Pain Of Regret

Pain Of Regret
Bab 57. Nurani tak pernah keliru


__ADS_3

Yean berlarian kencang saat anjing pelacak nya melesat jauh seperti mencium satu petunjuk saat mereka sudah memasuki kawasan dalam hutan. Tadi, mereka sudah berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait agar kasus ini tak di up ke permukaan supaya para pengungsi tak merasa takut.


Dewa juga sudah meminta bantuan personel tambahan untuk datang ke wilayah tersebut, dan menaikkan status kesiagaan. Mereka berpencar. Kali ini Yean mencari dokter Diandra bersama Rayyan, sedangkan Dewa bersama Zilloey yang lengkap dengan sejumlah anggota.


Mereka berangkat dari arah yang berbeda, namun tak di nyana, mereka malah kembali bertemu di titik yang sama di waktu yang nyaris bersamaan pula.


" Bagaimana?" tanya Yean kepada Zilloey.


Pria itu menggeleng. " Negatif!"


Namun saat masih mengistirahatkan diri, mata Dewa melihat sebuah tenda yang samar-samar dari tempatnya berdiri.


" Kalian, lihat itu!" tunjuk Dewa ke arah barat laut dan membuat kesemuanya tampak bersiap.


Mereka hampir saja senang sebab menemukan sebuah tenda yang kuat dugaan di huni oleh musuh. Tapi barusaja Dewa melangkahkan kakinya beberapa meter, matanya membulat demi melihat beberapa orang yang tergeletak dengan luka tembak.


" Kapten?" ucap seorang anggota yang terkejut. Sepertinya telah terjadi penyerangan di tempat ini.


Dewa langsung memerintahkan anggotanya untuk menyebar dan menyisir area. Keadaan harus di pastikan clear, sebab di takutkan para pemberontakan itu masih berada di sana dan menyekap dokter Diandra. Tapi saat mereka hendak melangkah lebih dalam, pekikan seseorang membuat kesemuanya kontan menoleh.


" Kapten tunggu!" teriak seorang perempuan dengan terengah-engah.


"Dokter?" kata Rayyan tak percaya jika seorang dokter perempuan itu mengikuti mereka ke dalam hutan.


Para tentara yang sedang serius mengerutkan kening sebab tak mengira jika dokter Anita menyusul seorang diri ke dalam hutan.

__ADS_1


" Dokter, apa yang anda lakukan kemari?" tanya Rayyan yang tak setuju dengan tindakan impulsif yang bisa berpotensi membahayakan keselamatan dokter Anita.


Anita mengatur napasnya dengan wajah serius. " Aku ikut. Aku ingin mencari Diandra. Kumohon kapten!"


DEG


Dewa langsung tegang. Bagiamana bisa orang lain tahu akan hal ini.


" Aku tak sengaja mendengar Wina berbicara dengan Iwan tadi. Aku...aku ingin mencari sahabatku!" kata dokter Anita kali ini dengan mata memanas saat mengucapkan kalimat 'sahabatku'.


" Kumohon Kapten, izinkan aku bergabung bersama kalian. Aku janji tidak akan merepotkan!"


Zilloey yang lengannya di pegang oleh Anita dengan wajah memohon langsung merasa bingung. Ini situasi darurat, dan bersama orang sipil jelas tak dianjurkan. Membuatnya menoleh ke arah Dewa sebagai pengambil keputusan tertinggi di sana.


" Ya sudah. Dokter, tolong jangan jauh-jauh dari Zilloey!" sambar Yean saat Dewa masih membeku dengan pikiran yang entah kemana.


Mereka semua tidak tahu, bahwa semenjak melihat mayat pemberontak yang tergeletak tadi, kecemasan pria itu kepada dokter Diandra naik dua kali lipat.


Dokter Anita mengangguk mengerti. Mereka sejurus kemudian menyebar memeriksa area yang di beberapa penjuru menguarkan aroma anyir darah.


Sejumlah anggota bergerak maju, namun dokter Anita lebih memilih memeriksa satu persatu orang yang tergeletak di tanah dengan luka yang cukup mengerikan.


" Dia sudah tewas!" ucap dokter Anita dengan raut penuh sesal usai meletakkan jarinya ke urat nadi pria berbandana merah.


Dewa yang melihat hal itusemakin cemas. Ia lantas berlari masuk sembari mengeluarkan senjata dari sarungnya dengan sikap siaga. Namun tatkala menyibak tenda, maka terlolong lah dia sebab tempat itu telah kosong melompong.

__ADS_1


" Kemana mereka? Kenapa tenda ini kosong?"


" Bagiamana bisa..." Zilloey tercekat di samping Dewa yang membeku membatin risau.


Dewa terlihat masuk untuk memastikan. Ia melihat beberapa properti yang tersisa. Dapat ia lihat jika barang-barang yang tertinggal disana merupakan barang yang umum digunakan untuk menyerang. Jelas ini markas sementara pemberontak itu.


Namun baru saja hendak membuka sebuah tas misterius yang entah isinya apa, sebuah pekikan bernada penuh keterkejutan mengalihkan atensinya.


" Dewa, lihat ini!" Rayyan berteriak sembari menunjukkan dua pasang sepatu putih yang familiar.


DEG


Dan melihat hal itu, Dewa langsung berlari mendekat meninggalkan tas misterius yang batal ia buka.


" Ini milik dokter Diandra!" sambar Anita dengan perasaan yang mendadak resah, " Kapten, Diandra pasti tadi ada di sini!" terangnya makin tak sabar.


" Apa kau yakin dokter?" tanya Yean cemas. Ia bahkan masih sempat raut penuh keterkejutan yang di tunjukkan oleh Dewa.


Dokter Anita mengangguk dengan mata yang sudah basah oleh air mata, " Ini adalah sepatu dari atasan kami. Aku juga memilikinya sepasang. Ini eksklusif untuk tenaga kesehatan yang sering di kirim ke daerah konflik dan rawan bencana!" terangnya dengan isak tangis yang sulit di redam.


" Bagaimana ini dokter, apakah dokter Diandra baik-baik saja? Banyak mayat di depan. Dan..."


Namun belum juga dokter Anita menyelesaikan ungkapan kegelisahannya, Dewa yang rahangnya mengeras langsung berlari sembari merebut tali anjing pelacak yang di bawa Yean dan langsung menciumkan sepatu itu kepada anjingnya.


Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya. Gejolak ini terlalu rumit untuk di jelaskan. Walau dadanya masih terbakar emosi, tapi nurani memerintahkannya untuk mencari. Ia harus segera mencari dokter Diandra. Ia harus menemukannya. Bahkan jika itu mayatnya sekalipun.

__ADS_1


__ADS_2