Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 51. Jarak antara kita


__ADS_3

Dewa segera menyadari jika rupanya Diandra turut datang ke Anka. Meski ia masih menyangsikan mengapa nama perempuan itu tak tercantum di data yang ia lihat. Tanpa menunggu lagi, Dewa seketika beranjak pergi. Melalui begitu saja sosok yang menatapnya penuh harap.


Diandra yang di acuhkan oleh Dewa hanya bisa tertunduk. Tak merasa kesal apalagi protes. Ia menyadari sepenuhnya. Walau sosok yang diam- diam telah menetap di hatinya itu sekarang membencinya, tapi paling tidak ia masih bisa bertemu.


Meski tak tahu apakah ia bisa memiliki peluang untuk menjelaskan. Mengingat perubah sikap Dewa yang benar-benar dingin. Membuat segala sesuatunya menjadi kembali asing.


Melihat hal itu, Rayyan, Yean dan Zilloey memilih maju untuk berjabat tangan dengan para dokter relawan termasuk Diandra.


" Selamat bergabung dokter!" ucap Rayyan ramah.


Diandra tersenyum. " Terimakasih banyak kapten!"


" Istirahat sebentar bersama dokter yang lain sebelum bekerja. Ayo, ikuti kami!"


Ia sejurus kemudian berjalan mengikuti ketiga pria itu sembari menyandang tas dengan tatapan yang tak lepas memandang Dewa yang sibuk berkoordinasi dengan kepala rescue. Entah apa yang sedang di bicarakan.


Beberapa saat kemudian, Diandra langsung turut terjun berjibaku mengobati warga yang satu persatu di temukan dalam keadaan lemas karena sudah tiga hari terjebak reruntuhan. Ia tak kenal lelah. Dan keadaan memprihatinkan ini, sedikit banyak membuat ia lupa akan permasalahannya.


Ia terus melakukan tugasnya dengan baik, meski sesekali ia sempat mencuri pandang kepada Dewa yang rahangnya senantiasa mengeras.


" Dokter, kakiku!" keluh orang yang barusaja tiba bersama Iwan dan mengalami luka cukup serius.


Diandra buru- buru mengalihkan pandangannya saat Dewa yang mendengar orang berteriak turut menoleh ke arahnya. Ia kemudian menangani korban yang baru di temukan itu dengan sangat hati- hati.


" Tolong ambilkan aku ringer laktat!" pinta Diandra kepada Iwan.


" Dimana dokter?" jawab Iwan bingung sebab kurang familiar dengan barang - barang medis.


" Di kardus yang warna putih!"


Mereka berjibaku saling bergotong royong. Tak memperdulikan kefanatikan tupoksi yang membatasi. Yang ada hanya kekompakan, dan misi yang sama. Mereka semua baru beristirahat kala malam menyapa.


Diandra benar-benar lelah hari ini. Tapi melihat Dewa yang duduk berdiam diatas tumpukan runtuhan dinding, Diandra memberanikan diri mendekat.


" Minumlah. Kau pasti lelah!" ucap Diandra menyodorkan sebotol air namun Dewa langsung melesat pergi tanpa mengatakan apa-apa.


Yean yang melihat hal itu menatap prihatin Diandra. Tapi pria itu tak berani ikut campur. Keesokan paginya masih sama. Saat mereka berpapasan, Dewa masih terlihat acuh laksana orang yang tak mengenal satu sama lain.

__ADS_1


Semua terasa gelap. Suram.


Tapi sekitar pukul dua siang, Iwan terlihat datang bersama Yean ke tenda dokter sembari memaksa Dewa yang terluka untuk di obati. Meski pria itu semula menolak karena berpotensi bertemu Diandra, tapi ancaman Yean membuatnya kalah.


" Jika kau terus menolak, aku bisa mengajukan laporan!" ucap Yean yang terpaksa berbicara sengit.


Dewa mendengus. Dan begitu masuk, Dewa yang melihat jika dokter yang on duty disana adalah Diandra seketika berbalik. Tapi tangan kekar Yean lebih dulu menghadang.


" Obati lukamu!" hardik Yean yang sebenarnya tahu alasan Dewa berbalik.


" Aku ingin di obati dokter lain!" kata Dewa mengalihkan pandangan.


Diandra yang mendengar hal itu langsung menelan ludah. Sementara Iwan malah bingung. Bukankah mereka berdua selama ini berhubungan baik? Sepertinya ia harus menemui Wina agar tahu gosip terbaru.


" Semua dokter sedang sibuk!" selak Yean semakin kehilangan kesabaran.


" Kalau begitu aku akan menunggu mereka!"


" Kapten Dewa!" teriak Yean kali ini benar-benar marah.


Membuat Dewa mengeraskan rahangnya dan mau tak mau langsung membuka seragamnya lalu melemparkannya ke tanah dengan kasar.


" Obati dia dokter. Kami menunggu di luar!" kata Yean sembari menatap tajam Dewa yang terus-menerus memalingkan wajahnya.


Sepeninggal Iwan dan Yean, Diandra yang mematung sampai bingung harus berkata apa karena kecanggungan yang tercipta lebih dari yang ia duga.


