Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 79. Keinginan seorang anak


__ADS_3

Vida tercekat tanpa bisa berkata-kata lagi. Apa pria di depannya itu sedang halu, atau semua yang di ungkapkan adalah kesungguhan?


Ia mengenal Joshua kurang lebih sepuluh bulan yang lalu, tepat dimana dia sedang gencar-gencarnya mencari pekerjaan. Setiap selesai melepas lelah dari melamar, ia selalu melihat Joshua duduk di sana. Di sebuah kursi panjang di bawah bunga Flamboyan mini.


Karena setiap hari bertemu, Vida akhirnya menanyai si bocah yang tampak murung itu. Belakangan dia tahu jika anak bernama Joshua itu ternyata seorang anak yang kesepian. Semacam produk broken home. Begitu terka Vida dalam hati.


Singkat cerita mereka akhirnya sering bertemu tiap Vida pulang berkerja dari toko roti. Mereka saling bertukar cerita. Ya, meski Vida harus lebih memahami dari sudut pandang anak kecil yang kerap memunculkan satu angan-angan mengenai kesempurnaan sebuah keluarga.


Bahkan, Vida kerap membawakan Joshua roti yang menjadi bekal keduanya bergunjing dan berhalu ria bersama, sebab mereka sama-sama tak memiliki keluarga yang utuh.


Ia juga sedikit banyak tahu bila Joshua ini tak memiliki Ayah. Sama dengan dirinya. Bedanya, ia masih memiliki ibu angkat, sementara Josthi memiliki Mama dan seorang kakak.


Tapi pengakuan pria yang kontan membuat kepalanya cenat-cenut itu langsung memberikan satu petunjuk.


Apakah pria yang semalam tidur di kontraknya itu adalah mantan suami Mama Joshua? Tapi Joshua tak pernah membahas hal itu sama sekali kepadanya. Apa pria itu yang ngawur? Tapi kalau benar?


Hah! Jadi, Joshua anak orang kaya, dong?


" Jo, apa...itu benar?" tanya Vida meminta klarifikasi secara langsung.


Vida bahkan harap-harap cemas saat menunggu mulut Joshua terbuka. Tapi belum sempat anak itu menjawab, sebuah teriakan membuat ketiga orang itu tersentak.


" Joshua!" Mama Erika langsung berteriak sembari menggeret lengan Joshua, dan langsung menunjukkan wajah sinis saat mengetahui siapa yang berada di sana.


Ya, hari ini sebenarnya Mama Erika dan Joshua sedang menjemput Diandra ke stasiun. Tapi saat mama Erika masih sibuk mencari porter, bocah itu malah kabur dan seseorang memberinya informasi bila Joshua berlari ke arah taman kota. Membuat wanita itu sigap mengejar.


" Lepas Ma!" rengek Joshua yang sudah ingin menangis. " Aku ingin bertemu Ayah!"


DEG!


Mama Erika sekonyong-konyong membulatkan matanya." Joshua, apa yang kamu katakan?" pekiknya tak percaya dengan apa yang di dengar.


Hati Rando bahkan serasa seperti tertusuk sebuah duri yang menghujam batin terdalamnya. Ia benar-benar menjadi rapuh saat ini. Apakah anaknya itu diam-diam menguping pembicaraannya bersama Tante Erika beberapa waktu lalu?


Anak itu mendongak dengan mata yang di banjiri oleh cairan bening. Mengundang rasa trenyuh siap saja yang melihatnya, termasuk Vida.


" Aku ingin bertemu Ayah. Aku ingin punya ayah seperti teman-teman, Ma!" rengek Joshua yang sesungguhnya terkejut saat melihat Rando berada di sana.


" Dia bukan ayahmu!" sergah Mama Erika dengan mata melotot. Membuat Joshua semakin sesegukan.


" Mama!"


" Berapa kali Mama bilang, dia bukan ayahmu. Ayo cepat kita pergi!"


Joshua menangis akibat di seret oleh mama Erika yang tampak marah. Rando hanya bisa tertunduk lesu, sementara Vida kini mulai bisa mengurai benang kusut yang tercipta.

__ADS_1


Tapi tunggu dulu, apakah wanita yang kini menarik tangan Joshua tidak terlalu tua untuk di sebut sebagai mantan istri? Pasalnya perbedaan usia yang begitu mencolok membuat Vida merasa sangsi.


" Tante, tolong jangan keras kepada Joshua!" ucap Rando muram yang kontan mengundang rasa marah terhadap wanita paruh baya itu.


" Diam kamu, beraninya kamu mengajariku soal mengurus Joshua. Tau apa kamu soal dia, hah!"


Vida memilih untuk berdiam diri meski ia turut mendapatkan tatapan sengit dari wanita yang di panggil Mama oleh Joshua itu.


" Ayo pergi!"


Joshua menatap sedih dua pasang netra yang merah menahan gejolak itu. Rando tak bisa melawan sebab dia memang penyebab keadaan rumit ini. Di titik ini, ia benar-benar lemah.


.


.


Beberapa saat kemudian di dalam mobil.


" Apa kau bilang, jadi dia bukan mantan istrimu?"


Vida kaget bukan main saat Rando menceritakan apa yang melatarbelakangi kemarahan wanita tadi. Ia juga menceritakan semuanya kepada Vida asal muasal Joshua tercipta.


