Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 60. An Asylum seeker


__ADS_3

Di belahan bumi lain, keluarga Ferdinand sedang berkumpul dengan permasalahan yang tak biasa. Jika biasanya tak ada hal yang tak bisa di bereskan sekalipun itu menyangkut masalah hukum, namun kali ini otak mereka di paksa berpikirlah keras usai mendengar sejumput cerita yang di haturkan oleh Rando.


" Mama Diandra menutup pintu maaf untukku!" jawab Rando tertunduk lesu. Terlihat guratan keresahan yang mengundang rasa iba.


" Sebaiknya kita tempuh jalur hukum saja. Pokoknya Mama tidak mau tahu, Mama ingin bertemu Joshua Ran. Mama bisa gila jika terus seperti ini!" keluh nyonya Ferdiand yang hatinya meluap-luap ingin bersua dengan sang cucu.


Membuat Rando menjengit kesal." Mama jangan bercanda, memang seharusnya kita mendapatkan semua ini!"


Kesemuanya larut dalam kerisauan. Namun beberapa menit kemudian, melihat istrinya yang tampak begitu sedih, tuan Ferdinand langsung memilih pergi.


" Papa mau kemana?" tanya nyonya Ferdinand.


" Mencari solusi!"


.


.


Anka pukul 00. 18


Maeda terlihat perlahan-lahan membuka mata. Ia lantas berusaha mendudukkan diri meski kepalanya terasa begitu berat dan kesemua lukanya terasa nyeri. Ia mencoba mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan mendapati diri berada di sebuah pembaringan yang keras. Mungkin Tom yang membawanya. Siapa lagi? Sebab terakhir kali masih sadar, ia teringat meminta Tom untuk mengamankannya obat-obatan sebelum semuanya terasa gelap.


Tapi yang berhasil mengundang satu keterkejutan, terdapat seorang perempuan yang tertidur dengan posisi duduk dengan kepala yang di letakkan di pinggir ranjang keras itu. Diandra.


" Perempuan ini? Apakah dia semalaman menjagaku?" katanya dalam hati sembari terus kencang berpikir.


Namun sahutan selanjutnya berhasil memicu keterkejutan.


" Ah, kau sudah bangun?" ucap Diandra dengan suara parau. Perempuan itu terbangun saat merasakan getaran di ranjang usang tersebut.


"Diamlah dulu, biar aku periksa. Ini lebih cepat dari prediksiku!" sambungnya sembari mengambil beberapa peralatan.


Maeda tak sempat menjawab sebab Diandra keburu mengarahkan senter khusus ke kedua bola matanya. Perempuan itu tampak begitu sigap dalam merawat.


" Aku tidak percaya kau bisa melewati ini semua!" tukas Diandra yang tak percaya jika Maeda sekuat itu.


" Kenapa kau masih di sini?" balas Maeda yang malah keluar dari topik.


Diandra yang hendak menuju lemari kayu untuk meletakkan beberapa peralatan, tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Maeda. " Maksudnya?"


" Kau memiliki kesempatan untuk kabur. Tapi, kenapa malah bertahan di sini?"


Diandra tertegun menatap senyum getir seorang pria tampan yang masih pucat. Maeda benar. Ia bisa kabur jika dia mau. Tapi sebagai dokter, ia tak mungkin meninggalkan pasien walau bagaimanapun keadaannya. Itulah janjinya. Itulah sumpahnya.

__ADS_1


" Kau banyak omong. Kembalilah berbaring, aku akan mengambilkan minum untukmu!" balas Diandra yang entah mengapa tiba-tiba menjadi sedih kala mendengar hal itu.


Meskipun mereka adalah komplotan pemberontak, tapi perlakuan Maeda terhadapnya tak biasa. Apalagi, ia ingat saat pria itu menghunuskan pedangnya kepada musuh hanya demi melindunginya.


Dan alih-alih marah, Maeda justru tersenyum saat Diandra memarahinya. Sungguh wanita yang berbeda menurutnya. Dan sekembalinya Diandra dari mengambil air, Maeda bisa memperhatikan wajah lelah Diandra dari dekat. Pria itu tak hentinya menatap seraut cantik yang terlihat sedikit kuyu.


" Kenapa kau melihatku seperti itu?" kesal Diandra yang tahu jika ia terus-menerus di tatap oleh si pemilik luka terbanyak.


" Tidak ada. Di culik seperti ini, kekasihmu pasti akan membunuhku jika berhasil menemukan kita!" kelakar Maeda yang memperlihatkan deretan giginya yang bersih dan rapi.


" Aku tak punya kekasih!" sahutnya ketus. Mendadak kesal dengan semua yang telah terjadi.


Maeda semakin terkekeh mendengar jawaban sewot yang di lontarkan. Sungguh membuat wajah perempuan yang sibuk membereskan beberapa peralatan itu menjadi semakin menggemaskan.


" Bagiamana bisa perempuan cantik dan berbakat sepertimu tak memiliki kekasih. Padahal, perempuan sepertimu ini bisa mendapatkan seorang direktur, pejabat, bahkan petinggi tentar..."


