
Jika Diandra masih berusaha meyakinkan diri bila ia memang tak jadi jatuh karena tangan kekar pria yang sedang menopangnya, berbeda lagi dengan Deby yang menatap tak percaya ke arah Dewa yang tiba-tiba datang dan menyangga tubuh Diandra dengan jarak yang begitu dekat. Tak hanya itu, ia bisa melihat bila sang mantan kekasih terlihat begitu geram terhadap suaminya.
Ya, Dewa yang mendengar laporan soal pasien yang kabur langsung pergi menuju ke depan. Dan begitu tiba di lokasi, ia malah melihat adegan kekerasan yang dilakukan suami Deby kepada salah satu dokter relawannya.
" Jika tahu perlakuanmu seperti ini lebih baik aku membiarkan anak istrimu terjebak di sana!" seru Dewa geram dan membuat Deby dan Diandra semakin membulatkan matanya.
Semarah itukah Dewa?
Suami Deby yang mendengar hal itu nampak turut terkejut. Jadi Dewa yang sudah menolong anak dan istrinya. Tapi karena gengsi, pria itu masih meneruskan sikap ketusnya.
" Memangnya apa urusanmu?" ketus suami Deby menatap kesal Dewa.
" Tentu saja ini urusanku! Apa matamu buta sehingga tak bisa melihat?" balas Dewa tak kalah ketus. Membuat suami Deby malu.
" Ahhh, banyak omong. Sudah, ayo sayang lebih kita pergi!" seru sang suami seraya menggeret lengan lemah Deby.
" Tunggu sebentar!" sergah Deby yang tak enak hati menatap ke arah Diandra juga Dewa.
" Ahhh! Ayo! Kau jangan membantah! " hardik sang suami yang membuat nyali Deby runtuh seketika.
Deby akhirnya masuk dengan mata yang mengembung cairan. Dadanya dipenuhi kesedihan. Antara masih ingin berbicara dengan Dewa, dan takut kepada sang suami.
Dewa dan Diandra yang tak bisa mencegah orang bebal itu hanya bisa menatap mobil yang melaju kasar itu seraya menghela napas mengumpulkan kesabaran. Dewa merasa sedikit kasihan terhadap Deby, namun sakit hatinya jauh lebih besar.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Dewa menatap khawatir Diandra. Mencoba mengalihkan pikirannya.
Diandra menggeleng. " Aku tidak apa-apa. Terimakasih sudah menolongku sekali lagi!" ucap Diandra menatap tulus wajah tampan Dewa.
Dewa hanya mengangguk. Menata wajah manis Diandra namun sejurus kemudian memilih berpaling sebab mendadak canggung.
" Apa...anda juga mengenal orang tadi?" tanya Diandra kembali dengan hati-hati. Tak ingin membangkitkan kembali amarah dalam dada Dewa.
" Tidak! Aku tidak mengenal orang itu. Sudahlah. Lebih baik kita segera kembali. Aku harus segera melaporkan orang itu tadi!" jawab Dewa.
__ADS_1
Diandra menatap punggung Dewa yang berjalan mendahuluinya dengan wajah murung. Sudah berkali-kali ia diselamatkan oleh pria jantan itu. Ia semakin merasakan sesuatu yang sulit ia tahan soal perasaannya. Apakah itu hanya sekedar kagum? Ataukah mengandung makna lain? Tapi teringat akan kenyataan selalu membuat semuanya sirna begitu saja.
Pria itu juga terlihat sangat marah tadi. Ia kini tahu, Dewa sepertinya benar-benar tidak memaafkan kesalahan wanita tadi. Kesalahan yang sama dengan dirinya di masalalu.
...----------------...
Hari berganti. Meski mendung belum mau berarak ke wilayah lain, namun hujan tak lagi mengguyur wilayah Tidom. Membuat debit air perlahan-lahan surut. Dewa yang sudah memastikan jika tak ada lagi korban yang terjebak, kini berpindah ke daerah jembatan yang aksesnya terputus total.
Disana sudah ada Iwan yang mengepalai ratusan prajurit. Namun sepertinya, siang ini mereka kedatangan orang tidak tahu diri.
