Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 45. Fakta


__ADS_3

Namun ungkapan yang di sertai wajah keruh mengembalikan kesadaran Dewa. Bahkan ia terus terngiang-ngiang akan ucapan Jenderal Gustav.


" Kita bahas hal ini jika kau sudah pulang dari bertugas. Kau kutugaskan bersama kapten dari tiga Matra dan kepolisian untuk misi menyelamatkan walikota dari sandera. Jaga dirimu!"


Dewa melamun sepanjang perjalanan menuju batalyon. Seharusnya dia senang karena akan kembali terjun ke misi bersama Rayyan, Yean, dan Zilloey seperti impiannya tempo hari. Tapi mendapati sang jenderal tahu bila ia dan Diandra tengah dekat, membuat sejumput keresahan mendadak mengganggu.


" Woy, aku perhatikan beberapa bulan ini kau semakin sering melamun!" Zilloey yang sibuk packing beberapa senjata menyindir Dewa yang malam ini terlihat kusut.


Yean yang turut melihat hal itu merasa kuatir dengan sahabatnya. Jika Dewa terus seperti ini, misi mereka bisa terganggu dan nyawa yang bakal menjadi taruhannya.


" Kau masih bisa mengajukan pembatalan kepada Mayor sebelum kita terbang malam ini." ucap Yean yang bisa membaca keresahan di mata sahabatnya.


" Bicara apa kau. Aku baik- baik saja!" bohong Dewa yang kini turun mengambil pistol lalu mengeceknya.


Yean menghela napas. Sampai kapan sahabatnya itu akan mengakui jika dokter itu lah yang menjadi sumber pemikirannya saat ini? "Dengar De, aku tahu ini bukan pertama kalinya untukmu menjalankan misi. Tapi setiap kali memenuhi tugas, semua dari kita wajib menanggalkan apa yang ada di belakang kita, bahkan keluarga sekalipun!" tukas Yean mengingatkan.


Dewa kontan menengadah. " Kau terlalu berpikir. Aku tidak apa-apa!"


Rayyan yang melihat dua orang saling berbicara langsung merangkul dan turut menimbrung ucapan. " Hey, bukankah ini impian kita kembali kepada misi? Ayolah, aku bahkan sudah tak menghubungi Lea sejak sepekan yang lalu!"


Dewa mengangguk, ia lantas tersenyum. Ia malu pada diri sendiri yang tak profesional.


" Selesaikan misi, kembali dengan selamat, dan temui dokter cantik itu, setuju?" ucap Rayyan menggantungkan tangan dengan wajah mengakomodir.


Dewa, Yean dan Zilloey mengangguk sembari menautkan tangan mereka menjadi satu. Sejurus kemudian, Dewa juga nampak mematikan ponselnya. Satu hal yang wajib dilakukan ketika bertugas pada misi rahasia besar ialah tak di perkenankan memberitahu keluarga ataupun orang-orang terdekat.


Keesokan paginya, empat Kapten itu terlihat menghadap panglima tertinggi secara virtual. Mereka melakukan penghormatan bersiap menjalankan misi sesuai dengan mitigasi yang terencana.


" Titik serang ada di dermaga. Kemungkinan besar walikota di sekap di bangunan dekat mercusuar! Tetap terhubung selama menjalankan misi, jangan ambil keputusan diluar mitigasi, paham?"


" Siap!" koor keempat Kapten tampan yang sudah bersiap dengan seragam khususnya.


Mereka bergerak cepat. Dengan menggunakan pesawat militer mereka bersiap turun untuk memasuki wilayahnya yang sudah di petakan. Berharga misi yang mereka jalankan hari ini bisa berhasil.


Sementara itu dilain pihak, Diandra yang barusaja menyelesaikan tugasnya siang ini menatap muram ponsel yang masih tak menunjukkan adanya tanda-tanda Dewa membalas pesannya.


Apakah laki- laki itu sengaja mempermainkannya? Apakah pria berseragam memang hobi seperti ini?Seenaknya saja datang lalu pergi. Dasar!


Tidak, tunggu dulu, kenapa dia harus marah? Oh ya ampun. Lihatlah, Diandra bahkan sudah mulai terbiasa dengan pria itu. Sebenarnya Diandra ingin bertemu dan mengatakan yang sebenarnya terjadi, persis seperti apa yang di layak oleh Aldi. Tapi alih-alih bisa bertemu, satu pesannya pun tak di balas oleh Dewa.


Dan saat ia hendak pulang, seorang wanita yang pernah ia lihat di Tidom tiba- tiba datang dan menghadang langkahnya.


" Kau yang namanya Diandra?" sengit perempuan itu tak ramah.


Diandra menatap wanita berjumsuit terbuka yang menatapnya remeh." Maaf anda siapa?" tanya Diandra yang pura-pura tak mengenal.

__ADS_1


Lyara berjalan mendekat dengan sebelah alis yang terangkat. " Aku peringatkan kepadamu. Dewa adalah milikku, kalau kau masih ingin bekerja di tempat ini, sebaiknya pikirkan yang aku katakan!"


