucin banget gue.
Setelah menempuh jarak yang berliku, kami berhenti di satu warung, yaa buat istirahat aja gitu. Lagipula masih pagi banget.
__ADS_1
"Kita mau kemana A?"
"Ke Ciater!"
"Ciater? jauh amaat!"
"Ya emang kenapa? sengaja Aa pagi-pagi jemput kamu, biar bisa sampe sore disana!" jawabnya sambil mengambil minuman bersoda warna merah.
"Aku nggak mau minuman itu!" sela ku.
"Lagian siapa yang mau ngasih kamu!" ketus nya, dengan senyuman mengejek.
"Dih, terus aku minum apa?"
"Ambil aja sendiri, pilih yang kamu mau!"
"Aa yang bayar ya,"
"Ya emang biasanya siapa kalo bukan Aa!"
"Hehe." Aku cengengesan sambil mengambil minuman teh, tak lupa dengan cemilan-cemilan ringan. Sementara Dani hanya geleng-geleng kepala melihatku yang rempong pilih ini itu.
"Jangan lama-lama, biar cepet sampek yang!"
"Hmmm, oya, Ciater kan kolam air hangat, aku nggak bawa baju A, Aa sih nggak bilang mau kesana!" kataku, sembari meneguk minuman teh yang membuat tenggorokan ku sedikit longgar.
"Beli aja lah, di sana juga banyak."
"Aa habis gajian ya?" tanyaku lalu duduk didekatnya.
"Kamu kali yang abis gajian!" jawab Dani, dengan menyenggol tanganku. "Harusnya kamu yang traktir Aa," imbuhnya lagi.
"Apaan sih, gajiku abis, kan kemaren udah di ambil waktu abah kecelakaan!"
Aku menundukan kepalaku, inget lagi deh sama abah. Tiba-tiba Dani memelukku, mengusap rambutku lembut.
"Maaf ya, Aa nggak ada maksud buat bikin kamu sedih, pokonya hari ini Aa bakal bikin kamu seneng!" ucapnya, terus memelukku erat, kasih sayang yang Dani berikan padaku begitu terasa nyata dan tulus.
"Udah, ayo kita jalan!"
"Bawa cemilan ya A,"
"Nggak usah, di sana juga banyak warung!"
"Tapi mahal A, kita hemat lah!"
"Nggak perlu, udah ayo!" ajaknya, tak lupa membayar semua jajanan ke pemilik warung tadi, kemudian berjalan menaiki motornya, aku terus memperhatikan motor yang dinaiki Dani.
"A. Itu kan bukan motor Aa ya?" tanyaku heran, dengan berjalan kearah nya. Baru ngeuh aku.
"Iya, ini motornya Rudi, " jawab Dani, sambil memasang kan helm di kepalaku.
bukan so sweet, emang tangan ku lagi pegang minuman sama sekantong kresek makanan aja. Jadi di pakein deh.
"Emang motor Aa kemana?" lanjut nanya, sambil naik motor. Lalu memberikan kantong makanan tadi ke Dani.
"Di bengkel, lagi service." jawabnya, dengan menerima kantong makanan yang aku berikan tadi. Terus di cangkolin di pengait motor.
"Oo."
Tanpa banyak tanya lagi, kami segera kembali melanjutkan perjalanan ke tempat wisata pemandian air panas.
Pokonya hari ini aku harus bahagia.
😍😍😍😍😍
__ADS_1