" Kau terluka?" tanya Diandra mencoba memecah keheningan.


" Tidakkah kau dengar apa kata mereka?" jawab Dewa dengan suara biasa tapi dengan tatapan angkuh.


Diandra tertunduk saat sahutan tak ramah keluar dari mulut Dewa. Diandra kembali meneguk ludah malu saat Dewa membuka kaos hijau khas aparat, dan tampaklah dada bidang dengan cetakan otot yang membuat wajah Diandra meremang.


Melihat Dewa membuang wajahnya, Diandra memilih tak terganggu. Dewa memang pantas marah. Ia memang kotor. Tak layak.


Dan terus terang, jika melihat Dewa semarah ini, ia benar-benar seperti tak memiliki celah untuk sekedar menjelaskan. Ia bahkan tak mempunyai keberanian membahas masalahnya di medan bencana ini.


" Ssssst, awwhh!" ringis Dewa sedikit kesal sebab merasakan perih saat Diandra mulai membersihkan luka di dada Dewa. Menjadi satu- satunya suara yang akhirnya terdengar agak ramah.

__ADS_1


" Maaf. Lukamu ternyata cukup dalam. Sepertinya ini harus di jahit!" kata Diandra ragu-ragu sembari mengamati raut kaku di depannya.


Tapi Dewa tak menyahut. Ia masih membuang wajahnya dengan raut tak ramah. Tak menolak, tapi juga tak mengiyakan. Semua serba abu - abu. Tak jelas.


Dan saat Diandra mulai menyuntikkan anastesi dan wajahnya mulai serius, Dewa yang reflek menoleh malah tak sengaja melihat mata Diandra yang sembab.


 Dan begitu perempuan itu juga menoleh, pandangan mereka malah tak sengaja bertemu. Hening. Dekat. Terpancar satu aura yang sulit di jelaskan.


Untuk sesaat, Diandra akhirnya bisa menatap sendu pria yang kini tengah marah kepadanya. Sementara Dewa yang tiba-tiba sadar, langsung membuang kembali pandangannya dengan dada yang seolah meledak. Bingung dengan perasaannya yang campur baur.


Mengingat jika ia harus mengontrol para pasien, Diandra melanjutkan pengobatannya dengan cepat. Ia dengan telaten menjahit luka robekan yang entah bagiamana bisa mengenai dada pria tampan itu.


" Sudah!" ucap Diandra.


Begitu Diandra menyelesaikan jahitannya. Dewa yang hendak meraih kaosnya sedikit berbalik. Tapi mata Diandra lebih dulu menatap luka di perut samping yang sepertinya merupakan luka baru.


" Kapten. Luka ini!" ucap Diandra tercengang dan reflek menyentuh luka itu namun Dewa buru- buru mengelak.


Yean yang keburu masuk dan melihat semuanya, bisa mendengar keterkejutan Diandra yang tak di tanggapi. Tapi alih-alih menjawab, yang di khawatirkan malah langsung pergi bahkan tanpa mengucapkan terimakasih.


Membuat Yean semakin mendengkus kesal. Begitulah Dewa, jika sudah marah benar-benar langsung berubah seratus delapan puluh derajat.


" Itu luka baru saat kami menjalankan misi penyelamatan walikota tempo hari." kata Yean yang terpaksa mengatakan satu rahasia ini sebab tak tega kepada Diandra, " Sebenarnya hari itu dia datang untuk memeriksakan luka itu padamu dokter. Tapi, sepertinya..."


Saat Yean menggantung kalimatnya, air mata Diandra tiba-tiba menetes. Jadi itu alasan Dewa pergi mendadak tanpa kabar?


" Dokter, anda baik- baik saja?" ucap Yean yang terlihat khawatir sebab Diandra tiba- tiba menangis.


"Hari itu kami bertemu. Tapi dia tiba- tiba pergi. Apa kalian selalu seperti ini? Pergi berhari-hari tanpa kabar karena misi berbahaya?" kata Diandra dengan suara bergetar.


Yean bingung menjelaskan. Tapi ia tak menyesal telah memberitahu Diandra. Selagi bisa, Yean ingin membantu hubungan keduanya menjadi seperti semula. Meski saat ini ia belum menemukan caranya.


" Sebagai pelindung negara. Luka yang tercetak di tubuh kami bukanlah apa-apa. Ini sudah menjadi resiko kami dokter!"


Diandra semakin merasa bersalah. Dan melihat Diandra menangis. Yean yang tak tahan akhirnya memilih berpamitan. Ia tak mau semakin menambah kesedihan dokter Diandra.


"Mewakili Dewa, saya mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dokter. Selamat bertugas!"

__ADS_1


Diandra mengangguk. Menatap sosok yang mulai menyibak tenda menuju luar dengan perasaan tak karuan. Dewa terluka dan seharusnya hari itu dia bisa merawat lukanya.


Mengingat hal itu, Diandra malah semakin terisak. Luka di sepanjang punggung pria itu benar-benar menjadi bukti nyata bila Dewa merupakan orang yang sangat berjasa bagi negaranya. Ia sangat menyesal sebab pernah berpikiran buruk kepada Dewa yang menghilang tanpa sebab.


__ADS_2