Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 54. You still care her, buddy!


__ADS_3

BYUR!


Satu ember air mencumbu tubuh lesu Diandra dan berhasil membuat perempuan itu tergeragap. Permen yang kepalanya terasa berat itu berusaha bangun namun kaki dan tangannya rupanya diikat oleh tali.


" Astaga. Dimana aku? Kenapa aku di ikat begini?" resah Diandra dalam hati.


Dan saat masih sibuk berpikir, seorang pria yang memancarkan aura dingin melepaskan ikatan yang membelenggunya. " Bangun!" kata pria itu penuh ancaman.


Diandra menelan ludah dengan perasaan was-was sembari mengamati ada dimana ia sekarang. Tempat ini gelap dengan bau tanah yang menusuk. Apakah dia berada di sebuah gua?


BRUK!


" Makan ini!" ucap pria tadi sambil melempar sebuah kantung kresek. Rupanya berisikan makanan.


Diandra menatap sebuah roti dan air dalam botol dengan wajah takut. Dari tempatnya memeluk lutut, ia dapat melihat orang yang semalam mengancamnya duduk dan makan tanpa memperdulikannya.


Tapi alih-alih mengikuti titah pria dingin itu, Diandra makin beringsut mundur seraya memeluk tubuhnya sendiri. ia takut.


" Hey dia tidak mau makan!" kata pria berambut keriting yang melapor kepada pria dingin itu.


Pria dengan pakaian panjang terlihat menoleh. Tapi tidak dengan si muka dingin.


" Makanlah. Kami tidak akan meracuni mu. Itu yang terbaik yang kami miliki saat ini. Jangan mempersulit diri sendiri!"


Menjadi kalimat terpanjangnya yang bisa di dengar oleh Diandra.


Tak berselang lama, pria yang semalam mengarahkan pistol ke kepalanya datang. Tapi wajahnya terlihat penuh misteri.


" Kemari kau!" sinisnya kepada dokter Diandra. Membuat ia mau tak mau mengikuti perintah sebab melawan pun justru akan membuat keselamatannya terancam.


" Ikut aku!"


Dokter Diandra akhirnya mengikuti perintah pria itu dengan ragu-ragu. Ia berjalan melintasi pria bermuka kaku dan seorang pria yang sedang meneguk air.


Ia terus berjalan mengekor di belakang pria yang di pundaknya menggantung sebuah senjata laras panjang yang menciutkan nyali. Ia keluar gua dan melihat sebuah tenda yang mirip dengan tenda yang ia gunakan di pengungsian, berdiri tegak di depannya.


" Masuk!" titah pria itu.


" Ta- tapi..."


" Masuk!" hardik pria itu yang membuat lutut Diandra semakin bergetar.

__ADS_1


Diandra masuk sembari berdoa dalam hati. Berharap ia tak di perlakukan lebih keji. Namun setibanya ia di dalam, ia malah melihat keadaan yang memprihatinkan, dimana seorang pria seusia Dewa yang terbaring dengan mata terpejam.


Apa itu mayat?


" Bos. Kami datang membawa dokter!"


Diandra sontak bernapas lega. Orang itu masih hidup rupanya. Ia hampir mengira yang tidak-tidak. Pria itu rupanya masih hidup. Pria berahang tegas yang bertelanjang dada dengan luka yang begitu banyak. Mata Diandra yang berkeliling di dada terbuka pria itu, menangkap satu luka yang kontras. Pria itu tertembak.


" Ada peluru yang bersarang di tubuhnya. Cepat selamatkan dia!"


" Ta- tapi, aku tidak membawa..."


" Pakai ini. Kami mengambilnya di pengungsian!" sahut pria bersenjata itu dengan muka masam.


Diandra sejenak tertegun. Siapa mereka sebenarnya. Bahkan mereka berhasil mencuri peralatan medis berikut obatnya. Apa mereka adalah orang-orang yang sering dia baca di berita? Kenapa penampilan mereka seperti perompak?


" Hey!" pekik pria itu yang geram sebab Diandra malah mematung.


Dokter Diandra yang di bentak langsung bergerak maju. Ia lantas mengamati serta meraba luka tembak yang sepertinya sudah agak lama dibiarkan.


Diandra lantas mengambil beberapa cairan dan peralatan yang tersimpan dalam nox besar yang semalam di curi oleh orang-orang itu. Meskipun perilaku mereka tak menyenangkan, tapi entah mengapa sebagai dokter ia tak bisa melihat orang terluka seperti ini.