" Jangan banyak omong, minum ini!" semburnya kepada Maeda yang malah terkekeh-kekeh saat Diandra menyumpal mulut Maeda menggunakan gelas dengan wajah bersungut-sungut.


Pria itu menatap punggung Diandra yang terus saja mengomel dengan senyuman yang tak memudar. Sudah sangat lama sekali ia kehilangan senyumannya. Dan bertemu dengan Diandra dalam keadaan yang tak mendukung seperti ini, membuat jiwanya yang gersang bagai menemukan titik oase.


Sepanjang menunggu Maeda menghabiskan minumnya, Diandra memilih mencuci tangannya di bak usang dengan pikiran yang melayang kepada Dewa. Apa diantara mereka ada yang tahu jika dia berada di antah berantah seperti ini?


Tapi tanpa seorangpun tahu, ia sudah berjanji dalam hati untuk tak akan lagi berharap. Ia tahu diri. Dewa sudah terlampau benci kepadanya.


Membuat perempuan itu terperanjat dari lamunannya. " Apa sih?" omelnya kesal.


Maeda menggeleng-gelengkan kepalanya sembari terkekeh. " Kau pasti sedang memikirkannya cara untuk kabur ya?"


" Sok tahu!"


Diandra kini menyajikan makanan yang tadi sudah di siapkan oleh Tom meski kesemuanya telah dingin.


" Ini, makanlah. Tom tadi datang dan membawakan makanan ini. Dia sangat panik saat kau tak sadar. Berhentilah menyusahkan orang lain!" serunya dengan wajah berengut.


Maeda langsung berubah murung saat di katai seperti itu oleh Diandra. Tapi bukan karena sakit hati, melainkan ucapan itu mengingatkan dirinya kepada seseorang yang sangat dia sayangi. Ibunya.


Diandra yang melihat Maeda melamun menjadi tak enak hati sendiri. Mengira jika pria itu telah tertampar ucapannya.


" Ini makanlah. Setelah ini minum obatmu!" ucapnya dengan nada yang merendah.


Namun sebelum pergi, Maeda berhasil menangkap lengan Diandra dan membuat keduanya bertemu pandang.


" Maaf sudah menyusahkan mu. Tapi aku berjanji aku akan membayar semuanya nanti. Jika mimpiku sudah terwujud, kau adalah orang pertama yang akan aku cari dokter!" ucap Maeda dengan suara sendu.

__ADS_1


Diandra tertegun untuk beberapa saat hingga membuat suasana hening.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


" Mimpi? Mimpi apa?"


" Apa yang kau bicarakan? Sudahlah, kau tak cocok memasang muka sedih!" kilahnya sebab ia tak mau larut ketika dadanya mulai merasakan kesesakan.


Diandra melepaskan tangannya perlahan-lahan, ia pergi sedikit menjauh dari Maeda sebab kenyataan ini membuatnya teringat dengan keluarganya.


" Kau jangan takut dokter!" ucap Maeda yang mengira jika Diandra melangkah pergi karena takut kepadanya, " Kau adalah orang baik yang pernah aku kenal!"


Dan entah mendapat keberanian dari mana, usai mendengar hal itu, Diandra tiba-tiba membalikkan tubuhnya lalu menatap sungguh-sungguh wajah Maeda sembari mengajukan satu pertanyaan.


" Siapa sebenarnya kau?"


Kali ini, Maeda tampak menghela napas. Tidak tahu kenapa, ia merasa jika Diandra ini adalah orang baik. Apakah sebaiknya ia berterus terang saja? Tapi, bagaimana jika dokter itu akan melaporkan kepada pemerintah?


" I'm an asylum seeker!" jawabnya dengan wajah putus asa.


DEG


" Apa?"


Diandra terkejut bukan main. Hidup seperti apa yang mereka jalani selama ini?


" Dulu aku adalah kapten pasukan khusus." terangnya dengan rata menerawang, "Tapi setia terhadap komando juga pemerintahan malah membuatku terusir dari negaraku sendiri. Orangtuaku di bantai. Dan negara kami di kuasai rezim keji!"


" Ja-jadi, ka-kalian?"


Maeda mengangguk seolah ingin memberi penegasan kepada seraut pias yang hanyut dalam keterkejutan.


" Aku ingin berdiplomasi dan meminta bantuan secara sembunyi-sembunyi kepada negara ini. Namun sepertinya, negara ini sendiri banyak sekali mendapatkan serangan dari dalam. Orang yang kemarin menyerang kita adalah orang yang membuatku terluka. Mereka adalah pemberontak di negaramu, dokter. Mereka juga salah satu kaki tangan orang yang membuat negaraku terjajah. Aku ingin sebuah kebenaran dokter, aku ingin tanah airku kembali!"


.


.


NB:

__ADS_1


Asylum seeker atau pencari suaka adalah Orang-orang yang terusir dari negerinya dan mencari suaka (asylum) ke negeri lain.”


__ADS_2