Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 53. Kemana dokter Diandra?


__ADS_3

PRYANG!


Joshua sampai berlari sebab dapur yang semula sunyi mendadak gaduh.


" Mama!" pekik Joshua kepada Mama Erika yang sudah berjongkok sembari memunguti serpihan beling. Ya, bocah itu masih bertahan memanggil neneknya dengan sebutan Mama.


" Tolong ambilkan sapu dan kain Jo!" pinta mama Erika yang mengetahuinya Joshua datang dengan raut panik.


Mama Erika tak tahu kenapa tiba-tiba mangkuk besar berisikan udang saus merah yang barusaja ia masak jatuh ke lantai.


Beberapa saat kemudian, Joshua datang dengan wajah khawatir. " Kenapa bisa jatuh?"


" Mungkin karena Mama kurang hati-hati!"


Tapi bahkan sebelum mengatakan hal itu, perasaan Mama Erika sebenarnya sudah tidak enak. Sedari memasak tadi mama Erika terus memikirkan Diandra dengan hati gelisah. Ia sendiri tak tahu apa yang terjadi, tak biasannya ia di dera rasa setaknyaman ini.


Apa karena Arman yang kemarin datang kerumahnya mengatakan jika keluarga Ferdinand ingin bertemu? Atau karena ada sebab lain? Membuat sebongkah kegelisahan kian menyiksa.


Dan melihat Joshua berdiri di hadapan dengan wajah murung, tiba-tiba terbesit satu hal yang membuat Mama Erika berkata kepada anaknya.


" Jo, ambilkan ponsel Mama. Mama ingin menelpon Diandra!"


.


.


Sementara itu di tenda pengungsian, Wina yang melihat ponsel dokter Diandra terus bergetar mengerutkan kening. Kemana dokter itu pergi? Kenapa ponselnya di tinggal?


Ia melihat nama Mama dokter Diandra rupanya yang memanggil. Tapi ia tak mau lancang menjawab. Ia lebih memilih keluar dan mencari dokter Diandra.


Dan pucuk dicita ulam tiba. Wina yang melihat Iwan langsung merasa lega.


" Psssttt! Psssst!" ucapnya bersisat-sisut kepada dua pria berseragam yang sedang melintas di depannya.


" Psssttt! Psssttt!"

__ADS_1


Lagi, Wina mendesis semakin keras manakala Iwan yang sibuk berbincang dengan seorang petugas rescue lewat di hadapannya.


 Iwan yang mendengar suara itu reflek menoleh. Tapi bukannya mendapat jawaban, ia malah dibuat bodoh sebab tak mengerti isyarat aneh Wina yang di tunjukkan kepadanya.


" Apa?" katanya tak mengerti.


Wina menggerakkan wajahnya meminta Iwan mendekat dengan gerak bibir yang terbilang aneh. Membuat kedua pria di depannya saling menatap tak mengerti.


" Apa sih?"


" CK, kemarilah sialan!" teriak Wina yang membuat laki - laki berseragam oranye di samping Iwan mendelik. Wina benar-benar tak menyangka jika pria itu lebih bodoh dari yang Wina kira.


 Dasar LoLa (loading lama!)


" Nanti aku akan ke sana. Kau duluan!" ucap Iwan kepada rekannya agar gak menunggu dirinya yang tiba-tiba di panggil Wina.


Pria berbaju oranye mengangguk. Meski ia heran, bagaimana bisa Iwan tak marah usai di sebut 'sialan' oleh perawat berbibir tipis itu.


" Ada apa?" tanya Iwan dengan wajah mendengkus.


" Apa kau melihat dokter Diandra? Ibunya telepon terus dari tadi."


Wina memindai tampilan Iwan dan melihat sebuah radio komunikasi menempel di pinggangnya. " Kau bawa HT kan. Panggil dia dari radio itu!"


Iwan yang dimintai tolong langsung melakukan apa yang Wina minta.


" Kapten monitor!" ucapnya sembari menekan HT.


" Yean Roger!"


 Rupanya Kapten yang menyahut lebih dulu.


" Emm maaf Kapten. Apa dokter Diandra masih ada di tenda?"


" Sudah pergi!"

__ADS_1


" Baik terimakasih!"


Wina seketika mengerutkan kening. Kalau sudah pergi mengapa belum kembali?


" Kau dengar sendiri kan?"


" Kemana dia terus?" gumam Wina sambil tampak berpikir, " Coba kau tanyakan ke unit lain, siapa tahu ada yang melihat!" pintanya sekali lagi.


lagi-lagi, Iwan langsung mengangguk dan melakukannya. Ia memanggil semua unit mulai dari pos penjagaan, tenda komunikasi, tenda bantuan logistik, tenda obat-obatan, unit medis dari pangakalan angkatan darat, laut dan udara, unit rescue, Damkar, pos relawan daerah, hingga ke dapur umum. Tapi semua nihil. Tak satupun tempat yang di tanya menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan dokter Diandra.


" Kemana dia ya?" resah Wina yang kini bingung harus bagaimana.


Dan rupanya, keriuhan yang tejadi di saluran udara handy talky barusan, turut sampai ke telinga Dewa, Zilloey, Rayyan dan Yean. Mereka juga menjadi penasaran, kenapa dokter itu sampai di cari dan menghebohkan semua orang?


Dan jawabannya baru mereka dapat saat hari telah berganti, dimana Wina berlari ke tenda Kapten dan bertemu dengan Zilloey yang telah keluar lebih dulu.


" Anda Kapten juga kan?" todong Wina yang wajahnya menunjukkan keresahan.


Zilloey mengangguk sembari memindai wajah Wina yang pias dan panik. " Ada apa?"


" Kapten, dokter Diandra sejak semalam tak kembali. Bisakah anda membantu mencarinya?"


" Apa? Kenapa kau baru bilang!"


" Mana saya tahu kalau dia tak juga kembali sampai pagi ini. Kapten Yean berkata semalam dokter sudah kembali dari tenda ini. Kami pikir mungkin dokter sedang berkeliling area pengungsian. Ya sudah, kamu terus kembali beristirahat di tenda masing-masing. Tidak tahunya, dokter Diandra pagi ini dia belum juga kembali!" ucap Wina murung.


" CK!" Zilloey mendecak dan langsung memerintahkan anak buahnya untuk mencari dokter Diandra melalui saluran khusus anggotanya.


Dan beberapa saat kemudian saat keduanya masih larut dalam ketegangan, radio di pinggang Zilloey kembali berbunyi.


" Kapten monitor!" ucap seorang anggota.


" Go ahead!"


" Kami menemukan id card dokter Diandra di dekat jalan menuju hutan!"

__ADS_1


DEG


Maka Zilloey segera menyadari jika apa yang pernah di sampaikan oleh komandannya sesaat sebelum mereka naik helikopter tempo hari, adalah benar adanya.


__ADS_2