Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 66. Biasakan dirimu


__ADS_3

" Mandilah dulu. Aku akan memanaskan makanan sebentar!" Diandra melepaskan pelukannya sembari menahan tawa sebab tak mengira jika Dewa akan sejujur itu soal nasib perutnya.


Dewa mengangguk. Namun tanpa Diandra sadari, pria itu justru mengekor di belakangnya lalu memeluk Diandra dari belakang. " Maaf membuatmu menunggu!"


Diandra kontan menjadi merinding kala deru hangat mencumbu ceruk belakangnya. Ia menjadi senang-senang malu dibuatnya.


" Mandi sana!"elak Diandra menggoyangkan tubuh.


Dewa terkekeh. Pria itu sejurus kemudian melesat pergi usai mencium puncak kepala Diandra. Apakah bersama dengan orang yang tepat akan mendatangkan rasa sebahagia ini?


Dewa sangat bersyukur untuk itu.


Beberapa saat kemudian, pria itu sudah terlihat lebih segar dengan rambut basahnya yang tersisir rapi. Dewa mengenakan celana casual krem panjang berbahan katun dengan atasan sebuah kaos hitam. Terlihat lebih tampan berkali-kali lipat.


" Biar aku ambilkan!" seru Dewa saat ia sudah bergabung di meja makan.


Diandra mengangguk senang. Perempuan itu malam ini masak tak banyak. Tapi cukup untuk mereka berdua. Mereka akhirnya makan dalam suasana menyenangkan. Dewa juga memuji hasil masakan Diandra.


" Sweeping aku harus segera menikahimu agar bisa merasakan makanan ini setiap hari!" kata Dewa dengan mulut penuh.


Diandra langsung tersipu. Walau mereka masih harus sembunyi-sembunyi, tapi ia tak bisa membohongi diri jika ia sangat bahagia saat berada di sisi Dewa.

__ADS_1


Tapi saat asyik makan, ia malah tak sengaja melihat memar di lengan atas Dewa yang biasanya tertutup oleh seragam loreng.


" Kapten. Ini..."


Dewa menoleh menatap lengannya. Ia lupa menutupi bagian itu.


" Bukan masalah. Ayo lanjutkan makannya!" ucapnya mengabaikan.


" Tapi ini seperti luka baru!"


Kapten Dewa seketika meletakkan sendok dan garpu di tangannya. Ia menatap dalam Diandra yang terlihat resah. " Jangan pikirkan yang tidak perlu di pikir. Pekerjaanku memang seperti ini. Kuharap kau mulai terbiasa, hm!"


" Bagiamana Joshua. Apa kamu sudah menelponnya?" tanya Dewa sembari melanjutkan suapan.


Diandra menggeleng. " Dia masih marah!"


Dewa kembali tertegun. " Minggu depan aku akan meminta izin pulang! Kita bisa membicarakan hal ini pada Mama."


Diandra menghela napas. Mamanya pasti akan sangat setuju dengan Dewa meski mereka harus menutupi semua ini dari Lyara. Tapi yang jadi masalah adalah Joshua.


" Aku sebenarnya sudah meminta Mama untuk pindah kemari. Tapi Joshua masih marah!"

__ADS_1


Dewa merasa kasihan dengan Diandra. Ia tahu itu bukanlah hal yang mudah. Meski ia sendiri belum pernah merasakannya.


" Semoga hatimu semakin di lapangkan. Kita bisa ajak Rayyan nanti. Dia spesialis anak-anak!"


" Terus, kapten sendiri?"


" Aku spesialis ibunya!"


Diandra tak bisa menahan diri untuk tak tertawa. Jika di ingat-ingat, pria dingin itu kini sudah lebih mencair jika bersamanya. Ya, walau kadang jokesnya tak selicin Rayyan.


Selanjutnya Dewa meminta Diandra untuk beristirahat. Pria itu mengerjakan semua pekerjaan termasuk mencuci piring bekas pakai mereka. Dalam hati, Dewa berjanji akan segera mempercepat urusannya. Terlebih lagi, ada anak banteng yang musti ia taklukan.


Ia paham betul jika Rando tak akan tinggal diam. Tapi ia juga percaya, bahwa sesuatu yang di perjuangkan dengan sungguh-sungguh, tak akan datang dengan membawa kekecewaan.


" Pulangnya gimana?" tanya Diandra saat Dewa berjalan menuju ke arahnya usai meniriskan piring.


" Pulang? Siapa yang mau pulang hujan-hujan begini. Menginap lah!"


Membuat perempuan itu terkejut bukan main.


" Apa, menginap?"

__ADS_1


__ADS_2