Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 44. Sebuah kerjasama


__ADS_3

Joshua tak henti- hentinya membasuh wajah yang basah dengan hati gondok. Ada apa dengan para orang tua? Kenapa ujung-ujungnya selalu dia yang di salahkan? Tak pernahkah mereka berpikir jika mereka juga salah?


Wajah berengut anak itu bahkan tetap tersuguh hingga sehari sebelum Diandra akan kembali ke rumahsakit. Membuat hati Diandra terasa sakit.


" Dia masih belum memaafkan aku Ma! Apa sebaiknya sekolah Joshua pindah saja?" ucap Diandra dengan wajah murung yang masih belum juga sirna.


"Tidak perlu Di!"


" Tapi Ma, bagaimana jika Rando..."


Tapi tangan Mama lebih dulu membuat Diandra berhati berucap," Kau tau, tidak ada satu rahasia di dunia ini yang tidak bakal terbongkar." mata Mama bahkan berkaca- kaca saat berbicara. " Cepat atau lambat sekalipun, semua pasti akan terbongkar!"


" Yang kita perlukan hanyalah mempersiapkan hati agar lebih lapang. Kita harus siap jika Rando tahu suatu saat nanti. Tapi kau jangan terlalu sedih, kita masih bisa berjuang di jalur hukum kalau ada apa- apa. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Apalagi Mama melihat Rando menyukai anak-anak. Kau bisa menemui Aldi untuk meminta bantuan hukum!"


Dan ucapan sang Mama membawa Diandra menuju ke tempat Aldi hari itu juga. Pria yang masih menjadi teman baiknya itu terlihat senang dengan kedatangan Diandra walau tanpa janjian terlebih dahulu.


" Aku sangat senang kau datang kemari. Mau minum apa?" tawar Aldi sembari membuka show case water di dalam ruangannya


Diandra menggeleng. " Aku tidak bisa berlama-lama Al. Aku datang kemari karena ingin meminta bantuanmu!"


" Bantuan? Soal apa?"


Aldi meletakkan dua kaleng minuman bersoda di atas mejanya. Pria itu menjadi sedikit serius kala mendengar kata 'bantuan'.


" Rando kemarin datang dan membawa Joshua!" terang Diandra dengan muka murung.


" Hah, dia sudah tahu?" Aldi sontak terkejut. Mengira jika rahasia yang selama ini di sembunyikan telah terbongkar.


Diandra menggeleng muram. Perempuan itu lantas menceritakan soal Joshua yang tak sengaja juga bertemu dengan istri tuan Ferdinand dan menjadi sumber kegelisahan keluarganya.


" Pantas saja Rando kapan hari datang kepadaku!" gumam Aldi turut resah demi secuil puzzle yang kini ia pahami.


" Apa kau bilang, datang kemari untuk apa?"


Aldi menghembuskan napas perlahan saat melihat reaksi penuh keterkejutan dari Diandra." Di, bagi Rando, Mamanya itu adalah segalanya. Kuharap kau paham maksudku. Menurut cerita yang aku tangkap, nyonya Ferdinand cukup tertarik dengan anakmu. Dan benar, mereka tidak sengaja bertemu. Harus ku akui, wajah Joshua benar- benar sangat mirip dengan Rando!"


Kini keduanya sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing yang mendadak ruwet.

__ADS_1


" Aku hanya ingin kau menguruskan hak asuh Joshua secara paten kepadaku Al. Aku ingin berjaga-jaga jika suatu saat nanti Rando bakal mempermasalahkan hal ini. Karena jika di kemudian hari Rando tahu, aku takut keluarga mereka akan mengambil Joshua! Kau tahu kan, keluarga mereka merupakan orang yang punya koneksi dimana- mana. Aku takut Joshua akan di ambil!" terang Diandra yang matanya sudah mulai memanas.


" Kau sangat benar. Sebenarnya aku ingin menghubungimu untuk membahas hal ini. Terus terang, beberapa hari terakhir pikiranku tidak tenang karena kejadian ini. Bahkan Rando sempat datang lagi dan berlaku kasar kepadaku. Tapi karena kau sudah lebih dulu kemari, aku bisa segera memprosesnya. Tapi tunggu dulu, sepertinya masih ada masalah lain?"


Diandra sebenarnya sangat terkejut manakala Aldi memberitahukan soal kedatangan Rando yang berbuat kasar terhadapnya. Tapi ia harus segera melanjutkan kalimatnya.


" Al, selama ini kau Anita adalah orang yang tahu rahasiaku. Aku hanya ingin minta pendapatmu. Aku...sedang dekat dengan seseorang..." Diandra lantas menceritakan soal ketakutannya meski dengan wajah ragu- ragu. Takut akan perubahan sikap Dewa jika mengetahui bahwa Joshua adalah anaknya Rando.


Tanpa Diandra sadari, kilatan keterkejutan jelas nampak jelas dari dua manik mata Aldi. Pria itu terlihat sedih saat mendengar Diandra tengah dekat dengan seorang pria.


