Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 65. Menepati janji


__ADS_3

Di tempat lain, Lyara yang kesal menunggu akhirnya melangkahkan kakinya untuk mencari Dewa. Ia sangat tidak suka berada di tempat kumuh dan semrawut seperti ini. Dan jika bukan karena Dewa, ia tak akan Sudi melakukannya.


Namun baru setengah perjalanan, ia menghentikan langkahnya sebab yang di tunggu tiba-tiba muncul. Membuatnya langsung melontarkan kata-kata penuh keluhan.


" Kenapa lama sekali? Aku hampir mencarimu Dewa. " semburnya seraya melipat kedua tangan kesal.


Dewa sudah menduga jika hal ini akan terjadi. Untung saja tadi Diandra mengingatkannya soal pertemuan. Jika tidak, ia bisa akan bablas.


" Ada pertemuan tadi!" jawab Dewa santai. Sama sekali tak terlihat jika dia telah berbohong.


" Kapan kau menemui Ayah? Aku tidak betah terus-terusan di sini!" rengek Lyara bersungut-sungut.


Dewa mengembuskan napas lelah. Kalau bukan karena Anita, ia pasti akan lebih menyesal karena nyaris mau menikah dengan wanita manja tak berperasaan seperti Lyara.


" Aku belum tahu. Sebab seharusnya aku sudah selesai menangani kasus. Tapi Mayor tak memberitahu dimana tahanan kota itu berada. Membuat tugasku bertambah!"


Dewa sengaja memancing Lyara melalui pernyataan yang panjang. Ia yakin, orang macam Lyara pasti melakukan segala cara demi membuat tujuannya tercapai.


" Ya sudah, nanti diam-diam akan kutanyakan ke ayah supaya kau cepat kesana. Sekarang ayo kita makan! Aku sudah sangat lapar!"


Dewa tersenyum menyeringai sekaligus merasa lega dalam hati. Akhirnya perempuan ini bisa digunakan juga. Ia mau tak mau akhirnya menemani Lyara makan, meski dari kejauhan ia melihat Diandra yang tampak murung menatapnya.


" Bersabarlah dokter. Aku harus menemukan serigala itu!" batin Dewa seraya membalas tatapan Diandra dengan penuh kerinduan.


...----------------...


Hari berganti dengan begitu cepat. Seperti SOP (standard operasional prosedur) yang sudah berjalan. Selepas tujuh hari, para team sebagian besar di tarik dan di ganti oleh team lain. Dewa diam-diam meminta Zilloey dan Rayyan untuk mengantar Anita dan Diandra menggunakan mobil pribadi.


" Kau bagiamana?" tanya Zilloey kepada Dewa yang memilih pulang belakangan bersama Yean.


" Aku akan bersama Lyara!" balasnya tanpa beban.


" Dia ini benar-benar!" Rayyan sontak menggerutu. Pria itu belum tahu saja bila antara Diandra dan Dewa telah melakukan kesepakatan.


" Apa kau yakin?" ulang Zilloey yang merasa aneh kepada Dewa. Pria itu kemarin terlihat sangat perduli terhadap Diandra, tapi hari ini kembali berbeda.


Dewa mengangguk. Membuat Rayyan semakin kesal kala membuka pintu mobil. Zilloey akhirnya meninggalkan Dewa dan memasuki ruang kemudi.


" Kapten, kami jalan dulu!" seru Anita berpamitan.


Dewa mengangguk. Ia sempat menatap sepasang mata yang memandangnya penuh kekhawatiran. Dan sejurus kemudian, Dewa tampak mengetik di ponselnya. Jika dilihat sekilas, baik Kapten Dewa maupun dokter Diandra nampak seperti bukan orang yang mengenal baik. Meski semalam semua orang tahu sekhawatir dan secemas apa seorang Dewa terhadap dokter Diandra.

__ADS_1


" Jaga dirimu dokter. Terimakasih sudah mau percaya kepadaku. Siapkan minuman hangat di apartemenmu nanti malam. Miss you 😘!"


Diandra hampir mendecak saat Dewa mengirimkannya sebuah pesan lengkap dengan emoticon menyebalkan. Gerak cepat sekali pria itu pikirnya. Pasti dia meminta nomer dari Anita.


Mobil perlahan meninggalkan area pengungsian yang sebagai besar reruntuhannya sudah di singkirkan. Dan saat sudah meninggalkan Dewa beberapa meter, Rayyan tak bisa lagi menahan kekesalan dalam hatinya.


" Hah, jika begitu terus kapan dia bisa mendapatkan jodoh. Amit-amit, jangan sampai dia jadi sama anaknya Pak Gustav!" gerutu Rayyan yang menyesali kecuekan Dewa terhadap dokter Diandra.


