Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 56. Bagai pedang bermata dua


__ADS_3

Rando bersyukur, sebab akhirnya ia bisa duduk di kursi ruang tamu yang luasnya hanya seluas kamarnya, meski wanita yang ada di depannya tak henti-hentinya menyuguhkan raut tak senang.


" Bicaralah. Aku sangat sibuk!" Mama Erika membuka suaranya meski ia masih tak sudi menatap wajah pria yang telah merenggut mahkota putrinya itu.


Rando menelan ludahnya. " Aku hanya ingin tahu dengan pasti dari anda langsung. Apa... Joshua benar putraku?" tanyanya ragu.


Mama Erika seketika menatap tajam ke arah Rando dengan dada menahan api kemarahan. " Apa kau tak malu menanyakan hal ini?" kecam mama Erika yang urat matanya sudah sangat kentara.


Rando semakin memandang muram wanita paruh baya yang terus-menerus menatap benci ke arahnya. Jelas ini tak akan mudah. " Aku ingin memperbaiki semuanya. Tolong beri aku kesempatan! Aku...masih menyayangi Diandra!"


Mama Erika langsung tertawa sumbang. Menyayangi dia bilang?


"Dengar, masalalu mu dengan putriku sudah berakhir. Kau, sudah bukan menjadi bagian anak itu, sejak kau dengan sadarnya meminta Diandra untuk menggugurkan kandungannya. Sejak saat itu, harusnya kau tahu. Kau tak berhak atas mereka berdua!"


DUAR


Jakun pria itu seketika naik turun meneguk ludah. Sebuah kalimat paling menyakitkan baru saja ia dengar. Jadi terbukti sudah, bila apa yang di katakan oleh Arman tempo hari, adalah benar adanya. Kini ia benar-merasakan rasa sakit dari sebuah penyesalan.


" Tante!" lirih Rando yang berhasil membuat keduanya makin bersipandang dengan suasana emosional yang menggelegak,"Aku memang salah! " Tolong maafkan aku!" Rando merendahkan diri. Ia bahkan bertekuk lutut di hadapan mama Erika yang matanya mulai mengeluarkan bulir-bulir berwarna bening.


" Maaf?" ulang Mama Erika menggeleng dengan tatapan getir.


Mata Rando berkaca-kaca. Ia baru kali merendahkan dirinya di hadapan orang. " Saya akan melakukan apapun agar anda mau memaafkan saya! Katakan Tante, apa yang harus saya lakukan agar anda dan Diandra mau memaafkan saya!"


Rando menangis seraya memohon. Pria itu bahkan terlihat sangat kacau. Lihatlah, seorang CEO perusahaan ternama sedang bersujud di hadapan orang biasa.


" Setelah kau membuat hidup anakku hancur. Membuatnya sulit untuk menjalani kehidupan baik yang seharusnya dia dapatkan, sekarang dengan enaknya ku meminta maaf begitu saja?" batin mama Erika menatap benci Rando.


" Baik. Aku akan memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat!" kata mama Erika mulai terlihat jengah. Mari kita lihat apa dia mampu melakukannya.


Rando yang mendengar hal itu tubuhnya langsung membeku. Syarat?


" Syarat apa tente?" tanya Rando serius.


Namun jawaban yang di dengar membuat isi kepala Rando mendadak gelap.


" Tolong jauhi kami!"


.


.


Dulu, Maeda adalah mantan prajurit pasukan khusus. Ia menjadi pemberontak karena saat ia sudah loyal terhadap negaranya, namun negaranya justru berbuat keji terhadap keluarganya dengan dalih perampasan aset negara.


Kedua orangtuanya tewas mengenaskan saat sengketa mempertahan tanah tempat tinggal mereka yang di kudeta oleh pemerintah di rezim lama. Dan kejadian itu, menjadi titik balik dirinya yang benci akan pemerintah.

__ADS_1


" Makanlah. Kau akan mati jika tak makan. Lagipula, kau hanya seorang dokter. Bukan malaikat!" kata Maeda yang kesal sebab Diandra masih betah membisu.


Diandra yang di katai oleh pria bermata tajam itu, terlihat semakin muak. Bahkan hingga sore hari, Diandra tetap tak menyentuh makanan itu meski perutnya kini sudah sangat sakit. Membuat Maeda mendatangi Diandra.


" Tak menyentuhnya, berarti sama saja kau telah membuang makanan ini. Wow, aku kira seorang dokter memiliki attitude yang baik. Tidakkah kau ingat berapa orang diluar sana yang kelaparan sementara disini kau membiarkan makanan ini busuk cuma-cuma?" sindir Maeda sembari melipat kedua tangannya.


Diandra sontak tersentil. Ia paling tak bisa jika di perhadapkan dengan satu kenyataan yang menyangkut ketimpangan sosial.


" Kembalikan aku ke pengungsian!" ucapnya yang mau tak mau akhirnya buka suara.


Maeda langsung tersenyum sumbang. " Tidakkah kau dengar ucapan Tom?"


Keduanya saling bertatapan dengan raut berbeda. Maeda tersenyum penuh arti, sementara Diandra terlihat sangat benci.


