Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 77. Satu pelajaran hidup


__ADS_3

Rando tak berniat menyela sinisme yang di lontarkan sebab kepalanya benar-benar pusing. Ia memilih beranjak menuruti sugesti.


" Mau kemana kau?" tanya Vida yang sudah berhenti memanggil laki-laki itu dengan sebutan 'tuan'.


" Kama mandi!" sahutnya singkat.


" Aku sudah membelikanmu sikat gigi dan lain sebagainya! Di kresek warna hitam!" tutur Vida memberikan info.


Rando tertegun sesaat sebelum ia melangkahkan kakinya. Tak menyangka jika gadis ketus itu baik juga ternyata. Beberapa saat kemudian, Rando yang sudah selesai mencuci wajahnya terlihat datang dan duduk di meja makan yang bersisihan dengan ruang tamu.


Ruangan sempit. Hanya seluas kamar tidurnya. Bahkan mungkin lebih luas kamar miliknya. Tapi itu tak jadi masalah.


Rando hanya diam menatap terpekur semangkuk bubur ayam yang masih mengepulkan asap putih. Ini sangat berbeda seperti hari biasanya dimana dia makan di meja besar yang membuat berpuluh jenis masakan setiap harinya.


 Ia juga sempat melirik Vida yang makan bubur dengan kaki sebelah yang terangkat ke kursi. Nampak menikmati tanpa menggubris segala bentuk keheranan.


" Ehem!" Rando berdehem memecah keheningan. Membuat sing empunya rumah menoleh.


" Kenapa?"


 "Aku...tidak suka mak...!"


BRAK!


Pria itu langsung tergeragap sebab kalimatnya mendadak terjeda akibat gebrakan Vida.


" Kau mau bilang kalau kau tak suka bubur?" ketus Vida menatap kesal Rando yang kembali shock.


" Bukan begitu . Aku...."


" Kau pikir membuat ini mudah hah? Perutmu kosong, dan soalnya aku memikirkannya. Tapi sepertinya yang aku pikirkan tidak tahu diri. Makanlah dan jangan bertindak sombong jika dirumahku. Enak-enakan kau ya. Makin kesini makin ngelunjak. Aku bahkan harus menyunat uang yang harusnya aku kirim ke ibuku untuk belanja keperluanmu. Apa kau selalu seenak seperti ini, hah?" Vida sangat tersulut emosi saat mendengar keengganan Rando dalam menyantap bubur buatannya.

__ADS_1


Dan mendengarkan nama 'Ibu', Rando mendadak tertunduk dengan dada yang bagai terhantam sesuatu yang berat. Ia lantas membuka dompetnya lalu meraih beberapa lembar uang dengan rahang mengeras.


" Ku kira ini cukup untuk mengganti semuanya!" seru Rando sembari meletakkan beberapa uang ke meja Vida.


Namun alih-alih senang, Vida malah langsung terlihat geram dengan sikap yang di tunjukkan.


" *****ing shiit!" maki gadis itu semakin meradang.


" Brengsek sekali kau. Hey sialan, tidak semua hal bisa di ganti dengan uang. Apa orangtuamu tak pernah mengajarimu beretika dengan baik, hah? Seharusnya orang kaya sepertimu ini sehari saja di lempar ke jalan biar bisa tahu apa artinya kelaparan!"


Rando langsung tersentak saat Vida memarahinya habis-habisan. Perempuan itu bahkan langsung menantang Rando dengan wajah jengah.


" Makan itu sekarang juga. Kalau tak mau, buang saja!" titahnya dengan muka kesal.


Rando langsung tercenung menatap sesosok yang kini pergi dengan wajah marah. Apakah ia memang telah salah dalam memaknai segala sesuatu? Ternyata tak semua orang bisa ia beli dengan uang.


Tanpa di duga, Rando tiba-tiba menarik kursi lalu duduk dan menyantap bubur hangat itu dengan wajah yang sulit di definisikan. Antara kesal, malu, juga merasa tak enak hati. Belum pernah ia diperlakukan seperti ini apalagi dengan seorang perempuan.


Tapi seorang perempuan yang cenderung apa adanya, mampu merubah sudut pandangnya. Hatinya tiba-tiba tersentuh saat gadis itu mengatakan sosok ibu yang di tanggung nya.


Vida sangat tidak suka dengan kesombongan yang di tunjukkan Rando. Tapi sekarang ia menjadi ingin tahu, apakah laki-laki itu sudah pergi dari rumahnya apa belum? Hah, kenapa malah jutsru memikirkannya sih?


Beberapa saat kemudian saat emosinya mulai sedikit mereda, ia memutuskan untuk mandi. Ia harus bekerja di toko roti pagi ini. Menjadi tulang punggung tak bisa membuatnya terus berleha-leha. Namun saat ia sudah berada di luar, ia terkejut karena melihat Rando masih duduk di hadapan semangkuk bubur yang telah kosong.


Dia masih di sini?


Apakah dia memakannya?


" Kenapa kau masih di sini?"


Rando menoleh saat sebuah suara tiba-tiba terdengar.

__ADS_1


" Kunci mobilku?"


Vida langsung malu. Ia bahkan mengirakan hal lain kepada pria itu. Ish, menyebalkan sekali.


" Kenapa tidak memanggilku?" tanyanya ketus.


" Kau marah kepadaku. Mengganggu orang marah hanya mendatangkan kesia-siaan!"


Anehnya, Rando mengatakan ini dengan penuh kesungguhan tanpa di buat-buat. Vida mendecak. Sejurus kemudian ia masuk kembali ke kamarnya dan mengambil kunci mobil.


" Ini!" serunya menyerahkan.


Rando menerima kunci dari perempuan yang rupanya sudah mengganti pakaiannya dengan seragam seperti hendak berangkat kerja.


" Kau mau kemana?" tanya Rando.


" Apa kau tidak lihat ini seragam apa?"


Rando lagi-lagi tak mendebat. Jelas ia harus belajar melontarkan pertanyaan yang lebih bervariasi.


" Buburmu enak juga. Apa masih ada? Aku akan membelinya untuk ibuku!"


Vida mengernyit mendengar pernyataan pria di depannya.


" Ibuku sedang sakit. Mungkin dia akan menyukai rasa buatanmu. Rasanya tidak terlalu asin tapi enak!"


Vida mencibir. Benarkah jika pria itu memujinya.


" Tunggu sebentar!"


Tak membutuhkan waktu lama, bubur hangat yang di packing dalam kotak bekal telah berada di dalam genggaman.

__ADS_1


" Besok kembalikan kotak itu. Cicilannya belum lunas soalnya!"


Rando ingin tertawa mendengarnya. Tapi ia tak berani sebab perempuan itu pasti akan marah-marah lagi. Dan percayalah, ini adalah kali pertamanya Rando merasa sedikit teralihkan dari kesedihannya, hanya gara-gara topik sebuah kotak makan yang cicilannya belum lunas.


__ADS_2