Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 46. One reason


__ADS_3

Rando nyaris saja limbung jika Steve tak sigap menangkap tubuhnya. Berita yang barusan dia dengar sontak membuat kepalanya terasa sakit. Menyerang relung terdalam. Mengejutkan akal sehatnya.


Ia pun duduk sembari memijat keningnya yang terasa pening. Mengabaikan tatapan datar Arman yang sesungguhnya kaget dengan reaksinya. Pantas saja ia kerap merasakan getaran aneh saat menatap mata jernih Joshua.


Penerus keluarga Ferdinand itu kini memejamkan matanya. Memikirkan satu kenyataan yang mendadak membuat dadanya sesak.


" Kau bisa mencari tahu lebih dalam lagi ke rumah mantan istriku jika kau kurang percaya. Atau...kau bisa melakukan DNA tes jika kau mengira aku bohong. Sekarang, mana uangnya?" Aku tidak punya banyak waktu!" seru Arman.


Rando yang tak bisa lagi berpikir jernih langsung menyerahkan secarik kertas yang sudah terbubuh tandatangannya kepada Arman. Steve yang kesal dengan Arman yang tak punya empati, menatap geram pria mabuk yang kini menciumi selembar kertas bernilai fantastis itu dengan gaya serampangan.


Sepeninggal Arman, Steve terlihat mengambilkan Rando segelas air putih. Pria itu belum pernah melihat Rando sehancur ini.


" Minum ini dulu bos!" kata Steven menyodorkan segelas air.


Rando mengikuti permintaan Steve yang wajahnya kini khawatir. Ia meminum air tersebut hanya dalam beberapa tegukan saja. Menegaskan sekacau apa dia saat ini.


" Steve, minta orang- orangmu untuk mencari tahu soal ini. Kepalaku benar- benar terasa sakit Steve!" lirih Rando dengan mata yang masih terpejam.


.


.


Arman merasa lega karena sebentar lagi ia akan terbebas dari siksaan hutang piutang yang di sebabkan oleh istri mudanya. Ia sudah lelah hidup bersembunyi. Persetan dengan mantan istri pertamanya yang pasti akan geram jika mengetahui hal ini.


Ia tak memiliki pilihan. Lagipula, menurut Arman pria kaya itu harus tahu soal Joshua. Meskipun ia memiliki sifat brengsek hingga ke tulang, tapi ia masih punya sedikit kewarasan soal status Joshua.


Sejarahnya, bertahun- tahun yang lalu Arman datang menemui Diandra di rumah gono- gini mereka yang jauh dari pemukiman warga. Ia terpaksa datang karena satu hal penting yang cukup mendesak.


Ia ingin membahas penjualan rumah itu kepada Diandra karena ia sudah menikah lagi dengan seseorang dan sedang butuh biaya untuk hidup mereka sehari- hari.


Namun setibanya ia di lokasi, Arman menjadi curiga manakala pintu rumah tertutup rapat. Tak biasa- biasanya hal itu terjadi.


Pria itu juga tahu jika mantan istrinya berada di rumah sebab kendaraan milik Erika tengah berada di garasi. Kebetulan sekali pikirnya. Ia yang penasaran lantas memanjat dinding menuju kamar Diandra karena tak ada akses lain.


Namun sesampainya ia diatas, alih-alih membuat penghuni rumah terkejut, justru ia sendiri lah yang di buat terkejut manakala mendapati Diandra berbaring dengan wajah kesakitan yang sudah bersimbah darah dan keringat.


Diandra melahirkan.


Ia yang panik langsung memecahkan kaca jendela kamar lalu masuk dengan berang. Ia marah kepada semua orang tanpa terkecuali. Bahkan satu orang tenaga medis yang membantu proses kelahiran tersebut tak luput dari kemarahan Arman.


Ia sangat marah. Bahkan termasuk kepada dirinya sendiri. Ia benar-benar seorang Papa yang tak becus mengurus anak sehingga hal memprihatinkan seperti ini harus terjadi.


Namun mendengar cerita dan permohonan dari sang anak yang menangis histeris, membuat Arman akhirnya tutup mulut hingga sekarang.


Tapi semua itu berubah saat ia sedang berada dalam situasi terdesak. Apalagi, diam- diam selama beberapa hari ini Arman mengikuti perkembangan Joshua. Termasuk saat Joshua diantar oleh nyonya Ferdinand.


Melihat adanya kesempatan emas, pria itu tak mau menyia-nyiakan. Meski itu artinya, ia telah melanggar janji kepada Diandra. Janji yang seharusnya tak ia bongkar sekalipun dengan dalih apapun.


"Maafkan papa Diandra. Tapi papa sangat membutuhkan uang ini!"


...----------------...


Yean langsung menghajar orang yang telah melukai Dewa sampai orang itu tak sadarkan diri. Entah mati, entah karena pingsan. Ia tak peduli.


" Dewa! Kau tak apa?" kali ini Zilloey yang mendatangi Dewa terlihat sangat khawatir.