Zilloey langsung menoleh sembari menahan tawa. Sahabatnya ini memang cenderung seperti ibu-ibu jika sedang kesal. Ngomel terus.


" Kau sendiri bagaimana. Kau lebih ramah dari pada Dewa tapi nasibmu juga tak jauh berbeda!"


" Diam kau sialan!"


Anita sontak tergelak demi mendengar dua orang itu saling cibir. Benar-benar satu komposisi pertemanan yang pas. Dewa dingin dan kaku. Yean cenderung mengandalkan bicara seperlunya. Sementara Zilloey lebih realistis, dan Rayyan kerap mengocok perut.


Disaat Anita sibuk terkikik-kikik akibat ulah Rayyan, Diandra malah terlihat diam usai menengok ke belakang dimana Lyara bergelayut manja di lengan pria yang semalam menciumnya dengan ciuman lembut itu.


"Kenapa rasanya tak nyaman sekali?" batin Anita resah.


Tapi tatkala keresahan mulai menggelayuti hati, sebuah perkataan tiba-tiba berputar memenuhinya memori.


Anita yang berada di samping Diandra mengerutkan kening saat melihat sahabatnya tiba-tiba menitikan air mata. Mengira jika Diandra sakit hati terhadap kapten Dewa.


" Di, kau kenapa?"


Zilloey yang melihat nada panik Anita langsung melihat ke arah vission mirror.


" Aku tidak apa-apa. Hanya kepikiran Joshua!" kilahnya cepat.


Anita mengangguk. Itu sangat masuk akal. Padahal bukan itu yang ada di pikiran Diandra meski anaknya itu hingga kini ogah berbicara kepadanya.


" Kau bisa menelponnya nanti!"


Diandra mengangguk. " Tolong jangan cerita soal aku yang di culik pada Mama nit. Aku tak ingin membuatnya khawatir!"


Anita balik mengangguk.


Zilloey dan Rayyan saling bertukar pandang. Wanita itu kasihan sekali pikirnya. Hah, apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Dewa. Kenapa malah mengabaikan dokter Diandra?


.

__ADS_1


.


Zilloey dan Rayyan langsung pulang usai mengantar mereka ke apartemen Diandra. Menyisakan Anita yang cemas terhadap sahabatnya hingga jelang petang ini.


" Aku bisa menginap disini jika kau..."


Tapi sebuah sahutan membuat kalimat Anita menguap percuma ke udara


" Kau harus menemui keluargamu Nit. Kita sudah seminggu di pengungsian. Kakiku sudah lumayan kok. Selagi ada orangtua, dahulukan mereka."


Anita sebenarnya juga sangat rindu dengan keluarganya. Tapi ia juga mencemaskan Diandra. Apalagi keberadaan orangtua Diandra sangat jauh.


" Beneran tidak apa-apa ini?" ulangnya memastikan.


Diandra mengangguk seraya tersenyum. Lagipula, ia takut jika Dewa bakal datang malam ini. Ia tak ingin membuat kacau semuanya. Ia harus berlakon baik dirinya dan Dewa tak memiliki hubungan apapun alias backstreet.


Anita akhirnya pergi. Diandra yang kakinya masih sedikit nyeri saat digunakan berjalan kini sebisa mungkin memasak untuk dia dan Dewa. Malam ini hujan turun, ia tak tahu apakah pria itu akan menepati janjinya untuk datang.


Detik berganti detik, dan menit berganti menit begitu seterusnya. Sampai pukul delapan malam ia tak juga mendapati tanda-tanda kedatangan pria itu. Makanan yang ia masak juga telah dingin. Sepertinya pria itu tak menepati janjinya.


" Hah, mungkin urusannya belum selesai!" gumamnya mencoba berpikir positif.


Namun saat hendak menyeret kakinya menuju kamar, bel pintu unit apartemennya tiba-tiba berdentang. Membuatnya langsung menyeret kaki cepat menuju ke arah pintu.


CEKLEK!


Dan begitu pintu itu terbuka, ia langsung menghambur memeluk sesosok tinggi tegap yang masih mengenakan seragam di jam semalam itu.


" Kau datang, kapten!" Diandra memeluk erat membunuh kerinduan. Perempuan itu menangis mendapati Dewa yang bekerja tanpa kenal waktu.


Dewa terlihat tersenyum haru saat ia di peluk erat oleh perempuan yang memiliki tinggi sebatas bahunya itu.


" Aku sempat salah unit tadi. Maklum, aku tidak punya apartemen. Jadi..."


PLAK


" Banyak omong!"


Kapten Dewa terkekeh-kekeh saat dokter Diandra memukul lengannya dengan wajah cemberut. Untuk sejenak kapten Dewa merasakan kebahagian melingkupi seluruh sanubarinya.


"Aku lapar, apa kau punya makanan?"

__ADS_1


__ADS_2