" Rawat aku sampai aku sembuh!" pungkas Maeda sembari tergelak mengerikan. Membuat Diandra memilih kembali ke mode diam sebab diplomasi amatir itu jelas tak membuahkan hasil.


Diandra tetap tak mau makan hingga malam menjelang. Dan melihat hal kekanak-kanakan itu, Maeda langsung menjadi geram.


" Sepertinya kau memang mau mati. Mungkin kau ini adalah anak yatim piatu yang tak memiliki keluarga, sehingga kau sendiri tak menyayangi dirimu. Apa aku benar?"


Dan entah mengapa, saat Maeda menyentil soal keluarganya, ia tiba-tiba tersentuh. Hatinya trenyuh. Ia langsung teringat kepada Joshua dan Mamanya.


" Asal aku tahu, aku membawamu kemari bukan untuk menghilangkan nyawa mu. Tapi aku hanya perlu kau sampai aku pulih! Tapi, sepertinya...kau, adalah manusia yang sama seperti dengan manusia kota lainnya. Sombong!" murka Maeda dengan napas memburu saking menahan emosi yang membuncah.


Diandra yang mendengar kemarahan nan terbalut nada penuh kekecewaan itu tiba-tiba tercenung. Matanya tiba-tiba memanas. Ia hampir menangis. Sebenarnya orang macam apa pria itu? Kenapa setiap kalimat yang terlontar selalu menusuk.


Ia sendiri tidak tahu, kenapa sejak melihat Diandra untuk pertama kalinya, ada rasa yang lumayan mengganggu. Semacam tak tega.


Namun belum selesai air minum itu di teguk seluruhnya oleh, suara rentetan senjata membuat Diandra berjingkat.


DOR!


DOR!


Maka Maeda seketika bangkit demi menyadari situasi yang terjadi.


" Bos. Talani datang menyerang kita!" ucap seorang gondrong yang tempo hari ia lihat berada di gua dengan raut tak tenang.


" Anjing! Cepat, kita harus masuk ke arah barat laut!"


Ia sempat melihat Maeda mengumpat sambil menarik sebilah pedang bermata dua yang membuatnya menelan ludah takut. Dan di waktu yang bersamaan, datang lima pria berambut gimbal yang masuk dan langsung menyerang Maeda dan anak buahnya, namun pria yang masih terluka itu langsung melawannya tanpa ampun.


Mereka berkelahi.


BUG!

__ADS_1


BRAK!


Tubuh Diandra bagai membeku manakala melihat satu persatu orang itu di lumpuhkan oleh Maeda yang dadanya kembali berdarah akibat pergerakan yang tak seharusnya. Keadaan seketika berubah menjadi kacau-balau. Mencekam. Tegang.


SRING!


" Aaa!" jerit Diandra yang ketakutan sebab matanya melihat langsung leher pria gondrong itu di tebas oleh Maeda.


Diandra tak tahu harus bagiamana. Ia sangat takut. Ia hendak keluar berusaha menyelamatkan diri namun dua orang yang sekonyong-konyong datang berhasil membuat langkahnya terhenti.


" Wow, sepertinya mereka punya budak ranjang disini. Ayo manis, kemarilah!"


Diandra yang tangannya tiba-tiba di tarik menjadi lebih panik. Ia berontak sebab tangannya telah berhasil di tangkap oleh bajingan menjijikan itu.


PLAK!


Diandra yang ketakutan reflek menampar pria kurang ajar itu dan membuat di empunya berang.


" Wanita sundal!"


Namun saat pria itu hendak hendak memukul wajah Diandra, Maeda yang barusaja melumpuhkan musuh terakhirnya lebih dulu menendang wajah pria itu.


" Bang*sat!"


BOOUGH!


" Arrgghhh!"


Pria itu mengerang. Namun karena melihat Diandra yang di sakiti, Maeda langsung menghunuskan pedangnya lalu,


JREP!


Pedang Maeda menancap tepat di dada pria jahat dan membuat si pria tewas detik itu juga. Diandra semakin ketakutan sebab Maeda menusuk perut pria itu tanpa ekspresi. Bagai kehilangan rasa.


" Kau terluka?"


Kali ini Diandra justru bisa melihat raut khawatir saat Maeda menanyai dirinya. Diandra menggeleng. Mewakili jawabnya bila ia baik-baik saja meski tubuhnya sudah seperti daging tanpa tulang. Ia ketakutan.


" Apa kau masih bisa berjalan?" tanya Maeda lagi kali ini raut wajahnya semakin cemas.


Diandra mengangguk. Lihatlah. Ia bahkan tak mampu untuk sekedar menjawab sebab suasananya benar-benar membuat seluruh kewarasannya runtuh.


Maeda memasukkan pedangnya sambil meraih tangan Diandra dan menuntunnya pergi. Membuat perempuan itu semakin takut. Akan di bawa kemana dia?


" Kemari!"

__ADS_1


Diandra bahkan tak memiliki kesempatan untuk mengelak. Ia terlalu takut bahkan tak sempat mengenakan sepatu yang semula ia lepas tadi.


" Cepat, masuk ke dalam hutan!" teriak Maeda dan membuat para pasukannya berlari mengikuti.


__ADS_2