Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 42. Berkelahi


__ADS_3

" Ada apa?" Dewa tak bisa menahan gejolak keingintahuan dalam benaknya usai melihat wajah lesu Diandra saat menutup panggilan.


" Joshua, Joshua tidak ada di sekolahan. Mama sedang menelpon wali kelasnya untuk kembalikan ke sekolahan!" jawab Diandra muram.


" Apa? Bagiamana bisa bisa gurunya sudah pulang lebih dulu?" tukas Dewa meradang.


Semua rasa canggung dan malu yang semula hinggap, tiba- tiba hilang dalam sekejap tatkala Dewa mendengar kalimat mengejutkan itu. Joshua di sinyalir pergi dengan seseorang yang tidak di kenal. Atau bahkan, bisa saja ia di culik.


Tidak!


" Kapten, bagaimana sekarang?" Diandra semakin resah.


Tanpa menunggu lagi, Dewa langsung menginjak pedal gasnya melesat menuju ke sekolah Joshua. Pikirannya mendadak tegang. Dan lagi-lagi, ia sepertinya mulai tak bisa jika melihat perempuan di sampingnya menangis.


Setibanya mereka di sekolah yang sudah sepi, keduanya tampak tergesa-gesa manakala turun dari mobil. Dari posisinya berlari, mereka bisa melihat jika pintu gerbang sudah kembali terbuka berikut dengan kendala roda dua milik seseorang guru.


Tanpa menunggu lagi, mereka langsung menuju ke kantor tepat dimana sang Mama masih terduduk lemas. Membuka Diandra memekik.


" Mama!"


" Diandra!" balas sang Mama yang langsung bangun menyongsong putrinya.


" Bu, bagaimana bisa adik saya dibiarkan pergi tanpa penjemput yang biasanya. Kenapa anda membiarkan Joshua pergi bersama orang asing?" kesal Diandra mulai menaikkan volume suaranya.


" Tenang dulu Diandra!" ucap mama Erika memperingatkan. Tapi Diandra terlihat semakin tak sabar. Ia selalu tak sabar jika menyangkut soal Joshua.


" Maaf atas kesalahpahaman ini Bu. Saya sudah menjelaskan semuanya kepada Mama anda. Joshua tidak pergi bersama orang asing! Dia pergi bernama Bapak Rando Ferdinand!"


" Apa?"


Diandra yang terkejut seketika menoleh ke arah Mamanya yang terlihat muram.


" Mama juga barusaja tahu Di!" sambung Mama penuh sesal.

__ADS_1


.


.


" Jadi, namamu Joshua?" tanya Rando yang kini duduk di sebuah taman bersama bocah tampan bermata jernih.


Joshua yang sibuk menyedot ice bubble berasa leci hanya mengangguk. Ia tak bisa menjawab karena masih repot mencecap rasa manis dan legit dari susu kental manis.


" Kau tidak takut denganku?" tanya Rando lagi sebab biasanya anak-anak selalu tak mau pergi bersama orang yang tak dikenalnya.


Joshua menggeleng. " Paman ini yang fotonya ada di dinding sekolah?" balas Joshua yang membuat Rando terkesiap.


Sekilas, Rando yang menatap wajah tampan Joshua benar-benar merasa seperti sedang berbicara dengan dirinya semasa kanak-kanak. Benar yang di katakan Mama. Anak ini benar-benar mirip dengannya. Kok bisa ya?


" Kau benar-benar adik dari dokter Diandra?"


Kali Joshua menoleh. " Paman kenal kak Diandra?" tanyanya dengan wajah terlolong.


Rando mengangguk. " Dia dulu teman Paman sewaktu sekolah!"


Bahkan, Bu Ana sampai terkejut saat mendapati masih ada siswa yang belum di jemput menakala beliau hendak melajukan motornya pulang.


" Loh Jo, kok masih di sini?" tanya Bu Ana kaget.


Dan di waktu bersamaan, tiba- tiba datang sebuah mobil yang ternyata adalah Rando. Ya, Rando yang pikirannya masih belum tenang mendadak tersugesti untuk melewati sekolahan itu kembali. Namun tanpa di nyana, Rando malah melihat wajah murung Joshua yang tampaknya sudah mau menangis.


" Bu!" sapa Rando sesaat setelah ia turun dari mobil.


" Ah, Pak Rando?"


"Ada apa ini?"


Bu Ana lantas menjelaskan apa yang terjadi. " Joshua ini memang sering terlambat jemputnya. Kadang saya bawa Pak, terus ketemu di jalan sama Mamanya. Tapi hari ini saya ada kepentingan..."

__ADS_1


" Biar sama saya saja kalau begitu Bu!" potong Rando yang tiba-tiba hatinya tersentuh tanpa sebab. Ia lantas menatap seraut wajah yang matanya memerah sebab menahan tangis.


Bu Ana semula tak enak hati dan terlihat begitu sungkan. Tapi sejurus kemudian beliau setuju sebab di yakinkan oleh Rando. Lagipula, Bu Ana kenal dengan Rando. Apalagi , keluarga Ferdinand merupakan donatur tetap di sekolah itu. Tak mungkin bakal melakukan hal yang tidak-tidak.


" Kebetulan saya akan lewat sana. Saya bisa membawa anak ini sekalian!" imbuh Rando menuntaskan segenap kesungkanan.


" Terimakasih banyak Pak. Nak, kamu mau di antar pak Rando?" tanya Bu Ana mengusahakan pipi Joshua dengan lembut.


Joshua mengangguk. Sorot matanya bahkan menunjukkan satu kelegaan.


Tapi belum juga Rando menanyakan satu pertanyaan lagi kepada bocah yang membuatnya tidak tenang tanpa sebab itu, sebuah decitan kasar milik mobil yang tiba-tiba datang di depannya membuatnya menoleh.


Diandra?


Ia bisa melihat dengan jelas jika penumpang mobil itu tadi adalah Dewa, Diandra dan mama Erika.


" Joshua!" teriak Diandra usai menutup pintu mobil dengan sedikit kasar. Perempuan itu berlari dan langsing menarik tubuh Joshua menjauh dari Rando.


Joshua yang melihat kak Diandra memaki pria berjas itu seketika menjadi tegang. Rando hendak meraih tangan Diandra, tapi sebuah pukulan keras yang mengenai rahangnya tiba- tiba membuatnya oleng.


BUG!


" Hey!" teriak Rando manakala Dewa menonjok wajahnya.


Dewa menyasar titik wajah dengan jitu tanpa khawatir akan mematikan. Ia sudah sangat terlatih akan hal ini. Dewa hanya ingin menegaskan satu peringatan kepada Rando.


" Apa- apaan kau brengsek?" maki Rando demi rasa panas dan pedih di rahangnya.


Mama Erika yang melihat dua laki-laki dewasa saling bersitegang di depannya, reflek memutar tubuh Joshua agar anak itu tak melihat adegan kekerasan.


" Sepertinya kau merupakan jenis orang yang susah di peringati melalui omongan. Ku harap kau tahu batasan mu!" geram Dewa yang menahan amarah hingga giginya terdengar gemelutuk.


Rando yang di tunjuk sontak menatap sengit ke arah Dewa yang tampak meradang. Sepertinya permisi mereka semakin jelas terbentang.

__ADS_1


" Ayo Dewa, kita pulang! Tak perlu meladeni pria seperti dia!" seru Diandra menatap marah ke arah Rando, seraya menggamit lengan Dewa dan sukses membuat dada Rando seperti terbakar.


.


__ADS_2