Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 39. Siapa yang kau antar?


__ADS_3

"Maaf, aku harus pergi. Ada sesuatu yang urgent. Kalian lanjutkan makannya!" kata Rando yang terlihat buru- buru saat berpamitan. Pria itu bahkan tak menunggu jawaban sang Mama.


Dewa seketika tertegun. Ada urusan apa yang membuat pria itu pergi mendadak? Kenapa raut wajahnya nampak tegang.


" Maaf ya Dewa. Rando memang selalu begitu. Dia sangat sibuk semenjak memegang perusahaan Papanya!" terang nyonya Ferdinand yang sejatinya tak enak hati kepada Dewa.


Dewa hanya mengangguk. Meski sebenarnya, ia menjadikan sangat penasaran.


Rando menyebutkan satu tempat kepada Steve untuk mereka gunakan sebagai tempat bertemu. Mereka akhirnya bertemu tiga puluh menit kemudian. Rando terlihat tak sabar dengan informasi yang di bawa oleh orang kepercayaannya itu.


" Ada apa?" tanya Rando begitu Steve datang.


" Bos, mata- mata yang kita sewa mengatakan jika bocah yang bersama nona Diandra itu bukanlah adik kandungnya!"


" Apa kau bilang?" sembur Rando terperanjat.


"Benar bos. Tapi setelah kita telusuri, anak itu juga tidak di ambil dari panti asuhan manapun!"


" Yang benar kau?" tanyanya memastikan betul- betul.


Steve mengangguk meyakinkan. " Saya bisa menjaminnya bos. saya memegang datanya!"


Sebenarnya tidak masalah jika anak itu merupakan anak yang ditemukan di pinggir jalan sekalipun. Lagipula ia hanya ingin tahu agar bisa menjawab pertanyaan sang Mama berdasarkan data dan bukti.


Tapi anehnya, selain menjadi semakin penasaran, ketidaknyamanan kini menyerang benak Rando secara tiba-tiba. Semacam ingin tahu dan memastikan. Detik itu juga, ia kembali menemui Aldi dan sedikit melakukan kekerasan.


BRAK!

__ADS_1


Rando yang mendapat sambutan tak ramah dari Aldi seketika melakukan tindakan penuh ketidaksabaran.


" Lepaskanlah sialan!" maki Aldi yang tubuhnya baru saja di benturkan ke rak ordner dengan begitu keras oleh Rando.


" Aku ingin tahu soal Diandra! Tapi sepertinya kau malah menyembunyikan sesuatu dariku!" hardik Rando geram.


" Apa yang ingin kau tahu hah?" Aldi kembang kempis mengatur deru penuh emosi. " Semenjak kau memintanya menggugurkan kandungannya waktu itu, maka detik itu tak ada lagi yang tersisa!" teriak Aldi penuh kemuakan.


Dan nada bicara penuh keyakinan yang di balut emosi oleh Aldi, rupanya mampu melunturkan segenap kecurigaan yang meradang. Membuat pria itu melepaskan cengkeramannya.


Ia pulang jelang petang. Wajahnya keruh, lesu dan pikirannya tidak karuan. Sedikit menyesali diri yang telah berbuat kasar kepada Aldi yang kini telah berubah menjadi pribadi yang lebih menyebalkan.


Bagaimana bisa, hanya karena seorang bocah tidak jelas itu, pikirannya malah melayang kemana-mana. Sungguh seperti bukan dirinya.


" Dari mana aja kamu Ran?" tanya Mama yang tiba-tiba muncul dari dalam.


" Sebaiknya Mama minta Viona untuk menjaga jarak dengan Dewa!" kata Rando tiba-tiba yang teringat jika rivalnya tadi datang kerumahnya.


" Apa maksudmu? Sudah tidak sopan dengan tiba- tiba pergi, sekarang datang- datang malah bicara ngawur!" gerutu sang Mama tak suka.


" Aku tidak ngawur Ma. Mama sendiri yang membuat peraturan jika semua wanita yang dekat dengan kita harus selevel. Termasuk Viona juga kan Ma?"


" Dewa selevel!" semburat sang Mama sembari menatap tak setuju ke arah Rando.


" Selevel apanya? Mama tahu, dia itu cuma anak orang biasa Ma!"


" Dia seorang kapten!" sergah sang Mama tegas. " Apalagi, kredibilitasnya sudah di akui. Viona akan menjadi wanita yang beruntung jika bersama dia. Orang seperti Dewa pasti bisa naik ke atas dengan cepat. Orang- orang seperti kita tentu butuh orang seperti Dewa!"

__ADS_1


" Tapi Ma..."


" Jangan ikut campur urusan adikmu. Urus saja dirimu sendiri yang tak becus mencari istri hingga sekarang!"


Rando terlihat kecewa kepada sang Mama yang malah memarahinya. Dulu saja, ia bahkan sangat dilarang bersama Diandra padahal dulu dia benar-benar memiliki rasa. Tapi seorang, kenapa Viona dibiarkannya begitu?


Dengan dalih rasa penasaran, keesokan paginya Rando terlihat menunggu di depan sekolah bocah cilik itu seorang diri. Alasannya hanya satu, ia hanya ingin melihat seperti apa sih sosok yang berhari- hari ini diributkan oleh mamanya.


Tapi sialnya , Rando bahkan tak memiliki alasan yang cukup jelas untuk turun dan menyapa anak itu. Tidak. Lagipula, ia hanya ingin melihat seperti apa rupa anak yang dikatakannya mirip dengannya itu. Lebih baik menunggu di dalam mobil saja.


Namun tunggu punya tunggu. Alih-alih mendapatkan satu kepuasan, yang dia dapat malah rasa kaget yang luar biasa manakala melihat Diandra mencium kening seorang bocah yang membuat Rando langsung membeku.


Ya, Rando menjadi speechless demi menatap seraut wajah yang membuatnya seperti melihat foto copy dirinya semasa kecil.


" Astaga. Mama benar, anak itu benar-benar mirip denganku!" gumamannya dengan tatapan tak lepas.


Ia bisa melihat dengan jelas Diandra yang mengusap puncak kepala anak itu sebelum anak itu masuk. Dan dari pemandangan yang dia lihat, satu desiran asing tiba-tiba muncul dan membuatnya semakin tak nyaman.


Ada apa ini, kenapa rasanya ia ingin mendatangi anak itu?


Rando akhirnya menunggu sampai Diandra keluar. Ia hanya ingin mengetahui siapa anak kecil tadi. Jika bukan karena Mama, mustahil dia repot-repot melakukan hal ini.


Dan beberapa saat kemudian, begitu Diandra terlihat hendak pulang Rando cepat- cepat menarik tangan wanita itu dan membuat matanya membulat sempurna.


" Kau!" pekik Diandra yang kaget setengah mati.


" Siapa yang kau antar?"

__ADS_1


__ADS_2