
Dewa harus menahan rasa muak hingga berjam-jam demi agar membuat Lyara tak curiga. Ia bahkan membiarkan Lyara berkali-kali mencium pipinya tanpa izin. Tapi diam-diam ia berjanji akan meminta cairan pensteril kepada Diandra jika misinya telah selesai nanti.
Semoga.
Lyara yang merasa diatas angin tak menaruh curiga. Ia bahkan mengajak Dewa masuk ke dalam sebuah ruangan yang telah ia pesan. Mengira Dewa akan silau dengan kemolekan tubuhnya yang kerap ia umbar.
" Apa kau tahu, aku sangat bahagia saat ini!" ucap Lyara meraba dada bidang pria yang masih menatapnya datar.
Dewa terlihat tenang saat Lyara mulai menggesek-gesekkan dadanya untuk menggoda. Bukannya terpancing, Dewa terlihat semakin jijik dengan wanita yang dengan mudahnya menyerahkan diri seperti ini.
" Setelah ini, kita berdua akan hidup lebih baik. Kau akan menjadi petinggi di militer. Dan aku akan menjadi Nyonya Dewa!"
Dewa benar-benar tak mengira jika Lyara lebih jahat dari yang ia kira. Apakah tuan Gustav dulu juga mendapatkan promosi dari hal tak baik?
" Dewa, sentuh aku!" bisik Lyara yang sudah naik keatas pangkuan Dewa.
Namun saat wanita itu hendak mengecup bibir dewa, sebuah gerakan cepat menghentikan segalanya.
BUG
" Ahhh!"
" Maaf, tapi aku sama sekali tak tergiur dengan tubuhmu!" gumam Dewa sembari menatap sosok perempuan yang kini telah tergelak diatas lantai. Dalam sekali pukul saja, wanita itu akhirnya jatuh pingsan.
Ya, usai mengetahui lokasi keberadaan Maeda, ia yang tak memiliki banyak waktu langsung menyasar titik di belakang leher tempat dimana ia bisa membuat orang pingsan tanpa takut akan membahayakannya nyawa orang itu.
Sejurus kemudian Dewa mengambil ponsel, kunci mobil dan sebuah kartu akses milik Lyara yang pasti bakal berguna untuknya nanti.
Pria itu sejurus kemudian mengunci tangan Lyara menggunakan kabel tis, lalu selanjutnya menutup mulut Lyara lalu menyembunyikan perempuan itu kedalam lemari.
" Semua, aku sudah mendapatkan aksesnya. Sekarang, lakukan bagian kalian!" ucap Dewa pada alat komunikasi khusus yang terpasang di lengannya.
.
.
Dewa mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus yang lengkap dengan rompi anti peluru. Ia melesatkan mobil Lyara menuju Retro hills dan meminta ketiga sahabatnya bersiap.
Dan setibanya ia di muka gerbang RH.
" Siapa kau?" pekik seseorang yang curiga dengan penampilan Dewa.
Tapi sebelum ia menjawabnya, Zilloey lebih dulu melumpuhkan pria penjaga itu melalui tembakan jarak jauh.
CHYIUT!
Sebuah tembakan tanpa suara berhasil membuat pria itu langsung terjatuh. Membuat Dewa tersenyum.
Zilloey mengacungkan jempol membalas Dewa. Sedetik kemudian, Dewa melesat masuk dengan hati-hati. Setibanya ia disana, ia mengendap-endap dan terkejut saat ada orang yang memergokinya.
__ADS_1
"Hey siapa kau?"
Tapi belum sempat Dewa menjawab. Zilloey kembali melumpuhkan pria itu menggunakan tembakan jitu. Kali ini Dewa benar-benar kagum dengan kemampuan sahabatnya itu.
Setibanya ia di dalam, ia menghadapi banyak sekali orang. Rupanya Yean menyiagakan satu orang yang membantu Dewa. Membuat pria itu merasa sangat terbantu.
" Sebaiknya anda masuk. Mereka biar saya yang hadapi!" ucap anak buah Yean yang kebetulan sedang ada di dekat Retro hills.
Dewa langsung bergegas masuk. Tapi ia justru terpaku melihat CCTV yang terpampang.
" Lanjut saja. Itu sudah menjadi urusanku!" kata Rayyan melalui alat koki yang membuat Dewa tersenyum.
