Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 6. Jiwa ksatria


__ADS_3

Jika Diandra masih bergelut dengan hubungan pertemanan yang keruh, namun lain halnya dengan Rando yang kini sedang menikmati puncak karir kala menjabat sebagai direktur utama, di perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang pertambangan.


Sejak lulus sekolah dan melanjutkan studi soal ilmu bisnisnya, ia tak mengetahui kabar tentang para sahabatnya dulu termasuk Diandra. Ia bahkan tak tahu Diandra kini ada dimana. Ia hanya tahu bila Aldi kini menjadi seorang pengacara hebat yang memiliki firma hukum yang sangat terkenal di kotanya.


Sejak berada di sekolah menengah, Aldi memang menjadi sosok anak yang cerdas. Ia tak ragu akan itu. Tapi semakin dewasa, hubungannya dengan teman-teman saat sekolahnya dulu tak sebaik dulu. Bukan apa-apa, mereka semua kian sibuk. Bahkan tak jarang sudah ada yang menikah dan memiliki momongan.


TOK TOK!


Ketukan dari luar membuyarkan sedikit konsentrasi Rando pada layar tabletnya.


" Ya masuk!" titahnya sedikit berteriak.


Sejurus kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Rupanya sang sekretaris yang membuka pintu. Wanita berambut panjang itu berjalan tegap dan terlihat menyerahkan beberapa laporan penting kepada Rando.


" Pak, ini laporan keuangan bulan ini yang anda minta kemarin. Dan juga, kita ada tawaran dari Atana untuk mengirim beberapa kayu kepada perusahaan atas nama tuan Rajandra Sadawira!" ucap Magdalena dengan tatapan penuh arti.


Namun bukannya menjawab seputar bisnis, Rando malah menatap sekretarisnya sekilas. Merasa jika pakaiannya sekretarisnya itu terlalu terbuka dan kurang pantas.


" Lain kali jangan pakai rok seperti itu. Ini kantor! Buang pakaian yang norak seperti itu!" tukas Rando yang langsung memilih membuka lembar demi lembar laporan yang ia minta untuk di cetak.


Magdalena yang mendengar hal itu langsung sedikit kesal. Bukan tanpa alasan ia mengenakan pakaian itu. Ia memang sengaja ingin membuat bosnya itu tergoda. Tapi sepertinya, ia harus berusaha lebih keras lagi. Bos-nya itu memang tidak bisa di tebak. Kadang naik, kadang bermulut pedas.


Di lain pihak, Dewa yang masih berada dalam perjalanan terlihat tak menunjukkan wajah cerah. Nyaris tak bisa di ramal suasana seperti apa yang sedang terjadi di dalam hatinya. Membuat Iwan berinisiatif untuk mencairkan atmosfer yang beku.


" Ehem. Mohon izin bertanya kapten!" ucap Iwan memberanikan diri.


" Tanya apa Wan?" balas Dewa dengan tatapan yang masih lurus ke depan.


" Bagaimana bisa... kapten terkena luka itu?" tanya Iwan ragu-ragu dan terdengar sangat hati-hati.


Dewa membetulkan sedikit posisi duduknya sesaat sebelum ia menjawab. " Aku sendiri tidak ingat pasti sebab aku merasakannya saat kita sudah berada di timur menara. Tapi sepertinya, aku tertusuk saat aku mengevakuasi anak kecil tadi melewati runtuhan kayu."

__ADS_1


Kilasan ingatan Dewa langsung kembali ke kejadian dimana ia melihat anak kecil yang terjebak di reruntuhan saat semua personel sedang berkumpul di sisi Timur untuk membantu seseorang yang terjepit dinding ambruk.


" Sebaiknya kita harus menambah tambahan team dokter kapten!" seru Iwan mencoba memberi saran sebab tenaga medis yang di perbantukan kurang memenuhi kebutuhan.


" Aku sudah membicarakannya dengan pusat. Oh ya Wan, bulan depan aku akan pulang dulu dan mengambil cuti beberapa waktu. Ku harap kau bisa menjaga kesatuan kita selama aku tidak ada!" kata Dewa kali ini serius.


Iwan yang mendengar langsung mengangguk. Memang sudah sangat lama Dewa tak mengambil jatah cutinya. Iwan memang tidak tahu banyak soal kehidupan Dewa yang tampaknya complicated itu, tapi yang jelas ia tahu bila kaptennya itu sebenarnya merupakan merupakan orang yang sangat baik.


...----------------...


Satu bulan berlalu. Usai mendapat izin cuti dan mengantongi surat resmi perihal kepulangannya, Dewa yang bersiap untuk pulang kini sedang berada di pemberhentian bis. Rumah kedua orangtuanya berada di pedesaan. Tak ada transportasi umum selain bis. Ia bahkan harus menunggu bis berjam-jam siang itu.


