Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 64. Percayalah padaku


__ADS_3

Sebagai orang yang malang melintang di dunia penegakan hukum, Yean merasa semua ini janggal. Bagiamana bisa sang mayor tentara melangkahi kepolisian untuk kasus ini. Ini tentu tidak benar.


Ia hendak mencari Dewa karena ingin berdiskusi, tapi saat di perjalanan mencari sahabatnya itu, ia malah bertemu Rayyan.


" Kau mau kemana?" tanya Rayyan menegur.


" Mencari Dewa!"


" Di sedang di dalam!" katanya sembari menunjuk tenda dokter menggunakan dagu.


Yean akhirnya tak jadi masuk sebab ia tahu jika Dewa pasti sedang menemui dokter Diandra. Pria itu akhirnya menghembuskan napas penuh keresahan yang membuat Rayyan turut risau.


Dan benar saja, dua sejoli yang saling berpelukan akibat meratapi nasib Maeda itu kini saling melepaskan pelukan. Tapi meski sempat kesal karena cemburu, Dewa akhirnya merasa lega karena sikap yang di tunjukkan jelas menegaskan bila api kemarahan itu telah redup.


" Bisakah kapten menolong Maeda?"


Meski tak yakin tapi Dewa terlihat mengangguk. " Kebenaran pasti akan menang!"


Mereka selanjutnya duduk saling berhadapan. Kapten Dewa memperhatikan dokter Diandra yang sibuk menyusut hidup menggunakan tissue.


" Kau mau makan sesuatu? Kita bisa makan dulu. Aku, ada kegiatan lain setelah ini." tawar kapten Dewa yang ingat jika ia punya janji dengan Lyara.


Dokter Diandra menggeleng. "Perutku masih kenyang!"


Dewa mengangguk sembari meraih jemari dokter Diandra perlahan. Meski perempuan itu Sebenarnya terkejut, tapi ia tak menolak.


" Kau sudah tak marah denganku, hm?" tanya kapten Dewa mengusap lembut punggung tangan dokter Diandra.

__ADS_1


Dokter Diandra tak lekas menjawab. Ia malah terlihat memberengut sebab seolah kembali di ingatkan. Membuat Dewa tak bisa untuk tak terkekeh saat melihat raut menggemaskan di depannya.


" Kalau begitu aku akan terus meminta maaf sampai dokter memaafkanku!"


" Apaan sih?"sahut dokter Diandra bertambah manyun.


Dewa seketika tergelak.


Suasana selanjutnya hening. Tapi sejurus kemudian pria beralis tebal itu mengucapkan satu pernyataan yang mengejutkan.


" Aku tertarik padamu dokter!"


DEG


Suasana yang semula biasa saja menjadi lain sebab tatapan pria itu terhadap Diandra semakin dalam.


Hati wanita mana yang tak tersentuh jika seorang pria dengan terang-terangan malah mengutarakan isi hati dengan penuh kesungguhan macam ini.


" Aku ingin kita menikah. Dan aku ingin menjadi Ayah Joshua!"


Diandra langsung menengadah kaget. Apa dia bercanda?


" Aku serius dokter!" katanya sembari menatap dalam mata yang sudah berkaca-kaca itu.


Ah seandainya Anita melihat semua ini, ia pasti akan sangat malu. Ia masih menyimpan sedikit kekesalan kepada pria itu. Tapi nuraninya tak bisa berbohong, jika rasa sukanya terhadap kapten Dewa, telah bermetamorfosa menjadi rasa sayang.


" Aku akan membereskan semuanya dulu!"

__ADS_1


" Maksud kapten?" tanya dokter Diandra tak paham.


Pria itu langsung tersenyum sembari mengusap pipi lembut dokter Diandra. Ia keceplosan. Ia berjanji tak akan lagi membuat perempuan itu kepikiran dengan apa yang akan dia lakukan.


" Tidak usah di pikirkan. Aku cuman minta kepercayaan darimu dokter. Bisakah kau percaya padaku apapun yang terjadi,hm?"


Dokter Diandra menatap lama sepasang manik mata cokelat milik Dewa. Ia tak tahu pasti apa maksud pria itu. Ia hendak bertanya, namun sentuhan lembut yang kini mendarat di bibirnya membuatnya hanyut. Ia menerima ciuman lembut itu dengan perasaan campur aduk.


Ia harus berterima kasih kepada Anita untuk semua ini. Sebab karena perempuan itulah, mata Dewa yang semula buta akan kebenaran, kini telah tercelikkan.


Meski sosok Dewa yang penuh kemisteriusan masih sukar ia pecahkan, tapi perasaannya saat ini begitu lega. Apakah ini yang namanya saling mencintai?


Namun saat pria itu menyesap bibirnya lebih dalam, kilasan ingatan akan anak jenderal yang membuatnya cemburu tempo hari tiba-tiba menari-nari di otaknya. Membuatnya langsung reflek melepaskan ciuman.


" Tapi, anak jenderal itu..." ucapnya meragu di depan kapten Dewa yang kini shock setengah mati sebab ciumannya tiba-tiba terhenti sebelum waktunya.


Kapten Dewa menghela napas. Ia tahu dokter Diandra pasti masih ragu kepadanya. " Bukankah sudah ku katakan, apapun yang terjadi percayalah padaku, hm?"


Diandra masih menatap ragu. Takut kalau-kalau ia akan sakit hati kembali.


" Dokter. Ada hal yang belum bisa aku ceritakan padamu saat ini. Aku janji ini tidak akan lama. Aku akan memberitahukan padamu nanti jika sudah tiba waktunya. Jadi kumohon untuk bekerjasama dalam hal ini. Tolong jangan terprovokasi oleh apapun. Dan yang paling penting, apapun yang terjadi kau harus percaya padaku. Kau bisa melakukan itu untukku?"


dokter Diandra yang trenyuh saat melihat suara bergetar kapten Dewa akhirnya mengangguk. Apakah setelah ini pria bertubuh harum ini akan melakukan aksi berbahaya lagi? Atau ada hal lain?


" Aku mencintaimu dokter!"


Kapten Dewa mengatakan hal itu sesaat sebelum ia meraup kembali bibir tipis yang teras manis itu dengan ciuman dalam.Malam ini mereka berciuman begitu lama. Menepikan sejenak bom rintangan yang mungkin sebentar lagi akan meledak.

__ADS_1


__ADS_2