
Anka merupakan kota paling tidak aman di negara itu. Selain karena angka kriminal yang tinggi, terdapat satu organisasi yang menjadi dedengkot pemberontakan. Jelas membuat tugas para abdi negara itu menjadi sangat berat.
" Misi kalian kali ini terbilang ganda. Kalian tidak hanya akan membantu warga negara yang terkena bencana, tapi kalian juga harus waspada apabila ada penyerangan. Dan itu pasti akan terjadi. Tingkatkan kualitas kemanan. Kewaspadaan. Karena disana ada satu kelompok bersenjata yang hingga sekarang masih getol ingin memisahkan diri dari negara kita!" ucap komandan sesaat sebelum mereka berangkat.
Ke empat pria badas itu terlihat sangat serius sewaktu naik ke helikopter. Mengingat dengan pasti titah dan pesan komandan dengan segenap jiwa raga mereka.
Setibanya mereka di lokasi, mereka yang datang terlebih dahulu dengan tiga pleton pasukan, sekonyong-konyong tertegun lantaran melihat begitu banyaknya bangunan yang semula menjulang, kini telah rata dengan tanah. Tangis dan ratap terdengar menyayat hati. Merobek ketegaran para laki-laki gagah yang berdiri mematung.
Tanpa menunggu komando, Dewa lantas memerintahkan pasukannya untuk menyebar ke beberapa titik guna pemetaan tindakan.
" Rayyan, pimpin team medis ke titik-titik strategis!"
"Zilloey, koordinir korban yang di temukan selamat dan juga luka- luka!"
"Yean! Bagianmu untuk mengakomodir korban yang lebih parah!"
Mereka langsung berpencar. Berjibaku dalam jerit dan ketakutan. Berpacu dalam waktu. Menolong yang masih bisa di tolong, dan meletakkan jasad yang telah tewas ke tempat yang seharusnya.
.
.
Diandra tak menyangka jika anaknya akan semarah ini kepadanya, lantaran telah mengetahui fakta bila selama ini Diandra terpaksa menyembunyikan identitasnya sebagai ibu kandung Joshua.
Bocah laki-laki itu kembali mengunci pintu kamarnya, sebab apa yang dia dengar tadi sudah lebih dari sekedar cukup untuk menjadi satu bukti kebohongan Diandra.
" Jo, buka pintunya Jo. Kakak bisa jelaskan!" ratapnya dengan lelehan air mata yang menganak sungai.
" Di, sudah. Hal ini memang harus terjadi. Kita jalani bersama- sama apa yang sudah terjadi. Biarkan Joshua menenangkan diri!"
Joshua bahkan masih ingat betul apa yang di sampaikan mamanya jam tujuh tadi. Bahkan meski sempat ada gempa yang melanda wilayahnya, ia masih keukeuh diam di kamar sampai gempa yang tidak terlalu besar itu reda. Membuat semua orang panik.
Tapi sepertinya, kekeraskepalaan Joshua merupakan sifat yang diturunkan oleh ayahnya, Rando. Pria itu sangat keras kepala di dalam berbagai situasi.
Dan saat larut malam tiba, mama Erika baru bisa menemui cucunya saat bocah itu merasa lapar dan masuk ke dalam dapur dengan mengendap- endap.
" Mau makan?" tanya mama Erika yang mendengar suara langkah.
__ADS_1
Ia sempat menangkap kilatan keterkejutan dari wajah Joshua yang tak menyangka jika akan terpergok. Tapi sejurus kemudian, bocah itu mengangguk dengan wajah murung.
" Mau makan apa?"
" Masih ada ramen?"
Mama Erika mengangguk. " Tunggu lah sebentar. Mama buatkan!"
Joshua mengangguk. Meski canggung, tapi siksaan perut yang lapar mengenyahkan kesungkanannya. Mereka berdua diam. Hanya terdengar bunyi air mendidih, suara bumbu yang di gunting serta suara mie yang aduk setelah beberapa menit.
" Apa kak Diandra sudah pergi?"
Mama Erika tak menjawab. Wanita itu sejurus itu menghela napas panjang seraya berjalan menghidangkan ramen hangat dengan topping yang lezat di jam semalam itu.
" Mama tidak tahu apa kau akan kembali marah apa tidak. Mama cuman mau bilang. Kau boleh memanggil kak Diandra dengan sebutan Mama jika kau mau. Dan kau, bisa memanggilku dengan sebutan Oma. Kau sudah tahu apa yang terjadi. Meski kau masih anak- anak. Tapi Oma percaya kau sudah tahu yang sebenarnya!"
Situasi menjadi semakin canggung. Diandra yang sebenarnya ada di sana mengintip di balik dinding tak sengaja menyenggol sesuatu dan membuat Joshua menoleh. Wajah anak itu seketika menjadi kembali keruh.
Bocah itu lantas menyambar mie buatan mama Erika lalu kembali ke kamarnya dengan pintu yang di banting.
Membuat Diandra kembali menitikan air mata.