" Astaga, kenapa kau sangat tidak sabar. Makanlah ini dulu ayo!" seru seorang wanita paruh baya di sebelahnya yang sibuk mengomeli anaknya yang sangat cerewet.


Dewa hanya terdiam. Jika melihat bocah laki-laki yang sedang dimarahi ibunya di depannya itu, ia menjadi teringat dengan adik bungsunya yang meninggal karena kejadian mengerikan. Usianya sepertinya sama.


" Tidak mau ibu. Aku ingin naik kereta, kenapa malah naik bis? Bis selalu membuatku pusing dan mual!" protes anak itu bersungut-sungut.


" Dasar anak nakal, mana ada kereta di jurusan desa kita. Cepat makan ini dulu, kau akan masuk angin jika naik bis nanti!"


Namun belum sempat anak itu makan, bis yang di tunggu tiba-tiba datang. Membuatnya semua orang yang sedari tadi menunggu kini berdiri dan bersiap masuk.


" Apa aku bilang, coba dari tadi kau makan. Awas sampai kau muntah nanti di dalam ya!" omel wanita itu yang masih belum terima dengan ketidaktaatan anaknya.


Dewa, para penumpang lain, serta wanita paruh baya beserta anak kecil itu turut berjubel di depan pintu saat bis datang. Namun sebagai seorang abdi negara, Dewa tentu membiarkan wanita dan anak-anak itu untuk masuk dulu.


Ia akhirnya berada di barisan terakhir saat masuk, dan mendapatkan tempat duduk tepat di depan ibu dan anak yang masih rewel itu, dengan muka yang masih datar.


Semua terasa baik-baik saja. Dewa bahkan tak sabar untuk bisa bertemu dengan kedua orangtuanya. Hingga tiga puluh menit perjalanan, keadaan mulai membuatnya mengantuk. Namun saat mereka melintasi kawasan sepi di area hutan kapas, suasana berubah menjadi ricuh.


Rupanya, lima diantara puluhan penumpang bis itu merupakan perampok yang beraksi dengan senjata tajam.

__ADS_1


para perampok itu langsung membajak kendaraan berikut supir dan kondekturnya dengan berbagai senjata tajam yang mereka bawa.


" Jangan macam-macam kalian! Diam dan ikuti apa yang kita perintahkan!" teriak seseorang dengan muka garang yang tak segan-segan mengacungkan pisau bermata tajam. Membuat semua orang seketika diam dengan wajah ketakutan.


"Serahkan uang kalian atau nyawa kalian yang akan melayang! Cepat!"


Detik itu juga, seluruh penumpang yang kebanyakan perempuan itu berteriak ketakutan. Anak kecil yang semula rewel itu bahkan langsung mendekap erat ibunya dengan tubuh gemetaran karena takut.


Dewa yang merasa geram dengan aksi tak terpuji itu, langsung memindai sekeliling. Penumpang dalam kondisi penuh, dan bajingan itu berjumlah lebih dari tiga orang. Salah sedikit pasti akan ada yang terluka.


" Hey kau yang pakai topi! Angkat tanganmu, apa kau tuli?"


Dewa terlihat terpaksa menuruti perintah bajingan itu dengan turut mengangkat tangan. Ia mencoba membaca celah namun sialnya anak di belakangnya semakin menangis kencang dan membuat teriakan makin menggema.


" Hey suruh anakmu diam atau aku robek mulutnya!" hardik pria bertato itu dan membuat anak laki-laki itu terpaksa diam dengan air mata yang berderai.


Dan entah mengapa, mendengar anak itu di bentak dengan kasarnya, membuat dewa merasa dadanya terbakar. Ia paling benci jika melihat anak kecil di perlakukan kasar seperti itu. No way!


" Kau, apa yang kau lakukan?" teriak rampok itu menunjuk ke arah Dewa yang terlihat berdiri menantang.


" Hey! Duduk! Cari mati kau ya!" teriak pria bertato kepada Dewa yang membuat semua orang tegang.


" Kenapa orang itu berdiri!"


" Hey nak, duduklah!"


Suara kasak-kusuk samar-samar masih bisa Dewa dengar dengan baik. Tapi melihat semua ini, membuat jiwa ksatrianya bergejolak.


" Duduk kau sialan!" pekik pria bertato mulai geram.


Namun alih-alih menurut, Dewa malah langsung melayangkan pukulan yang tepat mengenai wajah rampok itu dan membuat kepala geng rampok di depan sana murka.

__ADS_1


" Anjing!" maki ketua geng yang melihat anak buahnya terjerembab ke lantai bis yang masih berjalan di bawah ancaman rampok itu.


Maka mencekam lah situasi disana detik itu juga saat aksi saling serang tak terelakkan lagi. Dewa tak peduli jika di hanya seorang diri melawan para bajingan itu.


__ADS_2