Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 26. Do you like her?


__ADS_3

Beberapa hari ini, Joshua sedang terganggu dengan ucapan temannya yang terus menanyai dirinya soal keberadaan sang Papa. Dan sialnya, beberapa hari ini pelajaran yang di ajarkan bertemakan keluarga. Membuatnya merasa sangat tidak senang.


Walau tak terucap, namun jauh di dasar hati Joshua ia ingin tahu siapa Papanya. Mana mungkin dia ada tanpa adanya seorang Papa.


"Jangan tanya soal itu terus. Pokoknya kamu ini anak Mama. Mama bisa jadi Papa sekaligus Mama buat kamu. Ada kak Diandra juga. Jangan sedih ya nak!"


Tapi setiap teringat akan jawaban yang selalu itu-itu saja, Joshua selalu saja merasa sedih. Hari ini, begitu ada peluang untuk kabur dari sekolah, ia langsung kabur. Lebih baik pergi dari pada berada di dalam kelas dengan teman-teman yang selalu saja mengejeknya.


Tapi semakin lama, ia semakin tak tahu harus kemana. Di terik yang semakin membakar kepala itu, ia tiba-tiba tergiur demi melihat sebuah pameran unik di pinggiran kota. Kesana sebentar boleh juga lah. Toh, uang dalam saku juga masih utuh bukan?


Namun saat hendak menyebrang, bocah y tiba-tiba menjerit sebab nyaris saja tubuhnya tertabrak sebuah Mercedes mengkilat yang melaju kencang dari arah kanan. Beruntung mobil itu mengerem tepat pada waktunya.


" Astaga, kau tidak apa-apa nak?" teriak seorang wanita sesaat setelah membanting pintu mobilnya.


Tubuh Joshua gemetaran, apakah ia akan di marahi oleh orang itu sebab dia nyaris saja membahayakan perjalanan pengemudi? Ia terus tertunduk dengan wajah takut.


Tapi sejurus kemudian, seorang pria yang barusaja menepuk mobil mewah itu datang menyentuh puncak kepalanya. Membuatnya langsung mendongak. " Apa kau terluka nak?"


DEG!


Mata pasutri pengendara mobil itu langsung melebar sewaktu melihat wajah Joshua.


" Wajahnya, Kenapa sangat tidak asing?"


Joshua menggeleng sedikit takut. Tapi saat melihatmu kedua orang itu malah terpaku, Joshua akhirnya meyakini jika dua orang itu bukanlah orang yang galak. Ia lantas menurut saat di ajak menepi ke pinggir jalan.


" Siapa namamu. Kenapa kau ada di jalan raya di jam seperti sekarang? Seharusnya kau sudah pulang kan?" tanya wanita berbaju mahal itu dengan sedikit khawatir.


Joshua bukan tak mau pulang, ia lebih ke bingung dengan jalan untuk pulang sebab selama ini ia selalu tertidur jika berada di dalam mobil. Lagipula, ia benar-benar malas saat ini.


Tapi tuan Demian Ferdinand malah salah fokus dengan wajah bocah laki-laki yang masih tampak kebingungan itu. Wajan benar-benar membuat ia dan sang istri terkejut bukan main.


" Ma, kenapa wajahnya sungguh mirip dengan anak kita sewaktu kecil dulu?" bisik tuan Demian takjub.


Nyonya Ferdinand langsung menatap kembali ke arah Joshua dengan tatapan mengamati. Benar dan tak terelakkan.


.


.


Sementara itu, di kawasan pengungsian tiba-tiba terdengar kabar kurang baik sebab seorang anak kecil yang ibunya kemarin meninggal, di kabarkan kabur, berlari dan meneriaki sesosok mayat yang akan di makamkan massal usai menjalani serangkaian proses pendataan.


Membuat Dewa yang mendengarnya langsung naik pitam.


" Dokter, kenapa anak itu bisa kabur? Apa saja yang kau kerjakan?" teriak Dewa kepada Diandra yang sejatinya pikirannya juga sedang kalut akibat kabar hilangnya Joshua.

__ADS_1


Diandra yang mendengar Dewa memarahinya langsung terlihat mendekat dengan muka kesal. "Kenapa jadi menyalahkan Saya. Saya juga memiliki kesibukan lain. Anda pikir hanya saya yang salah di sini? Anda sendiri kan yang mengatakan jika dia juga tanggung jawab anda. Ooo, mungkin karena anda sedang asik berpacaran dengan wanita cantik tadi, sehingga membuat anda lupa, iya?"


" Dokter Diandra!"


Keduanya langsung diam dengan urat yang sama-sama menegang. Diandra yang emosinya naik karena pikiran kacau, sementara Dewa yang marah karena di tuduh yang tidak-tidak.


Tapi entah mengapa, usai mengatakan hal seperti itu Diandra malah menjadi malu sendiri. Macam orang yang sedang cemburu kepada kekasihnya saja.


" Biar saya cari. Saya yang akan bertanggung jawab. Anda lanjutkan saja kegiatan anda dengan wanita itu. Permisi!" kesal Diandra seraya menabrak pundak Dewa sedikit keras.


Sepeninggal Diandra, Dewa merasa dokter itu telah salah paham dengannya. Tapi saat hendak mengejar, Lyara tiba-tiba muncul menghadang.


" Dewa, tega sekali kau meninggalkan aku di dalam!" protes Lyara kesal.


