
Usai mengambil beberapa peralatan yang sesuai berdasarkan cerita Dewa mengenai kondisi pegawainya, Diandra dan Dewa lalu melesat menuju ke rumah Asiu.
Dewa tak menyesal karena menggunakan nama pegawai jadul Ayahnya sebagai alasan. lagipula, laki- laki berbakti satu itu memang utun.
" Kenapa laki- laki tadi bisa di sana?" tanya Dewa yang malas menyebutkan nama Rando.
Diandra mengernyit." Siapa, Rando?"
Dewa mengangguk. Mau diam saja tapi ia benar-benar penasaran.
" Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku bisa bertemu dengannya tadi. Dia tiba- tiba muncul!" bohong Diandra yang selalu tak nyaman jika membahas Rando.
Dewa lalu diam. Sebab terkadang, ketidaktahuan memang lebih menenangkan. Ia masih bisa menahan diri meski gejolak keingintahuan tengah meluap. Keingintahuan mengenai hubungan antara Rando dan Diandra.
" Kapan kembali ke Medica?" Dewa mengganti topik pembicaraan.
" Tiga hari lagi! Kalau kamu?"
lihatlah, Diandra bahkan sekarang sudah menjadi panggilannya dari 'anda' menjadi 'kamu'. Ihir!
" Belum tahu!"
Diandra mengerutkan kening saat melihat reaksi pasif cenderung apatis yang di suguhkan laki- laki tampan di sampingnya. Terlihat sangat tidak jelas.
" Kok belum tahu!" sungut Diandra.
" Apa kau lupa. Aku ini kapten. Jadi, suka- sukaku!"
" Dih!" enek Diandra demi sikap somse Dewa.
Dewa terkekeh. Mana mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya kepada Diandra. Ia tak mau Diandra tahu bila ia sebenarnya sedang di hukum karena menolongnya waktu di Tidom.
Ternyata, perjalanan menuju ke rumah Asiu cukup lama. Tapi alih-alih lelah, Diandra malah terlihat senang. Mereka tiba di sebuah rumah semi permanen yang sangat sederhana. Sebab terlalu kasar jika dibilang reot. Padahal, kusen rumah itu memang sudah terlihat miring.
" Mas Dewa? Ya Tuhan, beneran mas Dewa. Ibu ada mas Dewa sama pacarnya!" teriak seorang remaja tanggung yang lari terbirit-birit ke belakang saat melihat Dewa.
Tapi yang di sebut pacar malah membeku. Diandra lantas menyenggol lengan Dewa dan melayangkan protes. " Kenapa diam aja sih. Aku kan bukan pa..."
" Itu Rion. Anaknya bang Asiu!" potong Dewa ogah mendengar banding.
Pria itu lebih memilih membuka pintu belakang mobil, dan terlihat memasukkan separuh badannya ke dalam. Diandra tertegun Dewa yang berinisiatif mengambil tas berisikan alat- alat pemeriksaan miliki.
" Ayo masuk. Biar aku bawakan!"
Di momen ini, Diandra benar- benar semakin senang dengan perlakuan Dewa. Bagaimana dia tak jatuh hati jika begini?
" Selamat siang!" ucap Dewa memberi salam saat hendak masuk.
" Mas Dewa? Ya ampun, Rion tidak bohong rupanya. Mari mas masuk mas. Aduh maaf ya, rumahnya berantakan!" kata istri Asiu yang terlihat tak enak hati sembari memunguti beberapa potong baju bercampur kain yang berserak di sebuah kursi usang.
__ADS_1
" Mas Dewa?" sapa Asiu yang berjalan sembari menahan sakit di perutnya.
" Duduk saja bang!" balas Dewa yang menatap pria itu dengan wajah muram. Tak menyangka jika apa yang dibuat orang- orang ternyata benar.
" Kenalkan ini dokter Diandra!"sambung Dewa memperkenalkan Diandra yang kini tersenyum ramah kepada dua pasutri miskin itu.
" Dokter?" kaget Asiu dengan wajah pias.
Dewa seketika tersenyum mendapati reaksi yang telah di prediksi. " Jangan berpikiran macam-macam dulu. Ini teman saya. Mumpung masih dirumah biar bisa di periksa. Bang As harus segera sembuh. Biar bisa kerja lagi!"
Asiu terlihat kurang berkenan. Tapi Diandra keburu membuka kotak perlengkapannya.
" Saya..."
" Bang. Bang As ini sakit. Tolong sekali saja percaya dengan saya!" bujuk Dewa demi melihat keraguan di sorot mata sendu milik Asiu.
" Begitulah dia. Tiap diminta periksa malah ujung- ujungnya bertengkar. Saya sampai malu mas!" omel sang istri yang cukup jengah dengan kekeraskepalaan suaminya.
Diandra memperhatikan keluarga yang cukup menyedihkan itu. Merasa sangat prihatin.
" Permisi, saya periksa ya?"