" Aku sudah memutuskan. Kalian harus pindah ke kota juga!"
Maka Mama Erika yang mendengar keputusan Diandra, seketika menarik napas dalam-dalam. Biar waktu yang berbicara.
...----------------...
Dini hari tadi, gempa susulan sempat terjadi dalam durasi yang lumayan lama hanya saja dengan kekuatannya yang tak sebesar tadi malam. Menurut data yang di himpun per pagi ini, gempa maha dahsyat yang getarannya sampai terasa di penjuru Santara itu telah menewaskan ratusan orang. Di samping itu, masih banyak orang yang hilang dan belum di temukan sebab proses evakuasi baru berjalan beberapa jam.
Ratusan orang yang sudah di temukan dalam keadaan luka- luka juga kehilangan tempat tinggal. Dan gempa itu, sekaligus menghabiskan seperdelapan populasi yang ada di Anka.
" Cari siapa? Dia tidak ada di daftar team relawan medis yang datang hari ini. Aku sudah memeriksanya." tukas Yean tatkala melihat Dewa menekuni sebuah daftar nama.
Dewa langsung melipat kertas sembari tersenyum sinis demi mendengar prasangka yang di lontarkan. Bagaimana bisa Yean tahu jika dia sedang memeriksa daftar nama tenaga medis yang hari ini akan tiba di Anka.
" Kau mau kemana?" cecar Yean lagi demi melihat Dewa yang tiba-tiba beranjak.
__ADS_1
" Mencari Dorris!"
" Team forensik sudah datang. Istirahatlah dulu. Kau sejak semalam tak tidur!"
Tapi Dewa tak mengindahkan nasihat Yean yang tampak khawatir. Dewa malah berjalan menuju ke tanah kosong dimana korban luka sedang di obati oleh dokter dan perawat setempat dengan fasilitas seadanya. Ia merasa sangat prihatin. Ia lantas beralih ke tenda- tenda darurat yang telah di akomodir oleh Zilloey bersama team dari damkar juga rescue setempat.
Namun saat hendak berjalan, satu orang yang tak asing terlihat berseliweran dan membuat atensinya teralihkan.
" Dokter Anita?" gumamnya saat melihat wanita muda itu berlari bersama para anggota tentara yang membopong anak kecil yang kepalanya tampak berdarah- darah.
Membuatnya reflek teringat pada satu sosok yang memiliki profesi yang sama. Sial. Bahkan di saat genting seperti inipun, ia malah masih teringat dengan sosok Diandra.
Ia lalu memilih terjun langsung ke alat- alat berat yang sibuk menggali reruntuhannya guna mencari korban.
" Ray!" teriaknya kepada Ray yang memonitor langsung pencarian korban.
"Dewa, kenapa kau kemari? Bukankah seharusnya kau istirahat dulu. Pikirkan dirimu juga!" keluh Rayyan yang tak setuju dengan kedatangan Dewa. Apalagi, pria itu sejak semalam tak berhenti mencari korban.
" Aku akan memba..."
"Istirahatlah. Ini perintah! Aku sudah berkoordinasi dengan catatan sipil mengenai data penduduk. Iwan juga sedang melakukan rekonsiliasi data. Setelah ini akan di ketahui, berapa jumlah yang luka, yang meninggal, dan yang hilang. Kau jangan keras kepala!"
Dewa menghela napas. Ia bukannya tak mau beristirahat. Tapi saat hendak memejamkan mata, bayangan wajah Diandra malah semakin mengusik dan menyerang benak.
" Pergilah. Pejamkan matamu sejenak. Tugas kita akan Semaki berat. Kumohon!" ucap Rayyan kali ini dengan wajah sendu. Menegaskan jika pria jenaka itu sangat bersungguh-sungguh.
Baiklah. Sepertinya semua orang sedang mencemaskan dirinya. Ia tak mau membuka orang lain khawatir.
Namun barusaja akan beranjak, ia yang seperti melihat sosok tak asing sedang berjalan ke depan sana terlihat reflek mengejar. Tapi saat ia sudah menarik pundak wanita berjas putih itu, ia langsung terkejut sebab orang yang dia sangka dokter Diandra, ternyata merupakan dokter lain.
" Ada apa?" tanya wanita itu dengan muka penuh selidik.
Dewa seketika menelan ludah. Apa yang dia lakukan? Kenapa dia bisa sebodoh itu berlari dan mengejar seseorang yang dia kira Diandra. " Maaf. Saya pikir, rekan saya!" ucap malu.
Wanita itu sempat menatap kesal pria tak jelas yang sudah menganggu pekerjaannya, sebelum akhirnya pergi dengan menggerutu.
Dewa yang merasa lelah hanya bisa mengembuskan napas kasar. Apa mungkin ia harus mengikuti sara Yean dan Rayyan untuk beristirahat lebih dulu. Otak dan hatinya benar-benar tidak sinkron. Bahkan saat marah dan kecewapun, kenapa bayangan wajah Diandra enggan enyah dari pikirannya?
__ADS_1