
Dewa dan keluarganya tiba di rumah nyaris pukul sepuluh malam. Jalanan kota yang padat merayap membuat mereka tiba lebih lambat. Namun seperti yang sering terjadi, insomnia kembali menyerang Dewa.
Dalam gulita, wajah pria itu tampak bersinar sebab terkena sorotan cahaya yang berasal dari layar ponsel. Namun dari belakang, tanpa Dewa sadari ayah dan Ibunya rupanya sedang mengintip. Belum hilang dari ingatan mereka saat mereka mendapati kenyataan bahwasanya Dewa di tinggalkan kekasihnya karena terhalang kelas sosial. Lebih parahnya lagi, kekasihnya dahulu ternyata kedapatan hamil dengan orang yang menjadi rivalnya di sekolah.
Sungguhan membuat Dewa hancur.
" Apa dia masih memikirkan Deby?" tanya Ibu Dewa dengan wajah murung.
" Kau ini bicara apa? Anak kita adalah anak yang berpikir maju. Mana mungkin dia memikirkan anak kurang ajar itu!" balas sang Ayah yang tak setuju dengan dugaan istrinya.
" Dalamnya laut dapat terukur. Tapi dalamnya hati tidak ada yang tahu!" timpal Ibu Dewa yang meyakini jika sikap dingin yang terbentuk merupakan efek dari pahitnya masalalu anaknya.
" Apa kau sedang mengajariku soal peribahasa?" kata Ayah Dewa yang mulai kesal dengan sang istri.
" Yang Dewa butuhkan adalah dukungan. Bukan rasa kasihan. Lagipula, pangkatnya kini sudah lebih. Dia seharusnya sudah bisa naik ke detasemen. Tapi aku tidak tahu kenapa dia malah masih memilih posisi menjadi kapten!" gumam sang Ayah yang tak mengerti dengan jalan pikiran sang putera.
Kedua orangtua Dewa menatap sedih putranya dari kejauhan. Entah sampai kapan dinding es di hati Dewa akan runtuh.
.
.
Hari berganti hari. Tanpa terasa Dewa harus kembali Batalyon. Mau tidak mau harus mengalami hal yang sebenarnya paling tak ingin mereka alami. Perpisahan.
" Jaga dirimu baik-baik. Stay safety nak!" ucap Ayah Dewa yang menepuk punggung kokoh puteranya.
Dewa mengangguk menatap Ayahnya dengan tersenyum.
" Jika ada waktu sering-seringlah menelpon kami!" imbuh sang Ibu menangkup wajah anaknya penuh kasih. Membuat Dewa meraih tangan lembut sang ibu lalu menciumnya.
" Aku pergi dulu. Ayah dan Ibu baik-baik lah dirumah!" katanya dengan senyum yang utuh. Sama sekali tak ingin membuat suasana sedih.
__ADS_1
Entahlah. Padahal hal seperti ini sudah seringkali terjadi. Tapi perpisahan tetaplah perpisahan , yang selalu sukses membuat dada siapa saja yang mengalaminya terasa sesak.
Kesibukan sudah terasa di hari pertama Dewa masuk. Beberapa anggota baru yang tergabung di kesatuannya hari ini juga sudah terlihat. Ia memantau sekilas sebelum memberikan pengarahan.
" Kapten. Nanti malam kita jalan ya? Bosan makan makanan di dalam!"kata seorang anggota saat keduanya usai melakukan apel.
Dewa teringat jika malam ini merupakan jadwal anggotanya untuk free. Ia langsung mengangguk dan membuat beberapa anggotanya bersorak kegirangan.
Malam harinya, mereka terlihat berada di sebuah tempat tongkrongan. Mereka duduk di tempat bernuansa western itu sembari menikmati alunan musik pop. Iwan terlihat sibuk memilih menu, sementara Gabriel dan Oka saling berbisik.