Ya, Rayyan rupanya juga telah mensabotase CCTV di semua area itu dan membuat Dewa dalam keadaan aman.
Ia berlari berpacu dengan waktu saat matahari mulai tenggelam. Ia takut kalau Maeda akan di eksekusi sebelum dia datang. Ia terus berlari dan mendapati sebuah ruangan mencurigakan.
BRAK!
Dewa menendang sebuah pintu hingga ambrol. Kesemua orang yang di dalamnya terkejut kala Dewa menendang pintu itu dengan kerasnya. Bahkan Maeda yang sudah dalam keadaan lemas dengan kepala berdarah-darah usai di pukuli terlihat tersenyum tipis demi melihat Dewa.
" Bangsat, siapa kau?" teriak salah seorang pria yang Dewa kenali.
Melihat pria itu berteriak, Dewa sontak tersenyum kecut dan langsung membuka penutup wajahnya.
" Selamat malam Mayor!"
DEG
" D-Dewa?" kata sang Mayor yang sampai terbata-bata.
Dewa semakin tersenyum sumbang. Ia yang semula hanya menaruh curiga pada ayah Lyara, kini di kejutkan oleh keberadaan sang Mayor yang paling ia hormati.
" Jadi ini yang namanya integritas?" sindir Dewa tersenyum pahit.
Pria di depannya itu gusar.
" Sepertinya justru aku selama ini yang bekerja untuk pengkhianat negara!" timpal Dewa menatap benci pria yang setiap hari ia hormati itu.
Maeda memicingkan matanya melihat keironisan di depannya. Ia ingat jika pria itu adalah pria yang berdiri di dekat Diandra sewaktu ia tertangkap tempo hari.
BRUAK
Pria paruh baya itu langsung terlempar mundur saat Dewa mendorongnya dengan keras.
" Dewa, apa-apaan kau!"
Tapi Dewa semakin brutal. " Bukankah kita masih bisa bicara baik-baik Mayor? Kenapa anda malah memilih seperti ini, hah?"
" Apa yang kau katakan. Kita harus melenyapkan pria itu Dewa. Dia harus mari atau karir kita..."
__ADS_1
" Karir?" sembur Dewa mengunci leher sang Mayor penuh kemarahan. " Persetan dengan karir!"
" Dewa aku bis..."
BUG!
PRYANG!
Maeda menarik senyum demi melihat Dewa yang murka terhadap atasannya. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi. Mengapa dua abdi negara itu malah berkelahi.
" Baiklah. Sepertinya kau yang harus mati!"
" Dewa, jang..."
BUG
BUG
" Aku mempercayaimu seolah kau Tuhan!"
" Dewa, berhen..."
Tapi pria itu sama sekali tak memberikan kesempatan sang mayor untuk melawan.
BUG
" Bahkan aku berangkat memenuhi tugas. Mengesampingkan kelurga karena rasa hormatku padamu!"
BUG
" Tapi sepertinya seekor anjing lebih jujur daripada kalian, keparat!"
BRUAK
Dewa terengah-engah usai membanting atasannya dengan air mata yang menetes. Pria itu sejurus kemudian tak sadarkan diri dengan muka babak belur usai di hajar oleh Dewa.
Maeda yang melihat Dewa membuat pria yang hendak menebaknya tadi pingsan seketika tersenyum.
" Apa sekarang giliran ku untuk mati?" seru Maeda saat Dewa melepaskan satu persatu belenggu yang mengikat kaki dan tangannya.
Dewa menatap sengit Maeda. "Belum. Tapi kau akan mati jika berani membahas Diandra!"
Maeda terkekeh. Ia tak menyangka kelakaran yang ia ucapkan kepada Diandra soal pacar yang bakal membunuhnya akan terjadi juga.
Dewa melepaskan tali pengikat pria itu dengan wajah datar. Ia peduli kepada Maeda sekaligus cemburu kepada pria itu.
" Apa kau benar-benar pacar dokter cantik itu? Kau sangat tak ramah. Berbeda sekali dengan..."
" Tutup mulutmu!" balas Dewa menghujami sorot mata Maeda dengan tatapan tak ramah.
__ADS_1
Tapi alih-alih marah, Maeda justru semakin tergelak senang. " Senang bertemu denganmu, kapten dingin!"