Diandra meminta izin terlebih dahulu sebelum menempelkan stetoskop ke dada kurus Asiu. Sejurus kemudian, Diandra menanyakan keluhan kepada pria pucat itu sebab detak jantungnya benar- benar merujuk ke satu kondisi serius.
" Perut sebelah kiri saya rasanya panas. Njalar sampai ke paha. Kadang sampai tidak bisa jalan. Tapi saya yakin, semua ini pasti karena saya di..."
" Maaf Bu, apa suami selalu makan rutin?" potong Diandra yang tak memberikan Asiu membeberkan dugaannya mengenai hal mistis.
" Nah itu dia Pak. Diagnosa saya bapak ini terkena lambung. Jika parah, rasa panas akan menjalar sampai ke ulu hati! Ini masih bisa di obati!"
" Tapi..."
" Sebaiknya periksa ke rumahsakit Pak. Ini kartu nama saya. Bapak bawa saja ini kerumah sakit, nanti akan saya bantu! Besok harus kesana ya?"
" Tapi mbak saya...."
" Tidak usah memikirkannya biaya. Itu kartu limit keluarga dokter. Ini untuk bapak saja!"
Dewa menatap bangga perempuan impulsif yang rupanya memiliki hati seputih salju itu. Seberkas sinar indah, tiba- tiba menelusup ke dalam relung terdalam.
.
.
Di dalam perjalanan pulang, Dewa sengaja memberhentikan mobilnya sebab tiba- tiba otaknya memerintahkan hal itu.
" Ada apa?" tanya Diandra yang kaget sebab mobilnya berhenti mendadak.
" Aku tidak menyangka dokter menggunakan kartu khusus keluarga untuk pegawai ayah ku!" ucap Dewa menatap dalam mata bening Diandra.
__ADS_1
Diandra tersenyum. Tak mengira jika Dewa memberhentikan mobilnya hanya untuk membahas hal ini. " Orang itu sangat awam. Untung saja tadi mau ku bujuk. Mungkin mereka menolak bantuan dari keluarga kapten karena tidak enak hati. Itu wajar. Tapi, dengan kartuku, mereka akan mengira jika itu adalah bantuan dari pemerintah. Tenang saja, mereka akan membatu mengurus Pak Asiu dengan baik nanti. Mereka juga akan di jemput setiap kontrol!"
Kini Dewa tak hanya kagum dengan sosok cantik di hadapannya. Tapi ia juga terpana akan kebaikan hati Diandra. Wanita itu benar-benar manifestasi kriteria Dewa.
"Kenapa diam?" tanya Diandra yang mendadak canggung sebab Dewa malah menatapnya tak jemu.
" Aku beruntung bisa mengenalmu!" kata Dewa masih terus menatap. Malah semakin terpukau.
" Apaan sih?" ucap Diandra yang tiba-tiba malu dengan perlakuan kalem Dewa. " Gak jelas banget!"
Diandra terduduk malu saat Dewa terus menatapnya. Wajahnya bahkan sudah sangat merah.
" Dokter?"
" Ya?"
Diandra menoleh. Tapi seraut tampan yang tiba-tiba condong ke arahnya membuat debaran di dada mendadak tak beres. Apa yang Dewa lakukan? Apa pria itu mau menciumnya?
Diandra menelan ludah. Sementara Dewa semakin mendekatkan wajahnya. Mengikuti perintah hati yang diam- diam telah bersekongkol dengan otaknya.
Ya, sikap baik yang tulus rupanya mampu menggoyahkan hati Dewa. Ia kini menyadari jika hatinya telah di rebut oleh Diandra. Ya, Dewa kini yakin seyakin-yakinnya bila getaran yang kerap mengganggunya selama beberapa Minggu terkahir, adalah sinyal perasaan cinta yang kuat.
Tapi saat mata Diandra mulai terpejam, bersamaan dengan bibir yang hendak bersentuhan, ponsel Diandra tiba- tiba bergetar. Membuat kecanggungan tiba- tiba menyeruak.
Damned!
Seketika keduanya salah tingkah.
" Emmm Ma- mama telpon!" kata Diandra yang mendadak kikuk. Ia bahkan seketika menjadi tergagap-gagap.
" Angkat dulu!"
Sementara Dewa yang sudah malu setengah mati, terlihat meraba tengkuknya dengan perasaan tak kalah canggung. Sial sekali pikirnya.
" Halo Ma?" jawab Diandra menunduk malu.
" Di kamu dimana? Joshua tidak ada di sekolahnya!"
.
.
.
.
.
Mommy minta maaf karena masih belum sempurna dalam menulis. Ada banyak typo. Meski begitu, mommy selalu berpatroli dan membetulkan apa yang seharusnya di betulkan. Sekalian lagi mohon maaf untuk semuanya. Semua ini terjadi karena Mommy berkarya dengan kesederhanaan. Semoga pembaca masih mau berkenan membersamai kisah mereka.
__ADS_1
Buat yang tanya setting tempat ini dimana, jawabnya adalah fiktif place alias tempat ini adalah imajinasi penulis.
Jangan lupa like dan komen 😘