"Yakin bisa ngatur perempuan?" seru Gabriel yang tampak paling berminat dalam menimpali ocehan rekannya.
" Yakin lah! Jadi cowok harus yakin!" balas Oka jumawa.
"Sok-sokan mau merubah perempuan, Tuhan ngasih alis aja dia gambar ulang apa lagi kamu Ka!"
Mereka semua langsung tergelak demi mendengar perkataan Gabriel yang mengocok perut. Dan di saat mereka sibuk berkelakar, mata Iwan menangkap sosok wanita yang terlihat tak asing.
Dewa yang semula sibuk dengan ponselnya karena berbalas pesan langsung menengok. Terlihat Diandra sedang berjalan bersama dua orang wanita mencari tempat. Tapi Dewa tak menghiraukan, ia sibuk kembali ke ponsel.
Membuat ketiga anggotanya saling senggol.
" Dokter siapa kakak?" bisik Gabriel kepada Iwan yang terlihat sangat penasaran.
" Ada. Itu dokter yang menangani kapten tempo hari!" balas Iwan.
" Wah, dia sangat cantik, dan kapten juga sangat tampan. Kalian berdua pasti co..."
Ucapan Oka seketika menguap percuma ke udara manakala sepasang mata tajam melotot ke arahnya. Membuat pria bermata biru itu langsung melakukan gerakan hormat dengan cepat. " Siap salah!"
Mereka semua akhirnya makan. Dewa yang pura-pura cuek membatin dalam hatinya. Kenapa ia dan wanita itu sering bertemu?
__ADS_1
Namun saat hendak pulang, entah bagaimana ceritanya Dewa dan Diandra malah berjalan paling akhir dengan waktu yang bersamaan. Sadar jika dirinya kini sedang berjalan dengan orang yang pernah menolongnya, Diandra langsung buka suara.
" Hey! Tunggu dulu!" seru Diandra setengah mengejar langkah panjang Dewa
Dewa menengok sewaktu ada seseorang yang memanggilnya. Ia menatap wanita cantik yang kini tampak tersenyum ramah kepadanya.
" Kau tentara itu kan? Kau masih ingat aku? Tak di sangka kita bertemu lagi!"
Dewa hanya menatap seraut cantik yang tiba-tiba akrab itu dengan alis mengerut.
" Namaku Diandra!" kata Diandra seraya mengulurkan tangannya mengajak berjabatan tangan.
Dewa yang berdiri di depan malah membeku kala menatap jari-jari putih milik dokter yang kenapa akhir-akhir ini sering bertemu dengannya itu.
" Kita belum mengenal satu sama lain padahal seringkali bertemu! Jadi...mari berkenalan!" kata Diandra yang terlihat sangat bersemangat.
" Dewa!" balas Dewa dengan wajah datar.
Diandra tersenyum. Meski reaksinya sangat dingin, tapi akhirnya ia tahu nama pria baik itu.
TIN TIN!
Oka yang melihat sang kapten berjabat tangan dengan seorang wanita cantik sengaja menekan klakson guna mengerjai. Kapan lagi bisa iseng kepada kaptennya. Begitu pikir Oka.
" Kapten, ciyeee!"
Maka Dewa langsung melotot ke arah tiga anggotanya dan membuat Oka dan Gabriel langsung melakukan gerakan hormat kembali karena takut. " Siap salah lagi!"
Diandra kontan tergelak. Tapi Dewa langsung memilih untuk pergi sebab tak ada lagi yang perlu di bicarakan. " Permisi!"
Diandra mengangguk. Memperhatikan Dewa yang berjalan tegak menuju ke mobil besar yang berisikan dua anggota tengil. Bukannya pria itu yang say goodbye kepada Diandra. Namun, Gabriel dan Oka lah yang melambaikan tangan kepada Diandra dengan genitnya. Membuat wanita itu kembali terkekeh-kekeh demi aksi kocak keduanya.
__ADS_1