" Arrgghhh!"


Pria yang sedang di suntik di area yang akan di jahit itu meringis kesakitan.


" Hey apa yang kau lakukan!" ucap di pria bersenjata naik pitam. Mengira jika Diandra telah menyakiti bos mereka.


" Te-tenanglah. Aku sedang membius area yang akan aku obati!"


Pria itu langsung diam. Dan beberapa saat kemudian, Diandra mengoperasi pria itu dengan keadaan yang kurang standard sebab tak ada lampu juga peralatan yang komplit. Diandra mengerahkan segenap kemampuannya meski dengan keterbatasan.


Dan tanpa Diandra sadari, pria yang memiliki tato belati di dada kiri itu membuka matanya lalu menatap wajah Diandra lekat. Pria itu terus mengamati wajah manis Diandra yang tengah serius mengobatinya. Seorang perempuan dengan sorot mata yang mempertontonkan ketakutan.


" Berhasil. Ini pelurunya!"ucap Diandra terlihat lega saat mengangkat dua butir peluru yang berlumuran darah. Berhasil mengundang satu simpul senyum tipis di bibir pria yang sedang di obati.


" Sudah cepat jangan banyak omong. Selesaikan tugasmu!" seru pria bersenjata yang terlihat tak suka basa-basi.


Diandra yang wajahnya kesal, mau tak mau menyerahkan dua proyektil peluru yang berhasil dia keluarkan kepada pria bersenjata itu.


" Cepat obati luka yang lain!" teriak pria itu kembali dan membuat Diandra menahan amarah.

__ADS_1


" Hey Tom. Jangan berteriak. Kau membuat dokter ini takut!" ucap pria bertato itu dengan mata terpejam. Membuat Tom yang mendengar hal itu, sontak menatap tak percaya ke arah bosnya yang mendadak berlaku lembut kepada orang lain.


" Tolong amb..."


" Jangan banyak bergerak. Aku sedang menjahit lukamu!" potong Diandra dengan kesal sebab pria itu terus saja bergerak.


Tapi alih-alih marah dan mengancam, pria itu malah melontarkan kalimat yang membuat anak buahnya shock. " Baik dokter. Aku akan menuruti perintahmu. Tom, bawakan aku dan juga dokter ini makanan!"


Tom seketika tercengang. Apa bosnya sudah tak waras?


" Apa kau dengar Tom?" ulang pria itu melirik tajam ke arah Tom yang mulutnya menganga.


" B- baik bos!"


.


.


Zilloey memilih tak memberitahu banyak pihak sebab tak ingin membuat kegaduhan di tengah bencana ini. Ia diam-diam mengetik pesan kenapa korps juga tiga sahabatnya jika dugaan penyanderaan sedang terjadi.


" Tenang dan jangan panik. Kembalilah melanjutkan tugasmu. Kami akan mencari dokter Diandra!"


Kapten angkatan udara itu kembali ke dalam tenda untuk merundingkan hal krusial ini. Namun setibanya ia di dalam, ia melihat Dewa sudah duduk di hadapan monitor komputer dengan muka mengeras.


Tak berselang lama, datang Rayyan bersama Iwan yang tak kalah cemas, juga Yean bersama anjing pelacak kesayangannya yang selalu bisa lebih bersikap tenang.


" Dari data yang ada, pemberontak di wilayah ini berjumlah lebih dari dua kelompok!" kata Dewa begitu kawan-kawannya datang.


" Mereka pasti menculik dokter Diandra karena ingin meminta tebusan!" ucap Rayyan menduga.


" Darimana kesimpulan itu bisa kau pikirkan?" tanya Zilloey ragu.


" Kau lupa, dalam keadaan bencana seperti ini, mereka juga pasti terkena dampaknya. Tapi karena menjadi pemberontak, tak satupun orang yang berani mendekat ke wilayah mereka. Aku yakin mereka sedang kesulitan!"


" Tapi di wilayah ini ada tiga kelompok. Tidak semua dari mereka memiliki tempat dan bangunan. Ada yang bersembunyi di hutan!" timpal Iwan meragu.


Membuat kesemuanya sibuk berpikir.


Tapi saat yang lain tengah gencar memikirkan motif yang mendasari penculikan ini. Yean bisa menangkap kilatan penuh kekhawatiran di mata Dewa.


" You still care her, buddy! I know it."

__ADS_1


__ADS_2