Perempuan itu langsung pergi tanpa permisi usai memberikan peringatan keras. Diandra yang bingung memilih mengabaikan. Ia lebih memilih menelpon mamanya dan menanyakan kabar Joshua.


" Joshua masih tak mau bicara. Tapi dia sudah mau makan Di. Kau tenang saja. Fokuslah bekerja!"


Diandra tercenung di kamar apartemennya. Ia harus fokus bekerja demi masa depan Joshua yang memerlukan banyak biaya. Kenapa dalam sekali waktu, hidupnya di berondong oleh banyak masalah. Dan sekarang, saat ia sangat membutuhkan Dewa, pria itu malah menghilang tanpa kabar.


" Dimana kau sebenarnya?"


...----------------...


" Rayyan, di belakangmu!" teriak Yean melalui earpiece saat mereka sudah berhasil menyelinap di area musuh.


Rayyan yang mendengar dengan sigap langsung membanting tubuh laki- laki bersenjata laras panjang sesaat setelah meninju wajahnya.


BUG!


PRAK!


Zilloey tersenyum saat melihat wajah songong Rayyan usai membumihanguskan musuh.


"Wow, badas man!"puji Zilloey terkekeh.


" Itu bukan masalah. Bisa dikatakan, itu hanyalah pemanasan!" ucap Rayyan yang membuat ketiga pria tampan disana terkekeh.


SRET!


" Arghh!"


"Dewa!"


.


.


" Apa kau bilang?" Rando menggebrak meja saat Steve barusaja mengatakan hal yang sangat mengejutkan kepadanya.


Steve mengangguk meyakinkan bosnya jika orang di diluar ruangan benar- benar meyakinkan. " Pria itu mengaku sebagai Papa nona Diandra. Tapi bos, pria itu meminta sejumlah uang kepada kita demi informasi penting ini!"


Rando semakin mengeraskan rahangnya." Berapa yang dia minta?"


" Satu milyar!"


" Apa? Itu pemerasan namanya!" kesal Rando yang tak habis pikir dengan permintaan tak wajar pria asing itu.

__ADS_1


" Katanya, dia membawa berita penting soal Joshua!"


DEG


Maka Rando yang sangat penasaran terlihat menimbang- nimbang. Joshua?


" Bawa dia masuk!" titah Rando yang entah mengapa sangat tertarik jika berurusan dengan Joshua.


Beberapa saat kemudian, seorang pria berumur yang berbau alkohol terlihat datang dengan tatapan sayu. Pria itu adalah, Arman. Mantan suami Mama Erika sekaligus Papa kandung Diandra.


" Jadi, kau dulu adalah mantan pacar anakku, Hem?" ucap Arman sembari mendudukkan tubuhnya meski tanpa diminta.


Rando yang melihat pria itu sempoyongan menjadi mengerutkan kening. Benarkah pria yang tak memiliki sopan santun itu adalah Papa Diandra? Pantas saja mama Diandra menceraikan pria itu. Sikapnya saja sangat memuakkan.


" Apa yang kau inginkan?" tanya Rando enggan berbasa-basi.


Arman tersenyum. Ini yang dia mau.


" Aku butuh uang. Hutangku banyak. Jika kau bersedia membantuku, maka aku akan mengatakan satu informasi penting buatmu!"


Rando menatap tajam pria tak meyakinkan itu. " Jangan main-main denganku!"


Arman terkekeh konyol. " Untuk apa aku main- main. Informasi yang aku bawa ini sangat bermanfaat buat keluargamu. Kalau tidak mau ya sudah!"


" Tunggu!" sergah Rando saat Arman berpura-pura beranjak.


" Jadi bagaimana? Mau setuju? Apa kau ada uangnya?" tawar Arman dengan tatapan licik.


Rando yang garam mau tak mau akhirnya mengangguk dan meminta Steve membawakan selembar cek.


" Jika kau mempermainkan aku, maka kau akan merasakan akibatnya!" ancam Rando sesaat sebelum menyerahkan selembar cek kepada si brengsek Arman.


Arman tergelak. " Kau sopan lah sedikit kepada orang tua. Bagiamana pun juga, aku ini orangtuanya Diandra!"


" Katakan, informasi apa yang kau bawa. Jika kau berani mempermainkan aku, aku ku ledakkan kepalamu!"


Arman menatap tajam sosok sombong di hadapannya. Jika bukan karena terdesak, ia tentu tak akan mau datang kepada pria kurang ajar itu.


" Kau dulu menghamili anakku kan?" kata Arman yang membuat mata Rando seketika melebar. Membuat Arman semakin yakin jika ia akan segera mendapatkan uangnya.


" Sebenarnya, anak yang kau perintahkan untuk di gugurkan dulu masih hidup hingga sekarang. Dan anak itu adalah Joshua


Jadi, Joshua adalah anakmu!"


DUAR!

__ADS_1


Maka tubuh Rando seketika membeku detik itu juga demi mendengar fakta mengejutkan dari mulut pria keparat itu.


__ADS_2