Aldi terkesiap memandangi tangan putih Diandra yang kini memegang lengannya. " Bagiamana menurutmu Al?" tanyanya meminta pendapat.


Aldi seketika gugup. Tak ingin menunjukkan kegelisahannya kepada perempuan yang diam- diam ingin ia sukai.


" Menurutku... ceritakan saja hal ini secara langsung kepada pria itu. Maksudku...akan sangat baik jika semua ini dia dengar darimu langsung. Jika dia tulus mencintai, meski berat dia pasti akan menerima!" kata Aldi menatap dalam Diandra yang nampak menimbang- nimbang.


" Kudengar kau jarang membalas Anita. Kau tahu Al, dia salah paham denganku hingga saat ini. Dia masih menyukaimu. Apa kau bisa menolongku juga untuk hal ini?"


...----------------...


" Satu bulan lagi kakak akan pulang jika tidak ada tugas. Baik- baiklah dirumah. Kakak sayang padamu!" kata Diandra meski si anak cuek. Biarlah, ia memang pantas mendapatkannya.


Diandra mati- matian menahan air matanya agar tak jatuh. Bagiamana juga pergi tanpa maaf apalagi dari sang anak benar- benar sangat menyakiti hatinya. Ia berkali-kali mengecek ponsel namun tak ada satupun balasan dari Dewa.


Kemana dia?


Dan setibanya Diandra dirumah sakit, ia yang di sambut oleh Wina menjadi kaget saat mendengar satu kabar.


" Dokter, Iwan beberapa hari yang lalu datang kemari. Dia menanyakan apakah kapten Dewa ada datang kemari. Katanya, kapten menghilang hampir dua Minggu. Sebenarnya ada apa ya dokter. Bukankah kapten Dewa seharusnya ada di kesatuan mereka?"


Diandra sontak tertegun. Menjadi ingat akan jawaban ambigu Dewa beberapa hari yang lalu saat ia ganti bertanya kapan Dewa akan kembali ke Santara kota. Membuatnya menjadi menerka-nerka, apakah ada yang Dewa sembunyikan?


.


.


Dewa di panggil ke detasemen markas besar oleh ayah Lyara tepat saat pria itu pulang dari kediaman Diandra beberapa waktu yang lalu. Ia tak tahu, masalah apalagi yang menghadangnya di depan sana.

__ADS_1


" Aku memanggilmu karena ada tugas gabungan penting dengan kepolisian dan tiga Matra tentara. Tapi selain itu, aku ingin bertanya apakah selama kau menenangkan diri dirumah kau sudah memikirkan kesalahanmu?" tanya ayah Lyara penuh keseriusan.


Dewa yang mengenakan PDU (pakaian dinas upacara) masih berdiri dengan sikap sempurna. Menghadap sang petinggi dengan tatapan penuh hormat meski hatinya tampak tak suka dengan pertanyaan kedua sang jenderal.


" Dewa!" hardik ayah Lyara sebab laki- laki di hadapannya malah membisu.


" Maaf jenderal. Tapi saya belum bisa menjawab!"


" Apa karena dokter muda itu?"


DEG


Dewa terperanjat. Darimana pria itu tahu? Apakah pria itu menyewa seseorang untuk memata- matainya?


Rupanya, sehari setelah Rando di hajar oleh Dewa, pria itu menemui datang Jenderal Gustav perihal kesalahpahaman di Tidom. Namun tanpa di nyana, ia di sana malah bertemu dengan perempuan bernama Lyara yang notice kepadanya.


" Hey, bukankah kau yang waktu itu bersitegang dengan Dewa?" ucap Lyara saat melihat Rando duduk di ruangan papanya.


Rando terkejut. Darimana perempuan itu tahu? " Anda mengenal Dewa?"


Lyara melipat majalahnya lalu menatap Rando sembari bersedekap. "Tentu saja aku kenal. Aku jauh- jauh datang kesana hanya untuk dia. Tapi tidak tahunya dia malah bersama wanita lain. Sekarang dia harus merasakannya akibatnya. Ayahku memerintahkan bawahnya untuk membuat Dewa off."


" Jadi pria itu off bukan karena hal wajar. Tapi karena di hukum?" batin Rando menyusun satu persatu keadaan.


"Oh iya, kau siapa sebenarnya?" tanya Lyara yang membuat lamunan Rando seketika buyar.


" Aku Rando Ferdiand, CEO earth Wood!" balas Rando.


" Tunggu dulu, jadi ku ini mantan pacar dokter yang kemarin bersama Dewa?" terka Lyara.


" Darimana gadis ini tahu? Sepertinya aku harus hati- hati dengannya."


" Darimana kau tahu?" tanya Rando menatap curiga Lyara.


Maka Lyara seketika tersenyum licik demi melihat sebuah peluang kerjasama yang sangat baik.


" Kurasa kita bisa bekerjasama dalam hal ini!"

__ADS_1


__ADS_2