" Hanya luka seperti ini. Ayo sebaiknya kita bergerak masuk!" balas Dewa yang tak ingin membuat misi mereka berantakan.


" Tapi..."


" Cepat, kita tidak punya banyak waktu!" potong Dewa dan membuat ucapan Zi menguap.


Zilloey akhirnya berlari menuju ke dalam menyusul Dewa. Meninggalkan Yean dan Rayyan yang berduel dengan cecunguk brengsek di luar sana. Dan ternyata benar dugaannya, ibu walikota sedang di kamar di sebuah kursi dengan mulut tertutup.


Dewa yang paham akan situasi ini bersiap menarik senjata di balik punggungnya sembari memberikan kode kepada Zilloey yang juga paham.


KLAK KLEK


See?

__ADS_1


Benarkan dugaan mereka berdua? Kini kedua laki- laki itu di kepung oleh sekitar tujuh orang. Membuat ibu walikota semakin histeris karena ketakutan.


" Letakkan senjata kalian!" teriak seseorang yang mengenakan jaket kulit sembari menodongkan senjata.


Dewa dan Zilloey saling menatap. Mereka perlahan-lahan hendak menurunkan senjatanya tapi sejurus kemudian.


BUG!


KLOTHAK!


Satu tendangan keras Rayyan berhasil membuat senjata di tangan musuh terlempar.


BUG!


Dengan sigap dan begitu terlatih, keduanya berduet menghajar musuh negara itu tanpa ampun.


DUG


BRUAK!


Para musuh meringis kesakitan. Tak mengira jika yang kini mereka hadapi adalah yang terbaik dari yang terbaik. Dan saat mereka hendak bangkit kembali untuk menyerang, bala bantuan terlihat datang dengan time frame yang nyaris meleset.


Dor Dor Dor!


Kini, baik Dewa maupun Zilloey seketika menahan napas dengan tubuh menegang, lantaran wajah mereka nyaris saja terserempet timah panas yang di lesatkan oleh Rayyan. Sialan!


Tapi melihat Yean yang sigap datang kepada Ibu walikota, Dewa dan Zilloey langsung menghela napas penuh kelegaan secara bersamaan. Setidaknya, mereka tidak jadi mati konyol. Dasar Rayyan!


" Ibu, apa anda baik-baik saja?" tanya Yean dengan wajah cemas.


Walikota itu mengangguk.


" Permisi!" kata Rayyan yang mendekat sembari meletakkan tangannya pada penutup mulut ini walikota.


SRAAAK!


Rayyan meringis sendiri saat ia mendengar jerit kesakitan ibu walikota manakala ia melepaskan lakban yang menutupi mulut beliau. Membuat ketiga sahabatnya menatap sebal.


" Pelan- pelan brengsek!" dengus Zilloey kepada Rayyan yang benar-benar tak sengaja.


" Aku tidak sengaja sialan!" jawab Rayyan mengerucutkan bibirnya.


Ibu walikota yang mendengar perdebatan ke empat pria gagah itu kontan tersenyum. " Tidak sakit kok. Ibu hanya kaget!"


Rayyan langsung tersenyum penuh kemenangan saat mendengar nota pembelaan. Sementara Zilloey, Dewa dan Yean semakin mendengkus kesal. Bisa- biasanya bersikap konyol di hadapan walikota. Membuat malu saja!


Mereka akhirnya membebaskan ibu walikota lalu mengamankan wanita nomor satu di Santara itu dengan sangat hati-hati.


" Pegasus team, misi selesai!"


.


.


Beberapa waktu kemudian.


" Kerja bagus kawan, yeah!" seru Zilloey bersukaria mengajak ketiga sahabatnya berselebrasi.


Semua saling berhigh five sesaat setelah pesawat tentara angkatan udara meninggalkan dermaga dengan membawa ibu walikota menuju kota Santara. Sungguh misi yang cukup membuat adrenalin naik turun.


" Buka bajumu?" seru Yean tiba- tiba dan membuat Rayyan mengerutkan keningnya.


" Yean. Kau harap kau bukanlah..."


" Diam sialan. Aku ingin memeriksa luka Dewa!" hardik Yean sebab ia tahu jika Rayyan mulai ngelantur.


Dewa lantas menaikkan pakaian hitam yang sedikit lembab karena darah. Dan saat baju hitam itu dibuka, ketiga pria itu meringis nyeri demi melihat sobekan panjang di sekitar perut samping Dewa yang lukanya lumayan parah.


" Biar aku obati!" kata Rayyan berniat menyentuh luka itu.

__ADS_1


Tapi Zilloey buru- buru menampik tangan Rayyan. " Jangan!"


" Hah, kenapa?"


" Itu bagian dokter cantik!" kata Zilloey menaik-turunkan kedua alisnya dan membuat kesemuanya tertawa.


" Astaga kau benar!"


Dewa yang di ledek justru tersenyum- senyum sendiri. Semakin tak sabar ingin menemui Diandra karena kini ia punya alasan untuk bertemu.