Entahlah, ia mungkin hanya beberapa jam bersama Vida, tapi wanita itu sudah terlanjur tahu dan mengenal Joshua. Membuatnya memilih untuk terbuka. Karena jujur saja, ia butuh seorang teman untuk sekedar bercerita saat ini. Otaknya benar-benar buntu.


Rando bahkan langsung melebarkan cuping hidungnya saat mendengar prediksi ngawur yang terlontar. " Memangnya apa yang kau pikirkan?"


Vida nyengir melihat Rando memberengut. " Ya, soalnya... Joshua pernah bilang ke aku kalau dia..."


" Gak punya ayah?"


Vida mengangguk menatap pria yang kini mengeluarkan senyum getir. " Lagipula, tadi kau mengatakan jika Joshua anakmu, dan tak berselang lama, wanita itu mengatakan dia Mamanya. Tentu saja otakku langsung reflek menganalisa!"


Rando menghela napas. " Kenapa kau bisa bertemu dengan anakku?"


Vida menatap Rando sejenak sebelum menceritakan kepada Rando mengenai asal muasal dirinya mengenal Joshua. Vida sendiri juga heran, kenapa ia bisa bertemu dengan Rando yang notabene adalah ayah dari Joshua. Sungguh dunia ini sempit adanya.


Rando pun juga merasa ini bukan suatu kebetulan biasa. Dalam sekali waktu, ia dipertemukan dengan Vida yang selama ini kerap menjadi teman Joshua tanpa pengetahuan siapapun.


" Kenapa kau begitu peduli terhadap Joshua?"


Vida menghela napas sembari melempar tatapan ke arah luar. Merasa jika ia memang mengasihi anak itu, karena memiliki jatah takdir yang sama dengan dirinya.


" Waktu itu... aku merasa dia dan aku memiliki nasib yang sama." ucapnya tersenyum kecut. " Ternyata, dia malah memiliki nasib yang lebih rumit dariku!"


Rando terdiam sejenak membagi fokus antara obrolan, juga sebuah mobil yang hendak melintas memotong jalan.

__ADS_1


" Kau benar. Aku yang membuat hidupnya rumit!" ucap Rando penuh rasa sesal.


Vida tak menyahut. Entah mengapa ia malah kasihan terhadap Rando saat ini. Dan saat mereka masih berbicara serius, Vida baru menyadarinya jika jalan yang mereka lalui bukanlah jalan menuju toko.


" Hey, kau mau membawaku kemana? Ini bukan jalan ke toko!" tukasnya panik.


" Kau sudah telanjur masuk dan tahu masalahku. Aku akan menelpon Drax untuk mengizinkanmu!"


" Hah, kau- kau kenal bosku?"tanyanya tak percaya.


" Bahkan presiden pun juga kenal denganku!"


.


.


Diandra yang di beritahukan bila Joshua barusaja menemui Rando seketika shock bukan main. Tak mengira jika anaknya akan senekat itu.


" Anakmu ini sepertinya memiliki penilaiannya sendiri Di. Lihatlah dia, semakin kita larang, semakin dia memberontak!" ucap Mama kali ini seolah ingin menyerah.


Diandra melihat wajah sang anak melalui pantulan kaca di depannya. Joshua duduk di jok belakang. Wajah Joshua masih bersungut-sungut dan enggan menoleh. Bahkan mulutnya tak terbuka sama sekali.


Padahal, Diandra ingin memperkenalkan Dewa kepada anaknya itu dan berniat memulai segala sesuatunya dari awal lagi. Tapi kenapa kondisi yang ada malah menyiutkan nyalinya?


Ia bahkan merelakan diri saat tiba di rumah dimana anak itu langsung melesat masuk tanpa menoleh. Dan hal itu berhasil membuatnya Mama Erika terpancing kembali emosinya.


" Joshua! Apa kau tahu jika ibumu barusaja mengalami..."


" Ma!" Diandra menahan ucapan sang Mama yang ingin menginformasikan kepada Joshua perihal kasus penculikan yang dialami oleh Diandra.


Diandra menggeleng. " Biarkan dia dulu. Aku juga salah. Memang tak seharusnya aku menyembunyikan hal sebesar ini. Aku pantas menerimanya!*


Mama Erika menangis. Ia benar-benar buntu saat ini. " Mama harus gimana lagi Di? Andai Mama bisa memaafkan pria itu. Tapi setiap melihatnya saja hari Mama terasa sakit. Mama selalu ingat yang dulu-dulu!"


Diandra pun sama. Ia bukanlah manusia suci ataupun manusia super yang dengan mudahnya memaafkan. Masih ada setumpuk rasa sakit yang tersimpan di hati saat melihat Rando.


Apa sebenernya mau semesta? Kenapa Joshua malah berkeinginan untuk mengenal pria itu?


Dan di malam hari, saat Diandra hendak mengatakan kepada sang Mama bila besok Dewa dan keluarganya akan datang ke rumah, berita tak menyenangkan tiba-tiba terlontar dari mulut sang Mama.


" Di, anak kamu tiba-tiba demam tinggi. Dia menggigil sekarang!" terang Mama dengan raut panik.


" Apa?" Diandra seketika berlari menuju ke kamar anaknya. Wajah anak itu pucat, dan saat di sentuh benar-benar terasa panas.


" Ma tolong siapkan mobil, Joshua harus di infus ke rumah sakit!"

__ADS_1


__ADS_2