" Anda tidak boleh masuk!" sergah seorang tentara kepada pria berjas yang nampak ngeyel.
" Apa kau tuli? Sudah kukatakan ada barangku di sana! Apa pangkatmu. Bahkan barangku ini lebih berharga daripada seragammu sialan!" maki pria berjas yang terlihat kesal bukan main.
Iwan yang selalu serius terlihat tak tahan manakala melihat orang keras kepala yang sangat egois terhadap juniornya. Pria itu meninggalkan kesibukannya dan memilih menuju ke lokasi debat.
" Hey brengsek! Apa kau tidak membaca marka disana?" tukas Iwan yang sedari tadi berusaha menahan diri.
Pria itu menoleh lalu menatap Iwan dengan tatapan memindai. " Siapa kau? Aku tidak ada urusan denganmu!"
Pria itu tertawa melecehkan. " Heh! Kau ini hanya aparat bergaji rendah. Berani-beraninya kau mem..."
Namun kesabaran setipis tissue milik Iwan membuat si pria langsung merasakan buah omong kosongnya tanpa menunggu waktu yang lama.
BUG!
" Hey! Apa-apaan kau!" teriak pria berjas.
BUG!
Iwan yang geram langsung melayangkan bogem mentah kepada pria kurang ajar itu. " Kami berhak menindak tegas masyarakat yang menghalangi jalannya evakuasi!"
Para prajurit yang melihat Iwan berang kini berusaha mencegah pria yang barusaja melayangkan kepalan tangan ke wajah pria egois itu. Situasi mendadak mencekam.
__ADS_1
" Sudah kami katakan. Jangan membuat keributan disini. Bahkan senapan kami di halalkan untuk meledakkan anda jika membuat masalah di tempat ini!" seru seorang prajurit lain yang sudah jengah dengan perbuatan pria itu.
Melihat tidak adanya kesempatan lagi. Pria berjas itu memilih mundur. " Awas kau!"
Pria yang merasakan kedut di pipi itu memilih pergi sebab ia akan mati jika terus berada di sana. Ia kini pergi dan menuju ke sebuah kantor mewah dan berharap bisa mendapatkan bantuan.
" Kenapa wajahmu?" tanya pria bermuka garang kepadanya.
" Maaf bos. Tapi saya tidak bisa masuk. Tentara disana sangat fanatik! Mereka bahkan menganiaya saya!" kata pria itu ketakutan.
" Jadi itu hasilmu berdiplomasi? Benar-benar tidak berguna!"
Pria itu mengangguk dengan muka takut.
" Bodoh!" seru pria di depannya dengan wajah murka. Benar-benar tidak bisa di andalkan.
Rando yang melihatnya assitennya memarahi sang manager hanya bisa menghela napas. Kenapa semua orang tidak becus hanya untuk berdiplomasi saja?
" Steve!" teriak Rando memanggil.
" Ya pak?"
" Antar aku ke lokasi!"
Pria bernama Steve itu mengangguk. Mereka lantas menuju ke lokasi longsor dan meninggalkan wajah bonyok itu seorang diri. Rando yang beberapa waktu sering bolak-balik dari kotanya ke Tidom terlihat gelisah saat barang-barang berharganya ada yang tertimbun longsor.
" Aku ingin bertemu pimpinan di sini?" kata Rando sesaat setelah ia turun dari mobilnya.
" Anda siapa?" jawab seorang tentara bernama Ibon.
Steve terlihat memberikan kartu nama kepada penjaga. Namun saat mereka masih menunggu, sebuah mobil pengangkut prajurit dan dua unit mobil kesehatan tiba di lokasi. Membuat atensi kesemuanya teralihkan.
" Itu Pak Dewa. Beliau baru datang!" kata Ibon menunjuk ke arah Timur tempat dimana pria gagah berseragam sedang berjalan tegap ke arah mereka.
__ADS_1
Namun alih-alih menatap Pria yang di tunjukkan oleh penjaga itu, Mata Rando membulat demi melihat seorang perempuan cantik yang mengenakan jas putih khas dokter terlihat turun menunggu perlengkapan di bawah mobil.
" Diandra? Apakah itu Diandra?"