Keesokan paginya, Dewa ingin menggunakan alasan kontrol luka untuk menemui Diandra di rumah sakit. Ia membawa sebuah buket bunga juga sebuah hadiah kecil sebagai permintaan maafnya karena pergi tanpa pesan. Berharap suatu saat Diandra akan terbiasa dengannya yang seperti ini.


Tapi barusan menginjakkan kakinya di lobi, raut wajah yang semula berseri kini berubah keruh demi melihat Rando yang tiba-tiba menghadang langkahnya. Ia mencoba mengabaikan namun tangan Rando menahan dada Dewa.


" Jika kau berniat menemui Diandra maka sebaiknya langkahi dulu mayatku!" ucap Rando terdengar sangat serius.


" Apa maksudmu?" balas Dewa menatap tajam.


Rando yang terlihat tak mau basa- basi tampak maju menantang Dewa." Dengar, aku tidak suka ada pria yang mengusik keluargaku!"


Dewa terkekeh tak mengerti. Keluarga? Keluarga apa maksudnya? " Kau selalu membuang waktuku!"


" Kubilang berhenti!" ancam Rando kali ini mencengkeram lengan Dewa.


Suasana pun berubah menjadi sangat panas. Dewa lantas diam seraya menatap geram Rando yang matanya memerah.


" Diandra adalah ibu dari anakku. Maka sebaiknya, jauhi dia!"


What?


Dewa semakin tak mengerti dengan ucapan ngawur Rando. Pria itu mengira jika Rando telah kehilangan akal sehatnya. " Omong kosong apa ini?"


" Aku serius Dewa. Diandra adalah ibu dari anakku. Kami pernah melakukannya dan itu yang menjadikan alasan Joshua ada di dunia ini!"


DEG!


Dewa kontan meneguk ludah. Belum bisa dengan jelas mencerna apa yang barusan ia dengar tapi raut tegang kala berucap semakin menegaskan aura keseriusan.


" Joshua adalah anak kandung Diandra. Bukan adiknya. Dan aku, aku adalah ayah dari anak itu!" tunjuk Rando ke arah dada dengan wajah menggebu-gebu. Membuat mata Dewa membulat.


Dewa masih berdiri menatap Rando yang menahan kemarahan. Pikirannya mendadak kosong. Buntu, tak tahu harus berbuat apa. Dan di saat keduanya masih larut dalam ketegangan, dari arah lobi dalam Diandra terlihat berlari dengan wajah panik sebab seseorang barusaja memberitahunya jika kapten Dewa datang dan bertemu Rando dengan aura permusuhan.


" Kapten!" panggil Diandra yang khawatir sebab sang Mama baru mengabarkan jika papanya yang brengsek itu telah memberitahu Rando soal rahasia mereka. Takut kalau-kalau Rando mengatakan hal ini kepada Dewa.


" Kapten!" ucap Diandra dengan napas memburu seraya memegang lengan Dewa yang berdiri menahan amarah.


" Katakan jika yang dia ucapkan barusan salah!" kata Dewa setengah tercekat sebab dadanya mulai merasakan ketidakberesan.


DEG!


Diandra merasa bahwa bom yang selama ini ia bawa kemana-mana akan meledak. Membumihanguskan seluruh hidupnya tanpa tersisa.


" Kapten Deng..."


"Katakan saja, benar atau tidak kau mengandung anak pria ini, jawab dokter!" teriak Dewa memotong kalimat Diandra dan membuat kiamat itu semakin dekat.


Habislah sudah!


Maka dada Diandra seketika sesak usai di bentak oleh Dewa yang tampak kecewa. Air matanya berjejalan bahkan tiada lagi bisa ia bendung.


" Jawab dokter!" teriak Dewa dengan lebih keras bahkan sampai membuat orang yang hilir mudik di sekitar mereka sampai menoleh.


Diandra menangis dengan tubuh bergetar. Jelas Rando sudah mengatakan kenyataan pahit itu kepada Dewa. Andai ia mendengarkan Aldi sejak awal. Tentu rasanya tak akan sesakit ini.


" Maafkan aku kapten. Maaf!" lirih Diandra dengan dada sesak dan memilih pergi sebab tak kuasa menahan rasa malu juga kesedihan.


Bunga yang semula di pegang Dewa seketika terjatuh saat Diandra pergi berlari meninggalkan Dewa yang tertampar satu kenyataan. Bunga itu jatuh, pun dengan sebuah hadiah kecil yang sudah ia siapkan khusus untuk Diandra.


Rando yang melihat Dewa tercenung kosong terlihat menatap datar Dewa lalu pergi meninggalkan pria itu dan mengejar Diandra. Sejurus kemudian, usai mengusap wajahnya yang basah, Dewa lantas mengambil kembali bunga itu lalu membuangnya ke tong sampah. Pria itu pergi dengan dada penuh kemarahan sekaligus kekecewaan.

__ADS_1


__ADS_2