Tapi Dewa tak mempedulikan Lyara. Pikirannya kini terpecahkan menjadi dua bagian. Satu memikirkan kemana anak itu pergi, dan satu lagi bagiamana menjelaskan kepada Diandra jika yang terjadi di dalam tadi tak seperti dengan apa yang di pikirkan oleh Diandra.


Tapi tunggu dulu, kenapa jadi dia yang ketakutan begini? Oh tidak, jangan bilang jika Dewa sedang ingin membuat klarifikasi karena takut dokter Diandra marah kepadanya.


.


.


Hari ini sepertinya benar-benar hari sial untuk Diandra. Tidak diragukan lagi. Kabar soal Joshua yang belum juga pulang dari sekolahnya, sudah cukup membuatnya pusing, kini di tambah ia dipersalahkan oleh Dewa atas kaburnya bocah laki-laki tadi.


" Yang benar saja, memangnya apa dia tahu kalau aku sekarang sedang tertimpa masalah? Brengsek! Dia juga bersalah kan, bukannya turut menjaga, malah enak-enakan berciuman. Dasar Kapten sialan! Aku benci padamu!!" teriak Diandra meluapkan kekesalan saat ia mengistirahatkan diri di dekat aliran sungai.


" Siapa yang kau panggil sialan, hah?" tanya kapten Dewa seraya melipat kedua tangannya.


What?


Maka seketika membulatlah mata Diandra dengan tubuh yang serasa membeku demi mendengar suara kapten Dewa.


" Ka- kapten. Sejak kapan anda disini?" tanya Diandra tergagap-gagap.


Kapten Dewa yang melihat Diandra ketakutan langsung berjalan mendekat. Pria itu lantas menatap wajah pias Diandra dengan air muka yang sulit di jelaskan.


" Sejak seseorang menggerutu dan menuduhku berciuman!"


" Astaga, jadi dia mendengar semua umpatanku?" resah Diandra dalam hati.


" Aku tidak menuduh!"


" Memangnya kau melihat aku berciuman? Apa jangan-jangan, kau mengintip?"


" Apa, sudah gila ya?"

__ADS_1


" Ya...tadi kan, anda..."


" Kenapa, kau cemburu?"


" CK, orang ini!"


Diandra langsung menjengit kesal. Apa hubungannya coba? Membuat malu orang saja!


" Cemburu, untuk apa aku cemburu. Tidak jelas!" elak Diandra yang wajahnya sudah sangat memerah.


Tunggu sebentar, ia juga ya? Kenapa dia jadi sekesal ini sih?


Kapten Dewa terlihat mendekatkan wajahnya persis ke telinga Diandra dan langsung membisikkan kata-kata. " Ada dua hal yang harus kau tahu. Pertama, aku tidak berciuman dengan Lyara. Dan yang kedua, aku paling tidak suka di vonis tanpa melakukan hal yang di tuduhkan! Apa kau paham dokter?"


Saat Dewa mengatakan seperti itu dan membuat Diandra merinding akibat hangat napasnya, Diandra seketika malu bukan main.


Menyesali kenapa dia harus marah-marah? Bukankah mereka bukan siapa-siapa? Oh ya ampun, lihatlah sekarang Diandra. Ia sangat malu dan takut.


" Jika tidak kenapa anda harus marah!" seru Diandra sembari mendorong tubuh berat Dewa sebab ia sangat malu dengan posisi yang begitu dekat seperti itu.


Maka Dewa langsung terkekeh saat melihat Diandra salah tingkah. Namun saat keduanya masih sibuk melempar tatapan permusuhan, ponsel Diandra kembali berdering.


" Ya Ma?"


" Di, Joshua sudah pulang. Mama tidak tahu siapa yang mengantar, tapi dia selamat!"


" Benarkah? Apa dia terluka? Dia tidak apa-apa kan Ma?"


Saat melihat wajah penuh kekhwatiran milik perempuan di depannya, Dewa malah menjadi sedikit penasaran. Sebentar, ada masalah apa yang membuat dokter Diandra menjadi secemas itu?


" Ada apa?" tanya Dewa sesaat setelah telepon terpungkasi.


Namun alih-alih menjawab, Diandra malah menatap Dewa dengan wajah yang masih sebal. " Bukan urusan kapten!" serunya dan langsung kabur terbirit-birit.


Dewa langsung menghela napas seraya Sedikit tersenyum. Dimana-mana wanita itu sama saja ya? Gampang sekali naik darah, kalau bicara tidak mau kalah.


Tapi saat Dewa masih memandang tubuh yang mulai menjauh dari pandangannya itu, tidak tahu kenapa Dewa malah semakin tersenyum-senyum sendiri. Ia merasa terhibur saat berdebat dengan dokter itu. Rasanya, ia seperti menemukan hiburan.


" Wow, senyam-senyum sendiri sambil menatap seorang wanita. Biar ku tebak, apa dia berhasil memikatmu?"


Dewa langsung menghentikan senyumannya manakala Yean tiba-tiba berbicara di dekatnya. Sejak kapan dia datang?


" Kau, kapan kau datang?" tanya Dewa yang mulai merubah air mukanya menjadi serius.


Yean tersenyum dan tak menanggapi pertanyaan Dewa yang sejatinya terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba.

__ADS_1


" Jawab saja, do you like her?"


__ADS_2